Reno melemparkan tasnya ke meja dan duduk di bangku kelas. Segelintir siswa yang sudah datang langsung memperhatikannya, tapi ia tak peduli. Mata lelah gara-gara memeriksa foto-foto kamarnya semalaman, ditambah kantuk yang hampir tak tertahankan, semua itu adalah modal buruk untuk mengawali pagi di sekolah. Akan lebih baik kalau usahanya itu membuahkan hasil. Sayangnya hal itu tidak terjadi. Selain dari yang diambil Joni kemarin, tak ada satu pun foto lain yang menampilkan penampakan.
“Kudu siap kacamata hitam, nih.” Joni datang dengan sedikit berlagak. “Matamu belekan, tuh.”
“Huh?” Reno langsung memeriksa matanya melalui refleksi di kaca jendela. Benar kata Joni, matanya itu tampak kurang sehat. Ada sedikit bagiannya yang berwarna merah.
“Eh, iya. Fotonya udah aku posting di forum supernatural, loh!” ujar Joni dengan semangat berlebihan, lalu duduk di samping Reno. “Kamu mau tahu apa jawaban mereka?”
Kabar itu langsung memantik rasa penasaran Reno. “Emangnya mereka ngomong apa?”
Seraya mengangkat bahunya, Joni nyengir lebar. “Cuma pada ngomong fotonya serem, nggak ada yang nganalisis sama sekali.”
Reno ingin membentak sahabatnya itu, mengatakan bahwa hal seperti itu tak usah dibicarakan karena tak ada gunanya. Namun, ia masih bisa menjaga akal, bertengkar di pagi hari adalah perbuatan yang lebih tak berrmanfaat.
Melihat Aura datang, Reno mengambil flashdisk yang telah ia siapkan di tasnya. Kemudian, ia meninggalkan tempat duduknya tanpa mengacuhkan Joni. Begitu sampai di hadapan Aura yang baru saja duduk, Reno menyodorkan flashdisk itu.
“Apaan, nih?” tanya Aura penuh selidik
“Ini isinya foto-foto yang kamu minta kemarin.”
“Lah, aku kan mintanya dikirim lewat hape, kok malah dimasukin flashdisk?” rutuk Aura, menyambar flashdisk itu tanpa berterimakasih.
Reno menggaruk-garuk rambutnya dengan sedikit kasar, berusaha menekan rasa geram yang makin menggerogoti kepalanya. “Yah, itu kan fotonya banyak, kalau dikirimin nanti banyak makan kuota, jadi aku masukkin flashdisk aja.”
“Terus gimana? Kamu udah nemu penampakan lagi?”
Reno menggeleng pelan dan Aura pun langsung menjatuhkan flashdisk itu ke meja. Bunyi ujung flashdisk yang membentur meja terdengar seperti ledakan bagi Reno.
“Terus, ngapain dikasih ke aku?” Nada bicara Aura terdengar begitu meremehkan.
Tanpa diduga-duga Reno menggebrak meja. Aura langsung bangkit dengan ekspresi syok, sementara murid-murid yang lain kembali memusatkan perhatiannya kepada Reno.
“Itu kan kamu yang minta… Paling nggak, kamu juga ngecek dong…” Suara Reno lebih mirip geraman daripada kata-kata. Begitu tak jelas, teredam gigi-giginya yang merapat kencang.
“Ada apa, Ren?” tanya Joni, mendekati teman karibnya itu.
“Aku…,” Kalimat Aura teredam oleh bel tanda masuk.
Tak memedulikan gadis itu maupun Joni, Reno keluar dari kelas. Kakinya bergerak dengan begitu cepat, membawanya ke area belakang sekolah. Mendapati antrean di depan toilet, ia balik arah dengan rasa dongkol yang makin menjadi-jadi. Saat akan menuju kelasnya, ia melihat gerbang depan belum sempat ditutup oleh satpam.
Hampir tanpa berpikir, Reno mengubah haluannya ke area parkir. Ia mengambil motornya dan tancap gas melewati gerbang sekolah. Bahkan teriakan satpam pun tak sanggup menghentikannya.
***
Apa yang membuatnya melakukan perbuatan bodoh ini? Reno terus memikirkan hal itu sambil memacu motornya pelan-pelan. Bahkan Joni yang lumayan malas pun tak akan membolos tanpa alasan.
