Kini, Ella sudah memilih untuk pergi, walaupun kasus perceraiannya dengan Dion belum selesai.
Saat ini dia berada disebuah taksi, yang membawanya pergi entah kemana, dia sudah kehilangan semuanya. Tidak ada lagi yang dimiliknya.
Ella menyandarkan kepalanya yang terasa sangat berat sama seperti perjalanan hidupnya yang berat.
Ella tidak mengerti, mengapa orang-orang yang disayanginya, semua pergi meninggalkan dirinya sendiri.
Ella memejamkan mata, menepis segala duka dihatinya.
"Maaf, nyonya. Kemana saya harus mengantar nyonya," tanya sopir taksi.
Dalam beberapa detik, Ella tampak kebingungan, dia tidak tahu mau kemana, dan dia tidak mungkin pulang kerumah panti lagi, bu Arie pasti sedih melihat keadaan dirinya sekarang.
Dan Ella mencari ponselnya, dia baru ingat bahwa tasnya ketinggalan, padahal ponsel dan uangnya, berada disana.
"Ya Allah," keluhnya putus asa. Kini dia semakin bingung bagaimana dia harus membayar taksi tersebut.
"Stop, pak" katanya, kemudian taksi tersebut berhenti tepat disebuah jembatan.
"Berhenti disini, nyonya," tanya sopir taksi heran. Ella diam saja dan segera menurunkan barangnya dari taksi tersebut.
"Pak, ambil cincin ini saja sebagai ongkosnya, karena saya.tidak membawa uang,"
Ella melepaskan cincin kawin yang selama ini berada dijemarinya. Tidak apa, toh pemiliknya sudah tidak berarti lagi, batinnya sedih.
Sopir taksi tersebut terbelalak menatap kilauan dari cincin tersebut.
"Tapi nyonya ini sangat mahal. Pasti cincin ini sangat berarti buat nyonya,"
"Tidak berarti lagi, saya tidak memerlukannya lagi. Ambil saja buat bapak," kata Ella sendu, karena dia tidak punya pilihan lain.
Setelah mengucapkan terima kasih, sopir taksi tersebut segera berlalu, meninggalkan Ella sendirian.
Sesaat Ella termenung, dia berdiri di jembatan dan melihat air yang mengalir dibawah sana.
Suasana sangat hening, tidak ada orang lewat disana. Anginpun bertiup dengan tenang, membuat hati Ella semakin sendu.
Terbayang wajah Dion, ach mungkin sekarang Dion dan Vivian sedang merayakan hari kebahagiaan mereka, Ella tersenyum sedih. Tak terasa air matanya kembali berlinang.
Ella menatap langit, terbayang wajah bayi mungilnya. Dan sekilas, dia melihat senyuman ibunya yang telah tiada.
Ella memejamkan matanya, semua sudah berakhir. Tidak ada lagi, yang menanti dan mengharapkannya.
Bahkan, bila dia tiada, orang-orang akan segera melupakannya.
Dikehidupan ini, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Semoga dikehidupan yang lain, aku akan bertemu dengan anak serta ibuku.
"Ibu aku sudah tidak kuat, tolong ajak aku bersamamu,"
Perlahan kakinya terangkat untuk naik ke pembatas jembatan tersebut. Hembusan angin semakin keras menerpa wajahnya.
"Apakah menurutmu, kematian itu adalah jalan yang terbaik?," suara berat seseorang mengagetkan Ella.
Ella membuka matanya, seorang pria berusia sekitar 25 tahun, telah berdiri disebelahnya.
"Si... siapa kamu," tanya Ella terkejut, dia melihat sekelilingnya sangat sepi.
Ach, bagaimana kalau orang ini berniat jahat pada dirinya, Ella bergidik ngeri. Dengan cepat dia menurunkan kakinya.
"Kenapa, apa kau takut melihatku?." kata pria tersebut acuh tak acuh. Kemudian pria itu tertawa. Ella semakin merasa takut.
"Kau takut kalau aku berbuat jahat padamu, tapi kau ingin mati dibawah sana, aneh sekali,"
Ella terdiam, teringat tadi dia hampir melakukan hal bodoh.
"Apakah kau tidak tahu, diluar sana ribuan bahkan ratusan orang menginginkan agar bisa hidup lebih lama." kata pria itu dengan suara keras.
"A.. aku....aku". Ella terbata.
"Kau tidak bersyukur, kau sudah diberikan kesehatan yang baik, malah ingin mengakhiri hidupmu."
Ella tersadar, "Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan, ampuni aku ya Allah,"
"Seberapa berat beban hidupmu. Ku lihat kau sangat sehat dan kuat. Tetapi sayang mempunyai otak yang bodoh," cemoh pria itu lagi.
Ella kaget, rasa tersinggungnya membuat rasa takutnya hilang.
"Kenapa?. apa kau tidak terima bila kukatakan kau bodoh."
Sial, siapa pria ini yang telah berani mengatai-ngatainya. Wajah Ella tampak memerah.
"Apa urusanmu, bila aku mati." kata Ella dengan nada ketus.
"Tentu saja itu urusanku. Kau lihat dibawah sana, ada sebuah sungai. Dan sungai itu adalah sumber penghasilanku. Jadi bila kau mati dibawah sana, aku yang repot mengurus mayatmu." kata Pria itu tidak berperasaan.
"Sebaiknya kau pilih tempat yang tidak merepotkan orang lain, misalnya didalam hutan sana." pria itu menunjukkan arah hutan yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Di hutan itu, banyak singa, harimau dan binatang buas lainnya. Kau tinggal datang saja. mereka dengan senang hati menerima kedatanganmu." pria itu berkata dengan santai, Ella tercenung sejenak.
"Apa kau mau aku mengantarmu kehutan itu?." tanya pria itu dengan nada serius.
"Tidak perlu!!." ketus Ella
Pria tersebut tersenyum dalam hati, Ella melongos dan mengangkat tasnya menjauh dari pria tersebut. Tetapi tidak lama kemudian....
"Hei, jalan arah itu bagus juga menuju kematian, disitu tempat bersarangnya ular kobra," teriak pria aneh itu santai.
Langkah Ella langsung terhenti, dan berapa detik kemudian dia berlari kembali mendekati pria itu.
"Ini daerah apa sih, kenapa banyak sekali binatang buas disini," kata Ella terengah-engah dan tampak ketakutan.
Pria aneh ini terkekeh, melihat Ella yang ingin mati tapi takut pada kematian.
"Sebenarnya kau mau kemana?." tanya pria itu mulai serius.
"Aku...aku tidak tau," Ella mengatur nafasnya.
"Hmm, pasti kau kabur dari rumah karena orang tuamu tidak setuju dengan pacarmu," cerocos pria tersebut, Ella mendelik kesal.
"Atau kau kabur karena pacarmu kabur dengan gadis lain." pria itu menerka-nerka.
"Apa kau ahli nujum atau peramal?." kata Ella kesal.
'Hmm"
"Dimana tempat penginapan disini." tanya Ella.
"Kau mau mencari panginapan yang mati secara perlahan atau langsung mati ditempat," tanya pria itu lagi.
"Hei, aku sedang serius," Ella sudah terlihat tidak sabaran. Pria itu terkekeh lagi sambil menggaruk kepalanya.
"Oke, oke,"
"Tolong tunjukan aja tempat penginapan di daerah sini," Ella mengulang kembali pertanyaannya dengan nada serius.
"Hm, ayo ikut aku," pria itu berjalan dengan memberi kode agar Ella mengikutinya. Dengan perlahan Ella berjalan dibelakang pria tersebut.
