"Dia bukanlah malaikat, dia adalah monster yang menjalani hidup layaknya malaikat. Dia adalah monster yang menyembunyikan kejahatan di dalam kegelapan. Sebuah sisi lain yang terungkap, sebuah kegelapan yang memudar dan menunjukkan kejahatan yang sesungguhnya. Dia adalah monster penjaga Distrik 9, Hwang Kihyeon." District 9 : Flower Of Evil
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL
Kembali ke jalan raya. Keempat pemuda itu berdiri di depan mobil, membiarkan Kihyeon duduk di bagian depan badan mobil dan menghadap ke arah ketiga rekannya yang berdiri mengelilinginya.
Min Hyeok menjadi orang pertama yang melontarkan pertanyaan. "Ada apa dengan lehermu?"
"Mereka menangkapmu sebelum aku sampai di Distrik 4."
"Distrik 1?"
"Distrik 2."
Hyeon Woo menyahut, "seharusnya kalian menggunakan kereta api."
"Aku kehabisan uangku."
Pandangan Kihyeon terjatuh pada lautan lepas yang masih bisa dijangkau oleh penglihatannya. Merasa begitu sepi meski ada tiga orang di sampingnya hingga perhatiannya teralihkan oleh suara Hoseok.
"Apa yang mereka lakukan padamu?"
Kihyeon menggeleng, menolak memberikan jawaban dan malah balik menuntut dengan suara yang sama sekali tak menunjukkan minatnya.
"Sekarang berikan penjelasan padaku."
Hyeon Woo yang sudah banyak mendengar kesaksian atas insiden yang terjadi semalam pun memberi penjelasan dan menarik perhatian ketiga rekannya.
"Sekitar pukul delapan malam, beberapa orang mendengar keributan dari rumahmu dan disusul oleh suara tembakan. Tapi semua orang baru keluar setelah Min Hyeok datang dan menemukan Seo Hye di dalam rumahnya."
"Kapan kau sampai di distrik untuk mengambil mobilku?" Kihyeon mengajukan pertanyaan pada Min Hyeok.
"Sekitar pukul tujuh. Saat itu paman dan bibi sedang makan malam."
"Kau tidak melihat ada yang mencurigakan?"
Min Hyeok menggeleng. Namun setelahnya berucap penuh pertimbangan, "tapi ... ada yang aneh dengan sikap paman."
"Kenapa?"
"Saat aku mengatakan ingin meminjam mobilmu, paman menanyakan keberadaanmu. Tapi setelah aku menjawab bahwa kau berada di kedai, paman tidak mengatakan apapun lagi."
"Apa yang aneh dengan itu?" heran Hoseok.
"Biasanya Paman Sejin tidak akan percaya dengan begitu mudah."
"Dia tahu aku pergi ke Distrik 1," celetuk Kihyeon. "Harusnya dia memarahiku tadi malam."
Ketiganya saling bertukar pandang, tak memiliki kata-kata untuk menghibur rekan mereka.
"Tidak ada saksi mata?" Kihyeon kembali bertanya.
Min Hyeok menyahut, "kau tahu sendiri jika orang-orang di distrik tidak akan berani meninggalkan rumah ketika mendengar suara tembakan. Mereka baru keluar setelah aku berteriak. Aku pikir hanya orang tua Seo Hye, tapi Chang Kyun datang dengan membawa kabar buruk dari keluargamu."
"Mungkinkah anggota militer? Orang asing itu, mungkin?" timpal Hoseok.
Kihyeon menyangkal. "Bukan dia."
"Kenapa kau begitu yakin?"
"Dia mengantarkan aku sampai ke perbatasan semalam."
Ketiga rekan Kihyeon saling bertukar pandang, merasa sangat janggal dengan pengakuan pemuda itu mengenai perwira asing tersebut.
"Kau mengenalnya?" selidik Min Hyeok dan mempertemukan pandangannya dengan tatapan sendu milik Kihyeon.
Kihyeon menjawab, "hanya sekedar hutang yang harus aku bayarkan di masa depan."
Hyeon Woo menyahut tak percaya, "dia yang menolongmu?"
Pandangan Kihyeon terjatuh pada ujung sepatu putihnya. Menolak untuk memberi jawaban dan membawa netra teduh yang dipenuhi oleh luka itu kembali bertemu dengan hamparan luas lautan yang terlihat begitu tenang dari kejauhan.
"Kita kembali ke distrik sekarang."
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL
Setelah sampai di Distrik 9, keempatnya pulang ke rumah masing-masing. Sebelum kembali ke rumahnya, Kihyeon terlebih dulu mampir ke rumah Seo Hye untuk melihat keadaan gadis muda itu.
Pintu di hadapannya terbuka oleh perantara tangan kirinya, dan saat itu ia di hadapkan pada sosok gadis muda yang saat itu tengah duduk di salah satu kursi yang berada di ruang tamu. Tampak gadis muda itu telah mengganti pakaiannya menjadi Hanbok berwarna putih serta sebagian rambut yang diikat dengan rapi. Terlihat begitu cantik dan mungkin jika Kihyeon melihat Seo Hye dengan penampilan saat ini dalam kesempatan lain, mungkin ia akan kembali jatuh pada gadis itu. Namun hanya ada luka di setiap senyum yang ia lontarkan hari ini dan mungkin akan berlangsung dalam waktu yang lama.
Melangkah masuk. Tangan kanan Kihyeon tergerak untuk menutup pintu sebelum langkahnya membimbingnya untuk mendekat pada wanitanya yang menunggunya dengan rasa cemas yang tersembunyi di paras cantiknya.
"Kau sudah makan?" Kihyeon berdiri di hadapan Seo Hye yang kemudian memberikan sebuah gelengan pelan.
"Kau harus makan, aku tidak bisa menjagamu jika kau sakit."
"Aku akan makan nanti, jangan cemaskan aku."
Kihyeon menjauhkan kursi di dekatnya dan menjatuhkan kedua lututnya pada lantai. Terduduk di bawah, ia lantas menaruh kepalanya di atas pangkuan Seo Hye dengan tatapan teduh yang terkesan kosong ketika fisik dan hatinya terluka di waktu yang bersamaan.
Bisa Seo Hye rasakan napas pendek milik kekasihnya yang terdengar begitu menyakitkan dan membimbing tangannya untuk mengusap surai hitam itu dengan lembut.
"Kenapa Orabeoni menghilang sejak pagi?" Seo Hye melontarkan pertanyaan. Berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja.
"Aku pergi ke Distrik 1."
"Lagi? Di sana sangat berbahaya, kenapa Orabeoni selalu pergi ke tempat seperti itu?" sebuah tuntutan yang terdengar begitu lembut, seakan tuntutan itu tak bermaksud untuk memojokkan pemuda itu.
"Aku hanya ingin melihat mereka, aku ingin melihat semuanya."
Kelopak mata Kihyeon menutup seiring dengan air mata yang melepaskan diri dari kedua sudut matanya. Meneguk ludah dengan kasar di saat napasnya terasa semakin berat. Dia tahu dia akan menangis, namun dia berusaha untuk tetap terlihat kuat di hadapan pujaan hatinya yang mulai sekarang akan sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya.
Kedua tangan Kihyeon terangkat dan menyusup ke balik tubuh Seo Hye. Memeluk pinggang ramping sang kekasih. Mencoba menemukan ketenangan agar ia tidak menangis lagi. Namun seribu kali ia menolak mengakui bahwa luka yang ia dapat terlalu menyakitkan, maka seribu kali pula sakit itu akan menghujam jiwanya. Memberikannya tekanan hingga ia mengakui kekalahannya.
"Tolong aku," gumam Kihyeon hampir tak terdengar. Namun nyatanya gumaman itu sampai pada pendengaran Seo Hye.
Tangan gadis muda itu bergerak turun. Satu tangan berhenti pada punggung Kihyeon dan tangan lainnya menangkup wajah yang mencoba bersembunyi darinya itu dengan sangat berhati-hati, mengingat terdapat beberapa luka kecil yang masih baru di sana.
Menolak untuk menangis, gadis muda itu justru mengulas senyumnya sedikit lebar meski matanya yang berair dengan tatapan sendu tak mampu memungkiri bahwa ia pun juga terluka karena kejadian ini.
Menghela napas beratnya dengan pelan. Seo Hye menekan rasa sakit yang kembali menyeruak untuk bisa mengatakan sesuatu yang berarti untuk kekasihnya, meski pada kenyataannya hal itu begitu sulit untuk di ucapkan.
"Orabeoni."
"Hmm." Masih dengan kelopak mata yang tertutup rapat, Kihyeon menyahuti dengan sebuah gumaman.
"Setelah ini, aku harus ikut siapa?"
"Kau akan ikut denganku. Aku ... akan menjagamu dan juga Chang Kyun."
Seo Hye kembali tersenyum namun senyum yang lebih tipis di bandingkan sebelumnya. "Jika aku nanti sangat merepotkan, Orabeoni bisa meninggalkan aku."
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu kecuali jika hari itu adalah hari kematianku."
Senyum Seo Hye tertarik lebih lebar dengan paksa. "Kenapa kau bicara seperti itu?"
Kelopak mata Kihyeon terbuka secara perlahan. Di raihnya telapak tangan yang menangkup wajahnya yang kemudian ia turunkan seiring dengan ia yang menjauhkan tubuhnya. Menegakkan tubuhnya dan mendongak untuk melihat wajah sang kekasih hatinya yang kala itu memberikannya seulas senyum untuk menutupi kesedihan di balik paras cantik itu.
"Kau baik-baik saja?"
Seo Hye mengangguk dengan senyuman yang tertahan di kedua sudut bibirnya.
"Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu."
"Apa itu?"
"Tentang semalam."
Garis senyum di wajah Seo Hye tiba-tiba menghilang, namun tak pernah ada kemarahan di garis wajah gadis muda itu ketika ia di hadapkan pada Kihyeon. Sedangkan Kihyeon yang menyadari kekhawatiran di wajah gadis itu lantas menggunakan kedua tangannya untuk menggenggam telapak tangan milik gadis itu dengan lembut.
"Kau tahu siapa pelakunya?"
Tatapan Seo Hye sedikit gemetar. Gadis itu menunduk dan memberikan sebuah anggukan hingga sedikit remasan lembut pada tangannya membuatnya kembali memandang wajah pemuda yang saat ini berlutut di hadapannya.
"Katakan padaku."
"Anggota militer."
Rahang Kihyeon tiba-tiba mengeras. Pernyataan kecil yang kembali mengungkit rasa sakit yang baru saja teredam. Namun ia tidak mungkin menunjukkan kemarahannya pada gadis yang ia cintai meski sekalinya ia marah, ia bisa membunuh siapapun.
"Bagaimana kejadiannya? Ceritakan padaku."
"Aku tidak tahu pastinya, saat itu aku berada di kamar. Terjadi keributan di luar dan aku keluar dari kamar, ibu pun juga ada di sana."
"Lalu?"
"Ayahku tiba-tiba datang dengan wajah yang terlihat panik. Ayah menyeretku ke kamar dan memperingatkan aku untuk tidak keluar sebelum dia menutup pintu dari luar." Seo Hye menghembuskan napas beratnya.
Kihyeon yang menyadari hal itu lantas mengusap lembut punggung tangan Seo Hye guna menenangkan gadis muda itu.
"Tidak apa-apa, katakan saja."
"Setelah itu aku mendengar seseorang mendobrak pintu dan aku mendengar ayahku bertengkar dengan seseorang. Aku kemudian mengintip dari balik pintu dan anggota militer itu menembak ayah dan ibuku sebelum pergi."
"Kau melihat wajahnya?"
Seo Hye mengangguk dengan ragu.
"Jika melihatnya lagi, apa kau akan mengenalinya?"
Seo Hye kembali mengangguk. "Aku tidak bisa melupakan wajah orang itu."
"Jika suatu saat nanti kau melihat orang itu lagi, kau harus mengatakannya padaku."
"Apa yang akan kau lakukan?"
Kihyeon menggeleng dengan senyum palsu yang menutupi kebencian yang kini tumbuh dengan leluasa di dalam hatinya.
"Kau tidak perlu tahu."
"Jangan berbuat hal yang macam-macam. Mereka bukanlah orang yang bisa kau lawan."
"Hanya menyelesaikan urusan yang tertunda. Kau tenang saja, aku tidak akan pergi sebelum memastikan masa depanmu."
"Hentikan! Kenapa berbicara seperti itu?" protes Seo Hye ketika perkataan Kihyeon justru membuat hatinya tak tenang. Namun apa yang kini dilakukan oleh pemuda di hadapannya itu? Tentu saja, pemuda itu hanya tersenyum seperti biasa.
"Kau melihat Chang Kyun?" Kihyeon mengalihkan topik pembicaraan.
"Tadi dia ada di sini, tapi beberapa waktu yang lalu dia pergi bersama Hyung Won."
"Hyung Won ada di sini?"
"Dia hanya datang untuk memanggil Chang Kyun. Chang Kyun mengatakan bahwa dia akan pergi ke Bukit Terlarang."
Kihyeon mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya sudah, kalau begitu cepatlah makan. Aku akan menyusul Chang Kyun."
"Jangan pergi terlalu lama. Kau juga harus istirahat."
Kihyeon hanya memberikan seulas senyum yang semakin membuatnya terlihat lebih misterius dari waktu ke waktu. Dia berdiri dengan genggaman yang terlepas sebelum langkah itu berbalik dan berjalan pergi dengan seulas senyum yang tiba-tiba memudar ketika ia memunggungi Seo Hye. Menampilkan sosok yang lebih dingin dan lebih tak bersahabat dibandingkan sebelumnya ketika kebencian itu telah menjadi landasan akan perjuangan yang akan ia lakukan setelah kesedihan ini berakhir.
Siapakah itu? Orang yang memanggil nama Hwang Kihyeon dengan lantang kali ini?
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL