Tahun 2014
Dave
“Please, Soph… kamu butuh apa lagi? Bukannya snack sama es krim yang kamu minta udah segini banyak? Kamu butuh apa lagi? Pizza? Emang kamu mau makan semuanya? Nggak sekalian aja kamu minta aku borong semua isi rak di sini?” dengan tangan kiri memegang keranjang belanja yang hampir meluber, aku mendesiskan keluhanku pada Sophia, satu-satunya adik perempuanku.
“Ayolah, Dave….aku bosen di rumah. Evan lagi ada kerjaan di luar negeri. Ayah lagi sama Gio di ruang kerjanya. Nggak ada siapa-siapa di sini. Masa iya kamu tega ninggalin adikmu bosen di rumah? Mana nggak ada yang bisa dimakan lagi,” gerutuan Sophia yang keluar dari panggilan handphone di tangan kananku, membuatku memutar bola mata.
Dengan rumah yang lebih tepatnya disebut mansion, tidak mungkin dapur di tempat tinggal kami bisa kekurangan makanan. Apalagi ada staf dan chef yang bekerja untuk melayani kebutuhan keluarga Hughman. Jadi, seperti biasa, Sophia hanya bertindak berlebihan saat sedang jenuh.
“Iya, tega. Kenapa mesti nggak tega, kalo adiknya udah segede ini? Emang kamu pikir umur dua puluh enam mesti ditemenin terus-terusan?” sahutku asal. Kepalaku beredar. Memindai keadaan di sekitarku.
“Lagian nggak ada yang bisa kamu kerjain apa? Biar nggak nganggur terus-terusan kayak gitu?” tukasku dengan nada jengkel. Hanya untuk mendapatkan dengusan kesal sebagai jawabannya.
“Hei..emang kamu pikir aku pengangguran, Dave? Proyek desainku yang terakhir baru aja selesai. Emang salah, kalo aku mau rehat bentar? Aku kan nggak workaholic kayak kamu. Lagian kenapa kalo aku umur dua puluh enam? Masih muda tau. Nggak kayak kamu. Udah tua..Iyuuh…” bahkan hanya dari saluran telepon, kejijikan yang dirasakan Sophia tersampaikan dengan baik.
Mataku sedikit terbelalak sebelum memutarnya. Gimana bisa umur tiga puluh tahun dibilang tua? Yang ada justru matang dan mapan. Astaga...punya adik gini amat batinku sambil menggelengkan kepala.
Helaan nafasku terlepas. Saat di mana seharusnya aku melakukan seluruh pekerjaan yang sudah dijadwalkan Paul, asisten pribadiku pagi ini, aku malah berdiri mengantri di depan kasir supermarket terbesar di kota. Semuanya karena Sophia, adik perempuanku satu-satunya, memintaku untuk membelikannya camilan.
Bukannya aku tidak bisa meninggakan perusahaanku sebentar saja, tapi aku cukup perfeksionis untuk membiarkan orang lain mengerjakan tugas yang seharusnya berada dalam tanggungjawabku. Menjadi pendiri dan pemilik perusahaan media elektronik, cetak dan digital yang menggurita di seluruh negara bahkan di beberapa negara sekitar, membuat setiap waktu yang kumiliki begitu berharga.
Tapi sepertinya, hal itu seringkali diabaikan oleh keluargaku. Tidak masalah. Toh aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan dan kesejahteraan keluargaku. Termasuk harus membelikan adikku yang jahil dan manja ini.
Antrian mulai merambat maju. Aku mengetuk-ngetukkan kakiku dengan tidak sabar. Terdapat dua deret antrian di sampingku. Sedang di depanku, masih ada lima orang yang masih menunggu untuk dilayani. Aku memalingkan tubuh ke samping. Menggeser keranjang belanja yang ada di genggamanku.
“Ayolah, Dave sayang. Masa kamu nggak mau beliin pizza buat adikmu ini? Kan sekalian sambil jalan. Lagian supermarket itu dan rumah kita kan nggak jauh. Paling kamu bisa sampai ke sini, nggak sampai lima belas menit. Ya kan?” jawaban Sophia lagi-lagi membuatku mengeram kesal.
“Soph, aku juga punya kerjaan. Dengan belanjain buat kamu sekarang ini aja, aku udah nunda rapat di kantor. Masa iya, kamu mau minta aku mampir lagi beli pizza dulu? Telat banget jadinya nanti,” desisku sambil melekatkan handphone di tangan kananku ke telinga.
“Mana aku mesti ke rumah produksi lagi. Mereka udah minta jadwalku dan mastiin kehadiranku, Soph. Nggak enak banget kalo datang ke sana telat. Kakakmu ini mesti bisa jaga profesionalismenya dong. Nggak bisa dateng seenaknya biarpun aku yang danain produksi filmnya,” sergahku dengan nada tertahan.
Aku menyayangi keluargaku. Sepenuh hati mencintai mereka. Meskipun terkadang Sophia sedikit terlalu manja dan Evan yang bahkan tidak mau mendengar nasehat dariku, tapi mereka berdua adalah saudaraku dan aku sangat menyayangi mereka berdua. Ibuku menitipkan mereka kepadaku ketika dia berpulang karena sakit. Aku, sebagai kakak sulung, tentu saja berusaha keras memenuhi permintaan terakhir ibuku.
Aku bergerak kembali. Menggeser kantong belanjaanku tanpa sadar. Menunggu sahutan dari Sophia.
“Heemm….iya deh. Ntar aku pesen antar aja. Kamu bisa langsung pulang sambil bawa belanjaanku. Oke? Jangan lama-lama,” seringaiku mengembang saat Sophia berhasil melunak.
“Aman. Ini masih ada tiga orang lagi di depanku yang ngantri,” ucapku sambil menggerakkan tubuh. Mengamati antrian. Kantong belanjaan di tangan kiriku kembali bergeser.
“Kamu masih lama nginap di rumah? Perbaikan di apartemenmu kapan selesainya?” tanyaku.
“Ckk...ckk...ckk… Kenapa? Bosen liat aku ngerusuh di rumah?” meskipun tuduhan Sophia terdengar tajam, tapi aku merasakan candaan dalam nada suaranya,
“Nggak lah. Ngapain juga bosen. Aku cuma khawatir kalo…” belum juga ucapanku selesai terlontar, aku merasakan dorongan di pundakku. Kepalaku menoleh dengan cepat dan mendapati wanita yang mengantri di hadapanku, memandang diriku dengan penuh rasa murka. Alisku terangkat heran. “...Soph, aku tutup teleponnya dulu,” tukasku datar. Tanpa menunggu sahutan dari Sophia, aku segera memutus panggilan dan memasukkan handphone ke dalam saku celanaku.
“Ya? Ada apa ya?” tanyaku dengan nada dingin. Mengabaikan tindakan kurang ajar yang dilakukan wanita tersebut.
“Kurang ajar ya kamu! Pura-pura bodoh lagi. Kenapa? Malu udah ketahuan?” mataku mengerjap mendengar semburan kemarahan wanita itu.
“Maksudnya? Sori, aku nggak paham maksud omonganmu. Bisa dijelasin?” ujarku dengan nada menenangkan. Berpengalaman menghadapi media selama bertahun-tahun mengajarkanku untuk terus berkepala dingin.
“Udahlah, nggak usah sok suci. Sok polos, nggak ngerti apa-apa. Nggak mempan tau. Ngaku nggak!” tuntutan wanita itu sangat tidak masuk akal. Satu tanganku masih tenggelam dalam saku celana. Aku menatap tajam ke arah wanita di hadapanku.
“Yang ditanya tapi nggak bisa jawab siapa? Udah ketauan kan, yang bodoh di sini siapa?” sahutku singkat.
Sepertinya ucapanku memicu emosinya karena dalam sekejap dia memperpendek jarak di antara kami dan langsung mendorong pundakku. Tentu saja aku bergeming. Bahkan aku tidak bergeser seinci pun dari posisiku. Jelas tindakannya sudah dapat kuprediksi, jadi dorongan darinya tidak mempengaruhiku sama sekali.
“Kamu kan, yang dari tadi nyolek-nyolek tubuhku? Bagian belakangku?” semburnya sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah mataku.
“Aku? Nyolek kamu? Nggak salah?” tukasku sambil memandang tubuhnya sekilas sebelum kembali mendaratkan tatapanku di wajahnya. Kepalaku menggeleng. Helaan nafasku terlepas. Usaha terakhirku untuk bersikap sabar. “Aku nggak nyolek kamu. Nggak punya niat nyolek kamu juga. Ngapain? Aku bukan orang kurang ajar. Silakan maju. Antrian di depan udah kosong,” ujarku sambil mengedikkan dagu. Memberinya isyarat untuk maju.
Namun, sepertinya ucapanku tidak memuaskannya. Dia berteriak semakin keras hingga menarik perhatian seluruh orang yang sedang berada di area kasir.
“Heh! Jangan lempar tanggungjawab ya. Nggak usah ngeles. Kamu bisa bilang nggak sengaja kalo cuma sekali. Tapi ini nggak. Tiga, empat kali kamu udah nyolek-nyolek aku,” ujarnya sambil memandangiku dari atas sampai bawah. Pandangan jijik terpampang nyata dalam ekspresi wajahnya.
“Tampang aja yang bagus, isinya busuk. Malu-maluin banget. Cowok macam apa kamu? Nggak ngehargai wanita sama sekali. Nggak punya ibu, kamu ya? Makanya nggak diajarin gimana caranya memperlakukan wanita,” ujarnya dengan berapi-api.
Rahangku bergemeretak. Tanganku yang tenggelam di saku celana terkepal erat. Aku bertahan pada seutas tali kesabaran karena masih ingin berlaku pantas. Tapi saat dia menyebut-nyebut ibuku dengan mulutnya yang berbisa, tali kesabaranku putus dengan cepat. Tak ada yang bisa lolos dengan mudah bila sudah berada di kemurkaanku.
“Hati-hati dengan omonganmu. Apapun yang keluar dari mulutmu, bisa aku pakai untuk ngelawan kamu di pengadilan. Nggak ada pelecehan dari pihakku sama sekali. Pengacaraku tinggal hubungi manajemen dari supermarket ini dan dapetin rekaman cctv. Dari situ kita bisa tau, siapa yang berbohong di antara kita berdua,” setitik ketakutan terlintas di matanya namun hilang dalam sekejap.
“Alaah...nggertak doang. Nggak takut. Panggil aja pengacara kamu. Lagian semua orang punya mata. Mereka bisa liat siapa yang jujur dan yang nggak,” tukas wanita dengan sinis.
Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mengamati para pelanggan yang awalnya mengantri dengan rapi, namun segera berubah mengerubungi kami dengan berbagai tingkat rasa penasaran.
“Coba di sini, ada yang liat tindakan kurang ajar cowok ini nggak? Tunjuk tangan aja. Nggak usah kuatir,” ujar wanita itu sambil memandangi kerumunan orang. Seringaiku melebar saat tidak ada orang yang menyuarakan pendapatnya.
“Siapa aja? Please? Masa nggak ada yang liat sama sekali sih?” kali ini getar di dalam suaranya terdengar begitu jelas. Tatapan matanya pun tak lagi seyakin sebelumnya.
Ringisan sinis muncul di ujung bibirku. Rasain. Kamu nggak akan bisa lolos segampang itu. Beraninya nuduh aku, jelekin ibuku, nghancurin nama baikku. Tunggu aja kamu bakal nyesel dengan semuanya putusku dalam hati. Bila merasa senang saat melihat wanita yang hampir menangis di hadapanku, disebut kurang ajar, maka aku tidak keberatan disebut seperti itu. Karena itulah yang kurasakan sekarang.
“Aku liat,” satu suara perempuan terdengar di antara kerumunan. Kepalaku menoleh dengan cepat. Saat sosok yang tadinya terhalangi oleh tubuh orang-orang yang penasaran, mulai berjalan dan menunjukkan kehadirannya, mataku menyipit.
Seorang perempuan dengan celana jins belel, kemeja longgar bergaris serta sepatu kets usang terlihat. Saat tatapan mataku mendarat di wajahnya yang tertutup masker dan topi pet yang membungkus rambutnya, sentakan melesat di hatiku. Menyaksikan mata paling indah yang pernah kulihat.
Sialan, Dave! Bukan waktunya mikir kayak gitu sekarang gerutuku kesal. Kuarahkan tubuhku menghadapnya. Merasakan semangat wanita yang menuduhku melonjak tajam.
“Ohh...makasih. Coba kasih tau dia, apa yang kamu liat,” alisku terangkat naik saat menyaksikan wanita itu meraih lengan wanita bertopi yang baru saja mendekati kami. Mataku tidak beralih sedikitpun dari dirinya.
“Dia…” ujarnya sambil menunjuk ke arahku. “...bisa dibilang emang nyentuh kamu. Tiga ato empat kali,” tukasnya tenang.
Mulutku terbuka dan tertutup dengan cepat. Keterkejutan menguasaiku.