Pagi kembali, membawa ketujuh pemuda itu untuk kembali berkumpul di Bukit Terlarang. Min Hyeok dan Hyung Won menjadi yang terakhir bergabung. Dan baru saja sampai, Min Hyeok sudah mendapati wajah murung Kihyeon beserta lebam kebiruan dan juga sedikit goresan di wajah pemuda yang tampak menghindari kontak mata dengannya tersebut.
Memilih tak mengungkit sesuatu yang mungkin bisa disebut sebagai hal pribadi. Min Hyeok lantas mengarahkan pandangannya kepada rekan-rekannya.
"Sesuai rencana?"
Kihyeon menyahut, "eumh ... Sebelum pukul empat, semua harus sudah berkumpul di sini. Dan satu lagi, pastikan kalian tidak bersinggah di Distrik 7."
Di saat tak ada yang membantah, justru saat itu Joo Heon lah yang menjadi satu-satunya orang yang menunjukkan gelagat mencurigakan.
Kihyeon kembali memberi komando, "kita pergi sesuai perjanjian dan jangan lupakan hal terpentingnya—"
"Hindari orang Pemerintahan," celetuk Joo Heon, seakan ia sudah tahu apa yang ingin diucapkan oleh Kihyeon.
"Kau orang yang patut untuk di curigai, Tuan Bae," celetuk Hoseok.
Joo Heon membalas. "Kak Kang pulanglah ke rumah dan berkaca."
Joo Heon menyeringai penuh kemenangan dan bergegas turun bukit bersama Hyung Won yang menyusulnya tanpa berucap sepatah katapun.
Satu-persatu dari mereka menuruni Bukit Terlarang dan berjalan menuju pintu keluar distrik.
"Sampai jumpa," dua kata yang terucap dari Hyeon Woo sebelum mereka berpencar menurut kelompok yang telah ditentukan, berjalan ke arah masing-masing.
Joo Heon sejenak berhenti, melihat punggung Kihyeon yang berjalan berlawanan arah dengan jalan yang mereka ambil.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tegur Hyung Won ketika menyadari rekannya itu tak kunjung berjalan.
Joo Heon pun lantas menyusul rekannya tersebut dan mulai berjalan beriringan dengan langkah yang begitu santai.
"Kau tidak penasaran?" si sipit kembali menjadi seorang provokator, namun dia memilih sasaran yang salah. Karena seorang Jang Hyung Won bukanlah seseorang yang mudah termakan oleh perkataan orang lain.
"Jika dia mengatakan tidak, maka jangan lakukan," Hyung Won menyahut dengan acuh.
"Eih ... kau ini. Tidak bisakah kau memberontak sesekali?" kesal Joo Heon.
"Jika aku melakukannya, aku pasti akan membunuhnya."
Joo Heon menghentikan langkahnya, merasa harus lebih bersabar lagi ketika Hyung Won lah yang menjadi partner-nya. Namun kali ini Joo Heon beruntung, karena jika Min Hyeok yang menjadi partner-nya, mungkin ia akan menjadi tersangka di hadapan si otak genius itu.
Di sisi lain, Chang Kyun berjalan dengan di apit oleh Hyeon Woo dan Hoseok, membuat tubuhnya yang sepadan dengan Kihyeon pun tampak semakin mengecil ketika di apit kedua orang berbahu tegap nan lebar tersebut.
Hoseok melontarkan pertanyaan untuk melunturkan kecanggungan, "ke mana tujuan kita?"
Hyeon Woo menyahut di saat yang termuda terlalu pendiam ketika tidak memiliki keperluan, "Distrik 4."
"Aku tidak yakin jika Joo Heon tidak akan pergi ke Distrik 7."
Langkah Chang Kyun tiba-tiba terhenti, seakan apa yang baru saja di ucapkan oleh Hoseok merupakan hal yang sangat fatal.
"Ada apa? Apa ada yang tertinggal?"
Chang Kyun menggeleng. Tanpa perlu repot-repot membuka mulutnya untuk menjawab, pemuda itu kembali melanjutkan langkahnya dan membuat Hoseok mengendikkan bahunya sebelum kembali berjalan beriringan.
