Wita masih menjadi pendengar yang baik, membiarkan mbaknya itu meluapkan segala hal yang menyita kewarasannya itu. Tanpa berniat untuk menyela perkataan yang tengah disampaikan.
"Mbak sayang dek sama Raffa, Mbak cinta banget ke dia. Bahkan Mbak rasa separuh jiwa mbak memang ada di dia. Tapi disisi lain mbak ga bisa egois dek ngebuat seorang anak yang menjadi durhaka terhadap ibunya. Mbak boleh egois ga sih dek buat minta Raffa untuk tetap ada untuk Mbak? tapi mbak juga ga mau egois dek kalau harus buat Raffa jadi anak yang durhaka."
Dira tersenyum tipis "Apa seengga pantes itu ya dek Mbak buat Raffa? Apa Mbak begitu buruk untuk bersanding dengan lelaki setulus Raffa? Atau justru memang Mbak ga ditakdirkan untuk bahagia ya dek?" akhirnya tangis Dira bisa berhasil pecah. Air mata yang beberapa hari ini selalu ia tahan untuk menutupi kesedihan yang dialaminya.
Tapi sepertinya Dira lupa, jika ia tidak akan bisa memakai seribu topeng untuk menutupi kesedihan nya itu jika sudah dihadapan seorang Wita.
Wita berdiri, memeluk erat tubuh Dira yang mulai bergetar akibat tangis hebat yang akhirnya ia tumpah kan juga.
"Siapa bilang mbak ga berhak bahagia? Bilang sama Wita mbak orang yang bilang seperti itu!"
"Mbak, setiap manusia itu diciptakan bukan hanya untuk mengalami beribu penderitaan. Kebahagiaan pasti akan dirasakan oleh setiap manusia, termasuk juga mbak. Jangan pernah berpikir kalau mbak gak berhak untuk bahagia."
"Mbak gak salah kalau memang membuat Mas Raffa durhaka ke mamanya, itu bukan salah Mbak sama sekali, itu salah takdir yang menyatukan Mbak dan Mas Raffa dengan cara yang lumayan rumit. Mbak kita ga tahu loh apa rencana takdir, entah mungkin saja kan suatu saat nanti hati mamanya Mas Raffa bisa terketuk untuk menerima Mbak dengan lapang d**a. Mbak hanya cukup sabar dan terus berdoa.Meminta ke Allah agar hatinya mamanya Mas Raffa segera terketuk untuk bisa menerima Mbak. Kita memang boleh berusaha sekeras tenaga Mbak, sisanya kita serahkan kembali kepada sang pemilik segalanya, yang bisa membolak-balikan hati manusia."
Dira perlahan mulai merasa tenang dengan kalimat-kalimat nasehat dari Wita.
"Makasih banyak ya Wit kamu sudah bersedia dengerin curhatan Mbak. Maaf juga ya selama ini Mbak sudah banyak ngerepotin kamu dan juga Bude."
Wita menggeleng kan kepala nya "Mbak jangan ngomong gitu, aku justru senang bisa jadi tempat curhatan mbak, Mbak Dira sama sekali engga pernah ngerepotin aku atau pun Mami. Kita senang sekali setiap dimintai tolong sama mbak Dira. Kan kita keluarga, jadi jangan sungkan untuk salinh mengulurkan tangan."
"Kamu engga laper lagi?" tanya Dira sambil mengelap sisa air matanya dengan tisu.
Wita menggeleng kan kepalanya "masih laper banget loh Mbak!"
"Trus kenapa spaghetti nya engga dihabisin?"
"Gimana mau ngabisin wong mbak aja tadi lagi nangis, ga mungkin kan mbak ku nangis tapi aku malah enak-enak makan."
Dira menyengir "Maafin Mbak deh, kalau gitu mau mbak masakin lagi gak sebagai gantinya?"
"Enggak usah deh mbak, spaghetti ini aja masih enak kok. Sayang kalau mbak masak lagi."
"Yaudah kalau gitu mbak bantu angetin lagi aja."
"Mau jus alpukat ga? Kemarin mbak beli alpukat banyak tapi belum sempat dimakan."
"Mau Mbak, tapi biar aku aja yang buat sendiri. Mbak angetin makanannya aja."
Untuk menghilangkan rasa sedih yang tadi sempat melanda Dira.
Wita mengajak Dira untuk melakukan perawatan diri saja dirumah, dengan cara mengajak kakak angkat nya itu untuk maskeran bersama lalu dilanjutkan dengan menonton film horor secara bersama.
"Ikh Wit, jangan film yang ini dong! Mbak takut nanti enggak berani tidur sendiri."
"Bilang aja mbak memang lagi mau ditemenin tidur," cibir Wita yang dibalas cengiran oleh Dira.
"Nginep sini ya Wit! Mbak lagi gak berani buat sendiri."
"Iya-iya deh."
"Aaaaaaa, Witaaa itu hantunya muncul. Tutupin mbakk!" teriak Dira yang ketakutan
"Mbak jangan deket-deket! entar masker nya lengket dibaju aku."
"Lagian kamu juga salah! malah ngajak nya film begini, udah tau mbak orang nya penakut."
Dira meraih laptop nya untuk mengganti film "Ganti aja deh, cari film yang lebih seru!"
Wita ngikut saja, cari aman dari pada entar masker yang diwajah Dira justru berpindah ke bajunya itu.
"Aaaaaa Mbak Diraaa," teriakan Wita membuat Dira kaget bahkan sampai hampir membuat laptop yang ada dipangkuan nya hampir terjatuh.
"Apa an sih Wit? Kamu buat mbak jantungan aja."
"Liat deh!" Wita menunjukkan laman aktvitas pada akun i********: nya,
Mata Dira memicing mencari sumber dari yang membuat Wita berteriak tadi,
"Kenapa? Mbak gak ngerti."
"Lihat deh mbak! lihat deh ini sebuah keajaiban," kata Wita dengan raut wajah takjub.
"Keajaiban? Keajaiban apa an? Kamu di follow sama gebetan mu? Atau diajak jalan bareng? "
"Bukan mbakk!"
"Trus apa dong? Mbak gak ngerti deh Wit sumpah, kasih tau aja deh!"
Wita lantas membuka laman insta story di i********:,
Mata Dira melotot kaget melihat video dirinya yang tengah memasak telah terpajang di insta story Wita.
"Astaghfirullah Wit, kurang ajar yaa kamu malah masukin Mbak ke Sg. Hapus ga!! Itu maluin loh Wit muka Mbak lagi berantakan juga."
"Gapapa Loh Mbak. Masih tetap cantik kok. Buktinya ini dapat like dari abang sepupu aku."
"Maksudnya?"
"Ini nih yang aku maksud buat aku bahagia loh mbak, aku kaget gak biasanya nih manusia purba ngeliat sg aku eh apa lagi sampai ngelike gini"
"Nge-like nge-like apa an? Mbak ga mau tau, hapus gak!! malu loh Wit muka mbak lagi berantakan juga."
"Gak mau!! Sayang lho Mbak. Ini tuh sebuah keajaiban Mas Kai ngeliat Sg aku apa lagi sampai dilike."
"Mbak ga mau tau, hapus pokoknya!!"
"Yah jangan toh Mbak, sayang kalau di hapus."
"Ini tuh cerita nya enak dikamu tapi rugi untuk Mbak!"
"Cafe baru deh. Besok aku traktir dicafe baru yang tadi sore aku kunjungin."
Dira diam menimang tawaran dari Wita.
"Gimana Mbak? mau ga? tempat nya bagus loh. Itung itung bisa ngilangin setres deh."
"Yauda deh Mbak mau, tapi bebas kan mau pesan apa aja."
"Hmm, iya tapi ga usah melunjak yah modelnya."
Ting
Kedua bola mata Wita melebar sempurna, kalah melihat notifikasi pesan yang benar-benar mengejutkan dirinya.
"Kenapa Wit?"
"Omaygat ini sebuah keajaiban dunia mbakk, demi apa ini ya Allah akhirnya Mas ku udah mulai."
"Kamu kenapa sih Wit? Mbak bingung liat tingkah mu ini teriak-teriak kayak orang gila gini. Ga enak kalau sampai didengar tetangga."
"Lihat deh Mbak! Mas ku tiba-tiba aja kirim pesan nanyain tentang perempuan yang di sg aku. Yang gak lain yah mbak sendiri."
Buru-buru Dira merebut ponsel Wita dari sang pemilik nya.
Mata Dira menyipit sempurna usai membaca sebuah pesan yang memang dikirim Mas nya Wita itu.
"Gimana mbak? Aneh kan mas ku. Tumben tiba-tiba dia notice sg aku apa lagi sampai ngechat nanyain tentang sg ku juga."
"Mungkin orang nya lagi gabut kali," kata Dira mencoba untuk berpikir positif.
Wita seperti tampak tengah berpikir "Bukan Mbak! ini kayaknya memang sebuah pertanda deh."
"Pertanda apa'an?"
"Hmm yah pertanda gitu deh pokoknya."
"Udah akh jangan main asal nebak, takutnya ujung nya malah jadi enggak baik."
"Iya juga sih Mbak. Tapi mbak aku ada ide bagus deh."
"Apa?" alis Dira terangkat sebelah.
"Dari pada Mbak pusing dibuat Mas Raffa. Gimana kalau mbak sama mas ku aja? lumayan lho Mbak orang nya oke, tampan iya, mapan juga iya, kalau soal attitude sama keagamaan nya udah bisa acungin jempol deh."
Dahi Dira berkerut mendengar penuturan ngawur dari Wita.
"Apa an sih Wit, kamu ngawur terus dari tadi."
"Ini bukan ngawur lho Mbak! aku ngasih ide yang bagus untuk masalah mbak kali ini. Aku gak tega lho liat mbak harus sedih-sedih gini, jadi mending sama Mas aku aja yang sangat-sangat oke. Tenang orang nya 11 12 kok sama Mas Rafa, jadi Mbak gak bakal susah buat moveon nya."
"Astagfirullah Wit, Mbak gak sejahat itu juga kali pakai acara manfaatin orang buat bisa moveon dari Raffa."
"Sini deh mbak lihat foto orang nya. Aku yakin deh mbak pasti bakal tergiur deh."
"Apa'an sih, kirain apa an kali coba pakai tergiur segala."
Tapi nyatanya lain di mulut lain pula dihati, buktinya Dira tetep terpincut untuk melihat foto yang dimaksud Wita.
'Masyallah tampannya' batin Dira melihat yang terpesona dengan foto sepupu dari Wita.
Sepupu Wita itu terlihat sangat tampan nan gagah dengan balutan seragam loreng pada tubuh nya,
Ditambah dengan wajah sangar nya khas seorang prajurit, nyatanya tetap tidak menghilangkan kesan tampan yang memang sudah ada sejak lama.
"Gimana mbak? Lumayan kan orang nya?"
"Hmm."