Pawang Dulah berdiri di perahu polisi dengan tangan yang tidak terikat — statusnya sudah berubah sejak nyanyian-nyanyiannya — dan malam itu ia bekerja dengan cara yang tidak pernah dibayangkan siapa pun untuk penjerat tua itu: mengenali wajah-wajah dari barisan yang menyerah, satu per satu, dari perahu ke perahu, dengan suara yang datar seperti orang membaca daftar.
Dibawanya Mahmud ke tikungan itu bukan sebagai tahanan — sebagai mata. Tidak ada satu pun orang di tim gabungan itu yang mengenal wajah-wajah anak buah jaringan sungai, dan Pawang Dulah mengenal semuanya: empat puluh tahun membaca denai di kampung-kampung itu, bertahun-tahun bekerja untuk orang bayaran yang sama, dan malam itu wajah-wajah itu berbaris di depannya dalam cahaya lampu-lampu polisi, dan satu per satu ia menunjuk mereka dengan jarinya dan satu kata: iya, atau bukan.
Yang iya, ditangkap di darat dengan namanya dicatat di sebelahnya.
Dan Pawang Dulah mengenali hampir semuanya — pemandu-pemandu dari kampung-kampung seberang, penjerat-penjerat muda yang dilatih orang-orang yang sama yang melatihnya dulu, dua orang bayaran yang biasa datang dengan uang tunai dan jadwal, dan satu lelaki yang berdiri di perahu kelima dengan senapan yang tidak pernah sempat ia gunakan: lelaki yang oleh Pawang Dulah disebut dengan satu kalimat yang membuat Mahmud menandainya khusus: "Dia yang selalu membawa daftar harga. Kalau ada yang tahu untuk siapa barang-barang ini, dia orangnya."
Dan di tengah-tengah penunjukan itu, satu perahu menghasilkan jeda yang tidak dijadwalkan.
Di perahu keenam, di barisan orang-orang yang turun dengan tangan di kepala, Pawang Dulah berhenti lama di satu wajah — seorang pemuda kurus dengan mata yang menunduk dan bekas luka jerat di ibu jarinya sendiri — dan jari pawang tua itu tidak langsung bergerak. Mahmud menunggu di sampingnya dengan pena yang menggantung di atas daftar, dan seluruh perahu polisi menunggu bersamanya, sampai Pawang Dulah akhirnya bicara dengan suara yang lebih rendah dari biasanya:
"Dia anak kampung ulu, di seberang sana." Ia menelan sesuatu. "Aku yang mengajarinya memasang jerat, delapan tahun yang lalu, di denai-denai belakang kampungnya. Ayahnya sakit, kebunnya dimakan babi, dan aku datang dengan uang muka dan tali baja dan cerita tentang betapa mudahnya hidup kalau kau tahu membaca denai." Jarinya akhirnya bergerak, menunjuk, dan suaranya kembali datar dengan paksaan yang terdengar. "Iya. Catat namanya."
Pemuda itu mendengar dirinya dari mulut pawang tua itu dan mengangkat kepalanya sebentar, dan mata mereka bertemu dalam cahaya lampu-lampu — penjerat muda dengan ibu jari yang cacat oleh jeratnya sendiri, dan penjerat tua yang berdiri di perahu polisi dengan tangan yang tidak terikat karena nyanyiannya lebih berharga dari pengakuannya. Tidak ada yang diucapkan di antara mereka. Tidak ada yang perlu diucapkan: jerat di hutan itu, yang menjerat lutut beruang dan pergelangan owa, malam itu terlihat bentuknya yang paling jujur — lingkaran yang menutup, dan orang yang memasangnya dua generasi berturut-turut berdiri di dua sisinya dalam satu cahaya yang sama.
Setelah pemuda itu lewat, Mahmud menoleh ke Pawang Dulah dan bertanya pelan, tanpa menghakimi, karena orang yang sudah dua puluh tahun membaca manusia di hutan tahu kapan menghakimi tidak perlu: "Berapa banyak yang kau ajari?"
"Terlalu banyak untuk dihitung malam ini, Pak Polisi." Pawang Dulah memandangi barisan wajah-wajah yang masih menunggu di perahu-perahu berikutnya. "Dan aku akan menghitungnya satu per satu di berkasmu nanti, dengan nama dan kampung dan tahunnya, karena itu bagian dari nyanyianku." Ia berhenti sebentar. "Tapi malam ini biarkan aku menunjuk mereka dari sini dulu. Sebagian dari mereka masih bisa diselamatkan seperti aku diselamatkan — dengan diberi jalan untuk berdiri di sisi yang benar sebelum terlalu tua untuk berpindah."
Dan di akhir barisan itu, ketika perahu-perahu sudah menyerah semua dan wajah-wajah sudah ditandai semua, satu hal kecil terjadi yang tidak direncanakan siapa pun dan mengubah satu keluarga selamanya: lelaki bertato itu — yang dibawa dari tahanannya untuk mengidentifikasi juga, dengan tangan terikat dan dua pengawal — berdiri di perahu polisi ketika ibu Bujang datang ke tepian dengan warga jembatan, dan mata mereka bertemu dalam cahaya lampu-lampu itu, lelaki bertato yang menangkap hidup untuk bayi-bayi orangutan dan perempuan tua yang rumahnya dilempari sling ke terasnya.
Dan lelaki bertato itu menunduk, dan berkata dengan suara yang terdengar ke tepian: "Aku yang melempar sling itu ke terasmu, Mak. Bukan tanganku yang memilihnya, tapi tanganku yang melemparnya. Dan aku menyerah malam ini tanpa melawan satu kali pun, dan itu tidak membayarnya, tapi itu yang kupunya sekarang."
Ibu Bujang memandanginya lama dari tepian, dan tidak menjawab apa-apa — dan kemudian ia mengangguk sekali, kecil, satu anggukan yang tidak memaafkan dan tidak menghukum, dan berjalan kembali ke jembatan dengan warga yang menjaganya.
Dan Bujang, yang menyaksikannya dari perahu di ujung tikungan, menulis untuk Renung nanti dengan suara yang berat: lelaki bertato itu mengaku melempar sling ke rumah emakku di depan seluruh tikungan, dan emakku mengangguk sekali dan berjalan pulang. Aku tidak tahu apa artinya anggukan itu, Pak. Tapi aku tahu anggukan itu lebih besar dari pengadilan mana pun yang akan membaca namanya nanti — dan aku berdiri di tikungan yang sama dengan orang yang melempar rumah emakku, dan aku tidak membencinya, karena aku sudah berdiri di sepatunya dulu, di tahun-tahun yang kubayar dengan jalan yang kutunjukkan.
Pawang Dulah menyelesaikan daftarnya di tengah malam itu, dan daftar itu berdiri sebagai halaman paling panjang dalam berkas yang sudah mereka bangun: belasan nama dengan wajah dan peran, satu pembawa daftar harga yang ditandai khusus, dan satu tikungan yang tidak lagi aman untuk satu pun dari mereka.
Dan jaringan sungai itu, yang berdiri dua puluh tahun di atas air tanpa satu pun wajahnya tercatat, malam itu berdiri dengan wajah-wajahnya dikenali satu per satu oleh mata yang pernah bekerja untuknya — dan tidak ada cara menarik kembali satu pun nama dari daftar itu.