Hyeon Woo kembali menyahut. "Ada Hyung Won bersamanya, dia tidak akan berani pergi ke sana."
"Tapi masuk akal juga."
"Apanya?"
"Kenapa Kihyeon melarang kita pergi ke sana?"
Chang Kyun yang sejak awal hanya berperan sebagai pendengar, lantas turut menyahut, "Distrik 7 jauh lebih berbahaya di bandingkan dengan Distrik 1 atau 2."
"Dari mana kau tahu?" Hoseok memandang penuh tanya.
"Kak Hwang pernah mengatakan hal itu padaku."
"Apa yang dia katakan padamu?" kali ini Hyeon Woo turut menyahut.
"Anggota militer di sana tidak sebanyak di Distrik 1 ataupun Distrik 2. Tapi di sana ada begitu banyak orang yang berpakaian seperti seorang dokter."
"Dokter?"
Kedua kakak tertua sekilas saling bertukar pandang, menunjukkan pertanyaan yang sama dalam sorot mata mereka.
"Apa mereka berniat membangun Rumah Sakit besar di sana? Kalau begitu, apanya yang berbahaya?"
Chang Kyun menyahuti pertanyaan Hoseok, "sangat berbahaya ketika kita tidak tahu apa tujuan mereka. Lagi pula dari awal Pemerintahan berniat menghapuskan kesembilan distrik, jadi untuk alasan apa lagi kita harus percaya pada Pemerintahan?"
Hyeon Woo tersenyum, menunjukkan rasa bangga dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Chang Kyun. Dengan ringannya tangannya terangkat dan mengusak singkat puncak kepala pemuda berperawakan dingin itu.
"Kihyeon beruntung memilikimu."
Chang Kyun memandang Hyeon Woo yang justru memberinya seulas senyum sebelum pandangannya teralihkan pada jalanan di hadapan mereka sehingga ia tak mampu menyadari tatapan Chang Kyun yang seakan tak terima dengan pernyataannya barusan.
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL
Menjelang siang hari, Kihyeon dan Min Hyeok berjalan menuju Distrik 1, distrik terjauh dari tempat mereka berasal. Keduanya sampai di sana dengan menaiki kereta api. Karena Kihyeon berpikir bahwa terlalu beresiko jika harus membawa mobil.
Min Hyeok yang sudah menahan rasa penasarannya sejak pertama kali melihat wajah suram Kihyeon di Bukit Terlarang pun mencoba untuk memulai pembicaraan di antara keduanya.
"Kenapa dengan wajahmu?"
Kihyeon sekilas memandang dan terkesan acuh. "Tidak apa-apa."
"Paman memukulmu?"
Kihyeon tersenyum tipis untuk sepersekian detik, menolak untuk memberikan jawaban yang berarti.
"Apa ada hubungannya dengan semalam? Aku dengar dari Kak Son bahwa anggota militer membawa denah Distrik 9 dari Kantor Kepala Distrik semalam."
"Sepertinya bukan hanya Distrik 9."
Min Hyeok memandang penuh tanya. "Maksudmu, kelima distrik yang tersisa juga melakukan hal itu?"
Kihyeon mengangguk. "Eumh ... sepertinya Pemerintahan bergerak lebih cepat dari perkiraanku."
"Mungkinkah ada hubungannya dengan percobaan pembunuhan Presiden?"
"Entahlah, aku bahkan tidak yakin jika pemimpin baru itu berpihak pada distrik atau sebaliknya."
Perjalanan panjang mereka berakhir pada tengah hari, di mana mereka baru bisa sampai di Distrik 1. Distrik terkaya yang kini menjadi distrik paling modern, di mana tak ada yang berprofesi sebagai petani karena ladang pertanian di sana telah di gusur untuk mendirikan cerobong asap raksasa yang setiap waktu mengeluarkan asap hitam yang mengepul dari bagian atas cerobong.
