Seminggu sejak resmi menjadi kekasih Noval, dunia Rere berubah total. Rere jadi bisa pergi ke bioskop, makan di mall, jalan-jalan, pokoknya semua hal yang tidak pernah dia lakukan dulu bisa dilakukan sekarang. Tetangga kontrakan di gang Haji Jamil pun, mereka mulai mengakui keberadaan Rere. Tadinya mereka tak pernah menganggap Rere ada. Jangankan untuk mengajaknya berteman, menyapa saja mereka ogah. Namun, kini semuanya berubah. Tetangga kontrakan mulai menyapa Rere, mereka terkejut dengan penampilan Rere yang ternyata memiliki paras yang cantik bila rambutnya tak dibiarkan tergerai ke depan seperti Kuntilanak.
"Re, Rere ...." Jantung Rere berdegup kencang, mendengar suara lirih yang memanggil namanya dari tadi.
Sedikit takut, mata Rere memindai ke segala penjuru, kosong! Tak ada orang di jalan, tetangga kontrakan pun belum ada yang pulang. Lalu, siapa yang dari tadi memanggil namaku. Apakah aku kembali seperti semula, dapat melihat dan mendengar mahluk astral? Tidaaak! Pikiran buruk itu mulai berkecamuk di kepala Rere.
"Re, Rere ...." Suara itu kembali terdengar, Rere mengurungkan niat untuk ke luar rumah, lebih baik mengurung diri di kontrakan. Rasanya agak canggung bila kemampuan anehnya kembali.” Apa aku telepon Noval saja ya? Meminta dia agar datang ke sini. Ish, tapi kan kemarin dia sudah ijin padaku, untuk menghilang selama seminggu. Ada pekerjaan katanya.” Rere berbicara sendiri untuk mengusir rasa takut.
"Jangan ditelpon, Re. Ini gue, Gempi." Kembali, suara lirih yang mendayu itu terdengar.
Tunggu, dia bilang apa? Gempi? Ishh, Rere mah kenal sama hantu ini. Dia sahabat baik Rere, temen gaul, sebelum kenal Noval. Kalian juga pasti mengenalnya. Manusia sering menyebut dirinya Wewek Gombel.
"Ya Allah, Pe. Loe bikin takut deh, kenapa nggak nongol sih." Rere malas memanggilnya Gempi, dia lebih cocok dipanggil Jupe, karena memiliki buah d**a yang over size tentunya.
"Kagak bisa, Re. Ini gue telepati. Loe pake apaan sih, kok sekarang jarak radius seratus meter, gue nggak bisa nyamperin loe?"
"Hah! Apaan, sih? Gue nggak pake apa-apa." Rere berdiri di depan kaca, mencari tahu apa yang dimaksud sama si Jupe, eh Gempi.
"Elu tuh, berubah semenjak kenal sama cowok yang namanya Noval itu." Suara Gempi, kini terdengar lebih jelas, tidak kecil kaya tadi.
"Eh, suara loe jelas sekarang, loe di mana? Nongol, apa."
"Gue di atas lemari, belakang lu."
"Astagfirullah!"
Rere terkejut melihat penampakan wujud asli si Gempi. Wajah dan tubuh yang penuh dengan bintik bak Tokek, tak memiliki hidung, hanya ada dua lubang kecil di tengah wajahnya. Memiliki bibir yang sumbing, sesekali lidah yang bercabang melet keluar seperti ular dan buah d**a yang menggelantung besar hingga ke lutut. Hmapir seluruh tubuh Gempi dipenuhi dengan rambut lebat.
"Lebay banget sih, loe. Kaya nggak pernah ngelihat gue aja," protes Gempi yang kesal karena melihat ekspresi wajah Rere yang melongo.
"Wajarlah, kan sudah seminggu kita nggak ketemu,” Rere tersenyum "oh ya, kok loe jadi serem lagi sih, bra yang kemarin gue beliin kenapa nggak dipake?" tanya Rere sambil memperhatikan tubuh si Wewek Gombel.
"Ya, mau gimana ..., kalo gue pake bra seperti anjuran elu, terus siapa yang ngepangin rambut gue? Lebih baik beginilah, rambut tergerai buat nutupin aurat," rajuk Wewek Gombel membuat Rere tertawa.
Iya juga sih, Wewe Gombel yang menamakan dirinya Gempi ini emang lagi belajar nutup aurat. Makanya suka pakai bra. Habis itu, minta rambutnya disisir, kepang, dan segala hal yang dia tiru dari gayanya Gempi, selebgram cilik yang anak artis ternama itu.
"Kok, loe jarang muncul sih, Pi. Kangen tau, pengen curhat."
"Bukan gue yang jarang muncul, tapi elu yang aneh. Semenjak jadian sama si Noval nggak bisa kesentuh. Para hantu kangen tuh nyariin elu."
"Nggak bisa kesentuh gimana?" Apakah mereka beneran tidak bisa melihat gue?
"Elu, nggak kelihatan. Nah, baru seminggu ini gue bisa lihat elu, tapi tetep aja nggak bisa ngobrol atau manggil. Soalnya ada cahaya yang melindungi berjarak seratus meter."
"Masa sih, Pi? Kolor ijo?" Rere penasaran dengan kabar si hantu m***m itu.
"Dia juga nggak kelihatan, denger kabar sih sakit. Jangan bilang itu ulah elu?
"Alhamdulillah, kalo dia sakit semoga nggak bisa sembuh, biar mampus sekalian." Gempi si Wewek Gombel, memandang heran. Rere pun menceritakan kejadian sebulan lalu, saat kembali bertemu dengan dukun nyentrik itu.
"Oo, jadi ternyata, Noval yang sering disebut namanya sama anak kontrakan, si dukun nyentrik itu?" ucap Gempi, setelah mendengar curhatan Rere.
"Oo, jadi selama ini anak kontrakan suka gosipin gue ya?” Gempi menoyor kepala Rere
"Jangan lebay, baru tenar seminggu aja udah ke geeran," protes Gempi. Senyum Rere melebar mendengar ucapan si Wewe Gombel.
Ah, sungguh indah hidup jadi orang normal tuh. Sepanjang mata memandang semuanya normal, tak ada lagi hantu, tak ada lagi ketakutan. Bahkan cap 'gila' yang biasa melekat di diriku mulai menghilang, batin Rere.
**
Sudah dua bulan Rere el-de-eran dengan Noval, para hantu pun mulai bermunculan. Satu persatu dari mereka mulai menyapa dan meminta bantuan Rere.
Sosok putih, seperti guling itu sudah menunggu Rere dari tadi. Padahal Rere sengaja memperlambat langkah kaki agar tak berpapasan dengannya.
"Rere, cepetan jalannya!" Hardik Om Pocong pada Rere dengan muka bengisnya. Gadis pemalu itu mempercepat langkah kakinya melewati si Pocong, mendahuluinya guna membuka portal yang menghadang jalan.
"Terimakasih," ucap Om Pocong, sambil tersenyum pada Rere. Dia pun melompat tergesa.
"Cih, padahal tinggi neh portal cuma sepinggang, tapi nggak bisa ia lewati," gumam Rere kesal.
Rere pun berteriak meluapkan kekesalannya. Merasa frustrasi, karena para hantu bermunculan lagi lantaran penglihatannya kembali seperti dulu. Jam empat pagi pintu kontrakan sudah digedor oleh si Pocong sepuh yang kesiangan, tadi. Padahal Rere baru saja ingin tidur sejenak sebelum azan subuh, agar wajahnya bisa terlihat cerah saat bekerja. Kenapa mereka dapat terlihat kembali, kenapa pula, Tuyul sialan itu harus bersembunyi di kontrakannya. Sehingga Rere terjaga semalaman, khawatir si Tuyul akan mengambil uangny, lalu ... datanglah Om Pocong. Lengkap sudah penderitaan Rere hari ini.
"Arrrgggg! Noval, kamu kapan pulangnya, sih." Rere menangis.
"Nggak baik, anak gadis menangis di jalanan pagi buta begini," ucap suara pria yang terdengar merdu.
Rere mengangkat wajah guna mencari tau, siapakah gerangan?
"Varel!" pekik Rere, melihat sosok pria tampan yang wajahnya mirip dengan artis sinetron Varel Bramasta. Oh Lord ..., Aku rasa, ini yang namanya cinta pada pandangan pertama, batin Rere, penuh dengan rasa cinta.