Pandangan Ara menatap lurus lapangan futsal dihadapannya. Fokusnya jatuh hanya pada satu titik yang nampak mencolok daripada yang lainnya. Dia adalah Arga, sosok bernomor punggung 11 yang selalu berhasil menarik perhatiannya bahkan hampir setiap detiknya.
Banyak yang mengatakan disamping cowok tampan itu pasti ada cewek cantik disebelahnya. Ara jelas mengakui hal itu, karena disetiap langkah kapten futsal itu selalu ada Marisya disampingnya.
Layaknya Arga, siapa yang tidak mengenal cewek cantik idaman kaum adam itu. Wajah cantik, tubuh sempurna, dan jabatan yang tak main-main tentu menjadi daya tariknya. Tapi sepengelihatan Ara, hanya Arga yang memandang cewek itu berbeda. Ketika semua cowok memandang Marisya melalui nafsu cowok itu justru menatap Marisya dengan penuh cinta.
Kesekian kalinya Ara hanya bisa tersenyum miris, merutuki nasibnya yang tidak bisa dibenarkan. Bertunangan dengan cowok yang jelas mencintai gadis lain dalam hidupnya. Andai ia bisa pergi mungkin sudah dilakukannya sejak dulu.
“Arasya sedang apa kamu disana?.” Lamunan Ara buyar ketika suara Bu Arin menyapa telinganya. “Kamu nggak dengar bel masuk?.”
Ara meringis merutuki kesalahannya. “Ma-af Bu.”
Terlihat Bu Arin menggelengkan kepalanya. “Ya sudah sana masuk.”
Ara hanya mengangguk lalu bangkit dari duduknya menuju kelas yang segera dimulai. Tanpa dirinya sadari ternyata interaksinya dengan Bu Arin menarik perhatian salah satu mahkluk Tuhan yang masih memandang punggungya hingga menghilang di koridor.
...............................
Terhitung seminggu semenjak terakhir kali Ara menginjakkan kakinya dirumah besar itu. Suasana hangat selalu saja berhasil menghipnotis perasaannya setiap kali menghirup udara dirumah itu.
“Non Ara sudah datang?.”
“Eh Mbok Arum. Iya nih Ara baru aja sampai.” Wanita yang kerap disapa Mbok Arum itu mengangguk tersenyum mengusap kepala Ara lembut ketika gadis itu meyaliminya.
“Langsung aja ke ruang makan Non, Tuan dan Nyonya sudah menungu.” Ajak Mbok Arum diikuti Ara disampinya.
“Assalamualaikum Om, Tante.” Sapa Ara membuat semua orang menoleh.
“Waalaikumsalam, sini sayang.” Sambut Kirana antusias, sedangkan yang lainnya yang hanya tersenyum menyambut kedatangan Ara yang telah ditunggu-tunggu.
Disana tidak hanya ada Kirana dan Surya tetapi juga ada kedua kakak Arga yakni Dean dan Ardian beserta Amalia istrinya. Meskipun berstatus anak tertua, tak menutup kemungkinan jika Dean dilangkahi menikah oleh adik keduanya satu setengah tahun yang lalu.
Bukannya tak berniat menikah, sejauh yang Ara tau cowok berusia matang itu saat ini lebih memilih fokus menjalankan proyek pendirian perusahaannya sendiri. Entah apa alasannya, Dean dan Adrian justru terlihat begitu kompak untuk memilih jalannya sendiri. Dean dengan kerajaan barusnya dan Adrian dengan profesi dokternya daripada mengelola perusahaan.
Kini, kandidat satu-satunya yang akan mengelola perusahaan besar amanah dari kakeknya hanyalah Arga. Tentu saja tanpa adanya penolakan.
“Arga nggak jemput Lo dek?.” tanya Adrian menyambut pendengaran Ara ketika gadis itu baru saja duduk manis di kursinya.
Kini semua orang kembali menjadikan Ara pusat perhatian, membuat gadis cantik itu menggigit bibirnya bingung harus memberi jawaban apa.
“Gue jemput, dianya aja yang ngilang duluan.” Belum sampai Ara membuka mulutnya, interupsi dari cowok yang baru saja datang dengan menenteng ransel dibahunya sudah mendahulinya.
Tatapan keduanya bertemu membuat Ara menunduk mengerti kode mata dari cowok itu yang tentu tidak akan mampu ia bantah.
“Benar begitu Ara?.” Kini Surya yang bertanya pada Ara tapi tatapan matanya tak beralih dari sosok Arga yang masih setia berdiri.
“Iya Om, Ara kog yang salah karena nggak kasih kabar Kak Arga dulu tadi.”
Terlihat Surya mengangguk meskipun belum sepenuhnya menerima jawaban Ara yang terlihat menjawabnya dengan takut-takut.
“Yasudah kita lanjutkan makan malamnya. Arga kamu bersih-bersih dulu gih.” Arga hanya mengangguk singkat kemudian menaiki anak tangga menuju kamar besarnya dilantai dua.
.................................
Bau maskulin menyapa penciuman Ara ketika memasuki kamar bernuansa cream itu. Tidak banyak yang tau, jika Arga yang terkenal dingin itu lebih menyukai warna-warna soft daripada harus identik dengan satu jenis warna seperti hitam yang kebanyakan menjadi identiknya cowok.
“Taruh aja situ.” Ara hanya mengangguk lalu meletakkan nampan ditangannya di meja dekat ranjang.
“Siapa nyuruh pergi?.” Langkah Ara kembali terhenti dan berbalik menatap cowok yang masih tak mengalihkan pandangannya dari hp digenggamannya. Sudah pasti sedang bermain game.
“Kak Arga butuh apa?.” Cowok bernama Arga itu meletakkan ponselnya beralih menatap wajah letih Ara.
“Duduk.” Ara menurut, duduk disalah satu sofa diruangan itu yang tak jauh dari ranjang. “Nggak usah sok tegar, kalau nyatanya Lo nggak sekuat itu.”
“Aku bukan sok tegar, tapi aku berusaha kuat untuk diriku sendiri.”
“Bukan buat gue?.” Bibir Ara kembali membisu ketika Arga bangkit dan berdiri dihadapannya.
“Gue nggak pernah minta Lo dateng, tapi takdir yang bawa Lo masuk ke hidup gue. Seperti yang selalu gue bilang ini nggak akan mudah Arasya.”
“Aku juga nggak minta.”
“Tapi Lo cinta kan sama gue?.” Tembak Arga membuat Ara mendongak menatap cowok itu tidak percaya. “Lo nggak nggak akan bisa bohong dengan mata Lo itu.”
Ara tidak tau lagi harus menjawab bagaimana. Ia memutuskan bangkit dan melangkah keluar tanpa dicegah oleh Arga. Untuk apa juga cowok itu menghalanginya, karena sudah pasti cowok itu akan senang jika ia pergi.