Dalam tiga tahun, sudah berdiri dua cerobong raksasa yang berjajar dan itulah yang membuat udara Distrik 1 terasa begitu panas. Lahan pertanian digantikan oleh pabrik, begitupun dengan para petani yang kini beralih profesi sebagai pekerja di pabrik tersebut. Namun alih-alih disebut sebagai pekerja, mereka lebih cocok untuk di sebut sebagai b***k. Karena mau tidak mau para laki-laki harus bekerja di sana dengan gaji yang bahkan tak bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka dalam sehari.
Jika orang-orang mengatakan Korea sudah merdeka atas penjajahan Jepang. Maka Kihyeon akan membuat petisi untuk menolak hal itu, karena apa yang ia lihat di Distrik 1 hampir tidak berbeda dengan apa yang pernah di lakukan militer Jepang pada mereka pada era penjajahan.
Memasuki distrik terlarang bagi malaikat kecil penjaga Distrik 9, keduanya berpencar. Memilih jalan mereka masing-masing setelah menentukan titik pertemuan mereka.
Menuju pusat distrik. Kihyeon melangkahkan kakinya menuju perpustakaan negara. Tempat yang terbuka untuk umum dan selalu ia singgahi ketika ia berkunjung ke distrik tersebut.
"Kau sudah makan?"
Langkah Kihyeon terhenti ketika ia akan menaiki anak tangga di hadapannya saat mendengar sebuah suara dari arah samping. Dia menoleh dan mendapati dua bocah berusia belasan tahun di sana.
"Ini sudah siang, kenapa belum makan?" ucap bocah yang memiliki ukuran badan lebih besar dari pada bocah yang terlihat lebih kecil yang saat itu duduk di bawah.
"Ibu dan ayah belum pulang."
"Memangnya mereka pergi ke mana?"
Si bocah yang duduk, menggeleng.
"Kapan mereka pergi?"
"Kemarin."
"Apa mereka membawa sesuatu saat pergi?"
"Mereka membawa tas besar."
"Ya! Dasar bodoh!" si bocah yang lebih dewasa memukul kepala bocah yang lebih kecil, "itu artinya mereka meninggalkanmu. Bagaimana kau bisa sesantai ini?"
"Kenapa Kakak mengatakan seperti itu? Ayah dan ibu tidak akan meninggalkan aku."
"Buktinya mereka meninggalkanmu, Bodoh!"
Tampak kesal, bocah yang lebih dewasa menempatkan diri duduk di samping bocah yang lebih muda. Dia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebungkus roti dan menyodorkannya ke hadapan si bocah yang tengah menunduk dalam.
"Makanlah ini untuk mengisi perutmu."
Si bocah yang lebih muda memandang. "Kakak mencuri lagi?"
"Aish ... Kau ini!" Merasa gemas, bocah yang lebih dewasa kembali memukul kepala yang lebih muda menggunakan roti di tangannya.
"Hanya memakannya, kenapa malah menuduhku mencuri? Lagi pula toko itu dulu adalah milik orang tuaku, untuk apa aku mencurinya?"
"Jangan memukulku terus. Jika Kakak terus memukulku, aku bisa jadi bodoh."
"Tanpa aku pukul sekalipun, kau memang sudah bodoh. Cepat makan!"
Kihyeon tersenyum miris, bahkan di distrik yang kaya itu masih ada anak yang kelaparan dan mencuri untuk bertahan hidup. Menunda niatan awalnya, Kihyeon lantas menghampiri kedua bocah tersebut. Di mana bocah yang lebih tua terus saja berceloteh seperti tengah meluapkan kekesalannya pada seseorang.
"Boleh aku bergabung?" sebuah teguran yang berhasil menarik perhatian dari kedua bocah di hadapannya.
Tanpa ada izin sebelumnya, Kihyeon segera menempatkan diri duduk di samping bocah yang lebih tua yang menatapnya penuh selidik, sangat berbeda dengan bocah polos di sebelahnya yang menatapnya sembari memakan roti.
"Kakak ini siapa?" pertanyaan menyelidik keluar dari bocah yang lebih tua.
Kihyeon mengulas senyum tipisnya. "Hwang Kihyeon."
