Langit tak pernah berwarna darah sebelumnya
Di atas Puncak Tertinggi, tempat di mana awan seharusnya putih bersih dan cahaya langit memancar damai, kini langit itu merah menyala. Awan bergulung-gulung seperti lautan api yang mendidih, dan di bawahnya, bumi gemetar seakan tak sanggup lagi menahan beban kekuatan yang sedang berbenturan.
Fan Zheng berdiri sendirian di tengah ruang hampa yang tercabik-cabik oleh energi. Jubah putihnya yang dulu bersih tanpa noda, kini basah kuyup oleh darah — bukan darah musuh, tapi darahnya sendiri. Di sekelilingnya, sembilan sosok berdiri membentuk lingkaran sempurna. Sembilan Dewa Langit, yang dulu selalu menunduk hormat saat ia lewat, kini mengelilinginya dengan senjata terhunus dan aura bermusuhan yang memadat sampai terasa menyakitkan di kulit.
"Sembilan lawan satu," suara Fan Zheng tenang, tapi setiap kata bergema menembus gemuruh angin dan ledakan energi. Matanya yang tajam menatap satu per satu wajah mereka, seakan sedang membaca setiap pikiran yang tersembunyi di balik ekspresi tegang itu. "Bukankah ini memalukan? Kalian butuh sembilan orang sekaligus hanya untuk menghadapi aku sendirian?"
Di sebelah kiri, Xuan Wu — Dewa Keseimbangan, yang dijuluki sang Timbangan Dua Dunia — menghela napas berat. "Maafkan kami, Fan Zheng. Ini bukan soal kebencian. Ini soal keseimbangan. Dunia tak bisa terus berjalan kalau ada satu orang yang berdiri terlalu tinggi di atas semuanya."
"Keseimbangan?" Fan Zheng tertawa pelan, tapi tawanya tak ada jejak kebahagiaan. Hanya kepahitan yang dalam. "Kalian menyebut pembunuhan dengan cara bersembunyi di balik kata 'keseimbangan'? Kalau kalian benar-benar percaya itu, hadapi aku satu lawan satu. Buktikan kalau kalian mampu berdiri di atas kakimu sendiri tanpa perlu orang lain yang menopang kalian."
Chi Yan — Dewa Api Keabadian, sang Api Abadi — melangkah maju, api melahap sekujur tubuhnya sampai langit di atasnya terasa makin panas. "Jangan bermimpi, Fan Zheng! Kami bukan orang bodoh! Kami tahu kalau kami menghadapimu satu per satu, kami semua akan mati di tanganmu! Kekuatanmu, kecerdasanmu... kau melampaui kami semua! kau adalah sang Langit..! Selama kau hidup, kami selamanya hanya bayangan di belakangmu!"
"Jadi ini soal ketakutan," Fan Zheng mengangguk pelan, seakan semuanya menjadi makin jelas. "Bukan soal keadilan. Bukan soal keseimbangan. Kalian cuma takut. Takut kalau aku lebih hebat dari kalian. Takut kalau aku tahu hal yang kalian takut ketahui."
"Diam!" Lei Ting — Dewa Petir, sang Petir Penghancur — mengaum, dan petir seketika menyambar di dekat kaki Fan Zheng. "Kau adalah bencana terbesar di dunia ini! Bencana yang menimpa Benua Tengah bulan lalu? Itu ulahmu! Kau memaksakan kekuatanmu melampaui batas langit dan membuat dunia ini retak!"
Fan Zheng menatapnya tajam. "Kau tahu siapa yang sebenarnya memicu bencana itu, Lei Ting. Dan kau tahu siapa yang menghabiskan nyaris separuh kekuatannya untuk menahannya supaya tidak menelan seluruh benua ini."
"Cukup bicara!" Jin Feng — Dewa Logam, sang Pedang Suci— tak sabar lagi. Pedang raksasa di tangannya berkilauan tajam, memancarkan aura mematikan. "Kami sudah putuskan. Hari ini langit berganti penguasa. Kau akan turun dari singgasanamu, dan kekuatanmu akan kami bagi rata di antara kami sembilan. Dunia akan menjadi tempat yang lebih adil tanpa dirimu."
"Adil?" Fan Zheng menggeleng pelan. "Kalian menyebut merampas apa yang bukan milik kalian itu adil? Kalian menyebut menjatuhkan orang yang sedang kelelahan setelah menahan bencana itu adil?"
"Kau sendiri yang memilih menahannya," Han Yue — Dewa Air, sang Arus Kematian — bersuara pelan tapi tegas. Ia yang menyiapkan jebakan ini, ia yang tahu persis di mana letak kelemahan Fan Zheng saat ini. "Dan sekarang kau harus menanggung akibatnya. Kekuatanmu sedang di titik terendah. Ini satu-satunya kesempatan kami."
Fan Zheng merasakannya. Benar kata mereka. Setelah mengerahkan hampir seluruh kekuatannya untuk menstabilkan bencana yang mengancam menghancurkan Benua Tengah, ia belum sempat pulih sepenuhnya. Tubuhnya terasa berat, aliran Qi-nya tersendat-sendat. Bukan karena ia lemah — tapi karena ia kehabisan tenaga demi melindungi dunia yang kini justru ingin mengusirnya.
"Jadi kalian memang sudah merencanakan ini sejak lama," Fan Zheng menatap Yao Mo — Dewa Bayangan, sang Mata Kegelapan — yang sampai saat ini belum bersuara, tapi matanya yang tak berkedip seakan merekam setiap gerakan. "Kau yang menanam benih kecurigaan di hati mereka, bukan? Kau yang memutarbalikkan fakta, menyalahkan ku atas bencana yang bukan perbuatanku, sampai mereka semua percaya kalau aku musuh terbesar dunia ini."
Yao Mo tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke matanya. "Yang penting hasilnya benar, bukan? Dunia akan lebih aman tanpa kehendak satu orang yang mengatur segalanya."
"Dan kalian semua percaya padanya?" Fan Zheng menatap Tu Kun, Yin Hua, dan Shi Ming secara bergantian. Tu Kun — Dewa Tana, sang Pondasi Langit — menunduk tak berani menatap mata. Yin Hua — Dewa Kehidupan, sang Benih Kehidupan — tampak ragu, tangannya gemetar. Sedangkan Shi Ming — Dewa Waktu dan Takdir, sang Penulis Garis Waktu — menatap lurus ke depan, wajahnya tanpa ekspresi.
"Ini takdir yang tak bisa diubah," ucap Shi Ming datar. "Garis waktu sudah ditetapkan. Hari ini adalah akhir dari era-mu."
"Takdir?" Fan Zheng mengulangi kata itu dengan nada yang sedikit lebih tinggi. "Kau bilang itu takdir, Shi Ming? Atau kau yang menulis garis waktu itu sendiri supaya cocok dengan keinginan kalian?"
"Serang!" Xuan Wu tiba-tiba memberi perintah.
Sembilan sosok itu bergerak bersamaan. Langit seketika terbelah. Api menyambar dari arah Chi Yan, air membentuk ombak raksasa dari arah Han Yue, petir menyambar bertubi-tubi dari Lei Ting, pedang energi membelah ruang dari Jin Feng, tanah berguncang dan menjulur seperti tangan raksasa dari Tu Kun, angin memotong seperti ribuan pisau dari Jin Feng, bayangan menyelimuti pandangan dari Yao Mo, cahaya yang menyilaukan dan membutakan dari Yin Hua, dan gelombang keseimbangan yang memaksa kekuatan Fan Zheng meredup dari Xuan Wu.
Fan Zheng melesat ke atas, menghindari serangan gabungan yang menghantam tempat ia berdiri — menghancurkan puncak gunung itu sampai rata. Ia melambaikan tangan, dinding cahaya transparan muncul di hadapannya, menahan gelombang serangan itu. Tapi getaran yang dihasilkan begitu dahsyat sampai ia terdorong mundur beberapa langkah, darah segar menyembur dari mulutnya.
Kekuatannya belum pulih. Itu kenyataan yang tak bisa ia pungkiri.
"Menyerahlah, Fan Zheng!" teriak Chi Yan sambil melontarkan bola api sebesar gunung. "Kami tahu kau bisa lebih kuat dari ini! Lepaskan kekuatanmu sepenuhnya! Bunuh kami kalau kau mampu!"
Fan Zheng menatap bola api yang meluncur ke arahnya, lalu menatap ke bawah — ke arah Benua Tengah yang masih rapuh, yang baru saja diselamatkannya dari kehancuran. Kalau ia melepaskan kekuatan sepenuhnya untuk melawan sembilan dewa ini, dampaknya akan melanda seluruh benua. Bukan hanya musuh yang akan hancur — jutaan nyawa tak berdosa di bawah sana akan ikut musnah.
Itulah jebakan sesungguhnya. Bukan kekuatan sembilan dewa ini yang mengalahkannya. Tapi tanggung jawab yang ia pikul sebagai pelindung keseimbangan dunia. Mereka tahu ia takkan pernah rela mengorbankan dunia demi kemenangan pribadi. Dan mereka memanfaatkannya dengan kejam.
"Kenapa diam? Takut dunia hancur kalau kau melawan balik?" cemooh Jin Feng sambil menyerang lagi dengan serangkaian tebasan yang membelah langit.
Fan Zheng mengangkat kedua tangannya, bukan untuk menyerang, tapi membentuk segel yang perlahan meredam kekuatan serangan mereka. "Aku tidak takut kalah," suaranya terdengar tenang namun terdengar oleh semua orang di sana. "Aku hanya takut kalian menang dengan cara yang begitu hina, dan menyadari setelahnya... bahwa kemenangan ini sebenarnya kekalahan terbesar kalian."
"Kata-kata manis takkan menyelamatkanmu!" bentak Lei Ting, dan petir terbesar menyambar tepat ke arah Fan Zheng.
Saat serangan itu menghantam, Fan Zheng tak berusaha menangkis sepenuhnya. Ia membiarkan sebagian energinya menembus pertahanan, mengalir ke tubuhnya, melukainya — daripada membiarkan energi itu melesat ke bawah dan menghancurkan benua yang baru saja ia selamatkan. Tubuhnya terhempas ke tanah, menciptakan kawah raksasa yang memuntahkan debu dan batu ke udara.
Darah menetes dari dahinya, membasahi tanah yang retak. Ia menatap ke atas, ke arah sembilan sosok yang melayang di langit, mengelilinginya seperti burung pemangsa yang menunggu mangsanya mati.
"Kalian pikir dengan merampas kekuatanku, kalian akan menjadi sepertiku?" suara Fan Zheng terdengar lemah, tapi matanya tetap tajam dan tak menampakkan sedikit pun keputusasaan. "Kalian salah. Kekuatan bisa dirampas. Tapi cara aku melihat dunia... cara aku berpikir... itu takkan pernah bisa kalian ambil, bahkan dengan seluruh kekuatan langit sekalipun."
"Jangan khawatir," ucap Yao Mo dingin. "Kami akan membagi kekuatanmu dengan adil. Setiap dari kami akan mendapat bagian yang setara. Langit akan berjalan tanpa gangguan."
"Langit akan runtuh," koreksi Fan Zheng pelan. "Karena kalian membagi sumbernya menjadi potongan-potongan kecil. Kalian pikir kalian membagi kekuatan? Kalian sebenarnya sedang memecahkan fondasi yang menopang dunia ini."
"Cukup," potong Shi Ming. "Segel sudah siap. Menyerahlah Fan Zheng."
Sembilan dewa itu mengangkat tangan serentak. Cahaya menyilaukan berwarna-warni memancar dari tubuh mereka, menyatu membentuk rantai raksasa yang melilit ke arah Fan Zheng. Rantai itu bukan terbuat dari logam — melainkan dari aturan langit itu sendiri, aturan yang dulu ikut dirumuskan Fan Zheng. Dan justru karena aturan itu, ia tak bisa menolaknya tanpa melanggar hukum yang ia tegakkan sendiri.
"Kalian menggunakan aturan yang kubuat untuk mengikatku sendiri," Fan Zheng tersenyum getir. "Itu cerdas. Aku akui itu."
"Tak ada yang pribadi," kata Xuan Wu pelan, matanya tak berani menatap Fan Zheng. "Ini demi kebaikan semua."
Rantai itu mengencang. Rasa sakit yang bukan sekadar fisik, melainkan jiwanya sedang ditarik keluar dari tubuhnya. Kekuatan yang ia miliki sejak ribuan tahun lalu, mengalir keluar dari tubuhnya, diserap dan dibagi-bagi di antara sembilan sosok di atas sana.
"Kalian bisa mengambil kekuatanku," suara Fan Zheng mulai pecah, tapi matanya tetap menyala dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. "Tapi kalian tak bisa menghapus ingatanku. Tak bisa menghapus pemahamanku tentang cara kerja dunia ini. Dan selama aku masih ada... walau di mana pun, walau dalam bentuk apa pun... aku akan kembali."
"Kalau begitu, kami pastikan kau takkan pernah bisa kembali," ucap Han Yue dingin.
Jiwa Fan Zheng tercabik dari tubuh dewanya. Ia merasakan dirinya jatuh — jatuh melewati lapisan awan, melewati batas-batas dunia, jatuh menuju tempat yang jauh, jauh di bawah langit tempat ia dulu berdiri.
Sebelum kesadaran lenyap sepenuhnya, kata-kata terakhirnya terucap pelan, namun seakan tertulis di langit itu sendiri:
"Kalian pikir menjatuhkanku berarti menang? Tunggu sampai kalian sadar... perang ini baru saja dimulai. Dan kalian sudah kalah sejak awal — karena kalian lupa siapa yang menulis aturannya."
.
.
Fan Zheng membuka mata.
Langit yang dilihatnya bukan lagi langit di Puncak Tertinggi. Ini langit desa yang kelabu, tertutup asap kayu bakar, dan di bawahnya... ia terbaring di tanah keras, di halaman rumah yang dindingnya hampir rubuh.
Bukan tubuhnya. Tubuh ini kurus, lemah, napasnya pendek, dan tak ada satu pun benang Qi yang mengalir di Meridian nya. Ingatan yang bukan miliknya mengalir deras masuk ke dalam kesadarannya:
Fan Zheng. Tujuh belas tahun. Anak dari cabang keluarga Fan di Desa Qingyang. Lahir tanpa Akar Spiritual. Dianggap sampah, dihina, dipukuli, dibuang ke rumah tua ini untuk mati sendirian. Tubuh ini sudah meninggal sebelum jiwa yang baru masuk ke sini.
"Sampah! Kau masih belum mati juga?!"
Suara kasar memecah keheningan. Seorang pemuda berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh kebencian, tinjunya masih terkepal — seakan baru saja selesai memukul seseorang.
Fan Zheng menatapnya perlahan. penghinaan, siksaan, dan rasa sakit di tubuhnya. tertinggal di ingatan pemuda ini, semuanya terasa jelas.
Pemuda itu melangkah maju, Qi lemah berkumpul di tangannya, siap menghantam lagi. "Berdiri!"
Fan Zheng mencoba bergerak. Tubuhnya terasa asing, lemah, nyaris tak bisa diandalkan. Tapi matanya tak berkedip sedikit pun. Bukan rasa takut yang terpancar — melainkan ketenangan yang begitu mendalam sampai membuat pemuda itu ragu melangkah lagi.
"Kau mungkin bisa menghancurkan tubuh ini. Tapi, kau takkan pernah bisa menundukkan langit."
Pemuda itu tertawa sinis, mengangkat tangan untuk memukul. "Langit? Kau gila? Kau cuma sampah tanpa akar!
Tepat saat tinjunya melayang — satu suara terdengar tenang dari mulut Fan Zheng, kalimat yang seakan menggetarkan ruang itu sendiri:
"Saat aku berdiri lagi... sembilan dewa di langit sekalipun akan gemetar. Apakah kau yakin ingin menjadi yang pertama mencoba menghadangku?"
Tangan pemuda itu terhenti di udara, hanya sejengkal dari wajah Fan Zheng. Ada sesuatu di mata itu — sesuatu yang bukan milik pemuda lemah ini. Sesuatu yang agung dan mengerikan.
Dan di langit yang jauh, di atas sembilan singgasana... tiba-tiba satu per satu dari mereka merasakan getaran halus, seakan ada sesuatu yang bangun dari tidur panjang yang tak seharusnya terbangun.........