Aku tidak perduli siapa pun kau jika sudah berani mengusik ketenangan ku maka nyawamu menjadi taruhannya.
~Evelin Jhonatan Rhys~
•
•
•
•
Jika membunuh adalah sebuah hobi, maka akan lebih menguntungkan jika menjadi pembunuh bayaran.
~Xanissa Maharani~
•
•
•
•
Mari bermain. Jika kau kalah maka kau akan mati.
~Aleta Oktavia Violina~
•
•
•
•
Jangan bermain api denganku, jika tak berani bertaruh nyawa.
~Jhon Harlis~
•
•
•
•
Hanya ada satu pernyataan, siapa mereka?
~Martin Alvario Gaistan~
•
•
•
•
Aku mencintaimu dengan nyawaku.
~Randy Pangalila~
•
•
•
•
Aku tau kalian bukan orang biasa, tapi siapa kalian?
~Kelvin Sugandi~
•
•
•
•
Wajahku tersenyum dengan hati yang penasaran.
~Rey Zidane~
•
•
•
•
Kami hanya mau sahabat kami kembali, hanya itu. Namun itu mustahil.
~Cladea Waiston~
~Meliza Mutoharoh~
~Celine Margaretha~
•
•
•
•
Bunuh saja aku, tolong raga ini sudah tidak sanggup lagi.
~Elina Sofia Barta~
Hanya ada satu tujuan yang membuatnya kembali, dan itu adalah BALAS DENDAM.
______
Kedua gadis kembar dengan gaun yang sama persis, yang menjadi pembedanya ada potongan rambut mereka.
Yang satu berambut lurus hitam legam panjang dan satunya berambut pendek dengan poni tipis menutupi dahinya serta rambutnya yang agak kecoklatan.
Hari ini adalah hari ulang tahun ke tujuh untuk kedua gadis kembar itu.
Rumah mereka begitu ramai karena mereka mengundang banyak teman SD mereka.
Kue ulang tahun bermotif beruang berwarna pink dan dan hitam, itu sesuai warna kesukaan mereka.
Mereka belum meniup lilin karena memang acara belum mulai.
Kedua gadis kecil itu duduk berdua tanpa melunturkan senyum mereka.
"Selama ulang tahun Ev."
"Selamat ulang tahun Em."
"Em seneng banget deh hari ini!" pekik gadis berambut panjang.
"Ev juga, seneng banget. Apa lagi temen-temen kita pada dateng semua," sahut gadis berambut pendek.
"Ev, kita keluar yuk."
Kedua gadis kembar itu pun memutuskan keluar sembari menyambut teman-teman mereka.
Di luar juga sangat ramai, mereka melihat sebuah mobil penjual es krim.
"Ev, Em mau es krim." Gadis berambut pendek itu tersenyum dan mengangguk.
Akhirnya sih kembar pun memutuskan untuk mendekati penjual es krim tersebut.
"Pak es krim vanilla satu sama es krim coklat satu," pesan gadis berambut panjang.
Penjual es krim itu mengangguk dan segera membuatkan pesanan mereka.
"Em, bawa uangnya kan?" tanya gadis berambut pendek.
"Yah, enggak. Bentar deh biar Em minta sama Bunda, Ev tunggu disini ya." Gadis berambut pendek itu mengangguk.
Saudari kembarnya pun pergi meninggalkannya, dan dia menunggu sendirian.
Hingga es krim sudah diberikan padanya dan dia ingin mengambil es krim tersebut, tiba-tiba tangannya di tarik dan mulutnya di bekap.
Gadis itu terus memberontak namun nihil, tubuh kecilnya tak dapat melawan karena tidak cukup kuat.
Gadis itu sempat melihat kembarannya yang berlari kearahnya.
"Mmhhh ... Pphhhhmmm ...."
Gadis itu terus memberontak, dia dapat melihat kembarannya yang menangis di pinggir jalan dan juga mendengar teriakan kembarannya.
"EV!!! TOLONG!!!! HIKS EV!!!"
___
"AAAA!!"
"Huh ... huh ... huh ...."
"Mimpi itu lagi," gumamnya.
Gadis dengan wajah putih bersih dan rambut yang agak pirang panjangnya sepinggang serta poni yang tidak rapi di dahinya melirik jam dinding bermotif tengkorak.
"Jam dua."
Tepatnya jam dua dini hari.
Gadis itu menyandarkan punggungnya ke kepala kasur.
"Huh, Em kamu apa kabar?" tanya gadis itu entah pada siapa.
Evelin POV
Namaku Evelin Jonathan Rhys, berusia enam belas tahun saat ini aku masih menempuh pendidikan di negara orang. Tepatnya Amerika Serikat.
Namun itu tidak sepenuhnya menempuh pendidikan karena aku dan sahabatku di kirim untuk sebuah misi dan harus bertahan selama dua tahun lebih disini.
Setiap malam aku selalu bermimpi tentang masalalu kelam itu.
Aku tidak pernah jatuh cinta karena menurutku jatuh cinta hanya menghambat pekerjaanku.
Aku memutuskan untuk pergi ke dapur karena tenggorokanku terasa kering.
Rumah yang kami tempati ini tidak terlalu besar, hanya ada dua kamar dan satu makar mandi serta satu dapur dan satu ruang tamu yang menyatu dengan ruang bersantai.
Kenapa kecil? Karena kami hanya berdua, dan tidak pernah ada tamu yang datang kesini.
"Lagi ngapain Lo?"
Aku menoleh pada sahabat sekaligus rekanku.
"Aus gue," jawabku.
Kami memang tidak pernah menggunakan bahasa asing jika hanya berdua, kami berdua pun memang asli Indonesia dan berada disini baru dua tahun lebih.
"Lo sendiri ngapain bangun sepagi ini?" tanyaku padanya.
"Gue baru aja nemu markas utama mereka, dan Lo tau? Ada satu fakta yang bakal bikin Lo terkejut." Aku mengangkat sebelah alisku.
"Skarlet adalah anak dari musuh kita," ujarnya tegas.
"Oh, gadis yang sering bully anak-anak kelas sepuluh itu?" tanyaku padanya.
"Iyap, dan gue ada rencana buat nyuruh dia keluar dari persembunyiannya."
"Apa itu?" tanyaku.
"Lo liat aja nanti," ujarnya disertai senyum manis yang mengerikan.
Ah iya, aku sampai lupa mengenalkan dirinya pada kalian.
Dia adalah XANISSA MAHARANI sahabat serta rekanku dalam setiap misi yang diberikan dari ketua sekaligus Ayah angkatku.
Dia blasteran Jerman dan Indonesia, wajahnya cantik bak barbie. Rambutnya lebat serta pirang, tubuhnya kecil dan seksi.
Namun jangan tertipu dengan kecantikannya, dia adalah psikopat dan menjadi pembunuh bayaran.
Sudah banyak nyawa yang melayang di tangannya, dia sama sepertiku menjadi anak angkat dari seorang mafia besar.
Namun bedanya, dia masih tinggal bersama dua orang tuanya sedangkan aku memang sudah tidak pernah bertemu dengan kedua orangtuaku sejak beberapa tahun lalu.
"Denger Xan, ini adalah misi terakhir kita disini. Dan gue mau setelah misi ini selesai kita harus segera kembali ke Indonesia dan cari kembaran gue." Xanissa mengangguk dengan senyumnya.
"Lo tenang aja, gue udah suruh Ale dan Jhon buat cari kembaran Lo." Aku tersenyum.
"Dan gue masih belum dapat kabar lagi dari mereka, Lo tenang aja kita akan secepatnya menyelesaikan misi ini."
Setelah dia mengatakan itu Xanissa pun langsung pergi kembali ke kamarnya.
"Em, Ev kangen banget. Ev mohon tunggu kedatangku," gumamku.
"Lo tenang aja, kita bakal ketemu sama kembaran Lo."
Aku tersenyum hangat pada Xanissa.
"ya udah sekarang mending kita tidur dulu, besok kan harus masuk pagi." aku mengangguk mendengar ajakan Xanissa.
kami berdua masuk berjalan menuju kamar dan kembali melanjutkan tidur yang tadi tertunda.
aku berusaha memejamkan kedua mataku lagi, namun sulit hingga akhirnya aku memutuskan untuk duduk dan melamun.
aku menoleh pada Xanissa yang nampak sudah tertidur pulas, mudah sekali dia tidur tidak seperti aku.
"Hem, Emelin lagi apa ya sekarang?" gumamku.
Aku akan melakukan apapun
untuk bisa bertemu lagi
padamu termasuk membunuh mereka-
~Evelin Jonathan Rhys~