Bocah yang lebih tua sempat tertegun sebelum kembali bersikap dingin. "Aku tidak bertanya nama Kakak. Kakak orang baru? Aku tidak pernah melihat Kakak sebelumnya."
"Aku juga tidak pernah melihat kalian sebelumnya, apa kalian tinggal di dekat sini?"
Bocah yang lebih muda mengangguk dan memberi jawaban, "rumah kami ada di gang sana."
"Ish ... kau diam saja! Jangan bersikap baik pada orang asing," hardik si bocah yang lebih tua.
"Meski aku orang asing, aku bukanlah orang jahat. Kalian tidak perlu bersikap waswas padaku."
"Kakak dari distrik berapa?"
Kihyeon memandang ke sekeliling sebelum mendekatkan kepalanya kepada dua bocah itu lalu berbisik, "Distrik 9."
"Wahh!" si bocah yang lebih muda hampir saja memekik jika bocah yang lebih tua tidak menyumpal mulutnya dengan sisa roti yang berada di tangan bocah itu.
Meninggalkan protesan yang lebih muda. Si bocah yang lebih tua memberikan tatapan menyelidiknya pada Kihyeon.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tegur Kihyeon.
"Kakak ini ... Hwang Kihyeon, putra dari Kepala Distrik 9?"
Sedikit kejutan kecil bagi Kihyeon. Dia memang sudah sangat terkenal di kalangan anggota militer, namun kenapa bocah di hadapannya itu mengenalinya. Apakah dia memang seterkenal itu?
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Tentu saja kami tahu," cetus si bocah yang lebih muda.
"Diam!" hardik yang lebih dewasa, "kau diam saja, biar aku yang bicara."
Bocah yang lebih dewasa lantas kembali menaruh perhatiannya pada Kihyeon. "Jadi Kakak ini benar Hwang Kihyeon yang itu?"
Kihyeon mengangguk, masih merasa penasaran tentang bagaimana anak-anak itu mengenalnya. "Sekarang katakan padaku, bagaimana bisa kalian mengenalku?"
"Aku sering mendengar para anggota militer membicarakan tentang Kakak."
Sebelah alis Kihyeon terangkat sekilas. "Membicarakanku? Tentang apa?"
"Banyak."
"Sebutkan yang kau ingat."
"Mereka mengatakan bahwa Kakak akan mengambil alih Distrik 9."
"Sepertinya mereka sangat takut pada Kakak," celetuk bocah yang lebih muda, dan kali ini yang lebih tua tak lagi menghardiknya.
"Bagaimana bisa?"
Bocah yang lebih muda mengendikkan bahunya. "Mereka mengatakan akan menjadi masalah besar jika sampai Kakak sampai mengambil alih Distrik 9. Mereka mengatakan akan lebih mudah jika Jang ..." si bocah menggantung kalimatnya dan tampak tengah mempertimbangkan sesuatu, "Jang, siapa, ya? Pokoknya itulah, akan lebih mudah jika Jang yang itu yang mengambil alih Distrik 9."
Penuturan polos yang membuat kedua alis Kihyeon saling bertautan dan tampak mencari jawaban itu sendiri ketika kedua bocah itu kembali berdebat.
"Kapan kau mendengarnya?"
"Tiga hari yang lalu."
"Kau menguntit?"
"Tidak ..."
"Ya! Sudah berapa kali aku katakan padamu, jangan dekat-dekat dengan mereka."
"Hyun Jae," celetuk Kihyeon yang seketika menghentikan perdebatan kedua bocah di hadapannya, "Jang Hyun Jae, apa itu orang yang kau maksud?"
"Bukan, seperti bukan itu."
Kihyeon terlihat ragu sebelum pada akhirnya berucap, "Jang Hyung Won?"
Si bocah yang lebih muda memekik kegirangan, "ah ... Benar, yang itu. Hyung Won, Jang Hyung Won."
Pandangan Kihyeon berpaling. "Hyung Won?" gumamnya dengan tatapan yang menyiratkan rasa tak percaya juga kebingungan. Namun ia tak diberi kesempatan untuk berpikir lebih jauh lagi ketika bocah yang lebih dewasa itu menegurnya.
