Elara, yang kini dikenal sebagai Elaria, duduk dengan tenang di dalam kereta kuda yang berderit pelan, ditemani pelayannya, Marria, yang setia berada di sisinya.
Kereta itu bergerak perlahan di atas jalan setapak yang dipenuhi dedaunan musim gugur berwarna keemasan, suara gemericiknya membaur dengan deru lembut roda kereta yang berputar.
Mereka sedang dalam perjalanan panjang menuju rumah megah milik Grand Duke Draevenwyn, yang kini berdiri sebagai tujuan akhir mereka. Meskipun perjalanannya melelahkan, hati Elaria tidak bisa menyembunyikan rasa takjub yang memenuhi dadanya. Melalui jendela kecil kereta, ia menyaksikan hamparan alam yang begitu indah, seolah-olah dilukis dengan penuh cinta oleh tangan-tangan dewa.
Meskipun jalannya bergelombang dan jauh dari kenyamanan transportasi modern yang dulu pernah ia rasakan, Elaria kini telah terbiasa dengan ritme baru dunia ini. Pada awalnya, rasa pusing dan mual sering menghantui, namun seiring berjalannya waktu, tubuhnya mulai menerima perubahan ini dengan tenang.
Perjalanan mereka memakan waktu empat jam lamanya, melewati berbagai pemandangan yang asing namun mempesona, hingga akhirnya mereka meninggalkan mansion sederhana Baron Merrow, yang terletak di pinggiran kekaisaran, semakin jauh di belakang.
Ketika kereta akhirnya mendekati kediaman Grand Duke Howard, sebuah bangunan megah mulai terlihat di kejauhan, menjulang tinggi di bawah sinar matahari sore. Cahaya keemasan yang memantul dari jendela-jendela besar dan menara-menara yang menjulang seperti mahkota langit membuat Daisy tertegun. Itu adalah istana yang seolah-olah keluar dari dongeng-dongeng masa kecilnya, dengan taman yang ditata rapi, dihiasi air mancur yang berkilauan, dan patung-patung malaikat yang berdiri kokoh di antara semak-semak mawar.
"Wow, lihatlah itu, Marria," suara Elaria penuh kekaguman, matanya melebar takjub. "Lebih indah daripada yang pernah aku bayangkan."
Marry, yang duduk berhadapan dengannya, tersenyum kecil sambil turut menatap ke arah bangunan megah itu. "Ya, Nona Daisy. Kediaman Grand Duke Draevenwyn memang terkenal dengan kemegahannya. Mereka memiliki taman yang sangat indah, rumah kaca yang terkenal sebagai yang tercantik di seluruh kekaisaran, dan bangunan kediamannya bersejarah dengan berbagai patung seni yang luar biasa. Bahkan ada danau di dalamnya yang begitu menakjubkan. Rumor tentang tempat ini benar-benar tak dapat menggambarkan keindahan yang sesungguhnya."
Elaria terpesona oleh pemandangan tersebut, sementara pikirannya kembali melayang pada kenyataan pahit yang menimpanya. Sudah seminggu sejak Elara, yang kini hidup sebagai Elaria, tiba di tempat ini.
Meskipun ia belum sepenuhnya menerima nasib yang menimpanya, perlahan ia mulai menyadari bahwa dirinya tak punya pilihan lain selain beradaptasi. Jauh dari keluarganya, dari kehidupan lamanya, dan bahkan dari tubuh aslinya yang entah masih hidup atau tidak. Rasa sakit yang menghantui hatinya masih kuat, namun Elaria menolak untuk terjebak dalam kesedihan yang berkepanjangan. Ia tahu bahwa jika ada cara untuk kembali ke dunia asalnya, tempat ini, dunia yang penuh sihir dan keajaiban, mungkin memegang kunci jawabannya.
Dalam satu minggu ini, Elaria mulai menjalin hubungan yang lebih dekat dengan pelayannya, Marria. Pada awalnya, Marria merasa aneh dengan perubahan sikap Elaria yang begitu drastis, namun lambat laun mereka saling memahami dan hubungan keduanya semakin erat. Meski begitu, Elaria masih kesulitan mendapatkan informasi tentang dunia baru yang ia tinggali ini. Ia berharap dengan menghadiri pesta teh yang diselenggarakan oleh keluarga Grand Duke Draevenwyn, ia dapat menemukan petunjuk atau informasi yang bisa membantunya memahami dunia ini dan mencari cara untuk bertahan.
Ketika kereta mereka akhirnya melewati gerbang besar dari besi tempa, Elaria terpana oleh patung-patung indah di sepanjang jalan yang tampak seolah-olah mengeluarkan api dari tangan mereka. Kuda-kuda besar menarik kereta di belakang mereka, sementara para kesatria dan pelayan berdiri dengan sikap tegap di sekitar halaman, menambah kesan kemegahan dan kekuasaan yang memancar dari tempat ini. Suasana semakin ramai dengan deretan kereta kuda yang mengantri untuk masuk ke dalam kediaman Grand Duke, mengisyaratkan betapa pentingnya acara ini.
"Apakah semua rumah bangsawan seindah ini?" Elaria bertanya dengan penuh rasa heran, mengingat rumah keluarganya di Baron Darius yang jauh lebih sederhana.
Marria tersenyum kecil. "Tidak, Nona. Hanya sedikit rumah bangsawan yang bisa mencapai kemegahan seperti ini. Kediaman Grand Duke Draevenwyn dikenal sangat istimewa, baik dalam hal arsitektur maupun dekorasi. Beberapa orang bahkan mengatakan lebih indah daripada istana kekaisaran."
Saat mereka akhirnya tiba di halaman depan yang luas, Elaria merasa seolah-olah ia telah memasuki dunia lain. Taman yang indah dirawat dengan sempurna, patung-patung malaikat berdiri di tengah air mancur yang berkilauan, memantulkan cahaya matahari senja. Setelah turun dari kereta dengan bantuan Marria, Elaria berdiri di depan pintu masuk utama yang besar dan megah. Matanya masih terbelalak karena kekaguman. "Ini luar biasa," gumamnya, merasa bahwa dunianya berubah dalam sekejap. Seperti mimpi yang menjadi kenyataan, meski dengan perasaan aneh bahwa ia tidak sepenuhnya bagian dari dunia ini.
Marria, dengan sigap, membantu merapikan penampilan Elaria sebelum mereka melangkah masuk. "Ingat, Nona, ini adalah kesempatan besar untuk memperkenalkan diri dengan baik. Ini juga akan menjadi momen yang penting sebelum debut Nona."
Elaria mengangguk, berusaha menenangkan dirinya. "Aku akan ingat itu, Marria. Aku akan berusaha sebaik mungkin." Namun dalam hatinya, ia menambahkan satu hal lagi-mencari informasi sebanyak mungkin agar ia bisa bertahan hidup dan mungkin, suatu hari, menemukan cara untuk kembali ke dunia asalnya.
Ketika seorang pelayan mengantarnya ke taman tempat pesta teh berlangsung, Elaria sekali lagi dibuat terpesona. Taman yang biasa dipenuhi bunga-bunga indah kini berubah menjadi tempat yang memukau. Meja-meja berlapis kain sutra, bunga-bunga berwarna-warni disusun di dalam vas-vas indah, serta lilin-lilin kecil yang berkilauan di bawah sinar matahari sore, menciptakan suasana magis yang hanya ada di dunia dongeng.
Gadis-gadis bangsawan hadir dalam gaun-gaun indah, dari biru pekat hingga merah muda lembut, semuanya dihiasi perhiasan gemerlap. Setiap langkah mereka seolah dipenuhi keanggunan, dan Elaria merasa dirinya tenggelam dalam dunia yang berbeda. Meski dirinya seorang bangsawan, gaun sederhana yang ia kenakan terasa begitu kontras dengan kemewahan di sekitarnya. Gaun itu adalah peninggalan ibunya, sebuah simbol kasih sayang, namun usianya yang sudah lama membuat warnanya sedikit memudar.
Elaria duduk di sudut taman, agak jauh dari pusat keramaian, dengan kesopanan yang ia coba pertahankan. Meski gugup, ia tahu bahwa hari ini adalah kesempatan yang sangat penting.
Di sekelilingnya, para tamu duduk dengan tenang dalam susunan yang mencerminkan hirarki tak tertulis di dunia bangsawan. Keluarga-keluarga berpengaruh dengan lambang kebangsawanan yang megah duduk lebih dekat ke meja utama, sementara mereka yang berada di posisi lebih rendah seperti Elaria , seorang putri dari keluarga Baron yang sederhana-menempati tempat di pinggir, jauh dari pusat perhatian. Kehadirannya di acara mewah seperti ini sendiri sudah merupakan keajaiban, seolah-olah takdir memberinya sedikit ruang untuk mencicipi dunia yang hanya bisa ia impikan selama ini.
Sambil menunggu acara dimulai, Elaria melirik ke sekelilingnya, menyaksikan gadis-gadis bangsawan lain saling berbicara dengan tawa yang lembut, terlatih, dan penuh kehati-hatian. Mereka tampak begitu alami, dengan anggun memutar kipas mereka sembari bertukar kabar dan rahasia kecil. Suara mereka seperti musik yang bercampur dengan nyanyian burung dan desiran lembut angin, menciptakan suasana yang terasa magis, seperti sebuah bab dalam novel yang menawan, dunia di mana mimpi dan kenyataan seolah menyatu.
Seorang pelayan mendekat, berbisik halus saat ia meletakkan secangkir teh di meja Elaria. "Nona, silakan menikmati tehnya. Acara akan dimulai sebentar lagi."
Elaria mengangguk pelan, bibirnya membentuk senyuman sopan. "Terima kasih," katanya dengan suara selembut desiran angin. Dalam genggamannya, cangkir teh itu terasa hangat, namun tidak cukup untuk mengusir kegugupannya. Mata Elaria melirik gaunnya yang sederhana, berbeda jauh dari gaun-gaun mewah yang dikenakan gadis-gadis di sekitarnya. Meskipun tidak usang, gaun itu tidak mencerminkan gemerlap dan keanggunan yang kini ada di hadapannya.
Di balik semua senyum manis itu, Ealria sadar, tersembunyi intrik-intrik sosial yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah lama berkecimpung dalam dunia bangsawan ini. Namun, ia tahu ini adalah kesempatan besar. Setiap langkah, setiap kata, dan setiap senyum yang diberikan haruslah berhati-hati.Ia harus membangun citra yang baik dan lebih dari itu, mencari informasi yang mungkin bisa membantunya memahami seluk-beluk dunia ini.
Di meja, berbagai hidangan lezat tersaji dalam porsi yang sangat menggoda. Dessert yang tertata rapi dengan detail artistik tampak seolah-olah terbuat dari mimpi manis. Mata Elaria terpaku pada kue yang tampak lembut dengan taburan bunga-bunga gula di atasnya. Namun, rasa ragu muncul.
Etiket kebangsawanan bukanlah sesuatu yang ia kuasai dengan baik. Dalam seminggu terakhir, ia mencoba mempelajarinya dari buku-buku di kamarnya, tetapi di hadapan begitu banyak pasang mata, dia merasa lebih aman untuk menahan diri. Sesederhana itu, namun bagi Elaria, sepotong kue bisa menjadi pengingat akan jarak yang begitu lebar antara dirinya dan dunia ini.
Waktu berlalu dengan lambat. Elaria menyadari bahwa tak seorang pun di sekitarnya yang ia kenal, dan tak satu pun nona muda yang berusaha mengajaknya berbicara. Ia merasa seperti bunga liar yang tumbuh di tengah taman yang penuh dengan mawar mahal, cantik dalam kesederhanaannya namun tetap terpinggirkan. Hatinya dipenuhi campuran rasa canggung dan kekaguman, sebuah perpaduan yang aneh namun sulit untuk dihindari.
Di tengah-tengah lamunannya, suara pelayan menggema, memberitahukan bahwa pemilik acara akan segera memasuki taman. Semua tamu, termasuk Elaria, dengan cepat berdiri, memberikan penghormatan. Dari pintu masuk taman, tampak dua sosok yang segera mencuri perhatian seluruh hadirin. Nona Veronica, dengan rambut perak yang memantulkan cahaya lembut matahari sore, melangkah anggun seperti seorang dewi yang turun dari langit. Di sampingnya, seorang pemuda tampan dengan postur yang tegap, mengenakan jubah elegan yang mempertegas wibawanya.
"Astaga, lihatlah Tuan Muda Leonhart!" bisik gadis-gadis bangsawan di sekitar Elaria dengan penuh kekaguman. "Bagaimana bisa dia semakin tampan setiap harinya?"
"Lihat kepribadiannya, begitu tenang dan lembut. Sungguh beruntung Nona Veronica memiliki dua kakak laki-laki yang begitu tampan dan terhormat," tambah seorang gadis lainnya, kipasnya menutupi wajahnya yang tersipu malu.
Kipas-kipas para gadis itu bergerak anggun menutupi wajah mereka yang merona, namun bisikan-bisikan mereka tetap terdengar jelas di telinga Elaria. Nama yang mereka sebut-sebut -Veronica, sang putri angkat Grand Duke-membuat Elaria menajamkan telinganya. Nona muda itu begitu memikat dengan rambut perak berkilauan seperti sinar bulan, sementara mata ungu amethyst-nya memancarkan keindahan misterius yang tampaknya tidak berasal dari dunia ini. Auranya, yang begitu suci dan anggun, membuatnya tampak seperti peri yang turun ke bumi.
Elaria mengamati setiap langkahnya, seolah-olah dunia di sekitarnya melambat hanya untuk memberi ruang bagi kecemerlangan Veronica. Pemuda tampan di sisinya,Leonhart, melangkah dengan wibawa yang tak terbantahkan, memberikan kesan sebagai pelindung setia yang siap menjaga kehormatan saudarinya. Namun, setelah mengantarkan Veronica ke tengah taman, Tuan Muda Leonhart dengan segera meninggalkan tempat itu, memberikan ruang bagi saudarinya untuk menjadi pusat perhatian.
Saat Veronica melangkah lebih dalam ke taman, bisik-bisik di antara para tamu semakin intens. Gadis-gadis bangsawan di sekitar Elaria membicarakan betapa beruntungnya Nona Veronica. "Lihatlah dia," bisik salah satu dari mereka dengan nada penuh kekaguman. "Kecantikan yang begitu suci. Tak heran Grand Duke mengadopsinya. Dia memang ditakdirkan. untuk menjadi bagian dari keluarga Vexthorne."
"Tentu saja, itu bukan tanpa alasan," sahut gadis lain dengan gaun merah, suara penuh keyakinan. "Dengar, Grand Duke mengadopsinya setelah nona Veronica menyelamatkannya dari serangan monster di desa Arafah. Dia berutang nyawa padanya. Selain itu, ada rumor bahwa nona Veronica memiliki kekuatan suci-kekuatan penyembuhan yang sangat langka."
Rumor itu menarik perhatian Elaria. Nama Veronica, kisah penyelamatannya, dan kekuatan luar biasanya, semuanya terdengar seperti cerita yang diambil langsung dari novel. Di tengah hiruk-pikuk bisikan dan pujian, Elaria menyadari bahwa informasi ini bisa menjadi kunci untuk memahami dinamika sosial di dunia barunya.
Acara pesta teh mulai dengan nona Veronica menyambut tamu-tamu dengan senyuman ceria. Antusiasmenya menambah kehangatan acara, menjadikannya lebih ramah dan bersahabat. Elaria, yang duduk di sudut taman, merasa ini adalah posisi yang strategis untuk menyerap lebih banyak informasi dari gosip-gosip para gadis bangsawan.
Elaria mendengar desahan kagum dari sekelompok gadis yang duduk tak jauh darinya, berbicara tentang kakak laki-laki Veronica, Alaric, dan Leonhart.
"Alangkah beruntungnya Nona Veronica," gumam seorang gadis dengan nada penuh kekaguman. "Dibesarkan dalam keluarga Grand Duke Vexthorne dan memiliki dua saudara laki-laki yang begitu luar biasa."
Gadis di sebelahnya menimpali, suaranya penuh kerendahan hati namun sarat kekaguman. "Tuan Muda Alaric dan Tuan Muda Leonhart... bagian dari pilar masa depan Kekaisaran. Tak terbayangkan betapa sempurnanya hidup di antara mereka."
Gadis yang lain, lebih berani dalam suaranya, menatap langit dan berkata, "Namun, Tuan Alaric jarang terlihat di perhelatan seperti ini. Apakah kalian memperhatikan? Sudah lama sejak dia terakhir muncul di pesta kerajaan."
Gadis berambut hitam bergelombang, yang tampak lebih tahu, menambahkan, "Memang benar, Tuan Muda Alaric jarang menghadiri acara sosial. Dia seolah menempatkan jarak yang sangat besar antara dirinya dan orang lain."
"Aku pernah melihatnya dari dekat," sahut gadis lain, suara nadanya melankolis. "Dia begitu dingin dan pendiam. Tatapannya... sangat tajam dan menusuk seolah mampu menembus jiwamu. Sungguh menakutkan. Dia bahkan tak pernah tersenyum"
Yang lain mengangguk setuju, tetapi gadis di tengah berkata dengan suara hampir berbisik, seolah takut rahasianya akan terdengar. "Tapi... tidakkah kalian merasa ketampanannya yang misterius justru membuatnya semakin memikat? Setiap kali aku melihatnya, rasanya seperti sedang menatap pangeran es"
Mereka terdiam sejenak, seakan membiarkan fantasi tentang Isaac mengisi udara, sebelum seorang gadis berbaju sutra biru muda, dengan tatapan cerah, tiba-tiba berbicara, memecah lamunan mereka.
"Berbeda dengan Tuan Muda Leonhart," katanya dengan senyuman kecil. "Ia bagai matahari-selalu ceria, tersenyum, dan murah hati kepada semua orang. Kepribadiannya yang hangat seolah mampu mencairkan siapa pun yang ada di dekatnya."
"Oh, Tuan Leonhart," gumam salah satu gadis dengan penuh kekaguman, tatapannya menerawang. "Siapa yang tidak akan jatuh cinta padanya? Dia seperti matahari dalam keluarga Vexthorne."
"Bayangkan," tambah yang lain dengan penuh harap. "Gadis mana pun yang berhasil memenangkan hati salah satu dari mereka akan hidup dalam kemewahan dan cinta. Betapa sempurna keluarga ini. Siapa tahu, mungkin saja salah satu dari kita akan menjadi bagian dari mereka suatu hari nanti."
Mata mereka bersinar dengan impian, dan untuk sejenak, suasana tampak seperti dipenuhi harapan-harapan yang diam-diam disampaikan. Elaria, yang mendengarkan dengan seksama dari tempat duduknya, merasa ada sesuatu yang akrab dalam percakapan ini. Nama-nama yang disebutkan, detail kepribadian, semuanya terasa seolah ia sudah mendengarnya di suatu tempat sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, Elaria, yang tadinya hanya mendengarkan sambil menikmati teh, mulai tenggelam dalam pikirannya sendiri. Meskipun keramaian pesta teh di sekelilingnya terus berlangsung dengan tawa dan obrolan ringan, pikirannya melayang jauh. Semua
informasi yang baru didengarnya, entah bagaimana, terdengar sangat dekat, seolah-olah bagian dari kenangan yang telah lama terkubur.
Dan saat itu juga, tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut. Sebuah rasa sakit yang tajam menghantamnya, membuat tangannya
mencengkeram meja teh di depannya. Elaria berusaha menahan diri agar tidak menarik perhatian. Ia harus tetap tenang, apalagi di tengah pesta seperti ini. Sebagai seorang gadis bangsawan, ia dituntut untuk selalu tampil sempurna.
Namun, rasa pusing itu semakin kuat, membuat pandangannya kabur dan dunia di sekitarnya perlahan memudar. Dalam kekacauan itu, ingatannya seperti terseret kembali ke masa lalu-ke sebuah buku yang pernah ia baca di kehidupan sebelumnya. Judulnya melintas di benaknya"The Queen and Her Warlord"
Dalam pikirannya yang berputar, plot novel itu terurai. Kisah seorang gadis biasa bernama Elaria yang diadopsi oleh Grand Duke Vexthorne setelah menyelamatkan hidupnya secara tidak sengaja. Tak lama setelahnya, Veronica akan diangkat menjadi "Vexthorne" seorang penyelamat dengan kekuatan suci yang diramalkan akan membawa kedamaian bagi dunia. Novel itu bukan
hanya tentang petualangan, tetapi juga kisah cinta yang murni di tengah ancaman kehancuran dunia.
Elaria tersentak. "Ini adalah dunia dari novel itu.** Semua karakter- Veronica, Alaric, Leonhart-mereka bukan hanya tokoh cerita, mereka nyata. Rasa pusing yang menghantamnya membuat semuanya menjadi jelas. la benar-benar terjebak dalam dunia novel ini.
Saat rasa sakit di kepalanya mulai mereda, pandangannya kembali normal. Namun, ada yang berbeda. Sekarang ia mengingat dengan jelas jalan cerita, dan tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Segala yang tampak tak terduga bagi orang lain, kini terbuka lebar di hadapannya.
Elaria menghela napas panjang. Perasaan campur aduk merayapi dirinya di satu sisi, ia merasa takut karena mengetahui apa yang akan datang.
Pertanyaan itu berputar di kepalanya, menciptakan ketegangan baru dalam hatinya. Dunia ini, yang dulunya hanya fiksi bagi Elaria, kini menjadi kenyataan yang harus ia jalani