Tepat pukul 19.00 aku sudah tiba kembali di rumah. Kuparkirkan motorku di garasi seperti biasa. Setelah mesin motorku kumatikan, sayup-sayup aku mendengar gelak tawa dari dalam rumah.
"Sepertinya suasana rumah ini justru menyenangkan jika tanpa aku ya? ckk. Tapi ini baru permulaan, lihat saja nanti jika aku sudah benar-benar pergi." aku berdialog dengan batinku sendiri .
Aku berjalan pelan memasuki rumah. Belum juga aku sampai ke sumber suara yg menciptakan gelak suara bahagia tadi, dari kejauhan ibu sudah melambaikan tangannya kepadaku dan berkata,
"Myra, sini. Ada hal yang perlu kita bicarakan".
Tanpa menyahut, aku langsung melangkahkan kakiku menghampiri mereka. Aku tak berniat untuk duduk di sebelah mas Zahran lagi. Kujatuhkan tubuhku dikursi tunggal, diseberang mas Zahran.
"Myra, ini aura, dia sudah dekat dengan Zahran semenjak masa-masa SMA, jadi aku sudah sangat mengenalnya. Dan kamu tahu? Dia adalah lulusan s2 manajemen di Standford University, California." Ibu memulai pembicaraan dengan memuji-muji Aura.
"Lalu?" aku menjawab singkat, jutek dan terkesan menyepelekan. Dan ibu mertuaku tampak mengangkat alisnya.
"Lalu Zahran akan akan menikahinya."
Degggg.. dadaku kembali bergemuruh. Seperti ada sambaran petir yang menciptakan kobaran api di dalamnya. Kutekan tangan kananku keras-keras ke atas sofa, menguatkan hati dan berusaha berekspresi senetral mungkin. Setelahnya aku menjawab dengan tegas,
"Baiklah, silahkan."
"Myra? kau? Kau tak apa? Kau memberikan izin kepadaku?" Mas zahran bertanya tanpa ada raut rasa bersalah sedikitpun.
"Kau mengharapkan izin yang seperti apa dari aku mas? Kau tau? Tidak ada satupun wanita yang rela dimadu, termasuk aku".
"tapi Myra.. aku janji, aku akan bersikap adil, kepadamu, dan juga Aura".
Kutarik nafasku dalam-dalam..
"Aku hanya memberikan dua pilihan. Pilihan yang pertama, kau tinggalkan wanita itu dan melanjutkan rumah tangga denganku, hanya denganku. Atau yang kedua, kau nikahi dia tapi dengan syarat ceraikan dulu aku. Jika kau mengharapkan ada pilihan ketiga yaitu kau menikahi dia dengan aku tetap bertahan sebagai istri pertama, tidak, itu tidak akan mungkin terjadi." Aku menjelaskan dengan mataku menatap netra mas Zahran yang tidak bisa kutangkap sedang bagaimana sebenarnya perasaannya kini.
"tapi Myra.."
"sudahlah Zahran, jika itu memang mau Myra, turuti saja. Ceraikan dia dan nikahi Aura. Ibu yakin kau pasti akan jauh lebih bahagia dengan Aura." Ibu memotong kalimat yang akan diucapkan mas Zahran.
"Bahagia? Bersama wanita yang dengan percaya dirinya datang ke rumah laki-laki yang sudah beristri? Mustahil. Hukum tuhan tidak akan berjalan seperti itu, apa ibu tidak tau? Kebahagiaan hanya akan diberikan Tuhan kepada orang yang juga menanam kebahagiaan kepada orang lain. Jika menanamnya rasa sakit dan penderitaan, ya itu pula yang akan didapatkan. Lihat saja". Ini kalimat sanggahan terpanjang yang aku sampaikan kepada ibu selama aku menjadi menantunya. Biasanya, sepedas apapun perkataan ibu kepadaku, aku tak pernah menjawab apalagi melawan. Tapi kini aku sudah tidak mau seperti itu lagi. Cukup sudah 5 tahun lamanya aku diperlakulan seperti itu. Kini waktunya aku mengangkat kepala, menunjukan bahwa aku bukanlah wanita yang bisa diperlakukan semena-mena.
Kulihat ekspresi mas Zahran dan ibu mertuaku, mereka tampak terkejut. Begitu pula dengan Aura yang sedari tadi hanya diam, dan sesekali senyam-senyum setiap kali ibu memujinya di depanku. Sekarang ekspresinya terlihat kecut, menatap sinis ke arahku.
"kuberikan waktu kepadamu sampai besok malam mas. Besok malam kita bahas dan putuskan dengan gamblang, akan seperti apa kita kedepannya." Aku beranjak pergi ke kamar tanpa menunggu mereka menjawab perkataanku.
***
"dari tadi pagi kuperhatikan murung terus? Sedang ada masalah?" Kata Banun sambil menyodorkan jus jambu yang di kemas menggunakan gelas plastik dengan sedotan berwarna ungu di tengah tutupnya.
"Mmmmm.. sedikit?" aku menjawab dengan pertanyaan.
"Sedikit ataupun banyak, besar ataupun kecil, itukan kau yang tau. Mau cerita kepadaku?"
"Tidak sekarang. Mungkin nanti, kalo aku sudah siap".
"Oke, baiklah. Sekarang minumlah dulu jus jambunya. Kalo kurang manis, minumnya boleh sambil lihat aku." ucap Banun sambil menyodorkan lagi jusnya kepadaku, bibirnya ia lengkungkan ke atas tanda ia sedang bercanda.
Banun adalah rekan guru di SMP tempat aku bekerja. Dia terlihat cukup gagah, tampilannya cukup modis jika dilihat dari ukuran seorang guru. Tubuhnya proporsional, kulitnya putih, hidung mancung, dan matanya teduh. Tak jarang siswi-siswi kelas 9 menggodanya, aku bahkan sering membatin "yaTuhan siswa-siswa jaman sekarang, masih anak-anak bisa gitu ya goda-goda gurunya sendiri".
Walaupun tidak dipungkiri, sebagai seorang laki-laki Banun memang memiliki pesona dan karisma tersendiri. Tapi yang aku heran, kenapa sampai sekarang dia masih memilih untuk melajang? Padahal umurnya sekitar dua tahun di atasku.
***
Usai melaksanakan sholat maghrib, kubuka lemari bajuku. di deretan nomor 2, terdapat celah dengan 2 laci berukuran besar, di sanalah tempat beberapa surat penting dan segala kwitansi dengan berbagai rincian-rinciannya, hanya aku yang paham betul. Kukumpulkan semuanya jadi satu, kutumpuk rapih dan kumasukan ke dalam satu amplop plastik berukuran besar. Kupersiapkan semuanya karena sedikit banyak aku sudah bisa menerka-nerka apa yang akan diputuskan mas Zahran malam ini.
Aku pergi ke ruang tengah. Disana kulihat mas Zahran sedang duduk bersebelahan dengan Aura, seperti tak ada jarak, sangat dekat. Diseberang mereka ada ibu. Mereka bertiga terlihat sangat bahagia.
Meski perih perasaanku, aku tetap melangkah menghampiri mereka. Melihatku datang, mereka tampak mengakhiri tawa yang sedari tadi menggema memenuhi seisi ruangan.
Setelah duduk, tanpa basa basi aku langsung melontarkan pertanyaan kepada mas Zahran
"Bagaimana mas? sudah mantap untuk mengambil keputusan? bisa kau jelaskan sekarang bagaimana keputusanmu?"
"Zahran sudah mengambil keputusan bahwa"
"Bu, aku bertanya kepada mas Zahran. Bukan kepada ibu. Jadi biarlah mas Zahran yang menjawab", aku memotong.
Mas Zahran tampak sedikit geser ke kanan, membuat sedikit jarak antara tubuhnya dan tubuh Aura.
"Myra, sebelumnya bolehkah aku bertanya satu hal kepadamu?
"Tentu", jawabku singkat.
"Apa kau tidak bisa berdamai dengan kedatangan Aura? Jika kau mau tetap bertahan denganku dan menerima Aura, aku berjanji akan bersikap adil seadil-adilnya", mas Zahran menjelaskan.
"Bukankah aku sudah menjelaskan dengan gamblang tadi malam. Hanya ada 2 pilihan yang aku berikan, dan tidak ada pilihan semacam itu. Apa masih kurang jelas?"
"Jadi, kau benar-benar mau kita berpisah?"
"Ya, tentu saja. Jika kau tetap kekeh untuk memperistri wanita tidak tahu diri itu" aku menjawab sembari melirik ke arah Aura, ibu mertua tampak tidak terima.
"Myra! jaga ucapan kamu. Apa kamu tidak sadar diri? Aura ini jauh lebih baik darimu, dari segi apapun!"
"Ibu ini lucu. Tidak akan ada satu orangpun yang menganggap wanita perusak rumah tangga orang lain sebagai wanita baik-baik bu. Jika memang dia adalah orang yang baik, dia tidak akan ada disini sekarang. Tidak akan berusaha untuk merebut apa yang sudah menjadi milik orang lain".
"Cukup Myra! makin ke sini ucapanmu semakin keterlaluan dan ngawur", ibu menjawab sambil berdiri dan meletakan kedua tangannya di pinggang. Aku sampai merasa, berlebihan sekali reaksi ibu, apa seistimewa itu Aura di mata ibu sehingga ibu seakan membelanya habis-habisan?
"Ibu, sudahlah, cukup. Tidak usah marah-marah begitu. Nanti hipertensi ibu kumat lagi." Mas Zahran menengahi, dan Aurapun tampak ikut menenangkan ibu, dibimbingnya tubuh ibu untuk kembali duduk, dan iapun duduk disebelah ibu dengan kedua tanganya ia letakan di lengan calon ibu mertuanya itu, sesekali tampak ia tekan-tekan perlahan.
"Tapi dia sudah keterlaluan Zahran. Kerasukan apa dia itu? Biasanya dia tak pernah seperti itu sama sekali. Sekarang sudah semakin berani saja, lancang mulutnya. Wanita seperti itu untuk apa dipertahankan sebagai seorang istri?" ibu tampak masih mencak-mencak.
"Myra, kau tetap pada pendirianmu?" tanya mas Zahran lagi.
"Tentu. Toh hati dan perasaanmu sudah dibutakan oleh Aura. Maka bertahanpun tak akan ada artinya untukku. Ayo perjelas semuanya, sekarang juga." Aku menjawab dengan tenang dan lantang.
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu. Almyra Hanun Binti Muhammad Aljunaid Hanun, Hari ini detik ini aku talak engkau. Aku sudah tidak berhak atasmu dan kamu sudah tidak berhak atasku."
Kupejamkan mataku dan kutarik nafasku dalam-dalam. Benarlah tidak ada satupun orang yang menginginkan akhir rumah tangga seperti ini, ternyata rasanya memang sakit sekali. Tubuhku hampir gontai, tulang-tulang seakan copot dan pergi dari tempatnya. Tapi sekuat tenaga kukuatkan hatiku. Dengan tumpuan kedua tangan, kujaga agar tubuhku tetap seimbang. Istighfar berkali-kali kulangitkan, aku memohon kekuatan kepada tuhan.
Kulihat senyum tercetak jelas di bibir Aura dan ibu mertuaku, sungguh mereka bahagia di atas penderitaanku. Tapi melihat mereka yang seperti itu, aku justru seperti mendapat kekuatan.
Kujaga agar tidak ada satu tetespun air mata yang jatuh di hadapan mereka.
"Baiklah, mulai detik ini, jalinan kita sebagai suami istri sudah terputus secara agama. Aku akan segera mengurus gugatan cerai agar kita juga bisa segera resmi berpisah secara hukum dan negara", aku menjawab. Ibu dan Aura terlihat semakin mengembangkan senyum setelah mendengar jawabanku.
"Bisa aku menjelaskan sesuatu? Karna aku sudah menebak hal ini akan terjadi malam ini, jadi aku sudah menyiapkan beberapa hal yang harus kujelaskan kepada kalian, sejelas-jelasnya. Jadi tolong diperhatikan." aku berkata panjang sambil mengeluarkan beberapa benda dari dalam amplop besar tadi, sebagian besar didominasi oleh kertas-kertas kwitansi.
"Aura, karna kau akan menjadi Bundahara baru di rumah ini, maka segala tugas akan kuserahkan kepadamu." Aura tampak memperhatikanku, begitupula dengan ibu dan mas Zahran.
"Ini ATM mas Zahran, gajinya dikantor sekitar 9-11 juta. Jadi setiap tanggal 1 akan ada uang sekitaran segitu masuk ke dalam ATM ini." aku menjelaskan sambil menyerahkan ATM kepada Aura. Ibu tampak tersenyum bangga. Aura juga masih tetap setia dengan senyumnya.
"Tapi sekarang sisa uangnya cuma sekitar 2 jutaan, atau bahkan kurang dari 2 juta ya? Aku lupa. Kau tanyakan saja kepada mas Zahran. Dia bisa menjawab sekarang juga kok, di handphonenya itu ada m-banking ATM tersebut, cek saja langsung tinggal berapa saldonya."
"Zahran coba cek sekarang nak.." ibu memberi perintah.
"Satu juta sembilan ratus tiga puluh delapan ribu", mas Zahran tampak menjawab dengan ragu-ragu setelah ia mengecek m-bankingnya.
"Kau kemanakan saja uang Zahran Myra?! Boros sekali kau jadi istri. Belum juga pertengahan bulan, gaji 11juta sudah hampir kau habiskan?!!"
"Semuanya akan kujelaskan dengan kertas-kertas ini bu. Tenanglah sedikit."
Aku menyodorkan sebendel kertas kepada Aura,
"Ini catatan cicilan rumah ini, lengkap dengan kwitansi sebagai bukti cicilan yang sudah kusetorkan. Cicilan perbulannya 3.448.000, masa angusarannya 60 bulan. Sudah dibayarkan hampir setengah jalan, kalo tidak salah sisanya kurang 34 bulan, berati sekitar 3 tahunan." Kulihat eskpresi Aura dan ibu mulai berubah.
"Lalu ini catatan cicilan mobil ibu. Setaun yang lalu ibu minta dibelikan mobil baru, spesifikasinya cukup bagus untuk mobil yang sebenarnya jarang digunakan, kurang penting memang ya? tapi itulah permintaan ibu ra, kalo tidak dituruti pasti akan repot setelahnya," Aura tampak melirik calon ibu mertuanya, tapi dia masih belum berkata apa-apa.
"Cicilan perbulannya sekitar 2.900.000 sekian, bisa kamu cek sendiri disitu. Lama angsurannya empat tahun, baru jalan satu tahun, jadi masih kurang tiga tahun". Dibukalah catatan angsuran mobil oleh Aura, ia tampak membaca dengan teliti, kulihat mimik mukanya semakin berubah.
"Lalu ini catatan tagihan listrik. Ini juga menjadi satu hal yang cukup membuat aku pusing. Listrik di rumah ini seakan tak bisa di hemat sama sekali. Tagihanya tak pernah kurang dari 1.500.000 tiap bulannya", kuserahkan bendelan berikutnya kepada Aura, wajahnya terlihat semakin kecut.
"Dan ini bendelan yang terakhir. Ini sebetulnya tidak begitu penting untuk disimpan. Isinya hanya kwitansi untuk pengeluaran-pengluaran kecil seperti uang sampah, iuran siskampling, kas RT bulanan, dan lain-lain. Tapi karena jika dijumlahkan totalnya lumayan juga, jadi kwitansinya tetap kusimpan dan kutata rapih, apa ada yang ingin kau tanyakan Aura?"
Aura tampak mengalihkan perhatian matanya dari kertas-kertas dan berpindah ke arahku, lalu ia menggeleng.
"Oiya, jangan lupa juga, setiap bulannya ibu selalu minta jatah, jatah untuk ibu tidak pernah kurang dari dua juta rupiah perbulan. Itu diluar dari biaya perawatan kebun dan tanaman-tanaman kesayangan ibu di halaman itu, kamu sudah lihat kan?" Aura mengangguk.
"Lalu.. mungkin kau sudah melihat di garasi, ada 2 motor dan 2 mobil di sana. 2 motor itu bukan motor cicilan, jadi kau tidak perlu khawatir. 1 motor bawaan mas Zahran, dan 1 motor bawaanku, ketika kami masih sama-sama lajang. Motor R15 adalah hak mas Zahran, dan beat berwarna hitam pink itu adalah hakku. Kemudian mobil, mobil berwarna merah adalah mobil ibu yang sudah kujelaskan tadi. Dan mobil putih tulang itu sebenarnya adalah mobil milikku dan mas Zahran, tapi dari awal cicilan hingga sekarang hanya kurang 2 cicilan, semuanya dicicil menggunakan uang pribadiku. Jadi BPKBnya pun akan diatasnamakan namaku. Begitu kan mas Zahran?"
Mas Zahran mengangguk pelan, entah sejak kapan ia menunduk, aku baru menyadarinya.
"Kau tidak usah mengarang cerita Myra! punya uang dari mana kau untuk mencicil mobil mewah seperti itu. Paling uang yang digunakan untuk mencicil juga uang yang kau dapatkan dari Zahran bukan?!"
"Bu, mas Zahran juga sudah mengiyakan, kenapa ibu masih juga ngeyel?" aku kembali berusaha meredam emosiku.
"Uang sisa dua juta itu bisa kau gunakan untuk berbelanja kebutuhan dapur, karna kulihat stok dikulkas juga sudah hampir kosong," aku kembali fokus kepada Aura, tapi lagi-lagi ibu memotong perkataanku.
"Uang dua juta cukup untuk membeli apa Myra! Ini baru tanggal 9, stok kulkas sudah hampir kosong, berati banyak yang harus dibeli untuk persediaan hingga akhir bulan. Dua juta mana cukup!"
"Setiap bulan keadaan keuangaan memang seperti itu bu. Tapi buktinya aku tetap bisa mengaturnya. Ibu masih tetap bisa makan enak tanpa kekurangan apapun kan? Ibu serakahkan saja semuanya pada calon menantu idaman ibu itu. Kata ibu dia lulusan manajemen dari Universitas ternama di California kan? masa memanage keuangan rumah tangga saja tidak bisa." aku berkata dengan bola mataku kualihkan ke arah samping, sengaja menghindari kontak mata dengan ibu ataupun Aura.
"Oiya Aura, gaji mas Zahran itu juga termasuk untuk biaya bensin, paket data, pulsa, dan yang lain-lainnya. Jangan lupa juga sisihkan untuk keperluan-keperluan yang tidak terduga", aku kembali memberi penjelasan.
"Tapi apa cukup?", Aura menjawab ucapanku untuk pertama kalinya.
"Tidak. Karna jika dijumlahkan pengeluaran di rumah ini memang jauh di atas 11 juta perbulannya. Apalagi jika kita ingin pergi jalan-jalan. Belum lagi jika sering pergi makan di luar. Meskipun di rumah sudah ada persediaan makanan, mas Zahran tetap sering ingin makan di luar loh, ibu juga. Jika sudah seperti itu, wahh sudah naik berkali-kali lipat pengeluarannya." aku berkata sambil menatap ke arah mas Zahran dan ibu bergantian.
"Cumup Myra! kau sedang menakut-nakuti Aura?!", ibu menginterupsi.
"Menakut-nakuti Aura? Untuk apa? Aku hanya sedang menjelaskan. Beruntunglah Aura aku berkenan untuk menjelaskan sekarang, agar kedepannya dia tidak keget."
"dan satu hal juga yang harus kamu ingat Aura, patokan gaji 11 juta itu sudah yang paling besar ya, dan itu cukup jarang terjadi. Yang lebih sering terjadi dan masuk ke dalam ATM adalah kisaran 9 juta sampai 9,5 juta", sambungku.
"Untuk malam ini aku izin untuk masih di sini, aku akan mencari tempat tinggal baru secepatnya."
Kutatap satu persatu raut wajah mas Zahran, Aura, dan yang terakhir ibu mertuaku. Setelahnya aku langsung beranjak pergi tanpa ingin mendengar jawaban apapun lagi dari mereka.