"Kakak mengenal orang itu?"
Kihyeon mengangguk. "Ah ... aku tahu orangnya."
"Aku pikir Kakak ini sudah tua."
Kihyeon menarik senyumnya dengan paksa di saat pikirannya masih terbagi antara bocah di hadapannya dan juga tentang hubungan Hyung Won dengan pihak militer.
"Aku masih muda, usiaku baru dua puluh dua tahun. Omong-omong, siapa nama kalian?"
"Namaku Song Hyeon Jin, dan bocah ini Cha Jeongin. Usiaku tiga belas tahun dan dia dua belas tahun," terang bocah yang lebih dewasa dengan cara yang berhati-hati sembari melihat reaksi Kihyeon.
"Kalian masih bersekolah?"
Jeongin mengangguk namun Hyeon Jin menggeleng, membuat sebelah alis Kihyeon terangkat sekilas.
"Jadi mana yang benar?"
Hyeon Jin menjawab, "aku sudah tidak bersekolah lagi, sedangkan dia mungkin sebentar lagi juga akan putus sekolah."
"Kenapa Kakak mengatakan hal seperti itu? Aku masih ingin bersekolah," protes Jeongin.
"Kenapa kau berhenti sekolah?"
"Ayah dan ibuku menelantarkan aku dan lebih memilih hidup berdua di kota. Mereka melarikan diri, begitupun dengan orang tua bocah ini."
"Tidak ... ayah dan ibuku pasti kembali," sangkal Jeongin.
"Kapan? Jika mereka memang masih peduli padamu, bukankah seharusnya mereka membawamu? Bukannya malah meninggalkanmu di tempat terkutuk ini," ketus Hyeon Jin.
"Kakak kasar sekali, pantas saja paman dan bibi meninggalkan Kakak," kesal Jeongin.
"Kalian tinggal bersama siapa?" Kihyeon menengahi perdebatan kedua bocah di hadapannya.
"Aku tinggal sendiri di rumahku," jawab Hyeon Jin.
"Kau tidak memiliki kerabat?"
"Ketua Distrik menampungku."
"Ketua Distrik? Seo Young Guk?"
Hyeon Jin mengangguk dan lantas turut diangguki oleh Kihyeon. Kihyeon kemudian menurunkan ransel dari punggungnya dan membukanya. Dari dalam ransel tersebut, dia mengeluarkan kotak makan yang kemudian ia berikan pada Hyeon Jin.
"Ini, makanlah."
"Ini bekal Kakak."
"Tidak apa-apa, aku sudah makan banyak tadi pagi."
"Tapi Distrik 9 sangat jauh dari sini."
"Jangan cemaskan aku, kalian makan saja."
Dengan tak enak hati, Hyeon Jin menerima kotak makan tersebut. Kihyeon kemudian berdiri dan merogoh saku celananya. Mengeluarkan beberapa lembar uang yang kemudian ia berikan pada Hyun Jin.
"Ambil ini."
"Kami bukan pengemis."
"Aku memberikannya kepada seorang adik, bukan kepada pengemis."
Kihyeon meraih tangan Hyeon Jin dan menaruh uang di tangannya pada telapak tangan Hyeon Jin.
"Rahasiakan pertemuan kita hari ini. Jika waktu masih berpihak, mungkin kita akan bertemu lagi di lain waktu."
Dengan begitu, Kihyeon pergi meninggalkan kedua bocah itu. Memasuki perpustakaan dengan tatapan kagum dari Hyeon Jin yang mengiringi kepergiannya.
Namun saat telah mencapai teras perpustakaan, langkah Kihyeon terhenti. Kembali ia lihat dua bocah yang masih memandangnya. Untuk sesaat Kihyeon merasakan Deja Vu. Kedua bocah itu, Kihyeon seperti pernah melihat mereka berdua. Namun Kihyeon tidak yakin dengan ingatannya yang samar-samar itu. Hingga pada akhirnya ia memasuki perpustakaan tanpa mengingat bahwa salah satu dari kedua bocah itu adalah anak yang membuat luka di bahunya satu tahun yang lalu. Ada begitu banyak hal yang dipikirkan oleh Kihyeon sehingga ia tidak sempat mengingat kedua bocah yang hanya ia temui dalam waktu singkat itu.