Sadar tubuhnya masih dibaluti seragam batik sekolahnya, Reno menghindari jalan besar. Ia lebih memilih jalan-jalan di pinggir kota, tepatnya di area dekat rumahnya yang dulu. Meski begitu, tujuannya masih belum jelas. Kembali ke sekolah adalah pilihan buruk. Selain nanti dipanggil oleh guru BK, ia pasti akan dicecar pertanyaan oleh siswa-siswa lain. Pulang? Hawa dingin pagi saja masih sedikit terasa, tasnya pun tertinggal di kelas. Itu sama saja bunuh diri.
Reno menekan pedal rem motornya. Tanpa sadar, ia telah tiba di perempatan tempat dirinya biasa nongkrong dengan Joni dulu. Ia memacu motornya ke kiri, lalu parkir di depan sebuah rental Playstation. Sudah lama sekali dirinya dan Joni tidak bermain game di tempat itu. Komputer Reno sudah cukup mumpuni untuk sekedar memainkan game sepakbola.
Baru saja turun, Reno melihat tulisan kalau rental Playstation itu baru akan buka jam sembilan. Ia berdecak kecewa, lalu menuju warung burjo di sebelah rental itu. Meski sebagian besar pintunya masih ditutup, Reno tetap memasukinya. Sudah menjadi rahasia umum kalau warung itu adalah tujuan favorit untuk membolos di pagi hari.
Di dalam warung yang lampunya menyala itu, Reno bertemu dua siswa laki-laki berseragam biru tua. Mereka begitu asyik bermain ponsel, hanya melirik Reno sebentar dan tak mengatakan apa-apa. Reno tak menghiraukan mereka dan megecek jam dinding. Waktu masih menunjukkan pukul setengah delapan. Ia masih harus menunggu cukup lama.
Seorang pria bertubuh ceking dan berkumis tebal keluar dari belakang warung.
“Loh, Reno? Tumben bolos?”
Reno hanya tersenyum kecut dan duduk di salah satu kursi kayu panjang, tahu kalau pertanyaan itu tak perlu dijawab. “Es teh ya, Om.”
Pria itu mengacungkan jempol dan segera membuat pesanan Reno. Melihat televisi yang dipasang di sudut warung menayangkan acara musik yang tak disukainya, Reno bermaksud bermain dengan ponselnya. Namun, ia tak bisa menemukannya di manapun, meski semua saku seragamnya telah dirogohnya dalam-dalam. Kemungkinan besar benda itu tertinggal bersama tasnya di kelas.
Lengkap sudah hari hari buruknya. Kemarahan di kepalanya begitu membakar, tapi ia tak tahu harus melampiaskannya kepada siapa. Setelah menerima es tehnya, ia pun menyenderkan punggungnya ke tembok, membiarkan pikirannya kosong. Merutuk hanya akan membuat jiwanya tambah tak karuan.
“Sebelah udah buka, tuh. Nggak main?”
Reno terkesiap akan ucapan si pemilik warung dan secara refleks melihat jam dinding. Sekarang sudah pukul sembilan lebih sepuluh. Saat mengecek minumannya, Reno mendapati es batu di gelasnya sudah lenyap, bukti waktu memang telah berlalu cukup lama. Dua siswa yang tadi ada di situ juga sudah menghilang.
Reno berusaha menekan pikiran-pikiran aneh dari otaknya. Dengan beberapa kali teguk, ia menghabiskan es tehnya. Sehabis membayar, ia berpindah ke rental yang ternyata memang sudah buka itu. Ia langsung disambut dengan senyuman oleh pria dengan wajah penuh jerawat, pegawai kesekian yang pernah direkrut oleh bos rental.
Reno menunjuk televisi yang jaraknya agak jauh dari dua siswa yang ada di warung tadi. “Nggak usah diwaktuin ya, Mas.”
Sang penjaga menghidupkan televisi dan mesin Playstation. Sebelum pria itu bertanya, Reno menunjuk gambar game sepakbola yang biasa ia mainkan, sama persis seperti yang ada di komputernya. Kemudian, ia duduk di alas busa yang telah disediakan.
Yang dilakukan Reno selanjutnya hanyalah memilih tim yang sama, sementara lawannya ia biarkan ditentukan secara acak oleh komputer. Selama bermain, ia hampir tak merasakan apapun. Tak ada kesenangan seperti saat bermain dengan Joni, yang selalu beralasan kalau kebobolan atau bersorak secara berlebihan bila melesakkan gol.
Meskipun demikian, Reno tetap bertahan di situ. Bukan karena ingin tentunya, tapi ia memang sedang tak bisa mencari alternatif lain. Bahkan sewaktu dua siswa lainnya itu pergi dan para pemain lain datang silih berganti, Reno masih saja bermain, benar-benar tak peduli dengan dunia sekitarnya. Hanya sesekali ia berhenti untuk mengucek matanya yang kelelahan atau pergi ke toilet.
“Tuh kan, kamu emang beneran ada di sini.”
Reno menengok ke belakang dan menemukan Joni telah berdiri di dekatnya. Remaja berjambul itu sudah memakai pakaian bebas. Di bahunya tersampir tas Reno yang tadi ditinggal.
“Gimana sekolah, Jon?” tanya Reno, meregangkan tubuhnya yang mulai pegal karena terlalu banyak duduk.
Joni duduk di samping Reno, menunjukkan raut cemas di wajahnya. “Kamu jadi artis dadakan, tahu. Bisa-bisanya bolos di depan idung satpam.”
“Lah, aku sendiri bingung, Jon. Aku juga nggak tahu kenapa aku bisa begitu.”
“Dihubungi juga nggak bisa lagi,” ucap Joni dongkol, lalu melemparkan tas yang dibawanya ke kaki Reno. “Aku belum bilang ortu kamu, kok. Tapi, kalau mau bolos ngomong-ngomong dulu, dong. Jangan kabur nggak jelas kayak tadi.”
“Iya, sori. Lagian hapeku kan ketinggalan,” balas Reno, yang kemarahannya sudah mereda. Ia merogoh tasnya itu untuk mencari ponselnya, tapi tangannya tak bisa menemukan benda itu di tempat biasa.
“Aura nanyain kamu terus, tuh.”
“Iya, besok aku minta maaf,” jawab Reno tak fokus, terlalu sibuk mencari ponselnya di bagian tas yang lain. Masih belum mendapatkan hasil, ia membalik tasnya itu dengan panik, membiarkan buku-bukunya luruh ke lantai.
“Ketinggalan di rumah, kali,” timpal Joni, ikut mencari-cari di antara buku-buku itu bersama Reno. “Kamu hubungi ibu kamu aja pake hapeku. Aku punya nomornya, kok.”
Melihat Joni mengulurkan ponselnya, Reno mengerutkan kening. “Darimana kamu tahu nomor hape ibuku?”
“Kamu kan pernah ngasih ke aku,” jawab Joni sembari menggaruk-garuk kepalanya. “Cari aja yang namanya tante Evelyn.”
Reno menerima ponsel itu dengan keheranan, merasa tak pernah memberitahu informasi tersebut. Akan tetapi, sekarang bukan saatnya memikirkan hal seperti itu. Ia segera mencari kontak yang dimaksud. Begitu menemukannya, ia bermaksud mengirim pesan singkat. Namun, balasan dari pesan singkat tidak bisa diprediksi kapan datangnya, padahal ini adalah masalah penting, menyangkut ponselnya yang cukup mahal.
Begitu menekan tombol panggilan, Reno menempelkan ponsel itu ke telinganya.
“Eeh, pulsaku tinggal dikit…”
“Halo?” sapa Reno saat telepon itu diangkat.
Joni yang sudah menjulurkan tangan cuma bisa melongo dan membeku. Merasa agak bersalah karena telah membuat panggilan tanpa izin, Reno langsung membeberkan inti permasalahan pada sang ibu tiri, sekaligus meminta izin karena barangkali ia akan pulang agak telat.
“Katanya hapeku ada di kamar. Makasih, ya.” Reno mengembalikan ponsel Joni dengan tampang tak bersalah. “Keluar yuk, bisa jamuran dari pagi di sini.”
Melihat campuran ekspresi dongkol dan bingung di wajah Joni, Reno benar-benar ingin terbahak, tapi ia bukan orang yang tak tahu diri. Ia berjanji akan mengirimkan pulsa kepada Joni, tanpa diketahui teman karibnya itu tentunya.
“Males…,” lenguh Joni lemas, lalu mengambil joystick kedua dari unit Playstation. “Di sini aja, deh. Kalau nggak nyariin kamu aku nggak bakal keluar, tahu. Panas.”
“Oke… Oke…” Karena baru saja mengerjai sahabatnya itu, Reno memilih untuk mengalah.
“Aura nanyain kamu terus, tuh,” ulang Joni.
“Perasaan tadi kamu udah bilang, deh… Yah, besok aku harus minta maaf ke dia,” timpal Reno seraya berjanji kepada diri sendiri di dalam hati. Melihat Joni yang malah melamun dan tak memencet joystick-nya, ia pun keheranan. “Kamu ke….
“Menurut kamu Aura itu cakep apa nggak, sih?” potong Joni dengan begitu cepat.
Awalnya Reno terdiam, tapi beberapa detik kemudian ia tertawa lepas. Akhirnya, ia bisa menyimpulkan sebab dari kelakuan Joni yang aneh bila tengah membicarakan Aura.
“Loh, kok malah ketawa? Aku serius, nih.” Joni menggaruk-garuk rambutnya kebingungan. “Ya udah, aku pertanyaannya ganti: di cewek-cewek sekolah kita, Aura itu kalau diurut cakepnya jadi rangking berapa?”
Tawa Reno makin kencang gara-gara susunan kalimat yang agak berantakan itu. Bahkan ia sampai terbungkuk-bungkuk karena perutnya yang kaku.
“Oke… Hmm….” Reno berusaha menahan diri saat menyadari ekspresi kesal sahabatnya itu. Ia lalu menerawang ke atas, benar-benar berpikir. Meski lucu, pertanyaan Joni itu tetap sulit dijawab. Di antara sekian banyak siswi, yang pemampilannya menonjol pasti lebih dari satu. Reno berusaha mengingat-ngingat wajah gadis-gadis yang membuatnya cukup tertarik, baik junior, senior, maupun yang seangkatan.
“Jadi gimana?” Joni terdengar tak sabar.
“Yah, mungkin Aura urutan lima kali ya… Nggak tahu juga…”
“Haaah!” Joni melotot begitu lebar, lantas buru-buru mengambil ponselnya dari saku.
Reno yang penasaran pun melongok ke arah jempol Joni yang menari-nari di atas layar ponsel. Namun, Joni malah menghindar dan membelakangi Reno. Meski hanya sekilas, Reno melihat ada banyak foto Aura dari berbagi sudut dan tampaknya diambil secara diam-diam. Bulu kuduk Reno pun langsung meremang dibuatnya. Instingnya lagi-lagi berkata bahwa ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.
“Nih!” Joni menodongkan ponselnya ke mata Reno, yang langsung bisa melihat wajah Aura. “Cewek manis banget kayak gini kamu bilang rangking lima? Dia itu cewek paling cantik di sekolah kita, tahu!”
Kali ini syaraf tawa Reno tak terpacu sama sekali, justru di hatinya kini mulai tumbuh rasa kasihan. Meski hal ini terdengar remeh, Reno bisa merasakan kalau Joni menganggapnya serius.
Reno menjauhkan ponsel Joni dari mukanya dan bertanya, “Kamu suka sama Aura, kan?”
Bukannya menjawab, Joni malah mengalihkan perhatiannya ke televisi dan mulai mengatur formasi tim pilihannya. Wajahnya begitu serius dan dihiasi gurat-gurat kesedihan. Mau tak mau Reno mengerutkan kening. Ia mengira Joni akan memberikan sanggahan-sanggahan seperti biasa.
Setelah beberapa detik berlalu, akhirnya Joni berkata lirih, “Itu dulu waktu SMP, Ren. Sekarang aku udah nggak ada rasa apa-apa sama dia. Yah, sekarang kamu kan yang suka sama dia?”
Reno tersenyum samar. “Siapa bilang?”
“Buktinya kamu sering ngeliatin dia terus.”
“Tenang, aja. Aku cuma penasaran sama cewek itu, kok. Soalnya kelakuannya rada aneh.”
“Nah, rasa penasaran itu yang nantinya bisa bikin bibit-bibit cinta tumbuh. Aku juga dulu suka sama dia awalnya gara-gara gerak-geriknya yang lucu.”
