Malam penggalangan dana tiba lebih cepat dari yang kuinginkan.
Aku berdiri di depan cermin apartemenku, menatap bayangan seorang wanita yang hampir tidak kukenali. Gaun malam berwarna merah marun terlalu mahal untuk seorang sekretaris, tapi Dante mengirimkannya pagi tadi dalam kotak beludru hitam tanpa sepatah kata pun. Gaun ini pas di tubuhku, seolah dibuat khusus untukku.
Mungkin memang dibuat khusus, pikirku getir. Dia tahu ukuranku. Dia tahu segalanya.
Aku mengusap lipatan gaun itu dan menarik napas panjang. Malam ini bukan sekadar acara amal. Malam ini adalah panggung. Dan aku harus memainkan peranku dengan sempurna.
---
Mobil Dante menjemputku pukul enam sore. Maybach hitam yang sama, tapi kali ini dengan sopir. Dante duduk di kursi belakang, mengenakan tuksedo hitam dengan dasi kupu-kupu. Aura bahaya yang selalu mengelilinginya malam ini dibungkus dalam kemasan yang lebih elegan—tapi tetap saja, satu tatapan darinya sudah cukup untuk membuat siapa pun merasa seperti sedang dinilai.
"Gaunnya pas," katanya saat aku masuk ke mobil. Matanya menyapu tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan aku tidak bisa menentukan apakah itu pujian atau sekadar observasi.
"Terima kasih, Pak."
"Hari ini panggil aku Dante. Bukan 'Pak'. Kita akan dikelilingi orang-orang yang perlu melihat kita sebagai... pasangan."
Kata terakhir itu meluncur dari lidahnya dengan mudah. Terlalu mudah.
"Baik, Pak—Dante."
Sudut bibirnya terangkat tipis. "Bagus. Sekarang dengarkan. Di acara ini akan ada banyak orang penting. Investor. Politisi. Wartawan yang sudah dibayar. Dan beberapa... kolega yang kurang ramah."
"Maksudnya musuh?"
"Maksudnya orang-orang yang akan menusuk punggungku kalau mereka punya kesempatan." Dante menoleh padaku. "Tugasmu malam ini sederhana: tetap di sisiku, tersenyum, dan jangan bereaksi terhadap apa pun yang kau lihat atau dengar. Mengerti?"
"Aku mengerti."
"Dan satu hal lagi." Suaranya turun setengah oktaf. "Kalau seseorang bertanya tentang masa lalumu, jawab singkat. Jangan mengarang cerita yang tidak perlu."
Aku menatapnya. "Kenapa? Khawatir aku akan ketahuan?"
"Khawatir kau akan membuat kesalahan yang tidak bisa kuperbaiki."
---
Mobil tiba di rumah Dante pukul tujuh malam.
Halaman depan mansion itu berubah total. Lampu-lampu kristal digantung di pepohonan. Karpet merah membentang dari gerbang sampai pintu utama. Mobil-mobil mewah berjajar—Ferrari, Lamborghini, Rolls-Royce. Para tamu berbusana mahal berjalan berpasangan, menyapa satu sama lain dengan senyum yang terlalu lebar untuk menjadi tulus.
"Ini sirkus," bisikku tanpa sadar.
Dante terkekeh pelan—suara yang jarang kudengar. "Selamat datang di duniaku."
Ia meraih tanganku dan melingkarkannya di lengannya. Sentuhan itu membuat bulu kudukku berdiri, tapi aku tidak menarik diri. Aku tersenyum, mengangguk pada tamu-tamu yang kami lewati, memainkan peran sebagai pendamping sempurna.
Di dalam, rumah itu bahkan lebih mewah dari yang kuingat. Ruang dansa utama—yang dulu kosong dan sunyi—kini dipenuhi meja bundar dengan taplak emas. Panggung kecil di ujung ruangan menampilkan kuartet gesek. Pelayan membawa nampan sampanye dan canapé. Semua orang tertawa, bersulang, berbasa-basi.
Aku mengenali beberapa wajah dari jamuan sebelumnya: Tuan Hendrawan si pemilik media, Nyonya Indira dengan kalung berliannya yang lebih besar dari sebelumnya, Tuan Ruslan yang matanya selalu kulihat mengawasiku. Tidak ada yang menatapku dengan permusuhan. Tidak ada yang tampak mengancam.
Tapi aku tahu—di dunia ini, senyum adalah senjata paling tajam.
---
Satu jam berlalu tanpa insiden berarti.
Dante memperkenalkanku pada lusinan orang. Aku tersenyum, menyapa, bertukar basa-basi. "Senang bertemu dengan Anda." "Oh, pekerjaan di Diamond Corp sangat menyenangkan." "Dante adalah bos yang luar biasa." Kebohongan demi kebohongan mengalir dari mulutku semulus sampanye yang kuminum seteguk demi seteguk.
Lalu, saat Dante sedang berbicara dengan seorang investor tua, aku melihatnya.
Seorang pria di sudut ruangan.
Ia berdiri sendirian, tidak membawa gelas, tidak berbicara dengan siapa pun. Usianya mungkin lima puluhan. Rambut abu-abu disisir rapi. Jas abu-abu yang tidak semewah tamu lain. Tapi bukan penampilannya yang membuat darahku membeku.
Itu matanya.
Mata yang menatapku dengan pengakuan.
Tidak. Tidak mungkin.
Otakku berputar liar, mencari ingatan, mencocokkan wajah itu dengan database di kepalaku. Aku tidak mengenalnya. Aku yakin tidak pernah bertemu pria ini sebelumnya.
Tapi caranya menatapku... seolah ia mengenaliku.
Pria itu mulai berjalan ke arahku.
"Clara." Dante tiba-tiba sudah di sampingku, tangannya di punggungku. "Aku ingin kau bertemu seseorang."
"Tunggu—"
Tapi Dante sudah membawaku ke arah yang berlawanan, menjauh dari pria itu. Aku melirik ke belakang. Pria itu berhenti berjalan. Ia masih menatapku, dan kali ini ia tersenyum.
Senyum yang membuat perutku terasa dingin.
---
Pukul sembilan malam, acara mencapai puncaknya.
Dante naik ke panggung untuk memberikan pidato singkat tentang yayasan Alzheimer. Aku berdiri di sisi panggung, memperhatikannya berbicara dengan karisma yang tidak bisa dipungkiri. Ia menyebut ibunya. Ia menyebut kenangan yang hilang dan pentingnya penelitian. Para tamu bertepuk tangan.
Untuk sesaat, aku hampir lupa bahwa pria di panggung itu adalah orang yang sama yang mengeksekusi Andi di parkiran bawah tanah.
"Permisi."
Suara itu datang dari belakangku.
Aku berbalik. Pria berambut abu-abu itu berdiri di sana. Jaraknya kurang dari satu meter. Terlalu dekat.
"Maaf mengganggu," katanya, suaranya rendah dan serak. "Tapi aku harus bertanya... apakah aku mengenal Anda?"
Aku tersenyum sopan. "Saya rasa tidak. Saya Clara, sekretaris Dante Morano. Baru beberapa minggu bekerja di sini."
"Clara." Ia mengucapkan nama itu seperti mencicipi makanan yang tidak ia sukai. "Tapi Anda terlihat sangat familiar. Terutama mata Anda."
"Saya punya wajah yang umum."
"Tidak." Ia memiringkan kepala. "Anda mengingatkanku pada seseorang. Seorang gadis kecil. Dulu, sekitar lima belas tahun lalu... ada operasi penyelamatan. Gadis kecil berusia tujuh tahun. Rambut hitam. Gaun merah."
Duniaku berhenti berputar.
"Aku ingat karena aku yang memimpin tim investigasi malam itu," lanjutnya. "Aku yang menemukanmu di ruang bawah tanah. Aku yang menggendongmu keluar saat kau menangis."
Napasku tercekat.
"Aku tahu siapa dirimu," bisik pria itu. "Kau Valeria. Gadis yang hilang. Gadis yang seharusnya dikembalikan ke panti asuhan, tapi malah... disimpan."
---
Aku tidak tahu harus berkata apa. Selama lima tahun aku mempersiapkan diri untuk momen seperti ini, dan sekarang aku hanya bisa berdiri membeku.
"Siapa namamu?" Itu satu-satunya yang bisa kukeluarkan dari tenggorokanku yang kering.
"Panggil saja Pak Hartono." Ia tersenyum lagi, dan kali ini senyumnya tidak ramah. "Aku sudah lama pensiun dari dunia investigasi. Tapi ingatanku masih tajam."
"Apa yang kau inginkan?"
"Langsung ke intinya. Bagus." Pak Hartono memasukkan tangan ke saku jasnya. "Aku tidak bermaksud mengancam, Nona Valeria. Tapi kau harus tahu... apa yang terjadi padamu dulu bukanlah operasi resmi. Itu operasi bayangan. Dan aku di sini malam ini untuk mengingatkan seseorang tentang hal itu."
"Seseorang? Siapa?"
Tapi sebelum ia menjawab, suara langkah kaki mendekat.
"Clara."
Dante muncul di sampingku. Pidatonya sudah selesai. Ia menatap Pak Hartono dengan ekspresi yang berubah seketika—dari hangat profesional menjadi dingin mematikan.
"Hartono," kata Dante, suaranya seperti es. "Aku tidak mengundangmu."
"Aku tahu." Pak Hartono tidak gentar. "Tapi aku pikir aku harus mampir. Sudah lama tidak bertemu, Dante. Dan kulihat..." Ia menatapku sekilas. "...kau masih menyimpan barang yang bukan milikmu."
Udara di antara mereka berubah menjadi medan perang.
"Pergi," kata Dante. "Sekarang. Sebelum aku meminta pengawalku mengantarmu keluar."
Pak Hartono tertawa pelan. "Tenang. Aku tidak berniat membuat keributan. Aku hanya ingin menyapa... Clara." Ia memberiku anggukan kecil. "Senang bertemu denganmu. Kita akan bertemu lagi."
Ia berbalik dan berjalan pergi, menghilang di antara kerumunan tamu.
Dante mencengkeram lenganku. "Apa yang dia katakan padamu?"
"Apa maksudnya 'operasi bayangan'? Siapa dia?"
"Aku bertanya dulu." Suara Dante rendah tapi tajam. "Apa yang dia katakan?"
Aku menatap matanya. Untuk pertama kalinya malam ini, aku melihat sesuatu di sana yang jarang kulihat.
Ketakutan.
"Dia mengenaliku," kataku. "Dia tahu siapa aku."
Dante diam.
"Kau juga tahu, kan?" Suaraku bergetar. "Sejak awal. Sejak wawancara. Kau tahu aku bukan Clara."
Detik-detik berlalu.
"Ya," kata Dante akhirnya. "Aku tahu."
---
Sisa malam itu berlalu seperti kabut.
Aku tersenyum. Aku menyapa tamu. Aku berpura-pura semuanya baik-baik saja. Tapi pikiranku tidak di sana. Pikiranku berputar di sekitar dua kenyataan yang baru saja kuterima:
Satu: Dante tahu identitasku sejak awal.
Dua: Ada pria bernama Hartono yang terlibat dalam operasi penyelamatanku lima belas tahun lalu—operasi yang katanya "bukan operasi resmi". Dan Hartono tampaknya menyimpan dendam pada Dante.
Apa yang sebenarnya terjadi malam itu? Siapa yang memerintahkan operasi penyelamatan? Dan kenapa Dante memilih menyimpanku alih-alih mengembalikanku?
---
Pukul sebelas malam, para tamu mulai pulang.
Aku berdiri di balkon lantai dua, menghindari kerumunan. Dari sini, aku bisa melihat halaman depan mansion itu—mobil-mobil yang berjajar, tamu-tamu yang berjalan ke kendaraan mereka. Jauh di bawah, seperti semut-semut mahal yang kembali ke sarang masing-masing.
"Aku mencarimu."
Aku tidak berbalik. Aku tahu suara itu.
Dante berdiri di sampingku, menyandarkan lengannya di pagar balkon. "Kau marah."
"Aku tidak marah," kataku. "Aku hanya... kenapa kau tidak bilang?"
"Karena aku ingin kau yang memberitahuku sendiri."
"Itu tidak masuk akal."
Dante menghela napas. "Mungkin. Tapi begitulah caraku." Ia menoleh padaku. "Aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan, Valeria. Aku ingin tahu apakah kau akan mencoba membunuhku, atau menghancurkan perusahaanku, atau... sesuatu yang lain."
"Namaku bukan Valeria lagi."
"Bagiku, kau selalu Valeria."
Kami berdiri dalam diam. Angin malam membawa aroma bunga dari taman di bawah.
"Hartono," kataku akhirnya. "Siapa dia?"
Dante menegang. "Dulu dia investigator untuk keluarga mafia saingan. Dia yang menyelidiki jaringan perdagangan anak yang menculikmu. Dia yang memberiku informasi tentang lokasi rumah aman itu."
"Jadi dia... membantu menyelamatkanku?"
"Dia membantu operasi itu, ya. Tapi bukan karena dia peduli padamu." Dante mengepalkan tangannya di pagar. "Hartono peduli pada satu hal: uang. Setelah operasi selesai, dia meminta bayaran lebih. Aku menolak. Dia mengancam akan melaporkan seluruh operasi ke pihak berwajib—termasuk fakta bahwa aku tidak mengembalikanmu."
"Dan?"
"Dan dia tiba-tiba pensiun dini. Menghilang. Kupikir dia sudah mati." Dante menggeleng pelan. "Ternyata dia hanya menunggu."
"Menunggu apa?"
"Menunggu momen seperti malam ini. Saat dia bisa muncul dan mengingatkanku bahwa dia masih punya kartu untuk dimainkan."
---
Aku menatap bintang-bintang yang nyaris tidak terlihat di langit Jakarta yang terpolusi.
"Dia tahu identitasku," kataku. "Kalau dia bocorkan ke orang lain..."
"Aku akan mengurusnya."
"Seperti kau mengurus Andi?"
Dante tidak menjawab.
"Itu bukan solusi," lanjutku. "Kalau kau membunuhnya, kau hanya akan menambah satu lagi rahasia yang harus kita simpan."
"Kita?" Dante menoleh, alisnya terangkat.
Aku tidak menyadari kata itu keluar dari mulutku.
"Maksudku..." Aku menggeleng, mencari kata-kata. "Ini hidupku. Identitasku. Kalau Hartono membongkarnya, aku juga yang kena."
"Kau tidak akan kena apa-apa." Dante berbalik menghadapku. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi, Valeria. Itu janji."
"Jangan berjanji," bisikku. "Janji dari orang sepertimu tidak ada artinya."
Luka melintas di matanya—cepat, hampir tidak terlihat, tapi aku menangkapnya.
"Kau benar," katanya. "Lalu bagaimana kalau ini: aku mengusulkan kontrak."
"Kontrak apa?"
Dante menatapku lama sebelum menjawab.
"Pernikahan kontrak. Kau dan aku. Secara hukum, kau akan menjadi istriku—itu akan memberimu perlindungan penuh. Tidak ada yang berani menyentuh istri Dante Morano. Dan sebagai gantinya..."
"Sebagai gantinya apa?"
"Kau akan tinggal di rumah ini. Bersamaku. Sampai ancaman Hartono dan siapa pun yang bekerja dengannya hilang."
Aku tertawa—tawa pendek tanpa humor. "Kau ingin aku kembali ke sangkar yang sama. Setelah semua yang kulakukan untuk kabur."
"Itu bukan sangkar."
"Lalu apa?"
Dante menatapku. "Rumah. Rumahmu. Dulu, sekarang, dan... kalau kau mau."
Aku tidak menjawab.
"Pikirkan," katanya. "Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Tidak setelah aku baru saja menemukanmu kembali."
Ia berbalik dan berjalan masuk, meninggalkanku di balkon sendirian.
---
Malam itu, saat aku akhirnya kembali ke apartemenku, aku tidak tidur.
Aku duduk di depan papan investigasi, menatap foto-foto yang selama ini memberiku kekuatan. Foto Dante—targetku. Foto orang tua angkatku—yang sekarang kulihat dengan mata yang berbeda. Dan sekarang, sebuah foto baru yang kuprint dari laptop: wajah Pak Hartono, kutangkap diam-diam dengan ponselku saat ia berjalan pergi.
Tiga orang. Tiga kebenaran yang berbeda.
Dante: penculik yang menyelamatkanku.
Orang tuaku: penyelamat yang menculikku.
Hartono: investigator yang... apa? Saksi? Ancaman? Kunci?
Aku menatap papan itu dan menyadari satu hal yang mengerikan: aku tidak lagi tahu siapa yang harus kuhancurkan.
Ponselku bergetar. Pesan dari Revan.
"Val. Aku sudah dapat info tentang Hartono. Ini lebih besar dari yang kita kira. Dia bukan cuma investigator. Dia dalang di balik jaringan perdagangan anak yang menculikmu dulu. Dante menghancurkan operasinya. Hartono ingin balas dendam."
Jemariku gemetar saat membaca pesan itu dua kali.
Jadi Hartono bukan penyelamat. Dia pelaku. Dia yang menculikku dari panti asuhan. Dia yang menjual anak-anak ke luar negeri. Dan Dante... Dante menghancurkan bisnisnya.
Skarang Hartono kembali bukan untuk mengancam Dante. Tapi untuk mengambil kembali "barang" yang dulu direnggut darinya.
Aku.