Distrik 9.
Hwang Kihyeon menapaki jalan yang membentang di antara lahan kosong yang menjadi perbatasan antar distrik lainnya. Kedua netranya memicing ketika melihat seorang wanita mengayuh sepeda tengah menuju ke arahnya. Dalam waktu singkat, kedua netranya kembali melebar setelah ia mengetahui identitas dari si wanita muda tersebut.
Meski tidak melihat wajah wanita muda itu dengan begitu jelas, namun Kihyeon mengetahui identitasnya dari dari wanita muda itu karena dari sekian banyaknya gadis di Distrik 9, hanya gadis itulah yang selalu ia perhatikan setiap hari. Dan wanita muda itu tidak lain adalah gadisnya sendiri, Kim Seo Hye.
Keduanya saling terhubung melalui cincin yang melingkar di jari manis masing-masing. Sebuah tanda kepemilikan yang membuat semua pemuda di Distrik 9 tidak berani mendekati Seo Hye, karena mengetahui bahwa wanita muda itu telah di miliki oleh putra dari Ketua Distrik 9.
Tak lama setelah Kihyeon kembali, para orang tua menjodohkan keduanya dan mereka yang menolak untuk menikah karena usia mereka yang masih muda lantas memutuskan untuk bertunangan. Sejak saat itu pula hubungan canggung di antara keduanya berakhir. Dan Seo Hye tak lagi memanggil Kihyeon hanya dengan menyebut nama pemuda itu.
Setelah jarak mereka cukup dekat dan tampaknya Seo Hye pun juga telah menyadari kehadiran Kihyeon. Pemuda itu pun menghentikan langkahnya dan lebih memilih untuk menunggu hingga pujaan hatinya yang datang padanya.
"Orabeoni ..." seru Seo Hye dengan senyum lebar di wajah cantiknya yang semakin membuatnya bersemangat untuk mengayuh sepeda usangnya. Gadis itu lantas menghentikan sepedanya dan langsung turun.
Orabeoni : Panggilan untuk laki-laki yang lebih tua dari wanita yang lebih muda. Versi lain dari Oppa.
"Kau baru pulang?" tegur Seo Hye
"Hm," jawab Kihyeon singkat sembari menghampiri wanita muda itu dan berhenti di hadapannya. Terkesan dingin, namun sebenarnya Kihyeon adalah laki-laki yang hangat.
"Kau ingin pergi ke mana?" Kihyeon bertanya sembari menyingkirkan helaian rambut yang berada di wajah Seo Hye.
"Ibuku sedang sakit, persediaan obat di Distrik 9 sudah habis, jadi aku ingin membelinya di Distrik 8," ucap Seo Hye dan tanpa gadis itu sadari bahwa pernyataannya sebelumnya telah membuat dahi Kihyeon berkerut dengan mata yang menyipit.
Kihyeon lantas menegur sedikit ketus, "Ya! Kau ini wanita, kau tidak tahu seberapa berbahayanya di luar sana. Jika terjadi sesuatu padamu, aku harus bagaimana?"
"Aku tidak apa-apa ... Distrik 8 masih baik-baik saja."
"Apanya yang baik-baik saja? Kembalilah ke rumah! Biar aku yang membelinya."
Mendengar itu, Seo Hye sedikit panik. "Tidak ... aku tidak apa-apa, lagi pula Orabeoni juga baru saja kembali."
"Menurut lah pada pria yang sudah menjadi tunanganmu. Berikan uangnya dan kembali ke rumah!" tegas Kihyeon.
Seo Hye menghela napas. Jika sudah begini, melawan pun juga akan percuma. Tidak ada yang bisa mengalahkan sifat keras kepala dari seorang Hwang Kihyeon yang memang terkadang bermulut tajam. Dengan tak relanya, Seo Hye pun menyerahkan uang yang ia bawa kepada Kihyeon.
"Pulanglah."
"Tidak ingin aku temani?" Seo Hye mencoba membujuk dengan seulas senyum manis di wajahnya.
Kihyun menggeleng. "Tidak perlu."
