Musim berikutnya datang dengan hujan pertama yang turun ke kawasan yang sudah berdiri di batasnya yang benar, dan Renung berjalan ke zona rilis lama itu — tempat Tunggak pertama ditembak, tempat jalur parang dulu dibacanya sebagai jerat buatan manusia — dan membaca tanahnya seperti membaca surat yang datang dari hutan itu sendiri.
Jalur parang itu sudah hilang.
Bukan dibersihkan tangan — hilang dengan cara hutan menghilangkan bekas manusia: semak yang menutupinya, akar-akar yang berjalan di atasnya, daun-daun yang menimbunnya dalam dua musim. Dan di atas tanah yang sama, di atas jalur parang yang sudah tertutup itu, tanah itu ditulis ulang dengan kaki-kaki yang benar: tapak-tapak rusa yang segar, berbaris turun ke kubangan di lembah bawah. Jejak babi hutan yang berjalan zig-zag di semak yang tumbuh kembali. Dan di satu tempat yang membuatnya berlutut lama di tanah yang lembap, dengan tangan yang menyentuh tanah di sebelahnya tanpa menyentuh jejaknya: cap kaki kucing besar, jelas dan segar, berjalan di garis denai yang mengalir turun — harimau, lewat di titik yang dulu dibacanya sebagai tempat jerat, berjalan di jalur yang sudah dibersihkan dan dijaga dan ditandai kembali dengan benar.
Denai yang pulang.
Renung membaca jejak-jejak itu satu per satu, di tanah yang berdiri di batasnya yang benar, dan setiap satu dari mereka adalah surat dari hutan yang menulis kembali jalan-jalannya sendiri: rusa kembali lewat di garis yang dulu dibuat parang oleh orang-orang yang mengukur tanah untuk diambilnya. Babi hutan berjalan zig-zag di semak yang menutupi bekas jalur manusia. Harimau lewat di titik yang dulu dipasangi sling berpilin tujuh, dengan kaki yang tidak lagi menemukan jerat di jalannya — dengan jalur yang dibersihkan sebelas jerat sebelum rilis pertama dan dijaga sejak itu oleh orang-orang yang berdiri di garis ini.
Lebih jauh di sepanjang denai itu, jejak-jejak lain berbaris menunggu dibaca: tapak gajah yang lebar dan dalam di tanah yang lebih lembap di dekat kubangan — satu kelompok kecil, dibaca dari ukuran tapak yang berbeda-beda, induk dan yang lebih muda, lewat mungkin dua malam sebelumnya dalam perjalanan panjang koridor mereka. Dan di atasnya, di dahan-dahan yang melintang rendah di atas jalur, bekas lintasan owa: dahan yang patah bersih di ujungnya dengan cara khas tangan yang bergelantungan, dan sekali — jauh, tipis, nyaris tertelan angin — bunyi panjang mereka dari dalam, bunyi yang membuat Renung berhenti dan berdiri diam sampai selesai, karena bunyi owa di zona ini adalah bunyi yang sudah bertahun-tahun tidak terdengar, dan kembalinya adalah halaman tersendiri dalam surat hutan itu.
Setiap jejak ia catat di buku kecilnya — jenis satwa, arah, umur jejak, keadaan tanah — dengan disiplin lama yang tidak pernah ditinggalkannya, karena data adalah cara hutan berbicara kepada kertas, dan kertas adalah cara penjaga berbicara kepada orang-orang yang memegang keputusan. Tapi di sela-sela catatan itu, ia membiarkan dirinya membaca dengan cara yang lain juga: bukan sebagai dokter yang mengumpulkan data, melainkan sebagai orang yang membaca kabar dari rumah lamanya. Rusa di sini. Babi di sini. Harimau lewat tanpa jerat di kakinya. Gajah berjalan di koridornya. Owa bernyanyi lagi. Semua yang dulu diusir dari tanah ini oleh parang dan patok kayu dan sling berpilin tujuh, kembali satu per satu, dengan kaki mereka sendiri, tanpa diundang siapa pun — karena hutan tidak perlu diundang untuk pulang ke rumahnya sendiri. Hutan hanya perlu jeratnya dicabut, dan dijaga supaya tidak dipasang lagi.
Dan di tepi denai itu, di tanah keras di sisi jalur satwa yang baru ditulis, satu pohon kecil tumbuh dari tanah yang keras: pohon sintung, kecil dan tegak, dengan daun-daun mudanya yang berdiri di tanah yang tidak memberi apa-apa dengan mudah — pohon yang sama yang menjadi nama seekor harimau yang diselamatkan dari kawat di parit dan beranak dua di blok utara.
Renung berlutut di sebelah pohon sintung kecil itu, di tepi denai yang pulang, dan membiarkan tangannya menyentuh tanah keras di sebelahnya — tanah yang sama yang menumbuhkan pohon kecil dari kerasnya, tanah yang menulis ulang dirinya dengan kaki-kaki yang benar setelah ditulis salah oleh parang dan patok kayu dan jerat.
"Denai yang pulang," katanya pelan, ke tanah itu, ke hutan yang berdiri di sekelilingnya dengan batasnya yang benar dan satwa-satwa yang berjalan di jalannya lagi. "Jalan-jalanmu ditulis ulang oleh kaki-kaki yang benar, dan pohonmu tumbuh lagi dari tanah yang keras, dan orang-orangmu berdiri di tepinya dengan tangan yang tidak lagi menahan apa pun yang tidak perlu ditahan. Ini pekerjaan kami, dan pekerjaan ini tidak pernah selesai — tapi hari ini, di tepi denai ini, pekerjaan itu berdiri dengan bukti yang bisa disentuh: jalanmu pulang, dan kami masih di sini menjaganya, dan kami akan terus di sini selama hutan ini berdiri."
Ia berdiri, dan memandang zona itu sekali lagi — jalur parang yang tertutup denai, tapak-tapak rusa yang turun ke kubangan, cap kucing besar di garis yang dibersihkan, dan satu pohon sintung kecil di tanah keras — dan berjalan pulang ke pusat di sore yang turun dengan hujan pertama di udara, dengan satu halaman terakhir yang ditulisnya malam itu di buku catatannya yang sudah hampir penuh:
Musim berikutnya datang, dan jalur parang tertutup denai yang pulang, dan pohon sintung tumbuh lagi dari tanah yang keras. Hutan menulis kembali jalan-jalannya sendiri, dan kami berdiri di tepinya — Renung, Jamil yang sudah pulang dari titik temu, Sari yang mengajar anak-anak kampung, Bujang yang berdiri di sisi yang sudah dipilihnya, dan kampung yang berdiri di tanahnya. Perang itu selesai di dermaga berkabut dan di meja sidang dan di patok-patok yang berdiri lagi. Tapi pekerjaan ini tidak pernah selesai, dan tidak perlu selesai: selama hutan berdiri, ada yang menjaganya, dan selama ada yang menjaganya, denai-denai itu akan terus pulang — ditulis ulang oleh kaki-kaki yang benar, di tanah yang benar, di batas yang ditandai dengan benar. Selesai.