Suasana di gudang pabrik sudah sangat ramai, api tampak masih berkobar melahap bangunan gudang yang beratap seng itu. Dua unit mobil pemadam kebakaran dengan sigap berusaha memadamkan api agar tak merembet ke bangunan lain di gudang penyimpanan milik PT Sumber Gendis tersebut.
Sementara itu, Rangga mengemudi mobilnya dengan kecepatan penuh. Begitu sampai dihalaman pabrik, Rangga segera turun dan bergegas ke tempat kejadian perkara.
Ia berusaha menyibak kerumunan orang yang tengah menyaksikan peristiwa Naas tersebut.
Rangga melihat Aryo sedang berbincang dengan dua orang dari kepolisian yang sedang menginterogasinya. Dia segera menghampiri mereka,
"Selamat malam Pak?" Sapa Rangga seraya menjabat kedua petugas polisi yang tengah bekerja.
"Aryo, Apa yang terjadi?" Kini Ia berbalik menatap anak buahnya itu meminta penjelasan.
Aryo menggeleng sambil mengangkat kedua bahunya,
"Kejadianya begitu cepat, Tuan! Api tiba- tiba muncul dari sisi kiri gedung. Belum diketahui secara pasti penyebabnya."
"Semua sedang diselidiki oleh kepolisian. Satpam yang bertugas malam ini juga sudah diamankan, Tuan. Menunggu untuk dimintai keterangan." Jelas Aryo panjang lebar.
Rangga manggut- manggut,
"Semoga segera menemui titik terang." Gumamnya penuh harap.
Beruntung tak sampai satu jam api berhasil dipadamkan, menyisakan kepulan asap hitam yang membumbung tinggi keangkasa.
Saat ini bangunan gudang telah dipasangi garis polisi, beberapa petugas kepolisian masih terlihat sibuk di sekitar TKP untuk mengumpulkan barang bukti.
Tak lama berselang,
"Pak Rangga ... Pak Aryo, kami mohon diri! Besok pagi team kami akan kembali untuk melanjutkan olah TKP." Salah satu polisi yang bertugas menghampiri Rangga dan Aryo.
"Terimakasih atas bantuanya, Bapak. Kami sangat berharap kasus ini dapat diusut dengan tuntas!" Jawab Rangga seraya menjabat tangan polisi tersebut.
Setelah team kepolisian berlalu meninggalakan lokasi pabrik, kini tinggal menyisakan beberapa penjaga dan satpam yang masih berjaga di sekitar tempat itu.
Kerumunan masyarakat yang beberapa saat lalu memadati tempat tersebut, sedikit demi sedikit juga mulai membubarkan diri.
Aryo merapat ke arah Rangga, Ia tampak berbisik di samping BOSnya.
"Tuan, Saya mencium sesuatu yang tidak beres! Sepertinya hal ini ada unsur kesengajaan." Nada suara Aryo penuh kecurigaan,
"Selain menunggu hasil dari kepolisian, Saya sudah menyuruh orang-orang kita menyelidiki kasus ini." tambahnya lagi,
"Bagus Aryo, Sebaiknya orang- orangmu bisa bekerja lebih cepat!!" Rangga yakin Aryo selalu bisa dia andalkan.
"Siap, Tuan."
Kedua orang itu kembali menatap sisa- sisa kebakaran di depan mereka. Bergelut dengan pikiran masing- masing, mencoba mencari jawaban dari apa yang sedang terjadi di awal kehadiran mereka di pabrik itu.
Mungkinkah ada hubungan dengan orang- orang yang menaruh dendam di masa lalu?
Ataukah hanya sebatas kebetulan yang waktunya serasa pas dengan kehadiran mereka?
Entahlah?! yang pasti mereka akan terus mencari siapa yang harus bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi.
*
Diandra menggeliat saat tubuhnya mulai terasa dingin. Tanganya meraba- raba permukaan sofa, berusaha mencari keberadaan Rangga yang tadi bersamanya. Nihil!
Menyadari Rangga tak lagi disisinya, Ia terbangun. Dia masih terduduk di atas sofa berusaha mengembalikan kesadaran yang belum sepenuhnya Ia dapat. Tanganya mengucek kedua mata yang masih terasa pedih karena mengantuk.
Dimana Mas Rangga? batinya penuh tanya.
Segera Ia menyibak selimut yang membungkus tubuhnya lalu berjalan ke arah meja kerja Rangga, meraih kimono satin yang tadi Ia kenakan.
Diandra keluar dari ruang kerja dan mencari keberadaan suaminya diruangan lain. Namun perasaanya berubah khawatir saat tak menemukan tanda keberadaan Rangga dirumah itu.
Bergegas Ia kembali ke kamar tidur hendak mengambil handphone.
Saat ini Diandra sudah menggenggam handphone ditanganya, bersiap menghubungi Rangga.
Bersamaan dengan itu terdengar suara mobil tengah memasuki halaman rumah.
Ia segera menuju ruang tamu, memastikan siapa orang yang datang dini hari begini.
Semoga itu Mas Rangga!
Ia membatin.
Dan benar!
Rangga baru saja masuk ke rumah dan menutup pintu, saat Diandra menghampirinya dengan wajah diselimuti khawatir.
"Dari mana saja kamu Mas?Ada urusan apa larut malam begini?" Cecarnya sambil berjalan mendekat, Ia meminta jaket yang masih melingkar di lengan Rangga.
"Ada panggilan darurat dari pabrik. Maaf, Aku tak pamit. Karena tak tega harus membangunkan tidurmu." Rangga menyerahkan jaket di tanganya dan mengajak Diandra duduk di kursi ruang tamu.
"Ke Pabrik? tengah malam begini?" Diandra menatap Rangga penuh selidik.
Rangga membuang nafas,
"Ada kebakaran di gudang penyimpanan Sayang." terangnya, membuat Diandra terlonjak kaget bergeser dari tempat duduknya.
"Hah ... Ya Ampun! lalu bagaimana keadaan disana?Apakah serius?" Kini ekspresinya berubah panik,
Rangga menarik tubuh istrinya agar kembali mendekat, lalu menyandarkan kepala Diandra dalam pelukanya.
"Tenanglah, sudah diatasi dengan baik." ucapnya berusaha menenangkan.
"Syukurlah!" Diandra menghela nafas lega.
"Kau lelah bukan? Sebentar, akan kubuatkan teh hangat untukmu, Mas." Diandra beringsut hendak bangkit dan melepas pelukan suaminya, tiba- tiba ...
"Ahhh!!!"
Tak lantas menjawab tawaran yang diberikan padanya, Rangga justru menarik lengan Diandra hingga tubuh ramping itu terjatuh dipangkuanya.
"Jangan pergi!" pintanya kemudian.
Rangga ingin menghilangkan kepenatan akibat peristiwa tak terduga yang menguras energinya barusan.
Menyebabkan kepalanya mendadak terasa penuh memikirkan banyak hal.
Saat ini Dia hanya ingin men-charge kembali energinya itu dengan menikmati waktu bersama istrinya.
Ia menatap manik mata Diandra,terlihat pantulan bayangan wajahnya sendiri disana.
Di dalam ruangan yang temaram itu, wajah Diandra tampak lebih cantik memantulkan cahaya bulan yang masuk lewat celah- celah rumah.
Rangga mulai terbakar gairah kembali, berlahan Dia mendekatkan wajahnya.
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di bibir Diandra.
"Aku mau ini, Sayang." Bisiknya ditelinga, sedang tangannya sudah menelusup di balik gaun malam Diandra,mengusap lembut apa yang ada diantara kedua paha mulus istrinya itu.
Sementara itu,merasakan usapan lembut di area sensitifnya, membuat bulu roma Diandra meremang. Tubuhnya menghangat, seolah mendapat aliran listrik yang mengaktifkan syaraf-syarafnya.
Sedetik kemudian, Rangga kembali membopong tubuh Diandra. Kali ini Ia membawa istrinya itu masuk kedalam kamar tidur mereka lalu menidurkannya diatas ranjang.
Setelah mengunci pintu kamar, Rangga kembali menghampiri tubuh istrinya yang masih telentang di atas kasur.
Berlahan Ia membuka kemejanya, menampakkan perut sixpact dan d**a bidang yang ditumbuhi bulu- bulu halus menggoda.
Kemudian badan kekar itu mulai beringsut diatas tubuh Diandra, kali ini Ia memulai dari bawah.
Rangga menenggelamkan wajahnya diantara dua paha yang terbuka itu, membuat tubuh Diandra mengelinjang hingga mengeratkan cengkraman tanganya.
Semakin lama permainan Rangga semakin berani, menyusuri setiap lekuk tubuh yang polos tanpa sehelai benangpun tersebut.
Diantara desahan dan nafas yang kian memburu, keduanya kembali hanyut dalam permainan panas untuk kedua kalinya.
Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan saling menyatukan peluh, hingga masing - masing terkulai lemas penuh kepuasan.