"bagaimana hasilnya Myra?"
"masih garis satu, negatif." aku menyahut lirih.
Untuk kesekian kali, lagi dan lagi. Hasil tes di benda pipih kecil itu menciptakan genangan hangat di sudut mata, menjelma menjadi aliran anak sungai yg berjalan deras di pipi. Hatiku perih, aku kecewa lagi seperti sebelumnya.
Beberapa tahun silam mas Zahran membuktikan cintanya padaku dalam sebuah ikatan yang suci. Mengucap janji di depan banyak orang, menciptakan berbagai rasa yg berkecamuk dalam d**a. Tak bisa kudefinisikan bagaimana rasanya. Yang kutahu, aku sangat bahagia kala itu.
Namun menjalani bahtera rumah tangga ternyata tidak seindah dan semulus yang kufikirkan sebelumnya. Dulu gaya fikirku terlalu culun dengan berfantasi bahwa pernikahan pasti akan membawa kita pada suatu akhir yang bahagia, seperti di sinetron-sinetron yang kerap kutonton di saluran televisi swasta.
Namun setelah aku benar-benar terjun di dalamnya, fantasi-fantasi yang dulu sempat ada kian memudar. Bak orang yang sedang menempuh perjalanan jauh, kerikil bahkan badai kian kujumpai dalam perjalanan rumah tanggaku.
Lima tahun usia pernikahanku dan mas Zahran, kami belum juga dikaruniai anak. Berbagai usaha telah kami lakukan. Di tahun-tahun pertama, kami masih hanya sebatas mempelajari tips di internet, bagaimana cara agar aku cepat hamil. Apa saja yg perlu dilakukan dan hindari, makanan apa saja yang direkomendasikan, dan masih banyak lagi hal yang lainnya. Banyak sekali tips tertuang di sana, satu persatu kami coba, namun tidak membuahkan hasil.
Hingga pada akhirnya kami berupaya lebih serius dengan mendatangi medis, tak tanggung-tanggung, puluhan juta kami habiskan untuk perawatan agar aku bisa cepat hamil. Karna menurut dokter kondisiku dan mas zahran baik-baik saja, tidak ada masalah. Namun sekian lama kami melakukan usaha dengan medis, hasilnya masih nihil.
Tidak berhenti di situ, kami juga melakukan upaya dengan hal-hal tradisional. Mendatangi tukang urut, meminum jamu, dan hal-hal tradisional yang lainnya. Namun sayang, hasilnya masih tetap saja nihil.
Sungguh, sangat menguras energi. Tak terhitung berapa kali aku dan mas zahran terkoyak kecewa setiap kali melihat hanya ada satu garis merah yang terpampang di hasil testpack.
Namun aku tetap merasa bersyukur, di tengah keadaan yang seperti itu mas Zahran tak sedikitpun terlihat menggoyahkan rasa cintanya padaku. Meskipun ibunya yang memang tidak menyukaiku kerap kali berusaha untuk merobohkan pertahanannya, sejauh ini kulihat mas Zahran masih tetap menjaga janji dan keputusannya yang telah memilihku sebagai makmumnya.
Aku selalu mempercayai mas Zahran sebagai suamiku, tak pernah sedikitpun aku berfikiran negatif padanya. Hingga pada suatu ketika, sesuatu terasa mulai mengusik kepercayaanku yg telah kujaga baik-baik selama ini.
Trrringgg
Bunyi lirih dibarengi dengan cahaya yang menyala di atas nakas tempat tidur kami.
Sejenak aku melihat ke arah mas Zahran yang terlelap dengan bantal guling di antara dua lengannya, malam ini dia tidur tanpa memelukku. Dan jika difikir-fikir, sudah sepekan dia seperti itu.
Aku kembali melirik ke arah handphone mas Zahran yang terlihat masih menyala. Tanda pesan masuk masih belum terbaca.
Kuberanikan diri untuk mengambil benda pipih itu. Kulihat layarnya dan terdapat jendela apung berisi pesan yang baru saja masuk .
"Aura : aku akan pulang lusa
Degggg. Seperti ada petir yang menyambar ke ulu hati.
Bukan perkara isi pesan singkatnya, tapi tanda emoticon love di akhir pesan itu sungguh berhasil membuat dadaku bergemuruh. Pikiranku mulai menerawang kepada hal-hal yang negatif, berfikir sangat jauh.
Apakah mas Zahran sudah mulai menghianatiku? Benarkah? Sejak kapan?
Aku mulai merasa menjadi orang yang sangat bodoh .
"Tapi Aura? Siapa dia? Aku seperti baru pertama kali mendengar namanya. Sejak kapan mereka mulai berhubungan?"
Aku larut dengan fikiranku sendiri. Membuatku tidak bisa tidur semalaman.
* * *
Pagi harinya, aku melakukan aktivitas seperti biasa. Aku sudah menimbang-nimbang semalam, bahwa aku harus tetap bersikap tenang. Jika memang mas Zahran sedang menciptakan permainan, maka akulah yang harus menjadi pemenangnya. Aku tidak boleh gegabah. Ikuti saja dulu bagaimana alurnya. Lihatlah siapa yang licik dan siapa yang lebih cerdik.
Jam 6 pagi berbagai makanan sudah tersaji rapi di atas meja makan. Nasi, capcai, dan ayam krispi asam pedas favorit mas Zahran sudah bertengger dan menguarkan aromanya ke segala sudut ruangan. Tak lupa satu toples kerupuk udang sebagai pelengkap. Aku juga menyiapkan 3 gelas s**u untuk aku, mas Zahran, dan ibu. Kami memang biasa sarapan pagi dengan menu yang lengkap, menurut kami sarapan adalah salah satu kebiasaan baik yang tidak boleh dilewatkan.
"Mas, lusa mas ada acara?"
Ucapku memecahkan keheningan di sela sarapan.
Kuperhatikan mas Zahran dan ibu saling melirik sebelum menjawab pertanyaanku . "Memang benar, ada yang mereka sembunyikan." Aku membantin .
"Ngg.. nggak. Nggak ada acara kok. kenapa?"
"Ada acara ataupun tidak itu urusan suamimu toh? Jadi istri kok ikut campur amat sama urusan suami". Seperti biasa, ibu menyambar dengan kalimat yang terdengar tidak nyaman. Tapi aku selalu berusaha menanggapinya dengan raut muka biasa saja. Aku tidak ingin terlihat lemah dihadapan suami dan ibu mertuaku.
"Kenapa Myra?", mas Zahran mengulang pertanyaanya.
"Tidak apapa kok, aku hanya sedang merasa penat saja. Ingin jalan-jalan."
"Mmmm lihat lusa ya, jika aku tidak ada acara mendadak, kita bisa pergi jalan-jalan."
"Kurangi hal yang bersifat foya-foya seperti itu lah zahran, mending uangnya disimpan untuk yang penting-penting saja. Jangan sampai anak tidak punya, tabungan juga tidak punya."
Hatiku berdesir perih mendengar ucapan ibu, tapi aku tetap kokoh. Kubuat mukaku sebiasa mungkin. Tak pernah kutimpali sedikitpun ucapan ibu, aku masih tetap menjaga baktiku kepadanya sebagai ibu dari laki-laki yang aku cintai. Selama ini aku lebih memilih untuk diam, daripada menjawab ataupun melakukan pembelaan yang hanya akan berujung pada cekcok yang tidak patut terjadi antara mertua dan menantu.
Namun pagi ini aku merasa kehilangan sesuatu. Biasanya, setiap kali ibu mengucapkan kalimat yang menyakitiku, mas Zahran selalu berusaha menguatkan aku. Entah dengan sedikit menjawab perkataan ibu, atau hanya sekedar tersenyum ke arahku, meletakan tangannya di atas tanganku, atau memegang pundakku, sekedar membuatku untuk berlega hati dan memaklumi perkataan ibu. Tapi kali ini tidak. Usai ibu mengucapkan sembilunya tadi, mas Zahran hanya berdehem tanpa melakukan apa-apa lagi setelahnya. Kemana mas Zahranku? Hatiku kembali mencelos dan semakin berfikir yang tidak-tidak.
Sarapan pagi berlanjut dengan suasana yang kembali hening. Hanya ada deru sendok dan garpu di atas piring. Kami larut dalam fikiran kami masing-masing.
Setelah sarapan selesai, aku bersiap untuk berangkat mengajar di sekolah, dan mas Zahran bersiap untuk berangkat ke kantor. Sementara ibu, mulai duduk manis di depan televisi dengan satu toples cemilan favoritnya. Itulah rutinitas kami.
Mas Zahran bekerja di salah satu perusahaan swasta. Dia lulusan s2 dari salah satu universitas favorit dan sekarang menduduki posisi yang lumayan penting di kantornya. Itulah yang membuat ibu sangat mengelu-elukan putra semata wayangnya itu, membanggakannya kepada setiap orang yang ia jumpai.
Sementara aku berprofesi sebagai guru di salah satu SMP negeri. Ya, aku tamatan s1 pendidikan. Mungkin gajiku sebagai guru SMP tak seberapa. Itu menjadi salah satu alasan yang selalu di pakai ibu, bahwa perempuan sepertiku tidaklah cocok bersanding dengan putranya yang hampir sempurna itu.
Dua hari berlangsung biasa saja. Tidak ada satupun bahasan yang mengarah pada permintaan jalan-jalan yang kusampaikan pada mas Zahran tempo hari. Akupun tetap diam, tak ada niatan untuk membahas itu lagi. Toh waktu itu juga aku hanya basa basi sekedar ingin mengetahui bagaimana reaksi mas Zahran.
Hari ini adalah akhir pekan. Tentulah aku dan mas Zahran libur dari aktivitas bekerja kami. Usai sarapan ibu pergi ke halaman untuk menyiram tanaman-tanaman kesayangannya yang selalu ia rawat dengan sepenuh hati.
Aku masih sibuk membereskan meja sisa dari sarapan pagi. Mencuci piring dan meletakannya kembali ke tempat semula dengan rapi. Kemudian bergegas untuk menjemur pakaian yang sudah ku cuci tadi subuh-subuh. Semua pekerjaan rumah memang aku yang mengerjakan. Tapi aku sama sekali tidak merasa terbebani. Aku lebih memilih menikmati dan menganggap itu sebagai salah satu wujud baktiku sebagai seorang istri dan menantu.
Selesai menjemur dan hendak mengambil sapu, aku melihat mas Zahran sedang bersantai di depan televisi. Kepalanya bertumpu pada bantal sofa yang ia apit juga dengan lengan atasnya. Tangan kananya terlihat sibuk dengan handphone yang akhir-akhir ini seakan tidak bisa lepas dari genggamannya. Membuat aku semakin curiga. Namun aku belum bisa berbuat apa-apa lagi.
Tingg tongg..
Terdengar suara bel rumah berbunyi.
Aku acuh dan tetap melanjutkan aktivitasku, karna aku berfikir masih ada ibu di luar, harusnya dia bisa menerima dan menyapa tamu itu terlebih dahulu.
3 kali bel terus berbunyi. Tiba-tiba aku teringat dengan isi pesan di handphone mas Zahran waktu itu. "Bukankah ini harinya?", aku mengingat-ingat. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke luar untuk membukakan pintu.
Belum sampai aku ke depan pintu, aku justru sudah dikejutkan dengan pemandangan yang sungguh tidak ingin aku lihat.
Seorang perempuan dengan warna kulit sedikit lebih gelap dariku, mengenakan dres selutut dan menenteng koper di tangan kirinya, terlihat sedang melingkarkan tangan kananya di pinggang mas Zahran. Tidak berhenti sampai disitu, iapun beringsut maju dan menempelkan pipinya di pipi mas Zahran, kanan dan kiri. Mata mereka terlihat sama-sama berbinar, entah apa makna dari tatapan mereka itu, aku tak bisa menjelaskan. Yang aku tahu, hatiku terasa sangat sakit waktu itu.
Sekuat tenaga aku mengontrol diriku agar tetap bisa berdiri. Menahan hati untuk tidak emosi. Ingat, aku harus menjadi pemenang dalam permainan ini.
Kulangkahkan kakiku menghampiri mereka. Kulemparkan sapu yang sedang kupegang ke arah pojokan tembok di dekat pintu. Sengaja, agar mereka menyadari kedatanganku. Benarlah, mereka berdua langsung menoleh ke arahku.
"Aura?" Tanyaku agak lantang setelah berdiri tak jauh dari mereka.
Mas Zahran terlihat kikuk. Atau lebih tepatnya terkejut mengapa aku bisa tau nama dari wanita yang sedang memegang pingganya itu.