"Orabeoni bisa menggunakan sepedaku."
"Kembalilah ke rumah dan jangan pergi ke mana-mana sebelum aku kembali."
Seo Hye mengerucutkan bibirnya. Baru menjadi tunangan saja, Kihyeon sudah melarangnya untuk berbicara dengan pemuda lain. Bagaimana jika sudah menikah nanti, itulah hal yang selalu membayangi Seo Hye setiap kali ia bertegur sapa dengan para pemuda lain di Distrik 9. Namun ada satu pemuda yang dibebaskan oleh Kihyeon untuk berbicara dengannya, dan pemuda itu bernama Han Min Hyeok. Pemuda yang pernah akan dijodohkan dengannya. Seo Hye merasa lega karena hingga saat ini Kihyeon tidak mengetahui tentang hal itu.
Seo Hye kemudian kembali memutar sepedanya dan bukannya menaikinya, wanita muda itu justru menuntun sepedanya untuk kembali ke Distrik 9 dan sempat sesekali menoleh ke belakang. Melihat Kihyeon yang masih berdiri di tempat sebelumnya dan sempat melambaikan tangan padanya.
Selepas kepergian Seo Hye, Kihyeon pun berbalik arah. Berjalan ke arah ia datang sebelumnya dan di saat ia menjangkau hutan yang menjadi perbatasan antara Distrik 9 dan Distrik 8. Dari arah berlawanan datanglah Han Min Hyeok dan kemudian saling bertegur sapa dengannya.
"Kau ingin ke mana?" tegur Min Hyeok sebelum keduanya saling berhadapan.
"Distrik 8, persediaan obat di Distrik 9 sudah habis."
"Untuk siapa?"
"Ibu Seo Hye."
"Perlu aku temani?" Min Hyeok menawarkan bantuan.
"Tidak, aku hanya pergi sebentar."
"Kenapa kau tidak menggunakan mobilmu saja?"
Kihyeon tersenyum lebar. "Akan terlihat sangat menonjol jika aku membawa mobil. Kembalilah lebih dulu."
"Baiklah, aku tunggu di Bukit Terlarang."
Kihyeon mengangguk dan Min Hyeok pun sempat menepuk bahu pemuda itu beberapa kali sebelum kembali melanjutkan langkahnya yang mengarah ke Distrik 9. Begitupun dengan Kihyeon yang mengambil arah yang berlawanan dengan rekannya tersebut.
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL
Markas Militer Divisi Infanteri 9, Provinsi Gyeonggi.
Seseorang membuka pintu dari dalam ruangan dengan kasar dan berjalan keluar dengan raut wajah yang di penuhi oleh kemarahan.
"Choi Young Jae!" lantang seseorang yang menyusulnya dari belakang dan mencoba untuk mengejarnya.
Dua pemuda berseragam militer. Keduanya adalah Sersan muda Lim Jae Beom dan Choi Young Jae dari Batalion 13 yang bertugas melakukan pemantauan di daerah perbatasan. Dilihat dari suasana yang terjadi, tampaknya kedua Sersan muda itu kembali terlibat pertengkaran.
"Choi Young Jae, berhenti!" tegur Jae Beom sekali lagi, namun Young Jae tampak tak ingin mempedulikan.
Hingga langkah pemuda yang lebih muda darinya itu terhenti setelah ia mendapatkan bahu pemuda itu dan segera membalik tubuh Young Jae untuk menghadap dirinya.
Jae Beom kemudian membentak, "dengarkan aku!"
"Aku tidak mau!" Young Jae balas membentak, "harus berapa kali aku katakan? Aku tidak akan pergi ke sana."
"Kita bicarakan di dalam."
"Tidak ada yang harus dibicarakan lagi," Young Jae tetap menentang.
"Dengarkan alasanku dulu." Jae Beom meraih bahu Young Jae, namun saat itu juga Young Jae menepis tangannya dengan kasar.
"Pergilah jika kau ingin menjadi pembunuh!" gumam Young Jae penuh penekanan dan saat itu pula satu pukulan mendarat dengan keras di wajahnya dan membuat tubuhnya limbung ke samping.
Tampak Jae Beom yang sudah kehilangan kesabarannya. Tanpa mempedulikan tatapan para rekan mereka yang melihat mereka setelah sebelumnya tertarik atas keributan yang mereka lakukan, Jae Beom segera meraih pakaian yang dikenakan oleh Young Jae dan menyeret pemuda itu. Memaksanya kembali ke dalam ruangan yang sebelumnya mereka tinggalkan.
Tepat setelah Jae Beom membuka pintu di hadapannya, saat itu pula dia mendorong tubuh Young Jae ke dalam sebelum ia masuk ke dalam dan kembali menutup pintu dari dalam dengan kasar.
Saat itu, semua perhatian tertuju ke arahnya. Karena di dalam ruangan tersebut terdapat satu rekan mereka yang terduduk di sudut ruangan. Kim Yugyeom, perwira termuda di antara keduanya yang bertindak sebagai pendengar di antara perdebatan keduanya sebelumnya.
"Dengar! Kita harus pergi ke sana," Jae Beom kembali berucap dengan pembawaan yang tenang namun tidak dengan sorot matanya yang menunjukkan sebuah kemarahan.
"Kau sudah lupa dengan apa yang yang terjadi pada Yoo Jin Young?" Young Jae kembali melakukan sebuah pemberontakan, namun dengan sikap yang lebih tenang.
"Untuk alasan itulah kita pergi."
Sudut bibir Young Jae yang sedikit berdarah itupun tersungging. "Alasan apa yang kau maksud? Kita datang untuk membantai rakyat, apa itu alasan yang kau maksud?"
"Jaga bicaramu, Sersan Choi Young Jae," sebuah peringatan dari seseorang yang tiba-tiba membuka pintu di belakang Jae Beom.
Jackson, tentara Amerika Serikat itu turut bergabung dengan pelafalan bahasa Korea yang begitu fasih. Menegaskan bahwa ia telah tinggal di Korea Selatan dalam waktu yang tidak singkat. Pemuda asing itupun lantas berdiri di antara keduanya untuk menengahi keributan yang sudah menganggu ketenangan Camp mereka pagi itu.
"Berhenti ikut campur, orang asing!" acuh Young Jae yang menegaskan bahwa keduanya tidak memiliki hubungan yang cukup baik.
Jackson menyahut, "tidak bermaksud untuk ikut campur. Tapi jika itu menyangkut Jin Young Yoo, maka aku tidak bisa tinggal diam."
Sudut bibir Young Jae kembali tersungging. "Apa yang diketahui oleh orang asing seperti kalian? Bahkan kedatangan kalian hanya mempersulit keadaan."
"Cukup, Choi Young Jae," ucap Jae Beom menengahi keduanya dengan nada bicara yangdi buat setenang mungkin. Dia melanjutkan, "kita akan mencari Jin Young, dan itulah alasan kenapa kita harus pergi."
"Di mana kita akan mencarinya? Apa kau akan menelusuri semua distrik untuk menemukannya? Bahkan sampai detik ini orang asing itu tidak memberi kabar ... di mana kita akan menemukannya?"
"Kita pasti menemukannya. Jika kita tidak bisa menemukannya dalam keadaan hidup, setidaknya aku membutuhkan jasadnya untuk mempercayai bahwa dia memang sudah mati."
"Aku akan berangkat," celetuk Yugyeom, menarik perhatian dari yang lebih tua.
"Aku juga akan pergi," Jackson menyahuti dan semua pandangan kini terjatuh pada Young Jae.
Jae Beom kemudian berucap, "temukan Jin Young, dan pulang."
Young Jae memalingkan wajahnya dan menghembuskan napas beratnya sebelum ia berjalan ke sudut ruangan dan duduk dengan kepala yang menunduk, mencoba mengendalikan emosinya ketika ia kembali di hadapkan dalam keadaan yang sulit.
Melihat tak ada lagi penolakan dari Young Jae. Jae Beom pun kembali berujar dengan suara tegasnya, "besok pagi, kita akan pergi ke Distrik 1!"
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL