Perjalanan rilis kedua itu berjalan empat hari ke blok pedalaman, dan empat hari itu adalah empat hari paling lambat yang pernah ditempuh tim itu — karena rilis ini tidak dikejar kalender, rilis ini berjalan dengan langkah Tunggak.
Timnya lebih kecil dari rilis pertama: Renung, Jamil, Sari, Bujang sebagai pemandu, dua porter, dan tidak satu pun orang dari luar lingkar itu. Koordinat blok tidak pernah diucapkan di radio, tidak pernah ditulis di kertas yang lewat meja mana pun, tidak pernah dibawa dalam bentuk yang utuh oleh satu orang — dibagi tiga, di tiga kepala, dan baru berdiri utuh ketika mereka tiba di sana. Pelajaran dari tembakan di pohon tinggi, dibayar dengan keseluruhan cara mereka bergerak kali ini: tidak ada satu pun titik dari perjalanan itu yang bisa dibaca dari luar sebelum mereka sendiri tiba di sana.
Dan Tunggak berjalan bersama mereka dengan cara yang tidak pernah terlihat di rilis pertama.
Rilis pertama, ia diangkut dalam kandang, dengan mata yang membaca hutan dari balik jeruji. Rilis kedua ini, di bagian-bagian perjalanan yang aman, ia berjalan di luar kandang bersama mereka — dengan Sari di satu sisi dan Renung di sisi lain, dengan tali panjang yang tidak pernah ditarik, dengan langkah besar orangutan yang berjalan di tanah hutan dengan cara yang sudah lima tahun tidak ia jalani. Dan ia membaca hutan di sekelilingnya sepanjang jalan: berhenti di pohon-pohon tertentu, mencium angin di titik-titik tertentu, dan sekali — di hari ketiga, di satu lereng dengan pemandangan ke dalam blok itu — ia berdiri lama sekali menghadap ke dalam, dengan angin dari blok pedalaman di wajahnya, dan tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak atau bicara sampai ia melanjutkan langkahnya sendiri.
Hari kedua adalah hari paling berat dari empat hari itu — hujan turun dari tengah hari sampai sore, dan hujan di perjalanan rilis adalah masalah yang berbeda dari hujan di perjalanan biasa: tanah berubah menjadi lumpur yang menelan kaki, dan Tunggak yang berjalan di luar kandang harus dibawa menyeberangi dua anak sungai kecil yang naik, dan di penyeberangan kedua ia menolak digendong dan menyeberang sendiri, bergelantungan di dahan yang melengkung di atas air — dengan bahu yang pernah ditembak itu menahan seluruh beratnya tanpa ragu, dan Sari menahan napasnya di tepi, dan Renung mencatatnya di kepalanya sebagai satu ujian lagi yang dilewati tanpa diminta.
Bujang berjalan paling depan sepanjang empat hari itu, membaca hutan dengan mata yang dulu dipakai membaca hutan yang sama untuk tujuan yang lain. Dua kali ia mengangkat tangan dan seluruh barisan berhenti: sekali untuk jejak babi hutan yang segar melintang di jalur, sekali untuk sesuatu yang tidak dilihat siapa pun kecuali dirinya — bekas parang lama di satu pohon, sudah bertahun-tahun, sudah ditumbuhi kulit baru. "Bekas lama," katanya, memandangnya lama. "Dari zaman aku masih berjalan di sisi yang salah. Sudah lama mati, bekasnya. Tapi tetap kucatat — kebiasaan." Dan Jamil menepuk pundaknya tanpa kata, dan barisan berjalan lagi.
Malam-malam di perjalanan itu mereka tidur bergiliran, dengan satu orang berjaga dan satu telinga selalu terbuka untuk bunyi yang salah — dan tidak ada bunyi yang salah di malam-malam itu, hanya hutan yang bernapas seperti hutan seharusnya bernapas.
Malam terakhir sebelum titik rilis, mereka berkemah di tepi blok, dan Renung berbicara kepada Tunggak dalam gelap seperti berbicara kepada orang tua yang sudah lama dikenalnya.
"Tidak ada yang menunggumu di pohon kali ini," katanya pelan, dengan api kecil di antara mereka dan suaranya yang rendah. "Blok ini sudah dibaca berminggu-minggu dengan kamera, dan tidak ada satu pun jejak yang salah di dalamnya. Tidak ada meja yang tahu koordinatnya. Tidak ada salinan yang bocor di mana pun. Dan lebih dari itu semuanya: blok ini bukan pilihan kami untukmu. Blok ini adalah tempat yang akan kau pilih sendiri, dari ketinggian pohon-pohonnya, dengan matamu yang sudah belajar dua kali. Kalau kau masuk besok dan tidak menemukan yang benar, kau kembali ke kandang, dan kandang itu tetap rumahmu selama kau membutuhkannya. Tidak ada tenggat kali ini, Tunggak. Tidak ada jendela. Hanya kau, dan blok yang besar, dan waktu yang milikmu."
Dan Tunggak memandanginya dalam cahaya api itu dengan mata orangutan yang sudah dua kali membaca manusia dari dekat, dan mengulurkan tangannya, dan menyentuh lengan Renung sebentar — satu sentuhan, ringan, yang tidak pernah ia berikan kepada siapa pun sejak kandang kayu — dan kemudian berbalik menghadap gelap blok itu, dan duduk di sana dengan punggung besar yang menghadap angin dari dalam hutan.
Pelepasan keesokan harinya berjalan tanpa drama, dan tanpa drama itu adalah hadiah terbesar yang pernah dibeli oleh dua rilis: pagi yang bersih, blok yang sunyi, dan Tunggak yang berjalan dari titik terakhir ke dalam blok dengan langkahnya sendiri — tidak diangkut, tidak didorong, tidak dipanggil. Ia berjalan ke dalam sejauh yang ia pilih, berhenti di satu titik dengan pohon ara tua yang berdiri lebih tua dari semua konflik di kawasan itu, dan memanjatnya — pelan-pelan, tanpa tergesa, dengan cara orangutan yang memanjat di rumahnya — dan menghilang ke kanopinya tanpa menoleh.
Bukan tanpa menoleh seperti rilis pertama, yang pergi ke bebas dengan tidak menoleh. Tanpa menoleh seperti orang yang sudah selesai dengan perpisahannya di malam sebelumnya, di api kecil itu, dan tidak perlu mengulanginya.
Dan Renung berdiri di bawah pohon ara tua itu dengan Sari yang menangis dan Jamil yang tersenyum dengan seluruh kerut di wajahnya dan Bujang yang berdiri dengan tangan di dada, dan tidak ada satu pun dari mereka yang bicara untuk waktu yang lama — hanya blok yang besar dan sunyi di sekelilingnya, dan satu orangutan yang menghilang ke kanopinya dengan langkahnya sendiri, di rumah yang ia pilih sendiri.