Shine membuka mata perlahan, disambut oleh sinar matahari yang terang yang menyelinap masuk melalui tirai tipis kamarnya. Pusing yang menyiksa langsung menyapanya begitu ia mencoba duduk. Ingatannya masih kabur, tetapi rasa mabuk yang melanda membuatnya menyadari bahwa malam sebelumnya tidak berlangsung seperti biasa.
Dengan perasaan tak nyaman, Shine melihat sekeliling kamarnya yang kacau. Pakaian yang dikenakannya semalam berserakan di lantai. Membuatnya sadar jika ada yang tidak beres. Shine belum pernah berganti baju sendiri saat mabuk. Itu bukan kebiasaannya.
Kemudian, pandangannya tertuju pada sebuah kartu nama yang tergeletak di samping tempat tidurnya. Shine mengambilnya dan membacanya dengan perlahan.
"Nathanael Mattson," gumamnya, mencoba mengingat wajah atau kenangan terkait dengan nama itu. Namun tetap saja, segala sesuatu tampak buram. Di belakang kartu itu ada nomor hp, email, dan nama ND Company yang diketahui sebagai perusahaan makanan yang cukup besar. Mereka biasa memproduksi mie instan, minuman kaleng, perbumbuan, serta makanan-makanan instan lainnya yang sudah ekspor sampai ke luar negri.
Dengan tubuh yang masih lemah akibat mabuk, Shine bangkit dari tempat tidurnya. Ia melangkah menuju kamar mandi dengan hati-hati, mencoba untuk menghindari suara-suara yang menyakitkan di kepala.
Sembari membasuh wajahnya, pikirannya mulai merayap untuk mencari jawaban. Siapa Nathanael Mattson dan mengapa kartu namanya ada di sini?
Shine kembali ke kamar dan mencoba merapikan sedikit kekacauan yang terjadi semalam. Pada saat yang sama, ia meraba-raba ingatannya untuk menemukan petunjuk yang bisa membantunya mengungkap misteri ini.
"Sialllll!!!! Apa yang terjadi semalam? Kenapa aku berganti baju bersih, dan baju kotorku berserakan? Apa dia berbuat kurang ajar? Siapa Nathanael ini?" Dercaknya kesal.
Sementara pikirannya berputar-putar, Shine mengambil keputusan untuk menghubungi Nathanael Mattson. Ia memang tidak ingat apa-apa yang terjadi semalam. Tapi jika pria itu berbuat macam-macam, dia akan memberinya pelajaran yang setimpal.
"Nathanael Mattson di sini. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang pria dengan suara huskynya yang khas.
"Heh...."
"Oh kamu, Shine Angela? Ini sudah jam berapa? Katanya kamu mau kerja?" Pria itu langsung memotong pembicaraan saat Shine baru akan bicara.
"Ker---kerja? Kamu akan memberiku pekerjaan? Kamu boss di perusahaan besar ini?" Shine tergagap tak percaya.
"Tidak ingat apa yang terjadi semalam? Kamu merengek meminta pekerjaan padaku?!" Ujar Nathan dingin.
"Jadi kamu tidak mengganti pakaianku?"
"Apa yang kamu bicarakan?"
"Baik, aku akan segera datang dan membawa berkas lamaran! Terimakasih banyak!" Shine memotong pembicaraan dengan wajah memerah. Ia juga memukuli wajahnya beberapa kali karena malu telah menuduh orang sembarangan.
Sedangkan di sebrang sana, seorang pria membanting pulpennya dengan frustasi.
Karena terlalu terbawa suasana saat berbicara dengan Shine semalam, membutnya kehilangan akal. Nathan dikuasai rasa kasihan akan nasib wanita itu yang begitu mirip dengan ibunya.
Bahkan semalam...
"Terimakasih sudah mengantarku!" Dengan badan sempoyongan Shine berdada-d**a kepada pria yang bajunya sudah kotor dan penuh dengan muntahannya. Bahkan mobil Nathan tak luput dari muntahan Shine yang menjijikkan.
"Enak saja, aku pinjam kamar mandi! Mau ganti baju sebentar!"
"Ohhh mau ganti baju? Ayo silahkan!" Shine tertawa. "Tapi jangan maling! Mengerti?" Shine menepuk-nepuk puncak kepala Nathan. "Anak baik! Andai aku punya anak semanis kamu, aku mungkin tidak akan ditinggalkan dan menyedihkan seperti ini!"
Nathan kesal, namun ia juga kasihan melihatnya hancur seperti itu. Ibunya juga pernah di fase ini. Tidak ada satupun obat yang bisa menyembuhkan luka itu dengan sempurna. Bekasnya akan tetap ada sampai kapanpun.
Setelah Nathan berganti baju, ia melihat Shine duduk di lantai seraya kembali meminum sekaleng alkohol. Tadinya Nathan tidak mau ikut campur dan ingin langsung pulang. Tapi hati nuraninya tergerak untuk menolongnya.
"Jangan minum terus." Nathan merebut bir milik Shine.
"A----"
"Tidak usah protes! Ayo ganti baju!" Tatapan Nathan menuju ke arah lemari setelah membuang minuman itu ke tong sampah. Nathan mengambil satu piyama bersih lalu mengangkat wanita itu ke arah ranjang.
"Aku tidak akan melihatnya, ayo buka pakaianmu. Kamu harus berganti baju, atau kamu akan tidur dengan pakaian basah dan kotor itu." Tegasnya.
"Tidak mau!" Shine mencebikkan bibir. Melipat tangannya di d**a seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Nanti akan aku berikan hadiah."
"Hadiah?" Mata Shine langsung bercahaya saat mendengar kata hadiah. Tak mau menunggu lama, dia langsung membuka bajunya. Tentu dengan kesadaran yang tipis.
Nathan yang saat ini menghadap ke arah yang berlawanan memberi pakaian bersih kepada Shine. "Pakai itu, cepat!"
"Mana hadiahku?"
"Pakai dulu baju bersihnya!"
Shine pun menurut dan segera memakai baju bersihnya, menuruti apa yang Nathan katakan. Andai saja dia sadar, hal ini tidak akan terjadi. Siapa yang mau berganti pakaian di hadapan orang asing?
"Sudah?" Nathan bertanya.
"Hmmmmm."
Nathan akhirnya berbalik badan setelah Shine memberi jawaban. Ia lalu membuang baju kotornya di lantai, dan mengangkat kaki wanita itu ke atas ranjang. "Tidurlah dan istirahat." Lanjutnya seraya menarik selimut Shine hingga ke d**a.
"Kenapa semua ini harus terjadi padaku..." Shine meneteskan airmatanya seraya menatap Nathan. Mata sayunya membuat Nathan tak tega. Ia biasanya tidak sebaik ini dengan wanita, apalagi orang asing. Tapi keadaanya berbeda saat ini.
"Wajahmu mirip sekali dengan Kim Jong-in. Apa jangan-jangan kamu memang dia? Ahhh aku tahu, pasti kamu hayalan yang dikirim semesta untuk menghibur wanita menyedihkan ini!" Shine tertawa seraya menangkap wajah Nathan dan membawa pria itu untuk lebih dekat padanya.
"Kamu salah orang! Dan ya, aku harus pulang! Kamu mabuk berat! Semoga kamu akan melupakan semua yang terjadi malam ini!"
"Oppaaa!!!" Shine menarik Nathan hingga tersungkur dan merebah bersamanya.
"Jangan gila!"
"Katanya kamu akan memberiku hadiah! Mana?" Shine memeluk pria di hadapannya dengan erat seperti guling. Tidak membiarkannya beranjak seikitpun. "Jangan berbohong!"
"Lepaskan dulu, akan aku ambilkan!" Nathan membujuknya.
"Janji?"
"Lepas dulu."
Nathan akhirnya bangkit setelah Shine melepas pelukannya. Dia langsung mengeluarkan dompetnya, mengambil sebuah kartu nama untuk diberikannya pada Shine.
"Kamu mau bekerja kan? Datang ke alamat kantorku besok."
"Kamu memberiku pekerjaan, Oppa?" Shine membola seraya merebut kartu nama yang Nathan pegang. "Pekerjaan yang membuatku menghasilkan uang banyak?"
"Datang saja ke alamat itu! Aku akan membuatmu menghasilkan uang banyak supaya hidupmu tidak menyedihkan seperti ini."
Shine bangkit dari ranjang dan memeluk Nathan spontan. Ia mencium kartu nama itu berkali-kali seraya tertawa. "Sudah kubilang, kamu adalah Oppa malaikat tanpa sayap yang dikirim untukku!"
"Iya sudahlah, sana tidur!" Nathan kembali mengangkatnya dan menggendongnya ala bridal style.
Sejenak, waktu seolah berhenti dan mereka saling bertatapan dengan lekat. Nathan mengakui jika wanita di hadapannya sangat manis. Shine juga terlihat seperti wanita baik-baik dan pekerja keras. Jika masalahnya hanya anak, kenapa tidak berusaha bayi tabung atau yang lain? Masih ada banyak cara kan?
Nathan pikir, itu hanya alasan suami brengseknya saja untuk menikah lagi. Untuk berselingkuh! Shine pantas bahagia setelah semua rasa sakit yang dia terima.
"Aku yakin, kamu akan bahagia setelah ini. Kamu tidak perlu menangisi orang-orang yang pernah menyakitimu. Mengerti?" Nathan merebahkannya di ranjang seraya menyelimutinya kembali. "Lanjutkan hidupmu dengan baik, jangan gunakan untuk menangis dan mabuk-mabukkan. Kamu mau balas dendam dengan menjadi lebih bahagia kan?"
"Papa...." Shine menyerukan nama ayahnya yang telah meninggal. Hanya ayahnya yang pernah memberikan nasehat stulus itu. Semenjak ibunya menikah lagi, Shine dianggap mati dan tak pernah dihubungi.
"Ya, panggil aku siapa saja, sesukamu. Tapi dengarkan kata-kataku." Nathan mengusap puncak kepalanya. "Kamu akan bahagia, pecayalah."
*****