Bab 1 – Terdampar
Raka tersentak bangun dengan kepala pening. Tubuhnya terasa berat, seakan dipaksa bangkit dari kubangan lumpur. Suara ombak menghempas pantai dan aroma air laut yang asin memenuhi hidungnya.
Saat matanya terbuka, yang pertama kali ia lihat adalah langit senja yang berwarna jingga, perlahan berubah menjadi keunguan. Angin laut menerpa kulitnya yang basah kuyup, membuatnya menggigil.
Dia masih hidup.
Butuh beberapa detik bagi pikirannya untuk menyusun kembali apa yang terjadi. Kapal. Pengkhianatan. Jebakan. Air yang masuk dengan cepat. Kegelapan. Dan akhirnya, berenang sekuat tenaga hingga tak sadar lagi.
Sekarang, dia di sini. Terombang-ambing entah di mana, tapi jelas ini bukan tempat yang ia kenal.
Dengan susah payah, Raka mencoba bangkit, merasakan pasir halus di bawah tubuhnya. Seluruh badannya nyeri, mungkin karena terhempas ke karang sebelum akhirnya sampai ke daratan. Dia meraba tas kecil tahan air yang masih tersampir di bahunya. Syukurlah, beberapa barang penting masih ada:
✅ Pisau lipat – Senjata dan alat serbaguna.
✅ Korek api waterproof – Bisa digunakan untuk membuat api.
✅ Botol minum setengah penuh – Tak cukup untuk lama, tapi bisa menyelamatkan nyawanya sementara.
✅ Jam tangan survival – Kompas kecil masih berfungsi.
✅ Tali serbaguna – Bisa digunakan untuk banyak hal nantinya.
Raka menarik napas dalam. Dia tidak bisa diam di sini. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah mencari air tawar.
Dengan sisa tenaga, dia mulai melangkah masuk ke dalam hutan tropis lebat di depannya. Cahaya senja mulai redup, dan suara binatang liar mulai terdengar di kejauhan.
Ini akan menjadi malam yang panjang.
Bab 1: Terdampar (Lanjutan)
Raka menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikirannya yang berkecamuk. Ia harus fokus. Kepanikan hanya akan membuatnya lemah.
Ia menatap laut yang terbentang luas di hadapannya. Airnya berkilauan di bawah sinar matahari sore, tetapi di balik keindahannya, lautan itu telah merenggut segalanya darinya—kapalnya, kebebasannya, dan kepercayaannya terhadap teman-temannya.
Perutnya mulai berbunyi pelan. Raka sadar bahwa ia harus segera mencari makanan dan air minum sebelum gelap. Ia memeriksa sekitar, berharap menemukan sesuatu yang bisa membantunya. Matanya menangkap beberapa batang kayu dan sisa-sisa kapal yang terdampar di tepi pantai.
Ia berjalan tertatih, tubuhnya masih terasa sakit akibat benturan. Beberapa meter dari tempatnya terbangun, ia menemukan tong kayu yang setengah terkubur di pasir. Dengan susah payah, ia menariknya keluar dan membuka penutupnya.
Kosong.
Raka menghela napas kecewa, tapi ia tak punya waktu untuk meratapi nasib. Ia harus bergerak. Harus bertahan.
Ia menoleh ke arah hutan yang menjulang di depannya. Tempat itu terlihat gelap dan tak bersahabat, tapi di sanalah satu-satunya harapan untuk menemukan air dan mungkin makanan.
Dengan langkah mantap, ia menggenggam pisau lipat kecilnya dan berjalan menuju rimbunnya pepohonan, tanpa tahu bahaya apa yang sedang menantinya di dalam sana...
Baik! Aku akan melanjutkan Bab 2 langsung di sini.
(Bersambung ke Bab 2)
---
Bab 2: Hutan yang Menelan
Langkah pertama Raka memasuki hutan terasa berat. Kakinya tenggelam sedikit di pasir basah sebelum menyentuh tanah yang lebih padat dan dipenuhi akar-akar pohon. Hutan di hadapannya terlihat gelap meskipun matahari masih bersinar terang di atas. Pepohonan menjulang tinggi dengan kanopi yang rapat, menyerap cahaya dan menyisakan hanya sedikit ruang bagi sinar matahari untuk menembus ke dalam.
Udara berubah lebih lembap begitu ia melangkah lebih dalam. Aroma tanah basah, dedaunan yang membusuk, dan samar-samar wangi bunga liar menyusup ke hidungnya. Suara ombak yang tadinya terdengar kini mulai menghilang, digantikan oleh suara gemerisik dedaunan dan nyanyian serangga.
Raka berjalan perlahan, matanya terus waspada terhadap setiap pergerakan di sekitarnya. Ia tidak tahu apakah ada hewan buas di sini, tapi ia tak mau mengambil risiko. Dengan pisau lipat kecilnya yang masih terjepit di tangan, ia merasa sedikit lebih aman, meskipun ia sadar itu bukanlah senjata yang ideal untuk bertahan di alam liar.
Tiba-tiba, ia melihat sesuatu di antara akar pohon besar. Sebuah benda logam, tertutup lumpur dan lumut, tampak terkubur sebagian di tanah. Jantungnya berdegup lebih cepat. Dengan hati-hati, ia berlutut dan mulai menggali dengan tangannya.
Beberapa saat kemudian, ia menarik keluar sebilah pisau besar berkarat. Pegangannya kayunya sudah lapuk, tetapi mata pisaunya masih cukup tajam untuk digunakan.
“Seseorang pernah ada di sini...” gumamnya pelan.
Pikiran itu membuat bulu kuduknya meremang. Jika ada orang lain yang pernah terdampar di pulau ini, di mana mereka sekarang? Apakah mereka berhasil pergi? Atau... sesuatu terjadi pada mereka?
Angin berhembus pelan, membawa suara gemerisik yang membuatnya menoleh tajam ke belakang.
Ia merasa sedang diawasi.
Raka menggenggam pisau barunya lebih erat dan melanjutkan langkahnya lebih dalam ke dalam hutan, tanpa menyadari bahwa dari balik semak-semak, sepasang mata sedang mengintainya.
(Bersambung ke Bab 3...)
---
Bab 3: Bayangan dalam Kegelapan
Raka terus berjalan lebih dalam, semakin jauh dari pantai. Semakin jauh ia meninggalkan dunia yang ia kenal. Setiap langkah terasa lebih berat, dan udara di dalam hutan semakin pekat. Suara serangga yang awalnya hanya samar kini berubah menjadi simfoni yang menyelimuti setiap sudut hutan. Sepertinya mereka tahu, ia adalah makhluk asing yang datang ke tempat ini.
Sesekali, ia mengusap keringat yang membasahi dahinya. Namun, rasa haus dan lapar yang semakin menggerogoti tubuhnya lebih mendominasi perhatiannya. Ia tahu ia harus segera menemukan sumber air. Tanpa air, ia tidak akan bertahan lama.
Raka melirik sekelilingnya, berusaha mencari petunjuk. Tanpa sengaja, matanya menangkap sesuatu yang berbeda di antara pepohonan yang rapat. Sebuah jalur sempit yang terbentuk oleh tanaman merambat, mungkin sebuah jalan setapak alami yang pernah digunakan oleh penghuni sebelumnya.
Dengan hati-hati, ia mengikuti jalan setapak itu. Sementara itu, pikirannya kembali pada kapal yang karam, pada wajah Dian dan Bayu yang kini terasa seperti bayangan kelam yang terus menghantuinya. Mereka telah meninggalkannya, tetapi ia tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Jika ia bisa bertahan hidup dan kembali, mereka akan membayar mahal atas pengkhianatan itu.
Pikirannya terhenti sejenak saat sebuah suara lembut terdengar di depan. Raka segera menundukkan tubuhnya, menyelinap mendekat, matanya terpaku pada sumber suara. Dari balik semak-semak, ia melihat seorang lelaki yang sedang duduk di samping sebuah mata air kecil, meminum air dari telapak tangannya.
"Siapa itu?" Raka bertanya dalam hati.
Pria itu tidak tampak terkejut. Dengan gerakan cepat, ia berdiri dan berbalik menghadapi Raka, menghadapnya dengan tatapan tajam.
Raka terkejut. Apakah ini penghuni pulau ini? Ataukah seseorang yang juga terdampar seperti dirinya?
"Apa yang kau cari di sini?" pria itu bertanya dengan suara berat, namun tidak terdengar seperti ancaman.
Raka berusaha tetap tenang, meski hatinya berdegup cepat. "Aku... aku hanya butuh air. Dan makanan," jawabnya, mencoba tidak terlihat terdesak.
Pria itu menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis. "Kau bukan orang pertama yang terdampar di sini."
Kata-kata itu membuat Raka tercekat. "Apa maksudmu?"
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar Raka mendekat. "Ikuti aku," katanya, lalu berbalik berjalan menuju tempat yang lebih dalam lagi di hutan.
Raka ragu sejenak, tetapi rasa haus dan penasaran mendorongnya untuk mengikuti pria itu. Ia tahu ini bisa berbahaya, tapi ia tidak punya pilihan.
Saat mereka berjalan semakin dalam, Raka merasa ada sesuatu yang aneh di sekitar mereka. Angin yang sebelumnya tenang kini berhembus lebih kencang. Dan suara-suara alam yang biasanya menenangkan, seakan hilang begitu saja.
Sesuatu yang gelap, yang tidak ia pahami, mulai mengintai dari balik pepohonan.
(Bersambung ke Bab 4...)
---