Hampir setengah jam berjalan, mereka belum sampai juga. Ella sudah mulai kelelahan, kakinya terasa sakit. Perutnya terasa lapar. Ella baru teringat, sejak pagi dia belum makan apa pun.
"Apakah masih jauh?,"
"Masih sekitar 3 atau 4 jam lagi perjalanan,"
"Hah!!, Kau tidak sedang bercanda kan?"
"Mau kugendong,"
"Kau gila,"
Pria itu tertawa dan menunjukkan kesuatu arah, "Itu rumah yang bercat putih, tempat penginapannya," Ella melihat sebuah rumah dibalik pepohonan.
"Syukurlah," ucap Ella lega.
Tidak berapa lama mereka sampai juga. Ella melihat sebuah villa yang sangat mewah.
Ella terlihat ragu, karena dia teringat, saat sekarang dia tidak memegang uang sedikitpun, pasti biayanya penginapan sangat mahal.
"Kau tidak mau masuk?." tanya pria itu, melihat keraguan Ella.
"Umm...itu, aku...,"
"Kau kenapa?, tadi katanya mau mencari tempat penginapan disini."
"Iya, tapi saat sekarang aku tidak punya uang, apa di villa ini boleh kita bayar nanti saja," kata Ella terlihat malu-malu.
"Umm...begitu?. baiklah aku akan bertanya sama sipenjaga villa ini dulu, kau berdo'a saja, semoga penjaga villa sedang berbaik hati," Ella dengan cepat mengangguk.
Kemudian pria itu masuk ke dalam villa mewah itu, dan hanya butuh sepuluh menit, pria tersebut sudah keluar lagi.
"Bagaimana?." tanya Ella berharap cemas.
"Kau beruntung, si penjaga villa rupanya hari ini berulang tahun."
"Maksudnya..?"
"Kau boleh menginap disini sesukamu, dan pembayaran boleh disaat kau sudah bosan menginap disini."
"Serius..?"
"Iyaa...dan satu lagi, selama berada disini, kau akan mendapatkan makan dan minum secara gratis,"
"Benarkah..?"
"Iyaa, kalau kau tidak percaya, silahkan kau tanya pada penjaga villa ini," pria itu menunjukkan kearah seorang wanita setengah baya yang berdiri disana, sepertinya sedang menunggu dirinya.
"Alhamdulillah ya Allah...o iya, namaku Ella," Ella mengulurkan tangannya.
"Oo iya ya...panggil saja aku mang ndut,"
"Mang ndut?." Ella meneliti pria didepannya tidak terlihat gendut, malah terlihat gagah dan bermata biru.
"Iyaa... aku tukang kebun disini," pria yang bernama mang ndut tersenyum dengan manis.
Ah, siapa pun namanya, saat ini Ella hanya membutuhkan tempat beristirahat, tubuhnya sudah terasa gerah dan lelah. Di tambah lagi, perutnya sudah berbunyi tanda minta di isi.
"Terima kasih, mang ndut" kata Ella sambil berlalu dari.hadapan mang ndut untuk masuk ke villa tersebut.
"Sama-sama" pria yang di panggi sebagai mang ndut menjawab dengan sopan. Dan memberi kode pada penjaga villa. Penjaga villa wanita tersebut mengangguk.
"Ada-ada saja, tuan muda," guman wanita setengah baya ini. sambil tersenyum lucu.
Setelah menjumpai penjaga villa yang bernama bi Hanum dan pak Karim, Ella mendapatkan sebuah kamar yang sangat bagus serta beberapa potong roti dan s**u jahe, yang mampu mengisi perutnya yang sudah lapar sejak tadi.
Adem terasa, karena Villa ini bernunsa pegunungan, udaranya terasa sangat segar, membuat Ella melupakan niatnya hendak bunuh diri.
"Terima kasih ya Allah, ternyata masih ada orang yang baik hati di luar sana," lirihnya, sebelum matanya terpejam karena kelelahan.