Pagi ini aku sedang mempersiapkan perangkat kamera dan beberapa alat lain di ruanganku ketika Rendy bagian publikasi acara “Konser Karawitan Muda Indonesia” menghubungi dan mengkonfirmasi kedatangan ku dalam pembukaan acara dan conferensi pers yang akan mereka adakan besok pagi, aku yakinkan Rendy aku akan datang dan meliput di lokasi sampai hari ketiga, Randy menyambut gembira karena hanya kami media online besar yang meliput mereka.
Keesokan paginya aku sudah siap didepan panggung acara dengan kamera dan tripod ku, oke...aku pikir its time to refresh my skill for art show...
Acara berlangsung penuh dengan tabuhan khas Indonesia, dari mulai Banten sampai Maluku, musik mengalun beraroma tradisi walaupun banyak sekali tambahan sentuhan alat musik modern di sana sini yang kadang bikin aku berkerut, musik tradisi yang biasanya khidmat dan cozy menjadi terlalu kekinian menurutku. Aku mulai sedikit boring ketika giliran tatar Sumatera yang menampilkan kamonesan nya. Dimulai provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara sampai kemudian Sumatera Barat, aku sedikit tertegun melihat kedatangan pemusik Sumatera Barat yang menghadirkan 5 orang wanita dengan postur tubuh yang nyaris sama ditambah 1 laki-laki cilik, thats interesting combination...
Lensa kamera segera aku arahkan dengan penasaran, berbagai angle aku hantam mengikuti mereka bermusik dan berkoreo, lalu kemudian tiba-tiba lensa ini berhenti di salah satu personil yang membuat boring ini lenyap seketika, ini makhluk apalagi...??
Dengan perawakan wanita muda yang tampak ringkih, penampilannya memainkan alat musik khas Sumatera Barat, Gendang Tabuik, Serunai dan Talempong begitu berenergi dan seperti tidak mengenal lelah, koreografi yang dirancang tampaknya mengharuskan seluruh personil memainkan hampir semua alat musik tradisional yang dibawakan, sehingga membentuk sebuah live show yang dinamis dan penuh kejutan, kecepatannya memukul kumpulan Talempong lebih menonjol dari personil lain dan...akh stelan Limapeh Rumah Nan Gadang yang tampak sedikit merepotkan tidak mengurangi kecepatannya memainkan alat musik dan pesona paras khas nya sebagai perempuan Sumatera Barat, gerakan nya tampak lucu dan ceria tanpa meninggalkan kesan anggun. Alat musik tradisional yang mereka tabuh menghasilkan sound yang kekinian, ceria dan dinamis khas anak muda walaupun tanpa bantuan dari alat musik modern, aku terpesona dengan apa yang mereka mainkan, terlebih dengan sosok wanita muda pemain utama dalam kelompok mereka,...aku...hati ini...akh.
Beberapa jam kemudian seluruh penampil hari pertama selesai perform, sementara MC mengumumkan calon penampil esok hari, aku segera mencari wanita muda anggota kontingen Sumatera Barat untuk aku jadikan nara sumber wawancaraku sebagai salah satu materi yang harus aku serahkan kepada Bang Arya, Aku setengah berlari menuju backstage dengan harapan mereka masih berada disana, namun aku tidak menemukan mereka, hanya beberapa kelompok kecil kontingan yang masih berada disana, aku kecewa dan kembali menuju tempat semula sambil bayanganku tidak lepas dari wanita muda pemain utama anggota kontingen Sumatera Barat.
Waktu menunjukkan pukul 21.15, saat aku baru saja selesai mengirim hasil wawancara dan beberapa file foto dan video acara hari pertama ini melalui email ke Bang Arya, telat 15 menit sih…semoga ga bikin Bang Arya mencak - mencak , tiba – tiba suara pertanda Email balasan masuk berbunyi di HP ku.
“Gua ga salah ngandelin elu bro...art touching loe masih ajib sekalipun udh loe kebiri 5 tahun lalu...sekali lagi loe nolongin gua...”
Thanks Berat
Arya Jalu
Akh...Bang Arya yang selalu lebay kl terkait kerjaan. Aku tenang, ternyata keterlambatan ngga jadi bahasan.
Aku melangkah meninggalkan press room yang disediakan panitia menuju tempat si hitam b***k ku teronggok dikegelapan, sudah 3 tahun motor bergaya jap style yang aslinya bernama tiger 2000 buatan Honda menemani semua aktifitas dalam kota ku, walaupun banyak yang menyangka si b***k ini boros, namun berkat tangan mahir Bang Magi teknisi tetangga kontrakan yang pegawai bengkel besar di bilangan Blok M, si b***k berhasil dibikin bersahabat dengan dompetku. Aku menyalakan sebatang rokok sebelum menaiki punggung si b***k yang empuk, hari ini fokusku sedikit terganggu dengan penampakan yang tidak pernah aku pikirkan sedikitpun. sehingga 6 tahun belakangan, baru kali ini aku terlambat mengirimkan materi, walaupun hanya 15 menit, tapi bagiku itu adalah kemunduran dalam etos kerjaku, semoga aku tidak harus terganggu lagi di dua hari kedepan.
Tiba – tiba lamunan tentang idealisme etos kerjaku terganggu dengan sentuhan lembut di bahu, aku segera menoleh kearah sumber sentuhan, tampak Rendy nyengir kuda sambil mengangguk sopan.
“Bang Dewa mau kemana...??”
“Hai Ren, mau cabut lah…hari ini acara udah beres kan...?? “ tanyaku sambil bersiap siaga seandainya masih harus ada liputan.
“Udah beres Bang, tapi apa ngga sebaiknya Bang Dewa nginep disini aja, daripada malam ini balik ke Jakarta, lalu besok pagi harus balik kesini, lumayan jauh lho Bang…”papar Rendy mengingatkan.
Aku tertegun, ya…Aku baru sadar bahwa aku berada di provinsi Banten, padahal saat kesini aku sempat salah jalan karena kurang akrab dengan jalanan di wilayah Prov. Banten, dengan waktu semalam ini pulang ke rumah kontrakan, kurang bijaksana juga rasanya buat badanku, omongan Rendy mulai masuk diakal.
“Iya Ren…kamu bener juga… tapi apa ada jatah kamar buatku…??” tanyaku lagi
“Ga apa – apa satu lantai dengan peserta Bang...?”
“oke Ren…no problemo, yang penting alatku aman...”
Aku mulai berpikir paling ngga bisa nambah materi liputan dan ngaso-in badanku.
Satu jam kemudian aku sudah merebahkan diri di atas ranjang empuk nan harum di kamar hotel dengan fasilitas lebih dari cukup untuk sekedar beristirahat, pekerjaanku ini kerap kali memaksa aku untuk keluar masuk berbagai macam bentuk hotel atau penginapan yang tidak jarang mempunyai fasilitas yang lebih nyaman dibanding kontrakanku didaerah Tebet.
Sejak datang ke Jakarta memenuhi panggilan HU. Kompas 6 tahun lalu, aku menempati sebuah rumah kontrakan kecil disebuah pemukiman padat penduduk di bilangan Tebet, kontrakanku hanya berupa rumah kecil dengan satu ruangan yang aku gunakan sebagai ruang tamu dan ruang nongkrong, satu kamar tidur yang cukup nyaman, 1 ruangan toilet yang kecil tapi bersih dan satu ruangan kecil untuk aku memasak mie instan di tengah malam, pemilik rumah kontrakanku Babeh Fahrul, orang betawi tulen yang sudah lama ditinggal istrinya yang orang Cianjur, beliau begitu mencintai mendiang istrinya sampai tidak berniat menikah lagi, rumah kontrakanku yang adalah jatah warisan anak laki – lakinya berdampingan dengan rumah yang mereka diami, Bang Kahfi anak laki – laki Babeh Fahrul berusia tidak jauh dariku namun kepribadiannya supel dan menyenangkan, aku kerasan tinggal berdekatan dengan kedua bapak dan anak ini, mereka tidak segan membantu apapun yang aku butuhkan sebagai perantau, mereka sering mengatakan senang aku mengontrak rumah mereka karena katanya aku tidak pernah telat membayar kontarakan setiap bulannya, berbeda dengan pengontrak sebelumnya yang kerap kali menunggak, aku selalu tersenyum dengan berbagai pujian mereka terkait hal tersebut. Sebagai perantau aku berusaha selalu tahu diri berada dilingkungan baru dan asing tanpa sanak famili, prinsipku “Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit di Junjung” menyelamatkan aku dari berbagai ketidaknyamanan tentang status perantau. Setelah 6 tahun tinggal dilingkungan rumah kontrakanku, aku merasa mereka sudah seperti saudara bagiku, bahkan anjuran Bang Arya ketika satu saat main ke rumah kontrakanku, untuk pindah ke apartemen yang disediakan perusahaan seiring penghasilanku yang jauh berkembang dengan tegas aku tolak, aku cukup happy dengan lingkungan rumah kontrakanku.
Aku tersadar dan segera bangkit untuk keluar kamar dan mencari sekedar tambahan materi liputanku, sambil disudut hati berharap bisa bertemu si pemain utama kontingen Sumatera Barat untuk tambahan nara sumber estetisku.
Pagi hari di hari kedua liputanku untuk acara “Konser Karawitan Muda Indonesia” aku sudah disibukkan dengan perdebatan kecil tentang insiden dramatis semalam, sesaat sebelum aku keluar dari kamar, terjadi temuan yang menjadi insiden kecil yang berkaitan dengan legitimasi para pengamat acara yang akhirnya mempengaruhi jalannya pergelaran hari ini, seorang pengamat yang bertugas mengamati bidang koreografi disinyalir adalah salah satu pengurus sanggar yang menjadi peserta dari Nusa Tenggara Barat, official dari beberapa daerah peserta mengajukan keberatan kepada panitia, mereka berbondong-bondong mendatangi secretariat panitia di hotel tempatku menginap, tambahan informasi tentang insiden tersebut membuat acara menjadi viral di berbagai media sosial, pagi ini aku mendapatkan instruksi dari Bang Arya untuk mengangkat insiden tersebut agar menjadi berita tambahan yang elok untuk diangkat ke permukaan. Insting newsku bergerak, dan aku orang media pertama yang berhasil mendapatkan informasi akurat terkait insiden tersebut. Insiden tersebut ternyata hanya sebuah kesalah pahaman kecil, aku sendiri tersenyum konyol ketika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Acara hari ini dimulai agak siang dan semua berlangsung seperti halnya di hari pertama.
Aku yang sudah sejak pagi diam didepan stage seperti hari pertama, mulai mempersiapkan bidikan kamera ku agar tetap dapat dipertanggung jawabkan kepada Bang Arya, berita terkait insiden rasanya jadi konyol kalau dijadikan info khusus, hal itu hanya jadi info tambahan saja dari berita tentang acara yang tentu lebih berbobot. Acara ini adalah agenda tetap tahunan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan lebih tepatnya Direktorat Kesenian, hanya yang membuat berbeda, kali ini mereka menyelenggarakan di daerah Prov. Banten, biasanya diadakan di berbagai gedung kesenian di Prov. DKI, aku pikir…ini acara periodik yang brilian karena merangsang pertumbuhan sel kesenian di seluruh Provinsi di tanah air.