Reno benar-benar mengumpulkan segenap tekadnya agar tawanya tak lepas lagi. Ia tak mau dianggap tak serius oleh Joni.
“Aku bener-bener nggak ada rasa apa-apa sama dia,” timpal Reno mantap. “Kamu tuh yang sering ngomongin dia. Jujur deh, kamu masih suka kan sama dia?”
Melihat Joni yang kelihatan begitu ragu, Reno pun menepuk pundak temannya itu dan memberi tatapan penuh keyakinan.
Joni menelan ludah. “Yah, dulu waktu SMP aku pernah nembak dia… Namanya cinta monyet… Ditolak… Sampai sekarang aku…”
“Tuh, kan!” Reno tiba-tiba menekan tombol untuk mulai permainan, membuat Joni terhenyak. “Tinggal ngaku apa susahnya, sih? Aku nggak akan ngomong ke orang lain, kok.”
“Yakin kamu emang nggak suka sama Aura?” tanya Joni lagi, masih terdengar ragu-ragu.
“Kamu kayak tetanggaku yang ngomong diulang-ulang, deh,” gerutu Reno, meski tak sungguh-sungguh. “Aku buktiin, nih. Entar aku bantuin kamu buat ngedeketin Aura.”
Joni langsung melotot lagi. “Beneran?”
Reno mengangguk pasti. “Tapi langkah pertama, hapus dulu foto-foto dia di hape kamu itu. Terus, jangan cari tahu hal-hal nggak penting dari dia, deh. Masa kamu sampe tahu merek make-up yang dia pake?”
“Yah, aku juga sebenernya udah mulai sadar, sih. Mungkin alasan dia ngejauhin aku itu gara-gara kelakuanku yang kayak gitu. Kamu tahu? Waktu kelas satu SMA aku pernah nembak dia lagi, tapi dia nolaknya nggak halus kayak waktu SMP. Dia bener-bener marah,” tutur Joni dengan nada kesedihan yang mendalam.
Reno tak habis pikir, mengapa baru sekarang ia tahu kelakuan Joni yang seperti itu? Apa mungkin ia memang tak terlalu tahu seluk-beluk sang teman karib?
Mereka berdua kini mulai menaruh perhatian ke layar televisi lagi. Peluit tanda pertandingan dimulai sudah berbunyi.
“Kalau kamu ngedeketin Aura pake cara yang bener, aku yakin dia pasti bisa nerima kamu, kok. Aku tadi udah bilang, kan? Aku siap bantuin kamu.”
“Thanks… Tapi kamu beneran kan nggak suka sama Aura? Kalau kamu juga suka sama dia, aku jadi ngerasa nggak enak… Oke-oke kamu emang nggak suka sama dia.”
Reno mendelik dan tersenyum lebar, memperlihatkan semua gigi-giginya. Kelakuan Joni itu benar-benar membuatnya gemas.
“Tapi… Kita mulai darimana…” Omongan Joni terpenggal oleh dering ponselnya sendiri. Ia langsung mengernyitkan dahi saat mengeceknya. “Ren, Ren. Ini nomor kamu, kan?”
Reno langsung melongok ke layar ponsel temannya itu dan ikut terheran-heran. Tanpa babibu, ia merebut ponsel itu dan mengangkat panggilannya. “Halo?”
“Shhh…”
Yang keluar dari speaker ponsel itu hanyalah desisan tak jelas. Memang ada beberapa potong suara manusia, tapi itu pun sangat samar. Joni pun mendekatkan telinganya, tampak begitu penasaran. Reno berusaha menajamkan pendengarannya. Apakah sang ibu tiri yang menggunakan ponselnya? Tapi untuk apa? Apa gunanya memperdengarkan bunyi aneh seperti ini?
Desisan itu semakin keras dan tinggi, seolah mulai memasuki kepala Reno. Mendadak ia melepaskan ponsel itu dari telinganya. Desisan itu ternyata tak asing, sama persis dengan yang ia dengar di mimpi buruknya itu, saat matanya melihat dinding hitam tempat tiga obor dipasang.
“Oi, kamu kenapa, Ren?” tanya Joni, heran melihat garis-garis ketakutan di wajah Reno.
Panggilan itu mati, meninggalkan Reno dan Joni yang saling bertukar pandangan.