Selepas membersihkan diri, aku bergegas kembali ke kamar. Antrean para santri yang mengambil jatah makan telah berjubel memenuhi dapur. Jadi kuurungkan niat untuk menemui Nay. Padahal rencananya aku ingin minta diantar pergi keluar sore ini. Ada beberapa barang pribadi yang harus kubeli termasuk kuota internet. Aku ingin segera menghubungi Kang Falah.
Rasanya sudah tak sabar, rindu ini telah membuncah, bahkan mungkin sudah tumpah ruah. Wajar saja, ini hampir dua tahun semenjak surat terakhir yang ia kirimkan saat itu. Aku menemukannya di saku baju yang kujemur. Entah bagaimana Kang Falah bisa menaruhnya disana.
“Dek, ketahuilah satu hal. Akhir-akhir ini malam demi malam kulalui dengan penuh ketakutan. Aku takut kehilanganmu, sungguh. Cepat lulus nggih, aku akan segera menemui orang tuamu untuk melamar. Baik-baiklah disana, aku mencintaimu dan akan selalu begitu,” tulisnya di akhir surat. Rindu yang meletup-letup sebenarnya memaksaku untuk membalas pesan itu. Tapi aku takut kalau saja kertas itu sampai di tangan keamanan. Seperti mbak-mbak kamar sebelah yang kemarin diguyur air got oleh pengurus. Dipampang di tengah lapangan sambil disaksikan seluruh santri dari atas gedung. Baunya memang tak seberapa, tapi aku tak dapat membayangkan betapa malunya jika itu sampai terjadi.
Jadi kuptuskan untuk menyimpan rapat surat itu. Membiarkannya tanpa balas meski sebenarnya aku ingin. Lagi pula aku memliki lebih dari sepuluh potret senyum manisnya. Kutempel di kertas rahasia di halaman belakang mushaf yang selalu kupandangi kapanpun aku ingin. Meski setelahnya rinduku justru semakin bertambah-tambah. Kuharap hari ini aku bisa menghubunginya lagi.
“Mbak, kalau Abah tanya, aku keluar. Mau ke toko depan,” pamitku pada seorang mbak ndalem yang kebetulan lewat. Dua tangannya membawa setumpuk baju dan mungkin akan menatanya di lemari Abah.
“Nggih, Ning. Apa perlu saya temani?” susulnya cepat.
“Boleh, Mbak,” jawabku setelah berpikir sejenak. Lima tahun lamanya, aku tak menginjakkan kaki disini. Rasanya banyak perubahan yang terjadi. Sudah ada gedung-gedung tinggi, ruko-ruko baru yang semakin menjamur di kanan kiri jalan yang kulalui saat pulang tadi. Seingatku terakhir kali hanya ada tanah lapang luas di samping pesantren. Anak-anak biasa bermain bola di sana setiap sore. Dulu umi juga sering mengajakku bermain di tepi lapangan. Duduk di sebuah kursi panjang menikmati kilau bening danau di hadapannya. Entah bagaimana sekarang, yang kutahu, saat ini ruko-ruko telah dibangun megah disana, banyak kendaraan yang melintas, pembeli berlalu-lalang. Mungkin memang sebaiknya aku mengajak seseorang.
“Sudah, Ning. Mari,” ucap Mbak Santi sekembali dari kamar Abah. Sejenak aku memandanginya yang tampak berhenti dan membenarkan letak jilbab. Wajahnya yang teduh, senyumnya yang manis, suaranya yang lembut membuatnya tampak anggun. Ditambah lagi kerjanya yang ulet, cekatan, dan rapi, pantas kalau Abah sering menyanjungnya, mempercayainya dengan banyak tugas.
“Ning?”
“Oh nggh, Mbak, mari.”
Tak banyak yang kami bicarakan di sela-sela langkah meningggalkan ndalem. Hanya formalitas, sekedar basa-basi. Di luar suasana masih ramai, beberapa santri terlihat baru saja kembali dari masjid selepas ngaji bakda asar tadi. Satu tangannya mendekap kitab, satunya lagi menyincing bagian bawah mukena dan sajadah yang tersampir di bahu. Mereka melangkah lambat sambil tertawa ringan di sela-selanya. Sesekali beberapa pasang mata itu memperhatikanku dan perbincangan itu mendadak berhenti. Kemudian menyapaku dengan seulas senyum dan anggukan kecil. Lamat-lamat kudengar juga kasak-kusuk mereka begitu jarak kami sudah agak jauh. Tentang siapa aku, mengapa tidak pernah terlihat, nyantri dimana, dan keheranan-keheranan lain yang mungkin akan menjadi bahan pembicaraan selama beberapa hari ke depan.
