Kalau ada yang typo, tandain yaa
Selamat membaca
***************
Dimas dan Radit berjalan keluar darii kantin. Ketika melewati tempat receptionis, Dimas tersenyum, karena melihat gadis yang tadi menabraknya sedang duduk disana. Dimas mempercepat langkahnya, ingin menyapa gadis tadi. Tapi belum sampai menyapa, tiba tiba ada yang berjalan cepat mendekatinya. Ya. Siapa lagi kalau bukan Sinta.
"Selamat pagi pak Dimas, pak Radit", ucapnya dengan senyum genitnya.
Gadis yang tadi sedang duduk di kursi receptionis pun, segera berdiri dan membungkukkan badannya
"Selamat pagi pak", ucapnya.
"Iya.." jawab Radit sembari tersenyum.
Berbeda dengan Radit, mimik muka Dimas justru berubah jadi merah padam. Seolah dia ingin memaki wanita di hadapannya yang sudah mengganggu niatnya.
Dimas yang tadinya ingin menyapa gadis yang menabraknya di kantin itui mengurungkan niatnya. Karena Sinta berdiri diluar meja receptionis. Tanpa menjawab, Dimas langsung pergi meninggalkan tempat receptionis tersebut. Tentunya dengan di iringi dengan mimik muka kesal.
Radit yang menyadari hal tersebut, ikut naik ke lantai ruangan mereka. Radit hanya menahan senyum, mengetahui perubahan sikap sahabatnya. Gimana tidak kentara, awalnya masuk dengan senyum ceria, dan langsung berubah ketika melihat Sinta.
"Ehmm…. Jengkel banget keknya", celetuk Radit dengan seringau jahilnya.
"Diem lo…", jawab Dimas sewot.
"Hahahaha… sabar bro sabar, masih pagi ini. Tenang, masih ada jam makan siang dan besok" jelas Radit.
"Udah sana kerja, jangan banyak omong", jawaban Dimas yang langsung membuat Radit duduk di meja kerjanya. Radit tahu, temannya kalau sudah marah, seperti istrinya, apa apa salah. Eh maaf ya istri.hehe
Disisi lain, Sinta kembali ke meja kerjanya.
"Gitu terus..." ucapnya memanyunkan mulutnya.
"Apanya yang gitu mbak..? tanya wanita di sebelahnya.
"Itu tadi loh, pak Dimas. Tiap hari padahal aku dah nyapa sebegitu baik dan ramahnya، tapi gak pernah di jawab" ujar Santi kesal.
"padahal loh tinggal jawab iya gitu aja, irit banget. Coba aja pak Dimas kaya pak Radit, murah senyum, baik, tampan..." imbuhnya.
"Coba aja pak Radit belum beristri. Lebih milih baikin pak Radit aku mah" lanjutnya.
Melihat hal itu wanita disampingnya agak kikuk dan bingung, harus merespon seperti apa. Tapi mungkin lebih baik hanya mendengarkan saja. Daripada salah menanggapi, lagian dirinya hanya karyawan baru. Menjaga diri agar tetap aman lebih baik, lagian Sinta sekarang adalah teman kerjanya. Memiliki konflik di tempat kerja adalah hal yang sangat dihindari oleh dirinya.
**************
Ketika jam makan siang, Dimas yang tidak biasanya mau turun ke kantin, karena dirinya lebih sering meminta deliv ke orang kantin atau makan dari luar, eh ini repot repot turun ke kantin.
Radit yang masih berkutat dengan kertas kertasnya mendongak ketika sebuah tangan mendarat di bahunya
"Ke kantin yok,, makan" ajak Dimas
Radit yang kenal sekali bagaimana Dimas, meletakkan kertas yang sedang di cekalnya dengan agak keras sedikit membantingnya.
"HAH… Tumben bener mau ke kantin. Lu yakin mau capek capek turun?" Tanya Radit seolah meyakinkan.
"Bosen gue, makan di kantor terus. Butuh suasana baru, butuh pemandangan baru.." jawabnya seolah itu alasan sebenarnya.
"Hillihhh…ngomong aja butuh kenalan baru." Ucapnya kemudian mereka tertawa bersama.
"Tapi sorry nih, tugas gue numpuk, lu turun sendiri aja", sambung nya seraya mengambil tumpukan kertas yang tadi sudah diletakkan nya.
Mengetahui penolakan itu, Dimas mencoba berpikir bagaimana caranya agar si Radit mau makan di kantin sekarang.
"Gue yang bayar." tawar Dimas yang hanya mendapat gelengan kepala darii Radit. Hal itu tidak membuat sahabat nya berubah pikiran.
"Ok..gue beliin rokok deh", sogok Dimas lagi.
Mendengar kata rokok, Radit matanya langsung berbinar, dia langsung berdiri dan melangkah meninggalkan meja kerjanya meninggalkan orang yang mengajaknya di belakang. Dimas memang sangat tahu, bagaimana temannya itu sangat suka merokok. Meskipun mereka bersahabat cukup lama, Dimas sama sekali tidak pernah merokok, baginya merokok adalah kebodohan untuk masa tua dan kesehatannya.
Kantin memang berada di depan lantai dasar, yang mana tepatnya berhadapan dengan tempat receptionis gedung kantor Dimas. Semenjak turun dari lift, Dimas sudah tampak sumringah. Hal itu tak luput dari pandangan Radit. Dia tau, sahabat nya sedang tertarik dengan gadis yang pagi tadi menabraknya.
Tapi mimik sumringah itu tak bertahan lama, karena ketika melewati tempat receptionis, gadis yang di carinya tidak berada di tempat. Agak kecewa sih, cuma mau gimana lagi. Dia dan Radit pun berjalan ke kantin. Sesampainya di kantin, banyak para karyawan, tapi dia tidak menemukan satu orang yang menarik perhatiannya sejak tadi pagi. Yang di dapatinya adalah para wanita yang selalu berusaha dekat, menyapa atau hanya melihat keberadaannya. Dan hal itu sangat tidak asing, Radit dan Dimas memanglah bintang perusahaan karena ketampanan mereka. Bahkan mereka menggaungkan hari patah hati ketika mendapat kabar jika Radit akan menikah satu setengah tahun lalu.
"Nampak banget nyari orang. Gadis tadi pagi?" Celetuk Radit melihat kelakuan temannya tersebut.
"Hustttt… dah lu makan aja, gausah ikut campur", jawab Dimas sewot.
Hal tersebut cuma ditanggapi dengan gelengan kepala oleh Radit, yang kemudian disibukkan dengan menyuap makanan nya.
Di tengah-tengah menikmati makanan, tiba tiba mata Dimas berbinar, senyum mengembang di bibirnya, melihat gadis yang di tunggunya sedari tadi berjalan mesasuki kantin.
Tapi rambut gadis itu depannya sedikit basah, mukanya bersih segar, sepertinya dia habis mencuci muka, karena tidak ada make up sedikit pun di wajah cantiknya.
"Cantik….." gumamnya.
Radit yang mendengar gumaman itu melihat temannya kemudian langsung menoleh mengikuti arah pandang Dimas, dan benar saja disana ada gadis yang menabrak temannya tadi pagi.
“Wiihhhh…. cantik, gapake make up aja mukanya berseri.” sahutnya seraya menganga melihat gadis tersebut.
“Heh…punya gue, dah punya anak juga, masih aja jelalatan..” ucap Dimas seraya memukul pelan mulut temannya yang suka sembarangan kalau ngomong.
“Aw… tega bener main pukul. noh makan”, jawab Radit sembari melempar kerupuk pada temannya, yang justru hanya di balas dengan pelototan. Tapi mereka memang sudah terbiasa seperti itu. Dan mereka saling tahu, hal itu hanyalah bercanda.
“eh, tapi emang menggiurkan bodynya, apalagi d*d*nya. gue yakin dia udah…..” belum selesai Radit bicara, mulutnya di tabok kerupuk oleh Dimas, meskipun Radit cuma berbisik.
“Dasar, otak m*s*m. gitu teros pikirannya. Jangan fitnah, tar jatuhnya dosa..”timpal Dimas untuk membela gadis pujaannya.
“Hiliiih, sok alim banget, biasanya ikut nimbrung kalau ada cerita kotor..”seloroh Radit sembari mencebikkan bibirnya.
Mereka memang lelaki, tapi tidak tau kenapa mulutnya suka banget gosip kaya mulut perempuan. Tapi tentunya jika mereka sedang berdua saja.