Setelah memastikan Soraya bisa beristirahat. Surya keluar dari kamarnya dan menuju ruang kerjanya.
Tanganya memencet sebuah kontak di telepon genggamnya,
Tuutttt
Tak menunggu lama panggilanya telah tersambung dengan seseorang di ujung sana,
"Halo? Selamat Sore Surya, apa kabarmu?" Sapa seseorang di ujung telepon.
"Sore Bram, kabarku baik. Bisakah kita bertemu?" jawab Surya langsung ke topik pembicaraan.
"Tentu Surya. Kapan kau ingin bertemu?"
"Besok, ditempat biasa."
"Baiklah, sampai bertemu besok." ucap Bramantyo memeberi persetujuan.
Dan sambungan teleponpun terputus.
*****
Keesokan harinya sesuai kesepakatan Surya bergegas menuju tempat yang disepakati untuk menemui Bramantyo.
Ternyata Bramantyo lebih dulu sampai dan tengah menunggu kedatanganya.
Surya menghampiri nomer meja yang telah di pesan oleh temannya itu.
"Apakabar sahabatku, rasanya sudah cukup lama kita tak bertemu bukan?" Sapa Bramantyo dan mempersilakan Surya untuk duduk.
Surya mengambil tempat duduk tepat di depan Bramantyo. Kini mereka berhadapan.
"Ku pikir kau tak akan mau bertemu denganku lagi Surya," Lanjutnya sambil terkekeh,
"Separah apa bisnismu hingga kau kirim putraku untuk menanganinya?" Ucap Surya kemudian langsung ke inti pertemuan mereka.
Tak segera menjawab, pria paruh baya dengan jambang rapi itu justru kembali terkekeh,
"Ayolah Surya. Ternyata kau tak berubah sedikitpun. Kau memang tak pandai berbasa basi," ujarnya kemudian.
Tak berapa lama seorang pelayan mengantarkan mimuman yang sudah dipesan oleh Bramantyo untuk mereka.
"Minumlah dulu kawan," Bramantyo mempersilakan. Ia menyeruput kopi latte dari cangkirnya kemudian menarik nafas dalam.
"Maaf Surya, memang ada permasalahan sedikit pelik di cabang perusahaanku tersebut. Hanya Rangga yang ku pandang mampu menanganinya." Lanjutnya kemudian,
"Hanya sebentar, setelah semua berjalan baik ... akan kuminta Rangga kembali." pungkasnya.
"Berjanjilah! Anak itu tak akan mau mendengarkan jika aku yang memintanya Bram." Pinta Surya pada kawan lamanya itu.
****
Pekan yang sibuk.
Selain mempersiapkan rencana kepindahan keluarganya, Diandra harus menyelesaikan tanggung jawab terakhirnya di sekolah sebelum Ia benar- benar meninggalkan pekerjaannya.
Diandra membawa setumpuk laporan akhir hasil belajar siswa yang ia ampu di kelasnya. Hal biasa yang dilakukan seorang wali kelas diakhir tahun pelajaran. Ia bersiap menyerahkan raport- raport tersebut kepada bu Sasa yang Ia mintai tolong untuk membagikan raport nantinya.
Siang itu suasana kantor sedikit lenggang, beberapa orang guru mengikuti rapat dengan dewan yayasan yang hari itu datang ke sekolah mereka untuk melakukan monev berkala.
Setelah menyerahkan laporan di meja bu Sasa, Diandra berniat pergi ke kantin sekolah. Ia hendak mengisi perutnya yang terasa melilit. Pagi tadi ia melewatkan sarapan karena mengejar tugas menyelesaikan raport siswa.
Baru saja kakinya beberapa langkah keluar dari pintu kantor, tetiba terdengar seseorang menggilnya dari belakang.
Ia menoleh ke sumber suara,
"Hai, Apa kabar?" sapa seseorang seraya melangkah ke arahnya,
"Kak David?" tanya Diandra tak percaya,
Laki- laki yang Ia sebut David itu tersenyum lebar menampakkan deretan gigi putih yang rapi, menambah kesan ganteng di wajahnya yang putih bersih dan rapi itu.
Langkah David berhenti tepat di hadapan Diandra yang masih memperlihatkan ekspresi kagetnya,
"Kok gitu responya, kayak lihat hantu saja?" goda David,
Menyadari kekagetannya Diandra menjadi salah tingkah, wajahnya memerah menahan malu. Tak mau membuat Diandra terlalu lama dalam posisi canggung, David mengalihkan pembicaraan.
"Mau kemana?" Tanya David kemudian,
"Kantin Kak," Jawab Diandra jujur sambil menunjuk ke ujung lorong,
"Kebetulan sekali, Aku juga sedang mencari letak kantin. Boleh sekalian bareng?" tanya David meminta persetujuan,
"Tentu." Jawab Diandra diiring senyum, tanganya memberi tanda mempersilakan. Mereka beriringan menuju kantin sekolah sambil terlihat mengobrol akrab sepanjang jalan.
Suasana kantin siang itu memang tampak penuh, siswa- siswi banyak yang memilih menghabiskan waktu di kantin dari pada mengikuti kegiatan class meeting.
Setelah beberapa saat David dan Diandra celingukan mencari tempat kosong yang bisa mereka tempati, akhirnya mereka menemukan tempat duduk kosong di ujung dekat dengan pagar teralis besi. Tak mau keduluan yang lain mereka bergegas,
"Akhirnya," ucap David setelah duduk di kursi kantin, Diandra hanya membalas dengan senyuman.
Lama tak bertemu rupanya mereka masih ingin melanjutkan ngobrol bersama. Dua orang itu tampak akrab sambil sesekali terlihat tertawa bersama disela- sela obrolan mereka.
"Kapan Kak David pulang ke Indonesia?" tanya Diandra,
David adalah kakak tingkat Rangga dan Diandra dulu. Mereka satu almamater, meski beda jurusan. Mereka bertiga sering dipertemukan dalam banyak kegiatan bersama, karena mereka ikut dalam organisasi kampus yang sama. Di organisasi itu juga menjadi awal mula pertemuan Diandra dengan Rangga hingga akhirnya membuat mereka mempunyai hubungan dekat.
"Sudah beberapa waktu. Aku juga sempat bertemu dengan Rangga. Dia tidak cerita padamu?" selidik David sambil mengernyitkan dahi, membuat sepasang alis tebalnya hampir bertaut. Diandra menggeleng heran.
"Oww ... " David manggut- manggut sambil tersenyum penuh arti,
"Oya Kak, kenapa Kak David bisa disini?" tanya Diandra masih merasa heran,
David tak mau menjawab, justru Ia kembali menampakkan senyum lebarnya membuat Diandra semakin penasaran.
Larut dalam obrolan yang asyik, Diandra tersadar waktu sudah mendekati tengah hari, Ia meminta izin pada David untuk undur diri. Dia tak mau terlambat karena Rangga akan segera menjemputnya pulang.
"Maaf Kak David, aku harus kembali ke kantor. Mas Rangga sebentar lagi menjemputku." Ucap Diandra sebelum bangkit dan bersiap kembali ke kantornya untuk mengambil tas.
"Mampirlah kalau Kak David ada waktu luang. Pekan depan kami sudah pindah ke kantor Mas Rangga yang baru." tawar Diandra mengakhiri.
"Tentu, akan ku usahakan." jawab David.
*****
Diandra bergegas menuju gerbang utama sekolahnya. Rangga baru saja mengabarkan bahwa dia sudah menunggunya di sana. Dari kejauhan nampak olehnya Rangga tengah berbincang dengan seseorang yang baru saja Ia temui tadi, David.
Dua orang laki- laki itu tampak tengah serius mengobrol. Namun menyadari kehadiran Diandra diantara mereka segera mereka mengakhiri obrolan,
"Sudah selesai sayang?" tanya Rangga saat Diandra menghampiri mereka,
"Iya," balas Diandra
"Baiklah kalau begitu ayo segera pulang. Naiklah!" Ajak Rangga sambil menepuk jok belakang motor sportnya. Tak lupa Ia juga memakaikan helm pada Diandra, mesra. Diandra merasa canggung.
"Kak David, kami pamit dulu.Jangan lupa mampir ya." pamit Diandra pada David, dibalas anggukan dan senyum manis oleh David.
Saat Diandra sudah duduk di jok motornya, Rangga menarik tangan Diandra membuat tubuh wanita itu menempel erat di punggungnya. Ia memberi isyarat pada istrinya untuk berpegangan lebih erat di pinggangnya.
Mendapati suaminya bertingkah aneh di hadapan David, Diandra merasa tak enak. Wajahnya memerah menahan malu.
David hanya tersenyum simpul memperhatikan sepasang suami istri itu. Sedang Rangga menatap penuh arti pada David di balik kaca Helmnya yang terbuka. Seolah sengaja menampakkan kemesraan itu di hadapan David.
Setelah Rangga dan Diandra berlalu,
"Tuan, Anda sudah di tunggu di ruang rapat." Ucap seseorang pada David
"Baiklah, ayo." David berjalan meninggalkan gerbang sekolah, kembali ke ruang rapat salah satu sekolah ellite tersebut.