Setelah Kihyeon menghilang dari pandangan mereka, Hyeon Jin bergumam, "bukankah kakak itu sangat keren?"
"Aku kira dia orang yang menakutkan, ternyata dia orang baik. Lalu kenapa para militer itu takut pada kakak itu?"
Hyeon Jin menjatuhkan pandangannya pada Jeongin dengan seulas senyum miring yang tersungging di salah satu sudut bibirnya.
"Kau dengarkan aku baik-baik. Suatu saat nanti, aku akan menjadi orang yang keren seperti kakak itu."
Jeongin mencibir, "cih! Bagaimana caranya? Jelas-jelas sifat kalian berbeda."
"Apa maksudmu?"
"Kakak tadi itu orang baik, sedangkan Kak Song mana bisa disebut baik."
"Ya!"
Satu pukulan kembali mendarat di kepala Jeongin, memulai kembali perkelahian mulut mereka yang sempat tertunda.
"Perbaiki mulutmu itu sebelum berbicara. Lihat saja, setelah ini jangan datang padaku jika kau menangis."
"Berhenti memukulku ... aku benar-benar bisa bodoh jika Kakak terus memukulku."
"Siapa yang peduli? Bahkan kau sudah bodoh sejak lahir."
"Aku tidak bodoh!" bantah Jeongin.
"Benarkah? Lalu siapa yang setiap hari memberikan uangnya kepada Lee Yong Bok dan Seo Chang Bin? Bukankah itu dirimu?" sinis Hyeon Jin.
"Mereka memaksaku."
"Dan kau memberikannya," sela Hyeon Jin. Tak pernah berhenti menyudutkan bocah yang lebih muda.
"Jika tidak aku beri, mereka akan memukulku."
"Itulah sebabnya. Karena kau bodoh, kau membiarkan mereka memukulmu."
"Aku tidak bodoh!"
"Bodoh."
"Aku bilang tidak." Jeongin tiba-tiba menangis.
"Jangan menangis, dasar menyedihkan."
Hyeon Jin memalingkan wajahnya dan terlihat jengah. Namun tiba-tiba saja tangis Jeongin terhenti. Membuat Hyeon Jin memandang dengan tatapan heran.
"Kenapa berhenti? Tidak jadi menangis?"
Jeongin menggeleng dan berucap, "tapi ... bukankah kakak yang tadi itu terlihat tidak asing? Aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat."
Hyeon Jin berucap sembari memandang pintu perpustakaan, "entahlah ... dia sepertinya tidak mengingat malam itu."
"Apa yang Kak Song bicarakan?"
Hyeon Jin kembali memandang Jeongin. "Sudahlah, lupakan. Pernah bertemu pun tidak ada gunanya. Sekalipun pernah bertemu, akan lebih baik jika dia tidak mengingat kita."
"Kenapa?"
"Aku menikamnya ... satu tahun yang lalu," ucap Hyeon Jin, namun hanya dalam hatinya di saat pada kenyataannya dia justru mengabaikan pertanyaan Jeongin dengan cara yang ketus.
Hwang Kihyeon tak bisa menemukan kenangan dari kedua bocah itu dalam ingatannya, begitupun dengan bocah bernama Cha Jeongin. Namun Song Hyeon Jin tampaknya tak bisa melupakan apa yang terjadi malam itu. Meski ia masih sangat ragu tentang identitas dari Hwang Kihyeon yang ia temui saat ini. Apakah laki-laki itu adalah orang yang sama dengan orang yang ia tikam satu tahun yang lalu. Hyeon Jin ingin memastikan hal itu, namun ia tidak memiliki cukup keberanian untuk melakukannya. Dan jika keduanya adalah orang yang sama, Hyeon Jin sedikit lega karena Kihyeon tidak mengingat mereka dan apa yang terjadi satu tahun yang lalu di Distrik 1 yang melibatkan ketiganya.
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL