Begitu dibilang Kael mencarinya dan bahkan menanyakannya dua kali—Aeris tak perlu berpikir lama untuk segera bergegas. Alarm bahaya berdenging di kepalanya. Maka, dengan secepat mungkin dia berlari dari toilet menuju ruangan kael. Napasnya nyaris habis begitu dia menyusuri lorong-lorong yang panjang.
Tiba di ujung lorong, dia mengerem mendadak. Dilihatnya seseorang yang gerak geriknya mencurigakan. Dengan impulsif, Ia mengikutinya.
Seorang pasien perempuan—masih menggunakan setelan rumah sakit, darah merembes dari bekas infus yang tampaknya dicopot paksa. Lalu di pergelangan tangannya dibalut perban melingkar.
Aeris jadi makin was-was.
“Tunggu!” Aeris memanggilnya. Perempuan itu menoleh. Otomatis berlari begitu menyadari Aeris membuntutinya.
“Sial! Dia bawa pisau.” Gerutu Aeris. Dia melihat sekelebat benda tajam itu di kantong baju si pasien. Siapapun bakal langsung berpikir yang tidak-tidak saat melihatnya—terlebih dalam kondisi seperti itu.
Perempuan itu membelok cepat menuju pintu tangga darurat. Langkahnya goyah tapi nekat. Aeris mengumpat pelan sebelum ikut menerobos pintu besi itu. Suara langkah kaki mereka menggema di ruang tangga yang sempit dan dingin.
“Hei! Berhenti dulu!” teriak Aeris.
Tak ada jawaban selain napas memburu dari atas sana.
Aeris mulai menaiki anak tangga dua-dua sekaligus. Jantungnya berdentum keras. Separuh lelah, separuh lagi karena firasat buruk yang menggerogoti dadanya.
Jangan sampai terlambat.
Pintu rooftop terbuka keras ketika pasien itu mendorongnya. Angin sore langsung menerpa wajah Aeris saat ia menyusul keluar beberapa detik kemudian. Napasnya ngos-ngosan.
Rooftop rumah sakit itu lengang. Hanya suara angin dan samar sirene kota Roma di kejauhan. Lampu-lampu kota mulai berpendar seperti bintang yang jatuh ke bumi, indah sekaligus terasa asing.
Perempuan itu berdiri dekat pagar pembatas. Rambutnya berantakan diterpa angin. Setelan pasiennya kusut.
“Jangan mendekat.” Suaranya serak, sebentuk upaya defensif.
Aeris berhenti beberapa langkah darinya. Mengangkat kedua tangan pelan, mencoba terlihat tidak mengancam.
“Oke. Aku nggak akan mendekat.” Napasnya masih tersengal. “Tapi setidaknya kasih aku alasan kenapa kamu kabur sambil bawa pisau. Kaau itu untuk buah, kusarankan ambil yang sudah potongan saja.”
Dia mencoba melucu di akhir kalimat, tapi nahasnya tidak lucu.
Perempuan itu tertawa sarkas. “Rumah sakit ini terlalu ramai.” Ia menatap lurus ke depan. “Orang-orang di bawah terlalu sibuk pura-pura peduli.”
Aeris mengernyit. “Kalau mereka nggak peduli, kamu nggak akan dibawa ke sini dan dirawat.”
“Dirawat supaya apa?” balasnya cepat. “Supaya aku tetap hidup? Buat lanjut ngerasain hal yang sama besok? atau selamanya?” Nada suaranya mulai meninggi.
“Aku capek.” Kalimat itu keluar pelan, sarat akan frustasi. Terdengar menyakitkan.
Aeris diam beberapa detik. Membiarkan angin membawa jeda di antara mereka.
“Aku tahu… itu pasti tidak mudah,” katanya dengan penuh ke-hati-hatian.
“Kamu nggak tahu apa-apa.” Perempuan itu langsung memotong. Matanya memerah. “Orang kayak kamu gampang ngomong begitu karena hidupmu baik-baik saja.”
Aeris hampir ingin membantah. Tapi ia mengurungkan diri. Karena ini bukan tentang dirinya.
“Kalau aku mati,” lanjut perempuan itu lirih, “setidaknya semuanya selesai.” Tangannya mulai bergerak gemetar ke arah kantong bajunya.
Pisau itu keluar perlahan. Kilatan logamnya memantulkan cahaya lampu rooftop.
“Aku serius,” ancamnya ketika Aeris refleks maju selangkah. “Kalau kamu ikut campur, aku nggak segan buat nyakitin kamu juga.”
Namun Aeris tidak mundur. Entah karena nekat atau memang terlalu keras kepala.
“Kamu nggak benar-benar mau nyakitin orang lain,” ucapnya pelan.
“Jangan sok tahu!”
“Aku memang nggak tahu hidupmu.” Aeris menatap lurus ke matanya. “Tapi aku tahu orang yang benar-benar ingin mati biasanya nggak akan nangis setakut ini.”
Napas perempuan itu tercekat. Matanya berkedip cepat. Untuk pertama kalinya sejak tadi, genggaman pisaunya melemah sedikit.
Aeris melihat celah itu.
“Kamu cuma pengin rasa sakitnya berhenti,” lanjutnya lebih lembut. “Itu normal. Tidak ada manusia yang mau punya rasa sakit.”
Hening. Angin sore bertiup lebih kencang. Perempuan itu menunduk. Bahunya mulai bergetar.
“Aku...” bibirnya gemetar. “Aku sudah berusaha.” Suara itu pecah begitu saja. “Aku sudah berusaha kuat. Tapi semuanya tetap hancur.”
Aeris perlahan melangkah lebih dekat kali ini. Sangat pelan, seolah mendekati hewan liar yang ketakutan.
“Kamu nggak harus jadi kuat terus,” katanya lirih.
Perempuan itu menatapnya. Untuk sesaat—hanya sesaat—tatapannya melunak. Namun kemudian sesuatu berubah. Seperti ada kilatan ingatan buruk yang tiba-tiba menyambar kepalanya.
Wajahnya langsung pucat. Tangannya gemetar hebat.
“Enggak...” bisiknya panik. “Enggak—aku nggak bisa—aku nggak sanggup lagi—”
Pisau itu bergerak cepat menuju pergelangan tangannya.
“Jangan!” Tubuh Aeris bereaksi lebih dulu daripada pikirannya. Ia menerjang maju dan merebut pisau itu.
Nahasnya posisinya salah. Alih-alih memegang gagangnya, telapak tangannya justru menggenggam mata pisaunya langsung.
Perih tajam menyambar seketika. “Ssh—” Darah hangat mengucur deras dari telapak tangannya. Mengalir ke tangan si pasien. Tapi Aeris tetap memaksa merebut pisau itu sampai berhasil melemparkannya jauh ke lantai rooftop dengan bunyi nyaring.
Klang!
Perempuan itu membeku. Menatap darah di tangan Aeris dengan wajah syok. Lalu tiba-tiba—Ia menangis. Bukan sekadar tangis kecil. Tangisnya pecah begitu keras seperti bendungan yang runtuh setelah ditahan terlalu lama.
Tanpa berpikir, Aeris langsung menarik perempuan itu ke pelukannya. Dan perempuan itu benar-benar ambruk di sana. Menangis histeris di pundaknya.
“Kenapa hidupku jadi begini...?” isaknya patah-patah. “Aku cuma capek... aku capek...”
Aeris tidak menjawab. Ia hanya memeluknya lebih erat meski telapak tangannya terus berdarah.
Kadang orang memang tidak butuh nasihat. Mereka cuma butuh seseorang yang tetap tinggal saat mereka hancur. Sesederhana didengarkan.
Beberapa menit berlalu seperti itu. Tangisan perempuan itu perlahan mereda, berganti sesenggukan kecil.
Aeris menarik napas pelan sebelum akhirnya bicara, “Aku harus turun sebentar.”
Perempuan itu langsung menegang lagi.
“Aku bakal segera kembali lagi.” Aeris menatap serius ke matanya. “Jangan lakukan hal bodoh itu lagi. Janji sama aku.”
Perempuan itu tampak ragu sesaat sebelum akhirnya mengangguk lemah.
Aeris mundur perlahan. Telapak tangannya mulai berdenyut hebat sekarang. Darahnya bahkan menetes ke lantai rooftop.
Sial. Sepertinya dalam. Ini butuh dijahit.
Ia buru-buru turun ke bawah. Dia pilih ke ruang istirahat dokter jaga untuk membersihkan luka seadanya lalu mencari bantuan.
“Aeris?”
Panggilan itu menghentikan gerakan Aeris. Sontak ia menoleh dan menemukan seorang perawat laki-laki berdiri di ambang pintu.
“Elian.”
Merasa dapat sambutan, Elian masuk. Sekonyong-konyong tatapannya jatuh pada telapak tangan Aeris yang ditekan dengan kapas. Darahnya masih mengalir. Di sekitar perempuan itu, kapas merah tergeletak dimana-mana.
“Astaga!” Elian bergegas mengambil alih tangan Aeris. “Apa yang terjadi?”
“Hanya kecelakaan kecil.” Aeris meringis begitu Elian mulai mengobati tangannya.
“Ini perlu dijahit. Darahnya terus keluar, kamu bisa kehabisan darah.” Ada nada khawatir dalam kalimatnya.
“Elian, itu tidak perlu. Perban saja sudah cukup, aku harus segera—”
“I insist.” Laki-laki itu memotong cepat. Tidak ingin dibantah.
Maka, bermenit-menit kemudian Elian sibuk mengobati, termasuk menjahit telapak tangan Aeris dengan hati-hati.
Aeris menatap bentuk wajahnya yang serius sekali memperlakukan lukanya. Ia menghela napas. “Lucu. Kenapa kamu selalu muncul saat aku terluka?” Katanya separuh humor, separuh lagi ironi.
Elian membalas tanpa mendongak, “Tanyakan pada dirimu sendiri, kenapa kamu sering terluka.”
“Konyol. Enggak ada yang mau terluka, Elian. Jelas itu—Aw!” Elian sengaja menekan luka itu agak kencang.
“Sakit?” Sebenarnya itu bukan pertanyaan, melainkan terdengar seperti olokan. “Kalau sakit ya jangan diulang, Nona ceroboh!”
Aeris mencebik. Meski kesal, dia tidak punya argumen untuk itu. Elian sepenuhnya benar, Aeris terlalu ceroboh.
Misalnya minggu lalu saat Aeris masih di bagian Emergency and Intensive Care. Perempuan itu entah bagaimana berhasil membuat jarinya terjepit roda brankar.
Bukan saat mendorong pasien darurat. Bukan juga ketika situasi chaos penuh darah dan jeritan seperti di drama medis. Tidak. Itu terjadi karena Aeris berjalan sambil membaca hasil CT scan sambil menggigit roti isi.
Sementara itu di saat bersamaan sebuah brankar kosong meluncur dari arah berlawanan. Lantainya memang agak landai. Seorang perawat berlari panik mengejar di belakang brankar. “Awas!” Teriaknya memperingatkan Aeris.
Aeris panik. Tapi entah apa yang dia pikirkan, dia pilih berlari menghampiri brankar dan berdiri menghadang jalan. Tentu saja brankar itu berhenti setelah menabraknya. Sandwich nya jatuh tepat di dekat roda. Untungnya Aeris punya kuda-kuda yang kuat, jadi begitu ditabrak dia tak langsung jatuh.
Perempuan itu tersenyum jumawa, “easy.” Katanya. Seperti superhero yang berhasil menyelamatkan kota.
Brankar berhenti, Aeris menyingkir ke samping. Kemudian dia berjongkok demi memungut kembali roti lapisnya. Nahasnya brankar itu kembali bergerak hingga melindas tangannya. Tampaknya pengunci roda belum benar-benar mengait sempurna.
“AAAAA—!”
Satu lorong IGD menoleh saat Aeris terduduk sambil memegangi jarinya sendiri.
Dan Elian, yang kebetulan lewat membawa sampel darah, hanya menatap kasihan sebelum berkata, “Aku enggak tahu mana yang lebih mengkhawatirkan. Jarimu atau fakta kalau kamu rela terlindas demi sepotong sandwich.”
Lalu tiga hari sebelumnya lagi.
Aeris tersiram air panas karena terlalu semangat menuang kopi sambil mengobrol dengan perawat lain tentang teori konspirasi pasien yang percaya dirinya diculik alien.
Dan itu bukan yang paling konyol. Sebelum itu, dia pernah terkilir gara-gara berusaha menangkap map yang jatuh dramatis dari tangannya sendiri.
“Kalau dipikir-pikir...” gumam Elian sekarang sambil merapikan jahitan terakhir di telapak tangannya, “aku mulai yakin malaikat pelindungmu sudah resign.”
Aeris terkekeh pelan. “Hei, jangan menghina malaikatku.”
“Aku tidak menghina. Aku kasihan.” Elian akhirnya mendongak. “Mereka pasti lembur mengurusmu.”
“Setidaknya ada kamu. Tugas mereka tidak begitu berat.” Balasnya dilengkapi dengan cengiran konyol.
Laki-laki itu memutar bola mata pura-pura jengah. “Oh tentu saja. Aku akan menagih bayaran extra untuk itu.” katanya demi mendapat gelak tawa perempuan itu.
Laki-laki itu kemudian meniup pelan luka yang ia jahit sebelum membalut telapak tangan Aeris dengan perban bersih.
“Sudah selesai.” Elian menepuk ringan punggung tangannya. “Dan untuk tiga hari ke depan, tolong jangan melakukan tindakan kriminal seperti memegang benda tajam.”
“Very funny. Aku tidak sebodoh itu.”
Elian bangun dan merapikan peralatan yang barusan dia pakai. “Siapa yang tau isi kepalamu itu. Kamu selalu memberiku kejutan gila.”
“Aku tidak sedramatis itu, ayolah.” Aeris terkekeh. Ia memperhatikan tangannya yang terbalut perban. “Lagipula untuk apa aku berurusan dengan benda tajam?” Ia mengedikkan bahu. Seolah pemikiran itu mustahil terjadi padanya.
Elian berdecak meremehkan. “Tanyakan pada dirimu sendiri, ada urusan apa kamu dengan mata pisau tajam.”
Deg.
Aeris berkedip kaget. Itu tuduhan yang tepat sasaran. Luka yang dia dapat memang karena dia salah posisi memegang pisau tajam karena—ASTAGA!
Sekonyong-konyong Aeris turun dari kursi dengan panik. Dia baru ingat harus kembali segera ke rooftop.
“Aku harus pergi.” Tanpa menunggu balasan dari Elian, dia berlari kalang kabut dari ruangan itu.
“IYA. SAMA-SAMA.” Teriak Elian berupa sindiran.
Ternyata Aeris masih dengar. Perempuan itu melongok di pintu dengan cengiran lebar. “Terima kasih, Elian. Aku traktir kopi besok.” Katanya sebelum kembali menghilang.
Elian hanya terkekeh sambil menggeleng tak percaya. Tingkah perempuan itu memang unik.
Sementara itu, ketika Aeris akhirnya kembali ke rooftop dengan napas tersengal. Begitu pintu berat itu terbuka, dia membeku. Pemandangan di depannya seperti cuplikan drama romansa versi live action.
Kael ada di sana. Berlutut di lantai rooftop. Memeluk perempuan itu erat, sementara si perempuan kembali menangis di dadanya.
Lalu pandangan mata Aeris berpindah ke pergelangan tangan si perempuan. Perban itu sudah bernoda merah.
Mungkinkah jahitannya kembali kebuka? Atau justru itu karena aksinya melukai diri lagi?
Apapun itu, yang lebih penting sekarang adalah… kenapa Kael ada di sini dengannya? Memeluk perempuan itu pula—seolah dia benar-benar berharga.
Ada hubungan apa mereka?
Kael mengangkat wajahnya. Seketika pandangan mata mereka bertemu. Ada sesuatu di matanya, tapi Aeris tidak bisa mengartikannya.
***