Pemandangan seperti ini juga terjadi semasa aku berada di Darul Muttaqin dulu. Ketika Gus Ali ataupun Ning Fifi pulang dari studinya di luar negeri. Di dapur ndalem, topik itu bahkan selalu hangat dibicarakan.
Reaksi yang sama juga terlihat ketika langkahku melalui kompleks putra. Bedanya tak ada kasak-kususk seheboh perbincangan mbak-mbak santri tadi. Hanya sebatas mengangguk dan tersenyum sekilas, kemudian sedikit membungkukkan badan melaluiku. Sisanya tetangkap mata kembali ke kamar. Menutup rapat pintunya dan mengintip dari balik jendela, di atas gedung atau dari balkon jemuran.
“Ngapunten Ning, Njenengan dipanggil Abah,” ucap seorang pria bertubuh tinggi besar setelah tergopoh menghampiriku.
“Abah dimana, Kang?”
“Beliau di perpustakaan pondok, Ning. Katanya ada yang ingin dibicarakan dengan Njenengan.”
Setelah berterima kasih, aku bergegas memutar langkah menuju bangunan tua di samping madrasah itu. Berjalan melalui koridor di tengah kerumunan santri dan beberapa pandangan mata yang menelisik. Sempat kuterka-terka tujuan Abah yang tiba-tiba memanggil. Namun tanda tanya itu justru membuatku semakin resah.
Tidak biasanya Abah seperti ini. Bahkan setelah kepergian Umi, beliau mejadi dingin dan beku. Abah sibuk pulang dan pergi. Hanya sesekali beliau terlihat di rumah. Berbincang dengan Kang Ishlah. Jika boleh ditebak mungkin membicarakan perkembangan pesantren atau mengevaluasi jalannya kegiatan. Selebihnya beliau lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, seolah tak acuh dengan ada atau tidaknya aku. Bisa dibilang ini momen langka, atau kali pertamanya Abah ingin berbicara denganku. Kira-kira ada apa? Hal sepenting apa?
“Assalamu’alaikum,” ucapku di hadapan sebuah pintu sebesar gerbang bermotif ukiran khas Jepara. Satu sisinya tertutup rapat, sedang sisi satunya sedikit terbuka. Ada celah kira-kira selebar bahu, dari sana tampak seorang lelaki sepuh sedang mendongak mencari asal suara.
“Nduk Faroh? Ayo masuk,” ucapnya mempersilakan. Beliau membuka satu telapak tangan dan mengisyaratkan untuk duduk. Kupilih kursi yang terletak persis di sampingnya dan mengubah arah hadap. Abah juga lantas menutup kitab, menaruhnya di suatu rak samping kursi. Dari embuan napas kasarnya, tampak akan ada topik berat yang akan disampaikan.
“Lihat foto itu, Nduk. Faroh kecil yang dulu suka merengek minta es krim sekarang sudah dewasa,” ucap Abah memulai perbincangan. Pandangannya searah tangan yang menunjuk pada figura berisi foto-foto lama yang dipajang di muka ruangan. Dari paling kiri, tampak Umi bersandar di bahu Abah. Sedang putri kecil yang dipangkunya tengah sibuk dengan kerupuk berbentuk kerucut di tangannya. Di sebelahnya lagi tampak foto kami bertiga di sebuah pasar malam di pinggiran kota. Aku berada di tengah, sedang Umi dan Abi berjalan bersisian menggandeng tanganku. Memang, sudah lama semenjak terakhir kali aku dan Abah berada pada scene itu, dan jujur aku rindu.
“Sama dengan dirimu, Nduk, tahun demi tahun Sabilun Naja semakin tumbuh dan berkembang, santri datang dari mana-mana, dari segala penjuru. Lihat juga Abah yang tak lagi terlihat seperti di foto itu,” terang beliau lagi. Tampak jelas gurat sendu di wajahnya. Netranya yang memutih tak lepas memandangi senyum dingin istrinya di balik bingkai kaca. Seolah ada rindu yang ingin disampaikan. Seolah ada sesak yang ingin diutarakan. Sedang aku hanya tertegun, mencerna tiap kalimatnya sambil memperkirakan kemana arah bicaranya.
“Kamu sudah bukan anak kecil lagi, Nduk. Umurmu sudah lebih dari dua puluh lima tahun. Abah harap kamu menerima keputusan Abah. Segeralah menikah.”
Deg.
Sama sekali belum pernah terlintas di pikiran, Abah akan membicarakan masalah ini. Pantas saja kepulanganku menciptakan kasak-kusuk yang heboh. Memang sempat terdengar mereka menyingggung soal pernikahan. Tapi aku memilih untuk abai. Sekarang dapat kusimpulkan Abah memanggilku untuk membahas masalah perjodohan. Entah dengan siapa dan laki-laki mana.
Pikiranku sekarang hanya tertuju pada Kang Falah. Tentang lima tahun yang kami lewati dengan ciinta dan kerinduan. Teringat kembali awal mula kami bertemu, menjalani hari dengan penuh pengharapan dan tidur dengan memeluk kerinduan. Air yang merembes di sudut mata kukira cukup menjelaskan bagaimana aku tak bisa membayangkan jika perjodohan ini berlangsung. Memang belum ada yang terjadi, tapi sesak di dadaku sudah mulai menjadi-jadi. Susah payah aku megatur deru napas. Memandangi langit-langit agar bulir-bulir bening itu tak semakin menganak sungai. Tolong katakana padaku, harus bagaimana sekarang? Apa yang harus kukatakan?
“Faroh … Faroh belum siap, Bah,” jawabku asal sembari membuang muka ke sembarang arah. Berharap Abah tak melihat kaca-kaca mata yang hampir tumpah.
“Belum siap atau ….”
“Aku mencintai laki-laki lain,” terangku dengan tangis yang mulai membuncah. Terisak-isak dan memegangi d**a yang terasa sakit. Kubiarkan air mata berderai-derai membasahi pipi. Ingin tahu bagaimana reaksi Abah setelah ini.
“Katakan, Nduk! Siapa? Gus dari pesantren mana?” tanya beliau menginterogasi.
“Namanya Kang Falah. Bukan Gus dari peesantren manapun. Tapi Faroh mencintainya, Bah.”
“Nduk, dengarkan Abah. Pesantren ini butuh penerus yang tidak bisa dipilih dengan cinta. Gus Ahnaf….”
“Kang Falah lebih dari segalanya, Bah. Dia pria yang baik, sopan, dan ramah. Kang Falah memiliki apa yang tidak Gus Ahnaf punya. Aku bukan memilihnya hanya karena cinta.”
“Nduk, tenangkan dirimu. Dengarkan Abah.”
“Abah yang kali ini harus mendengarkan Faroh. Abah masih ingat saat Faroh pulang dengan tubuh rata dengan luka? Apakah Abahku peduli? Apakah Abah pernah menanyakan apa yang terjadi? Apakah Abah membawaku ke puskesmas? Atau membantuku saja merawat luka-lukanya? Abah hanya sibuk mengurus pesantren, menghandiri undangan dimana-mana, kegiata di luar kota. Abah hanya sibuk pulang dan pergi. Bahkan aku hedak pulang atau tidak pun Abah tidak peduli. Kang Falah yang menolongku, Bah. Puluhan orang menatap malang padaku saat itu tanpa berbuat apa-apa. Tapi lelaki yang Abah tak suka itu menolong putrimu ini tanpa mempedulikan apapun. Tanpa pamrih apapun. Jadi tolong janga paksa Faroh untuk menerima orang lain. Sudah cukup, Bah. Cukup apa yang Faroh alami selama ini. Aku tidak ingin mengungkit-ungkit luka lama diantara kita. Tapi tolong jangan lagi ambil kebahagian Faroh kali ini,” ucapku mantap meski dengan tersengal-sengal. Dengan air mata yang bercucuran.
Aku bergegas keluar, meninggalkan Abah yang masih mematung disana. Tak kupedulikan santri-santri yang menatapku di sepanjang koridor. Juga pengurus dan beberapa asatidz yang berusaha menyapaku. Sambil menyembunyikan muka, semakin kupercepat langkah ketika melewati halaman, tak ingin semakin banyak mulut yang berkasak-kusuk.
Sesampainya di ndalem, kamar adalah satu-satunya yang kutuju. Selepas menutup dan mengunci pintu rapat, kurebahkan diri diatas ranjang, memeluk erat bantal dengan hati yang semakin sesak.
Aku tau ini salah. Dalam Kitab Al-Ghoyah Wat Taqrib, Imam Ahmad bin Husein Al-Asfahany menerangkan bahwa wali berhak memaksa anak gadisnya untuk menikah meskipun hukumnya makruh. Dalam kitab Tuhfah Al-Habib juga diterangkan bahwa ketidaksukaan wanita tanpa hal yang dharuri (membahayakan) maka tidak akan berpengaruh terhadap keabsahan pernikahan. Karena izin dari seorang anak gadis hanya bersifat sunnah.
Tapi apa aku harus menyerah semudah ini?