Ara dilepas bertahap ke blok utara di musim yang sama dengan sinyal Tunggak yang bertahan, dan pelepasannya adalah pelepasan yang dirancang untuk gajah: lambat, berlapis, dengan kawanan yang menerimanya pelan-pelan dari kejauhan.
Gajah tidak dilepas seperti orangutan — tidak ada satu hari pelepasan, tidak ada satu momen dibukanya pintu. Ara dilepas dengan cara yang disebut Jamil sebagai perkenalan berlapis: kandang luarnya dibuka ke blok utara dalam jam-jam yang makin panjang, dengan Sari dan Renung di dekatnya pada awalnya dan makin jauh kemudian, dengan kawanan gajah blok utara yang mulai datang membaca anak baru ini dari kejauhan — betina-betina tua yang berdiri di tepi, menilai, dan kembali, dan datang lagi.
Dan satu betina tua yang menerimanya.
Betina tua itu — yang sudah lama dibaca kamera-kamera sebagai matriks dari satu kelompok kecil di blok utara, yang pernah kehilangan anaknya sendiri tahun-tahun sebelumnya — datang ke Ara di minggu ketiga perkenalan berlapis, dan berdiri di sampingnya, dan menyentuhkan belalainya ke kepala anak gajah itu dengan kelembutan yang membuat Sari menangis di teropongnya. Dan Ara, yang dibesarkan tangan-tangan manusia sejak induknya mati di sling berkarat, menyentuhkan belalainya kembali — dan kelompok kecil itu menerimanya masuk ke barisannya, pelan-pelan, hari demi hari, sampai satu pagi Ara berjalan bersama mereka ke dalam blok dan tidak kembali ke kandang luarnya lagi.
Perkenalan berlapis itu dirancang Sari dan Renung dengan ketekunan orang yang sudah belajar dari rilis Tunggak: setiap tahap punya syaratnya, dan tidak ada tahap yang dilalui sebelum syaratnya berdiri. Tahap pertama, Ara hanya melihat kawanan dari jauh — dari kandang luar yang dibuka, dengan belalai yang terangkat membaui angin yang membawa bau gajah-gajah lain, bau yang sudah lama tidak ia baui sejak induknya. Tahap kedua, kontak pertama lewat pagar kawat di titik pertemuan yang dipilih: betina-betina muda datang lebih dulu, penasaran dengan cara muda yang tidak bisa ditahan, menyentuhkan belalai lewat celah, dan Ara menjawab dengan sentuhan yang ragu-ragu dan makin berani dari hari ke hari. Tahap ketiga, tanpa pagar, di jam-jam yang dijaga — dan di sinilah betina tua itu masuk, dan segalanya berubah.
Sari melepaskan susu botolnya tahap demi tahap sepanjang perkenalan itu — dari tiga kali sehari menjadi dua, menjadi satu, menjadi tidak sama sekali — dan setiap pengurangan ditimbang terhadap berat badan dan kotoran dan semangatnya, dengan buku catatan yang penuh angka kecil. "Gajah disapih kawanannya sendiri, bukan kalender kita," katanya kepada Renung di satu sore, memandang Ara berjalan di samping betina tua itu dengan langkah kecil yang berusaha menyesuaikan irama langkah besar di sisinya. "Tugas kita cuma memastikan kawanannya ada, dan cukup sabar."
Dan pemancar kecil yang dipasang di kaki Ara — dengan izin dan penimbangan yang panjang, seringan yang bisa dibuat untuk kaki sekecil itu — mulai bercerita dari minggu pertama: titik-titik yang berjalan bersama titik-titik kawanan, berhenti di kubangan yang sama, tidur di barisan yang sama. Renung membacanya di malam-malam dengan sesuatu yang tumbuh hangat di dadanya: anak gajah yang dibesarkan botol susu dan tangan manusia itu akhirnya punya keluarga yang benar, dan keluarganya mengajarinya hal-hal yang tidak bisa diajarkan pusat mana pun — di mana air di musim kering, pohon mana yang kulitnya baik, jalan mana yang diingat gajah turun-temurun.
Kamera-kamera di blok utara juga menangkap satu halaman kecil yang membuat seluruh pusat tersenyum seminggu penuh: dua anak Sintung berebut dahan jatuh di satu tempat terbuka, berguling-guling dengan cakar yang disimpan, dan Sintung berdiri di tepinya dengan mata induk yang mengawasi tanpa ikut campur — latihan berburu yang dibungkus permainan, persis seperti yang tertulis di semua buku, dijalankan oleh harimau yang dulu berdiri dengan kawat di kakinya di dasar parit. Jamil mencetak satu foto dari halaman itu dan menempelkannya di papan ruang makan, di sebelah peta sinyal Tunggak, dan tidak menulis apa pun di bawahnya. Tidak perlu.
Dan dari blok utara yang sama, kabar yang lain dibaca kamera-kamera: Sintung dan dua anaknya, sehat dan menebar.
Dua anak harimau itu — yang lahir di blok utara dalam lingkaran yang dimulai di parit dengan kawat di kaki induknya — terekam kamera jebak berjalan di samping Sintung di denai-denai blok, sudah lebih besar, sudah belajar berburu dari induknya dengan main-main yang adalah latihan. Dan Sintung sendiri, dengan kalung GPS yang membaca wilayahnya yang stabil, berdiri sebagai induk harimau di blok yang sudah menjadi rumahnya sepenuhnya — dengan dua anak di sisinya, dengan wilayah yang dijaganya, dengan satu lingkaran yang menutup sepenuhnya: dari kawat di parit, ke blok utara, ke dua anak yang berjalan di denai-denainya.
Dan dua anak harimau dari gudang kelapa sawit tua — yang bukan anak Sintung, yang induknya tidak pernah ditemukan — tumbuh di pusat dengan dua lingkaran yang berbeda: dua anak itu, dibesarkan Sari dengan susu dan kesabaran, dan dilepas kemudian ke blok rehabilitasi khusus harimau di kawasan lain yang lebih sesuai untuk anak-anak tanpa induk, dengan perawat-perawat yang mengambil alih lingkaran mereka dengan tangan yang sama hati-hatinya.
Renung menuliskannya malam itu, di bawah foto Ara di samping betina tua dari kamera jebak terakhir: Ara berjalan dengan kawanan barunya ke dalam blok dan tidak kembali ke kandangnya, dan Sintung berdiri sebagai induk di blok utara dengan dua anak di sisinya, dan dua anak gudang dibawa ke blok rehabilitasi khusus dengan lingkaran mereka di tangan-tangan yang baru. Hutan memulangkan anak-anaknya satu per satu — dengan cara yang berbeda-beda, dengan waktu yang berbeda-beda, dengan tangan-tangan yang berdiri di tengahnya dan melepaskan di ujungnya. Itu pekerjaan kami, pada akhirnya: berdiri di tengah sebentar, merawat yang terluka, memulangkan yang sudah siap, dan melepaskan dengan tangan yang tidak menahan lebih lama dari yang diperlukan satwanya.