Perahu ketiga dari barisan depan adalah satu-satunya yang mencoba kabur, dan kaburnya adalah kabur yang sudah dibaca lebih dulu oleh dua orang yang membaca air dengan dua cara berbeda.
Ia bergerak di tengah penyerahan perahu-perahu pertama — mesinnya menyala keras di tengah antrean yang melambat, memutar buritannya ke sisi tikungan yang paling sempit, mencoba keluar barisan di sisi yang tidak dijaga perahu karena sisi itu berbahaya di banjir: riam-riam kecil di tepi tikungan, batu-batu yang tersembunyi air naik, arus silang yang membentur apa pun yang lewat dengan tidak hati-hati. Orang di kemudinya memilih riam daripada menyerah, dan perahu itu melesat ke sisi itu dengan muatan penuh dan dua orang di dalamnya.
Dan Bujang, yang berdiri di perahu polisi di ujung tikungan, membaca gerakannya sebelum perahu itu menyelesaikan putarannya.
"Dia akan duduk di riam," katanya, datar, ke radio, dengan suara orang yang bukan menebak — menghitung. "Sopir itu tidak kenal riam ini dalam banjir. Yang berani ke sisi itu hanya orang yang tidak tahu batunya, dan batunya sudah naik posisi sejak pasang penuh. Dia akan duduk di riam dalam satu menit, di titik yang dangkal, dan dia tidak bisa ke mana-mana dari sana. Biarkan. Air yang menangkapnya untuk kita."
Satu menit itu berjalan panjang di semua perahu yang mendengarnya.
Di perahu medis, Renung memegang radio dengan jari yang tidak bergerak, dan menyaksikan titik cahaya kecil perahu ketiga itu bergerak menyamping di deru gelap — menyalahi arah barisan, menyalahi arah arus, menuju sisi tikungan yang bahkan dari kejauhan terdengar bunyinya berbeda: air yang menghantam batu dan memecah, riam-riam yang di musim biasa bisa dilalui orang yang tahu dan di pasang penuh menjadi mulut yang lain sama sekali. Sari berdiri di sampingnya dengan satu tangan di tiang, dan tidak ada yang bicara, karena di radio Bujang sudah bicara dan kalimatnya berdiri di udara seperti patok: dia akan duduk di riam dalam satu menit.
Di tikungan pertama, Mahmud tidak memerintahkan satu perahu pun mengejar.
"Semua tetap di posisi," katanya di radio, dengan suara yang sudah menghitung sampai ke ujung. "Perahu yang mengejar di riam adalah perahu kedua yang duduk di batu. Biarkan air bekerja. Siapkan tambang dan dua orang untuk menarik mereka kalau perahunya pecah — tidak ada yang boleh tenggelam malam ini, tidak mereka, tidak kita, tidak satu pun makhluk di kandang-kandang itu."
Dan Jamil, yang berdiri di haluan perahu medis dengan tubuh menghadap bunyi itu, mengangguk pelan ke kegelapan, dan berkata tanpa radio, untuk Renung dan Sari dan untuk dirinya sendiri:
"Dengar itu. Itu bunyi orang yang memandu sungai dengan benar. Bujang membaca riam itu dari bunyinya, dari sini, tanpa melihat — dan dia membacanya bukan untuk menangkap, melainkan untuk menunggu, karena orang yang benar-benar kenal sungai tahu sungai tidak perlu dibantu bekerja." Ia diam sebentar. "Dua puluh tahun lalu aku mengejar orang di air seperti ini dan hampir kehilangan perahu dan nyawa untuk satu tangkapan. Malam ini tidak ada yang mengejar, dan tangkapannya datang sendiri. Begitu caranya sungai mengajari orang yang mau menua dengan benar."
Dan Renung menghitung detik-detik berikutnya di kepalanya seperti menghitung dosis, karena menghitung adalah satu-satunya doa yang ia tahu — dan hitungannya baru sampai di lima puluh ketika bunyi mesin perahu ketiga itu berubah, meraung tinggi, tiba-tiba, bunyi baling-baling yang mengaduk udara alih-alih air.
Satu menit, dan perahu itu duduk di riam.
Lambungnya menghantam batu yang tersembunyi air naik dengan bunyi yang terdengar bahkan di atas deru banjir, dan perahu itu miring dengan muatannya bergeser dan mesinnya meraung di udara, dan dua orang di dalamnya berpegang di kandang-kandang yang berderit. Mereka mencoba mendorongnya dari batu dengan dayung dan dengan kemudi, dan air banjir yang tidak memihak menahan perahu bermuatan penuh itu di batunya seperti menahan kayu di meja, dan dalam tiga menit, dua orang itu mengangkat tangan ke perahu polisi yang mendekat dengan hati-hati dari arah yang aman.
Bujang menontonnya dari perahu di ujung tikungan, dan tidak ada kemenangan di wajahnya — hanya pembacaan yang selesai, dan sesuatu yang lebih tua di bawahnya.
"Aku pernah duduk di riam itu," katanya pelan, ke polisi muda di sampingnya, tanpa menoleh. "Dulu, di tahun-tahun pemanduku, dengan perahu yang sama penuhnya, di banjir yang sama. Tidak ada yang menangkapku saat itu. Air melepaskannya setelah dua jam, dan aku pulang dengan muatan yang selamat dan pelajaran yang tidak pernah kugunakan sampai malam ini: riam itu tidak menangkap orang, Nak. Riam itu mengajari, dan orang yang mau belajar dari riam tidak pernah duduk di sana dua kali. Sopir itu belum pernah belajar. Sekarang dia belajar, dari riam yang sama, dengan perahu yang sama penuhnya — dan kali ini ada yang menunggunya di tepinya."
Perahu ketiga itu diserahkan dari batunya dalam setengah jam berikutnya, dua orangnya diangkat ke perahu polisi dengan tangan terikat, dan kandang-kandangnya — yang terbanyak dari semua perahu malam itu, karena perahu penyerah diri tidak pernah dimuati paling berat — dipindahkan satu per satu dari lambung yang miring di riam ke perahu-perahu medis dalam air yang mengamuk, dengan tali dan tangan dan satu orang yang berdiri di air sampai pinggang di titik dangkal untuk mengoperkannya.
Dan Renung, yang menerima kandang-kandang terakhir dari perahu ketiga itu di geladak medis, menulis di kepalanya: perahu ketiga duduk di riam yang sudah dibaca Bujang sebelum sopirnya menyelesaikan putarannya. Dua puluh tahun jaringan ini membaca sungai untuk dirinya sendiri, dan malam ini satu orang yang pernah memandu mereka membaca sungai yang sama untuk menghentikannya. Air tidak memihak, dan riam tidak memilih. Tapi orang yang belajar dari riam berdiri di sisi yang benar malam ini, dan riam itu bekerja untuk hutan.