Laboratorium Penelitian Distrik 7.
Beberapa laki-laki berpakaian layaknya seorang dokter terlihat berlalu-lalang di depan sebuah pintu yang tertutup rapat. Salah seorang tampak meninggalkan ruangan itu dan terlibat sedikit pembicaraan dengan rekan yang ia temui.
"Dia sudah bangun, sebaiknya kita segera memberitahukan pada Profesor Shin."
Mereka pergi menjauh, sementara itu di ruangan yang baru saja ditinggalkan, di sanalah seorang pemuda duduk terikat di sebuah kursi yang berada di tengah ruangan dengan cahaya yang hanya menyoroti dirinya. Membuat setiap sudut terlihat gelap.
Pemuda yang tampaknya telah tak sadarkan diri dalam waktu lama itu pada akhirnya membuka kedua kelopak matanya secara perlahan. Namun rasa ngilu langsung menyerang lehernya ketika ia mendapatkan kembali kesadarannya.
Kepala yang sedari tadi menunduk itu lantas terangkat, membiarkan sedikit cahaya di sana mengungkap identitasnya.
Hwang Kihyeon, memandang ke sekeliling dengan dahi yang mengernyit serta mata yang memicing. Seperti dugaan Chang Kyun yang berpikir bahwa Kihyeon tengah berada di Distrik 7.
Sebelumnya mobil Kihyeon dihadang ketika ia hampir sampai di Distrik 9, dan darah yang tampak mengering di kening dan merembes ke sisi wajahnya sudah cukup membuktikan bahwa pemuda itu sempat melakukan perlawanan sebelum pada akhirnya harus berakhir di sana.
Kihyeon sempat berkelahi dengan seorang pria yang menyerang dirinya di dalam mobil, itulah alasan kenapa saat Min Hyeok menemukan mobilnya, kunci itu berada di bawah. Saat itu Kihyeon masih memiliki peluang untuk melarikan diri. Namun pria lain membuka pintu dibelakangnya lalu menancapkan benda kecil yang dirasa Kihyeon cukup tajam pada area lehernya. Dan setelah Kihyeon merasakan ada sesuatu yang memasuki aliran darahnya, perlahan ia kehilangan kesadarannya.
Kihyeon sekilas memiringkan kepalanya sehingga bagian samping leher sedikit tertarik. Hal itu ia gunakan agar bisa dengan cepat beradaptasi dengan bekas suntikan di lehernya yang masih menyisakan sensasi ngilu. Karena ingin menggunakan tangannya pun itu tidak mungkin.
"Tempat apa ini?" gumam Kihyeon.
Pemuda itu mendongak, namun matanya segera menyipit begitu menemukan sebuah lampu yang berada tepat di atas kepalanya. Dengan cepat pemuda itu kembali menjatuhkan pandangannya.
"Siapapun di sana, tunjukkan dirimu!" tegur Kihyeon ketika ia tak tahu seberapa luasnya tempat ia berada saat ini.
Kihyeon berusaha untuk membuka ikatan tangannya, namun ia kesulitan untuk menemukan tali simpul pada ikatan di tangannya. Hingga perhatiannya kemudian teralihkan oleh suara pintu yang sedikit berderit, menegaskan bahwa seseorang hendak memasuki ruangan itu. Pandangan Kihyeon fokus pada asal mula suara yang berada tepat di hadapannya. Dan suara ketukan sepatu pada lantai itu berhasil mengusik pendengaran Kihyeon. Dan dari suara itu pula Kihyeon yakin bahwa tempat dia berada saat ini adalah ruangan kedap suara.
Dalam waktu singkat, Kihyeon berhasil menemukan sosok yang baru saja memasuki ruangan itu. Seorang pria paruh baya berkacamata. Memiliki aura tegas dan dingin. Sekilas Kihyeon seperti tidak asing dengan wajah pria itu meski ini adalah pertemuan mereka yang pertama.
Shin Dokyun, salah satu orang yang bertanggungjawab atas seluruh aktivitas di Laboratorium Penelitian Distrik 7. Pria itu berdiri dalam jarak satu meter dari tempat Kihyeon berada. Dan tentu saja tatapan tajam dan menyelidik milik Kihyeon segera menghakimi pria itu.
Suara berat pria terdengar untuk kali pertama, "kau kah yang bernama Hwang Kihyeon, putra dari Ketua Distrik 9 Hwang Sejin itu?"
Tak berniat menjawab, Kihyeon justru balik melontarkan pertanyaan. Menuntut namun terlihat tenang.
"Siapa kalian? Kenapa kalian membawaku kemari?"
Shin Dokyun mendekati Kihyeon dan berjalan melewati pemuda itu. Membuat ekor mata Kihyeon mengikuti pergerakannya. Si Profesor lantas berdiri tepat di belakang Kihyeon. Memperhatikan pemuda itu dari belakang.
Tangan kiri Shin Dokyun menepuk bahu Kihyeon dan menahannya di sana. Namun hal itu membuat Kihyeon menyadari sesuatu.
"Dia kidal," batin Kihyeon.
Kihyeon mengetahui bahwa pria di belakangnya itu kidal karena ia telah memperhitungkan tekanan yang diberikan oleh tangan kiri milik seseorang yang kidal. Dan tidak sulit membedakannya karena ia mengenal pemuda yang juga kidal, dan pemuda itu adalah Shin Chang Kyun.
Shin Dokyun kembali berucap, "di mana kau menyembunyikannya?"
Netra tajam Kihyeon sedikit memicing, tentunya tak mudah memahami maksud Shin Dokyun hanya dengan pertanyaan seperti itu tanpa mengatakan sebuah objek dengan jelas. Namun meski begitu Kihyeon tetap menyahut.
"Apapun yang kau cari, aku tidak memilikinya. Jadi sekarang lepaskan aku."
"Berkas yang kau curi dari tempat ini," sahut Shin Dokyun tepat setelah Kihyeon selesai berbicara.
Kihyeon yang mendengar hal itu tentu saja terkejut. Karena ucapan Shin Dokyun sebelumnya sekaligus mengungkapkan pada Kihyeon di mana pemuda itu berada saat ini. Dan dengan begitu tingkat kewaspadaan Kihyeon semakin bertambah ketika Detak jantungnya sedikit memburu.
Shin Dokyun menarik tangannya dari bahu Kihyeon dan menautkan kedua tangannya di balik punggung.
Pria itu kembali menegur, "kau masih mengatakan bahwa kau tidak memilikinya? Yang aku dengar, Hwang Kihyeon dari Distrik 9 bukanlah seorang pecundang. Dia bahkan bisa menghabisi nyawa Kim Dae Shik—perwira tinggi militer Distrik 1."
Shin Dokyun kembali melangkahkan kakinya, dan kali ini ia berhenti tepat di samping Kihyeon.
"Katakan di mana kau menyembunyikan semua berkas itu," terdengar lebih dingin.
Keterkejutan Kihyeon berakhir. Setelah pria itu mengungkit apa yang ia lakukan pada musim dingin tahun lalu, Kihyeon seakan telah melupakan bahwa dia bisa mati kapanpun di tempat asing itu. Pemuda itu kini menatap Shin Dokyun secara terang-terangan.
Tanpa keragua, Kihyeon mengucapkan pertanyaan yang terdengar cukup mengintimidasi. "Kenapa? Kenapa kalian menginginkannya kembali?"
Netra tajam Shin Dokyun sedikit memicing, menyadari perubahan dari nada bicara Kihyeon.
"Kau harus mengembalikan apa yang kau ambil ke tempat semula, dengan begitu semua kehidupan akan berjalan dengan baik."
Sudut bibir Kihyeon tersungging. "Apa yang sedang kalian takutkan? Sudah aku katakan bahwa aku tidak memilikinya lagi."
Shin Dokyun sempat terdiam, tampak tak terpengaruh oleh ucapan Kihyeon. Namun setelahnya pria itu langsung mencengkram dagu Kihyeon, membuat pemuda itu mendongak dengan paksa.
"Kau tidak boleh mempermainkan orang tua yang sedang bertanya padamu? Kau mungkin tidak akan mati hari ini, tapi siapa yang tahu besok."
"Tidak perlu repot-repot. Aku tidak berpikir untuk berjabat tangan denganmu." Kihyeon tersenyum lebar di akhir kalimat.
"Kau tidak pernah mengkhawatirkan dirimu sendiri, tapi bagaimana dengan orang-orang yang ingin kau lindungi?"
Garis senyum di wajah Kihyeon memudar, tergantikan oleh tatapan penuh kemarahan. Dan ancaman Shin Dokyun terbukti berhasil.
"Kau bisa mati setelah membuat upacara pemakaman untuk mereka."
"Ancamanmu terlalu biasa, Pak Tua," gumam Kihyeon.
"Satu hal yang perlu kau ketahui, Nak. Distrik 7 adalah tempat di mana kau tidak akan bisa keluar setelah memasuki tempat ini."
Shin Dokyun mendorong wajah Kihyeon ke samping dan mengembalikan kedua tangannya ke balik punggung.
"Kau datang kemari dan mengambil berkas-berkas itu, itu berarti kau sudah melihat para pasien itu ... kami tidak membunuh manusia dengan cuma-cuma. Alih-alih membunuh orang-orang yang ingin kau lindungi, aku berencana mengajak mereka bergabung ... bagaimana menurutmu? Bukankah itu lebih baik dibandingkan dengan kematian?"
"Benarkah kau menganggap mereka sebagai pasien?" Kihyeon kembali memandang, "bukankah di mata kalian mereka hanyalah seekor tikus percobaan?"
"Aku tidak ingin menerima kritik. Tentukan sekarang ... jika kau bungkam, kau akan melihat satu kerabatmu memasuki tempat ini malam ini."
Shin Dokyun mengeluarkan sesuatu dari saku jas laboratorium yang ia kenakan. Dan hal itu tentu saja menarik perhatian Kihyeon.
Rahang Kihyeon mengeras ketika ia melihat sebuah suntikan dengan cairan yang masih utuh di dalamnya.
"Semua tergantung pada keputusanmu," ucap Shin Dokyun yang kemudian hendak menyuntikkan cairan itu ke lengan Kihyeon.
Kihyeon tak bisa menghindar. Meski ia yakin obat itu tidak akan membuatnya mati, namun ia tahu bahwa obat itu tentunya akan menimbulkan efek yang buruk.
"Aku membakarnya," gumam Kihyeon tepat saat ujung jarum suntik bersentuhan dengan permukaan kulitnya.
Sejenak Shin Dokyun menghentikan pergerakannya. "Kau bilang apa?"
Kihyeon kembali memandang dan berucap tenang namun penuh penekanan, "aku membakarnya ... semuanya, tidak ada yang tersisa."
"Kau berharap aku akan mempercayainya?"
"Jika kau tidak dungu, kau pasti mendengarnya dengan jelas. Aku membakar semuanya."
"Renungkan semuanya selama kau masih di sini."
Shin Dokyun benar-benar menyuntikkan cairan itu ke lengan Kihyeon yang sedikit mengernyit akibat sensasi yang ditimbulkan dari jarum kecil yang menusuk lengannya.
Shin Dokyun mengusak kasar kepala Kihyeon sebelum meninggalkan Kihyeon. Namun hanya berselang beberapa detik, efek dari obat itu mulai dirasakan oleh Kihyeon.
Pandangan Kihyeon perlahan kabur bersamaan dengan kepalanya yang terasa memberat. Namun separuh kesadarannya masih mendengar percakapan Shin Dokyun dengan seorang wanita di pintu masuk.
"Dia sudah memberitahukan pada Profesor?" tanya wanita itu.
"Dia mengatakan bahwa dia sudah membakar semuanya. Kita tidak bisa mempercayai ucapannya begitu saja sebelum memastikannya secara langsung."
"Profesor memberikan obat penenang padanya?"
"Tambahkan dosisnya setiap kali dia bangun. Lakukan saja sampai dia berkata jujur."
Suara pintu tertutup, kesadaran Kihyeon yang semakin menghilang masih bisa menyadari bahwa seseorang tengah mendekati tempatnya. Sepasang sepatu wanita terlihat samar dalam pandangan Kihyeon.
Pemuda itu perlahan mengangkat wajahnya yang terasa berat untuk menemukan sang pemilik dari sepasang sepatu yang telah keluar dari kegelapan tersebut. Kihyeon menemukannya, seorang wanita. Namun sayangnya tak ada gambaran yang jelas dari wajah wanita itu hingga kesadarannya yang hilang sepenuhnya.
Kepala pemuda itu tertunduk dengan netra yang tertutup rapat. Semetara wanita yang juga memakai seragam laboratorium itu mendekati Kihyeon. Berdiri di hadapan Kihyeon, wanita itu menangkup wajah Kihyeon dan sedikit menariknya. Membuat wajah Kihyeon menghadap padanya.
"Kau seharusnya tidak bertindak bodoh, Hwang Kihyeon."
Wanita itu memandang Kihyeon dengan tatapan yang lembut seakan tengah mengasihani pemuda itu. Dan usapan lembut ibu jarinya pada wajah pemuda itu menegaskan bahwa terdapat perhatian lebih terhadap pemuda itu.
Kim Hyun Jeong, identitas dari wanita itu. Wanita yang pernah tersesat di Distrik 9 dan menerima bantuan dari Hwang Kihyeon. Wanita yang mengaku bekerja sebagai guru sekolah dasar di Distrik 7 itu pada nyatanya tidak pernah mendatangi sekolah dasar di distrik itu.
Kim Hyun Jeong, wanita kelahiran Gwangju sekaligus lulusan sala satu universitas di Seoul itu pada kenyataannya bekerja untuk pemerintahan. Merupakan seorang Ilmuwan yang juga terlibat dalam segala aktivitas yang terjadi di Laboratorium Penelitian Distrik 7. Dan orang yang membuat Kihyeon harus berakhir di tempat itu bukanlah orang lain, melainkan dirinya sendiri.
Kim Hyun Jeong, sedari awal wanita itu pergi ke Distrik 9 sebagai mata-mata. Dan tugasnya berakhir dengan cepat ketika ia menemukan bahwa Kihyeon lah yang telah menjarah Laboratorium Penelitian Distrik 7. Sekembalinya Hyun Jeong ke Distrik 7, wanita itu segera memberitahukan kepada para petinggi di sana bahwa berkas yang mereka cari tengah berada di tangan Hwang Kihyeon dari Distrik 9.
Namun setelah melihat Kihyeon berada di sana, hati kecil Hyun Jeong memberontak. Ketulusan hati Kihyeon waktu itu membuatnya kembali berpikir, pantaskah ia melakukan hal itu pada orang yang sudah berbaik hati padanya. Tapi semuanya sudah tidak berguna ketika karena dirinyalah seorang pemuda harus menanggung nasib buruk di tempat itu.
"Aku akan meminta maaf dengan layak jika masih diberikan kesempatan," sebuah pengakuan yang bahkan tak bisa dicuri dengar oleh angin.
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL