Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh swandana.alghazi
DEWA PERANG BLAMBANGANPUPUTAN BAYU 1771Bumi Blambangan, kerajaan peninggalan Tawang Alun mencatatkan sejarahnya yang terus menerus kalah dalam peperangan. Namun tidak demikian dengan kepemimpinan Pangeran Jagapati. Dimulai 2 Agustus 1771, pertempuran yang berpusat di Benteng Bayu tersebut menjadi sejarah baru Blambangan selanjutnya. Benteng Bayu tidak pernah dijatuhkan hingga kompeni dan Madura benar-benar menguasainya pada 7 Nopember 1772. Sisa pasukan Bayu pun mendapatkan siksaan yang luar biasa. Selain dipenggal dan digantungkan di pohon-pohon, mereka juga ditenggelamkan hidup-hidup. Sedang wanita dan anak-anak dijadikan harta rampasan bagi kedua lawannya.Di tengah kesakitannya, Pangeran Jagapati memanggil Jagalara dan Sayu Wiwit untuk terus memukul mundur kompeni. Masing-masing ditunjuk sebagai panglima perang selanjutnya dengan wilayah terpisah.“Tidak pernah kuduga, setelah cukup lama rakyat Blambangan, terlebih masyarakat Bayu hidup dalam ketenangan, kini kembali harus turun ke medan perang. Mas Rempek, yang kini diangkat masyarakatnya sendiri sebagai Pangeran Jagapati, keturunan Wong Agung Wilis, pemimpin Blambangan yang sebelumnya gagal mengusir kompeni mampu menumbuhkan kepercayaan masyarakat Bayu dan menularkan semangatnya kepada seluruh warga Blambangan. Tidak hanya itu, kerajaan Mengwi pun kini sepakat bahwa Blambangan harus bersih dari kompeni. Aku, Jagalara, akan memenangkan pertempuran ini, sama seperti saat Pangeran Jagapati menjatuhkan Alap-alap, panglima perang Laskar Madura,” batin Jagalara sesaat setelah menerima tugas dari Pangeran Jagapati.Belum matahari terlihat dari ujung timur, Jagalara dan Sayu Wiwit mulai mempersiapkan pasukan dan perbekalannya masing-masing. Berbeda dengan Sayu Wiwit yang tidak tega meninggalkan Pangeran Jagapati dalam kesakitannya, Jagalara seolah mengeluarkan bara api yang tidak akan padam meski air laut ditumpahkan kepadanya sekalipun. Ulupampang, wilayah yang dulu menjadi basis kekuatan Wong Agung Wilis yang telah dikuasai kompeni menjadi pilihannya untuk segera dijatuhkan.“Pergilah kalian ke neraka, kompeni! Serang!” teriak Jagalara sesaat setelah mampu menerobos kekuatan benteng kompeni yang juga dijaga oleh para pribumi.***Tahun 1771, beberapa pemuda dan paruh baya lelaki mulai bekerja keras menebangi kayu pepohonan yang besar guna mendirikan benteng pertahanan dengan lapis tiga. Sedang para perempuan membuat s*****a dari bambu-bambu pilihan dan alat bercocok tanam di kediamannya masing-masing. Aktifitas yang samar dianggap rutinitas tersebut sesuai dengan keinginan Mas Rempek untuk mengelabui kompeni. Mas Rempek tidak ingin mengulangi kesalahan-kesalahan Wong Agung Wilis dalam pengumpulan kekuatan baru.Dengan segala kemampuan Mas Rempek dengan bantuan Bapa Rapa, masyarakat Bayu akhirnya memiliki kemampuan bela diri dan strategi perang yang tidak terduga. Berdirinya benteng dengan beberapa jebakan di dalamnya, masyarakat setempat kemudian mengangkat Mas Rempek sebagai Pangeran Jagapati.Mendengar kabar bahwa masyarakat Bayu akan melakukan perlawanan, Residen Biesheuvel, pimpinan kompeni tertinggi di Blambangan menugaskan Regen Jaksanegara dan Kertawijaya untuk memerintahkan masyarakat Bayu agar mengurungkan niatnya atau mereka akan dibinasakan seperti kejadian di Kutha Lateng. Hanya saja, kedatangan mereka pada 2 Agustus 1771 menjadi sia-sia lantaran Pangeran Jagapati dan rakyatnya menolak untuk menyerah. Mendapat jawaban tersebut, Jayaleksana, salah seorang komandan pasukan Jaksanegara memilih menyerang terlebih dahulu.Kurangnya persiapan dari Jaksanegara menjadikan diri dan pasukannya terkepung oleh kekuatan pasukan Bayu yang memang sudah menguasai medannya. Dengan mudah, Pangeran Jagapati yang didampingi 30 pasukan membuyarkan pasukan lawan. Di akhir pertempuran yang terbilang singkat tersebut, Regen Jaksanegara, Kertawijaya, dan Jayaleksana menemui ajalnya. Itu sebab, pasukan yang lainnya memilih menyerah dan sebagian memilih mendukung kekuatan Pangeran Jagapati. Pasukan yang menyerah, membawa bangkai ketiga petinggi pribumi Blambangan tersebut kepada kompeni sebagai tanda kekuatan pasukan Bayu.“s**l! Tidak kusangka mereka akan secepat ini melakukan p*********n,” gerutu Pangeran Jagapati setelah kembali ke benteng utamanya. Dia yakin kompeni akan segera mengirimkan kembali pasukannya yang lebih banyak dalam waktu dekat. Itu sebab, dia mengirim banyak orang guna meminta bantuan pasukan di berbagai daerah yang sebelumnya telah sepakat membantu perjuangannya.Belum juga bala bantuan datang, kompeni telah mengirimkan kembali pasukannya dua hari selanjutnya dengan perbekalan s*****a yang lebih maju. Seperti menggigit batu, p*********n terhadap Benteng Bayu dapat dimentahkan. Tidak terima atas kekalahan serangannya yang beruntun, kompeni terus mengirimkan pasukannya dengan jumlah yang semakin lama semakin banyak sepanjang akhir tahun. Hanya saja, sebagian besar pasukan pribumi yang dikirimkan malah berbalik mendukung perjuangan Pangeran Jagapatiic_default
Karena kamu suka Sejarah & Kerajaan, mungkin kamu suka ini juga: