Di sebuah belahan dunia. Sebuah benua bernama Eurasia. Ramai akan masyarakat yang berbudaya dan memiliki kepercayaan. Setiap sekelompok masyarakat hidup dengan kepercayaan. Mereka percaya bahwa jika pemahat memahat sebuah patung dengan perasaan tulus,hati-hati, membayangkan karakter, sifat dan cinta pada patung. Itu akan mewujudkan jiwa pada patung itu. Sehingga, patung itu akan di anggap sebagai dewa oleh sebagian masyarakat dan menyembahnya.
Patung yang menjadi dewa biasanya selalu memiliki tanda. Tanda itu adalah, setelah patung itu selesai. Akan memancarkan aura yang mendominasi dan biasanya dengan warna-warna khusus. Aura itu tidak bisa di lihat oleh sembarangan orang. Tapi dapat di rasakan oleh semua orang. Adapun tanda bagi dewa-dewa besar. Setelah memancarkan aura. Patung itu akan mengalami badai dan jika seseorang kebetulan melihat. Patung itu akan di sambar petir sebanyak 3 kali. Dengan itu, masyarakat mempercayai bahwa patung itu adalah dewa yang memiliki kemampuan yang besar.
Kini, dewa yang menempati benua itu, mencapai ratusan dan menempati setiap daerah. Tapi, dewa utama atau dewa besar yang menguasai benua itu, hanya berjumlah 10. Masing-masing dari nereka memiliki kelebihan, karakter, kemampuan dan penyembah mereka di masing-masing wilayah kerajaan. Tapi, semua patung utama itu berada di wilayah kerajaan ibukota.
Kerajaan ibukota adalah pusat masyarakat dan pemerintah berlangsung. Masyarakat di sana juga hidup di bawah naungan raja yang agung dan hidup dengan makmur. Tanah di sana juga tumbuh subur membuat banya sumber daya pangan, setiap musin. Bahan pangan di sana juga sangat melimpah. Begitu juga para pedagang di sana. Jika beruntung, mereka akan mendapatkan kekayaan itu dalam seminggu jika bisa. Pemandangan di sana juga tak kalah indah.
Awalnya, wilayah kerajaan tidak seluas dan tidak seindah sekarang. Para masyarakat saat itu, selalu di bayang rasa takut dan waspada yang tidak pernah lepas, di karenakan kerajaan saat itu sedang berperang. Saat itu Dewa besar yang di sembah, masihlah berjumlah 8. Hingga, seseorang membuat patung dengan nama Dewa perang. Dewa perang bertugas melindungi dan memberi rasa semangat perang pada prajurit dan raja yang berperang. Selain itu, rakyat menyembahnya juga untuk meminta perlindungan, hingga dia juga bertugas melindungi kerajaan itu. Hingga, raja berhasil mengalahkan pasukan musuh dengan damai dengan sedikit korban.
Karena perang yang telah mereda. Dewa perang mulai sedikit demi sedikit, di lupakan oleh masyarakat. Kuil yang di gunakan menyembahnya pun sepi pengunjung. Kian hari, yang tersisa dari mereka hanya meminta perlindungan saja.
Karena kerajaan semakin makmur, Dewa perang benar-benar telah di lupakan. Kuilnya terbengkalai dan jarang di bersihkan, hingga banyak sekali debu dan sarang laba-laba di sudut-sudut kuil. Masyarakat yang semula menyembahnya pun, beralih ke patung dewa baru, yang lebih indah dan menarik. Saat ini, Dewa perang benar-benar di lupakan. Tak ada yang mengingatnya selama ratusan tahun.
***
Ratusan tahun berlalu setelah perang kerajaan mereda. Kini Ibukota semakin ramai, damai dan tentram.
Seorang anak kumuh berjalan menyusuri jalan setapak di pegunungan. Penampilan lusuhnya bagaikan, dia baru saja berguling-gulung di tanah tanpa mandi. Dia memang baru saja berguling-gulung di tanah, karena terpeleset. Rambutnya yang hitam legam di ikat ekor kuda dengan tinggi, memamerkan lehernya yang putih. Wajahnya juga tak kalah cantik jika tidak tertutupi oleh noda debu dan tanah. Anak laki-laki yang cantik ini bernama Su Hang. Bocah miskin yang mengembara.
Dia berjalan mencari kayu bakar untuk di jual dan sebagian untung menghangatkan dirinya. Dia sebenarnya adalah pengembara kecil karena dia yatim piatu sejak kecil. Ibunya meninggal karena sakit dan rumah bobroknya di hancurkan oleh sekelompok orang ketika dia berusia 13 thn. Lalu bagaimana dia berteduh? Atau tidur? Tapi dia tidak pernah meninggalkan wilayah kerajaan.
Tidak perlu di ambil susah jika ingin tidur atau berteduh. Jika dia melihat pohon besar. Dia akan memanjatnya dan tidur di atas. Jika dia melihat gua dia akan memasukinya tanpa ragu. Seperti sekarang, Su Hang melihat bahwa rintik-rintik hujan mendarat di wajahnya. Dia tanpa ragu berlari menuju tempat teduh yang di lihatnya. Bahaya jika kayu itu basah, bisa-bisa dia hanya makan nasi tanpa lauk.
Ketika dia memasuki ke dalamnya. Hujan di luar seolah-olah telah melihat anak itu berteduh dengan senang hati mengguyur dengan derasnya setelah ia berteduh.
"Fuh! Untunglah, kayu-kayu ini tidak basah! Ngomong-ngomong tempat apa ini?" Su Hang menyadari tempat itu benar-benar kokoh dan terbengkalai. Meski berantakan oleh semacam puing-puing dan berdebu. Tempat ini benar-benar sekali lagi, di katakan kokoh, seolah-olah telah berdiri selama ratusan tahun.
Tempat ini terlihat seperti kuil. Itu bisa di lihat papan nama yang tergantung di atas dengan di pahat, "Jendral Perang Xin Gan"
Tempat ini sepertinya di bangun dengan tiang kayu berwarna merah yang besar. Jika tempat lain ruangan itu tertutup, maka tempat yang di tempati Su Hang saat ini hanya beratap dengan di sangga oleh 8 tiang. Sederhana.
Su Hang : "Aku tidak pernah mendengar Dewa ini?"
Ngomong-ngomong, tempat ini sepertinya di bangun di pinggir jurang. Dia bisa melihat lereng lain di ujung berlawanan dari pintu masuk. Oh, di sana juga ada berdiri sebuah patung pria dengan baju besi seperti seorang jendral. Dan wajah patung itu. Oh, itu tampan. Mata elang yang tegas itu, jembatan hidung yang kokoh, bibir tipis dan rahang yang tegas. Bahkan lehernya di pahat dengan baik.
Ibu bilang, tempat suci haruslah bersih. Tapi apa-apaan tempat ini? Kenapa terbengkalai? Bukankah ini kuil?
Ah lupakan! Dewa! Izinkan hamba untuk berteduh di kuilmu! Sebagai gantinya hamba akan membersihkan kuilmu dan memberi persembahan sebagai terimakasihku!
Ketika Su Hang berlutut, entah ilusi apa. Patung itu tiba-tiba terlihat bercahaya.
Jadi setelah berlutut. Dia meletakkan kayu di punggungnya dan dengan senang hati membersihkan puing-puing tidak berguna itu. Dia juga mengambil sebuah sapu tua dan mulai membersihkan lantai. Dan dia juga dia dengan lincah memanjat tiang lalu membersihkan sarang laba-laba di atas sana.
____
Xin Gan telah lama termenung di ujung tebing, menampilkan wajah yang melankolis. Sosok gagah perkasa itu, menatap sungai mengalir deras di bawahnya. Dia teringat saat di mana masa-masa kuilnya ramai saat itu. Orang-orang dengan berdesakan menaiki gunung untuk menyembahnya agar doa mereka terkabul. Saat mereka mulai melupakannya, dia ingat pernah berkata, "Aku bukanlah tuhan, aku hanyalah roh dan jiwa patung ini. Aku tidak perlu penyembah!"
Dia terlalu naif saat itu. Kuilnya pun benar-benar di tinggalkan dan mulai di lupakan.
Kini wajah itu menimbulkan perasaan nostalgia. Senyum melankolis terukir di bibir tipisnya. Rintik hujan menembus tubuhnya karena dia adalah Dewa atau bisa di katakan, jiwa dari patung itu.
Saat itu, dia melihat ke belakang. Dia merasakan tanda-tanda kehidupan di kuilnya dan dia baru sadar kuilnya baru saja kedatangan seorang tamu. Tamu itu, tidak lain adalah Si bocah bernama Su Hang. Dia melihat bocah itu perlahan-lahan membersihkan kuilnya dengan teliti tanpa hati yang dongkol. Puing-puing tak berguna di lempar ke luar dengan tangan kecilnya. Dia mencabut tanaman liar yang tumbuh di lantai-lantai kuil. Dia juga menyapu bersih lantai itu dengan debu tanpa rasa keberatan di lubuk hatinya. Begitu juga dengan langit-langit yang di penuhi sarang laba-laba.
Xin Gan sudah mengawasinya sejak dia Bocah itu memohon izin padanya. Dia terus berdiri membelakangi patungnya mengawasi bocah itu dengan membusungkan d**a dan meletakkan tangannya di belakang, menggambarkan sesosok Jendral yang Bijaksana. Wajah itu tersenyum melihat anak itu begitu teliti membersihkan celah-celah kuil itu. Dia juga melihat, anak itu dengan senang hati melepaskan pakaiannya kemudian dia membasahinya dengan air hujan lalu mengepel lantai.
Su Hang kembali berdoa, "Dewa! Maafkan aku jika menggunakan pakaian lusuhku. Hamba hanya memiliki pakaian ini untuk membersihkan kuilmu!"
Betapa miskinnya dirimu anak muda. Anak seusiamu biasa belajar dan bermain dengan orang tua mereka. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah bekerja keras menghidupi kehidupanmu. Betapa untuk kasihannya.
Langit perlahan-lahan mulai semakin larut. Hujan juga telah berhenti mengguyur, menyisakan suara jangkrik yang berbunyi bersautan di sekitar kuil. Kuil milik Xin Gan kini juga sudah sepenuhnya bersih. Begitu juga patungnya yang berwarna perak kini, berkilauan. Kuil yang semula gelap, juga mulai terang karena usaha Su Hang untuk membuat api.
"Sesuai janjiku Dewa! Aku akan memberimu sebuah persembahan kemudian aku akan pergi!" Su Hang mengeluarkan roti kukus di pakaiannya dan meletakkannya pada meja persembahan tanpa ada dupa.
Melihat roti kukus di depannya, Su Hang merasa bersalah, dia tidak menambahkan dupa di meja persembahan. Dia kembali memohon, "Ampuni aku dewa! Hamba tidak membawa dupa. Jika bisa, saya akan membawakan membakar dupa untukmu besok !"
Xin Gan menyela, "Tidak perlu! Kamu sudah bekerja keras untuk membersihkan kuilku. Kamu tidak perlu melakukan hal lain lagi!"
Tentu suara agung milik Sang Dewa tidak terdengar oleh Su Hang. Bagi Su Hang, suara itu seperti hembusan angin hangat yang menerpanya. Su Hang berlutut dan bersujud tiga kali di depan patung, kemudian dia berbalik pergi menuruni gunung.
Xin Gan menatap anak itu meninggalkan kuil, baru saja melihat aura anak itu belum berwarna yang menunjukan dia belum memiliki dewa untuk di sembah.
Para dewa biasanya dapat melihat aura seseorang untuk melihat apakah orang itu memiliki dewa untukndi sembah atau belum. Aura tak berwarna memiliki arti bahwa, orang itu belum memiliki dewa untuk di sembah. Dia juga biasanya hanya meminta izin atau berdoa dengan sekilas ketika dia melihat dewa yang ia temui.
Jadi dia, Xin Gan mengikutinya dengan tubuhnya yang bersinar dan transparan bermaksud mengikutinya dan masuk kedalam mimpinya untuk mempromosikan dirinya. Dia melihat anak itu menuruni gunung tanpa penerangan. Bocah kecil itu hanya tersenyum menuruni gunung mengandalkan penglihatannya tanpa khawatir ia jatuh atau tidak.
Su Hang sudah terbiasa dengan kegelapan malam. Rasa dingin kesepian sudah kebal pada tubuhnya. Tapi manusia tetaplah manusia. Tubuh kecilnya bergetar akibat angin yang berhembus di lehernya. Sebenarnya itu ulah dari Dewa Xin Gan mengikutinya. Dia hanya merasa lucu melihat bocah kecil itu memeluk dirinya sendiri seperti kelinci putih di bawah malam dingin.
Rumput-rumput basah menyentuh sepatunya. Beberapa tetes air yang berkumpul di antara daun-daun, juga masih jatuh di kepalanya, bahkan tengkuknya. Xin Gan tak kuasa menahan tawanya melihat bocah itu terkejut dengan rasa dingin di tengkuk akibat tetesan air yang menetes.
Tiba-tiba, sebuah lolongan serigala bergema di malam hari. Xin Gan berhenti tertawa dan mulai waspada, pada sekitarnya. Begitu juga Su Hang. Bocah itu mulai ketakutan dan mempercepat langkahnya dengan berusaha melihat situasi di sekitarnya.
Sebuah suara dari semak-semak bergemerisik. Bayangan sebuah makhluk juga berlarian menginjak rumput dan moncong bertaring, sudah basah akibat banjir air liur. Suara mendesis kelaparan mulai terdengar di antara kegelapan.
Su Hang juga mulai dari berjalan cepat menjadi berlari. Dia harus menghindari makhluk buas dalam hutan agar dia tidak terluka atau sesuatu yang buruk terjadi. Dia tidak melihat, sebuah batu mencuat keluar dari jalan setapak. Membuat salah satu kaki itu membenturnya dan tubuh yang mengangkut kayu itu, kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh. Menimbulkan suara yang sangat keras.
Lutut itu juga membentur tanah yang keras. Su Hang mendesis kesakitan akibatnya. Beberapa pasang mata bercahaya mulai muncul menatap Su Hang yang terbaring kesakitan di sana sebagai mangsanya. Suara desisan serigala mulai terdengar lebih jelas di telinga Shitou. Membuat tubuhnya ketakutan tapi dia berusaha untuk bangkit dan menahan rasa sakitnya.
Xin Gan juga mulai khawatir ketika melihat jumlah serigala di sekitarnya semakin banyak dan bertambah banyak. Salah satu serigala mulai mendekati Su Hang dan yang lain juga mengikuti di belakangnya untuk mengelilinginya. Serigala itu menunjukkan taring di moncongnya membuat siapapun ketakutan melihatnya. Hingga salah satu serigala mulai melompat, akan menerkam tubuh kecil Su Hang. Su Hang yang melihat itu menutup mata dan berusaha menahan rasa sakit.
Saat dia memejamkan matanya, sebuah cahaya muncul menerangi seluruh hutan. Udara di sekitarnya dengan kencang, mulai bergerak mengelilingi sumber cahaya itu. Dedaunan juga berterbangan dan rontok, terbang mengikuti udara yang berputar. Pohon-pohon saling bertabrakan menimbulkan suara mendesis yang mengerikan di seluruh pegunungan. Burung-burung mulai berterbangan karena ketakutan, menjauhi wilayah itu.
Beberapa partikel cahaya berwarna hijau, kuning, dan biru juga bermunculan dari penjuru arah. Bahkan, dari gunung-gunung yang lain, beberapa partikel cahaya dengan berbagai ukuran juga bermunculan mendekati sumber cahaya. Mereka juga ikut mengelilingi sumber cahaya dan mulai bergabung, menghasilkan wujud berbentuk manusia dengan baju besi berwarna perak terang dan jubah merah yang berkibar. Sosok pria yang merupakan perwujudan dari patung dewa yang di mendapatkan persembahan berupa roti kukus tanpa dupa. Sosok pria yang penuh dengan aura yang mendominasi dan tangguh. Sosok pria tinggi dengan wajah yang rupawan yang di pahat begitu sempurna. Xin Gan. Dewa Perang Xin Gan telah menunjukkan wujudnya di depan Su Hang yang ketakutan dan melindunginya dengan kekuatan ilahinya.
Mata setajam elang terbuka, menatap para binatang buas di depannya. Lengan kokoh perlahan bergerak dengan anggun. Tangan besar penuh dengan urat memegang gagang pedang dan mengeluarkannya dari sarungnya , menghasilkan suara bergesekan antar besi dan sarungnya.
Su Hang yang mendengar suara pedang mulai kehilangan rasa takutnya. Seseorang datang? Apakah akan menyelamatkanku? Tuan! Tolong lindungi anak muda ini!
Serigala biadab! Kalian melawan seorang pendekar pedang! Kalian akan habis, wakaka!
Su Hang terkekeh dengan mata yang masih tertutup.
Tapi aku juga tidak berani melihatnya. Ngomong-ngomong, obor yang di bawa tuan ini begitu terang?
Su Hang membuka matanya perlahan. Diam-diam mengintip keadaan sekitarnya, dan juga orang yang menolongnya. Tapi yang di dapat adalah cahaya terang yang menyakiti matanya. Membuat pupil mata itu menyusut dan segera kembali memejamkan mata.
Di rasa cahaya perlahan meredup, Su Hang mendengar suara serigala ketakutan bersamaan dengan suara tapak kaki yang berlari di atas rumput, yang sepertinya itu adalah serigala yang ketakutan.
"Kamu baik-baik saja nak?" Suara bariton menembus pendengarannya, menabuh jantungnya, juga mengejutkannya.
Su Hang kembali membuka matanya, dan menatap ke atas. Oh, sebuah tangan kasar. Dia meraihnya dan ketika kulit itu di sentuh. Ada perasaan samar di hatinya.
Tangan itu begitu dingin, tapi juga hangat. Kasar tapi, juga lembut. Dia mendongak dan melihat wajah datar menatapnya. Yang terlihat familiar tentunya.
"Terimakasih tuan! Karena membantu anak ini....."
Sepertinya aku mengenal wajah ini
Dia mengingat-ingat wajah itu. Alis tebal dan lurus melentik. Hidung mancung nan kokoh. Tubuh tinggi bagai pohon atau beruang. Rahang tegas juga bibir tipis yang membekas dalam ingatannya. Baju besi? Seorang Jendral? Entahlah.
Su Hang menyipitkan pandangannya, dia menatap intens pada pria tinggi di depannya. Xin Gan yang di tatap seperti itu, entah kenapa ingin tertawa, tapi dia berusaha menahannya.
Xin Gan bertanya pada dirinya sendiri, apakah aku di curigai?
Pada saat itu juga, Su Hang mulai mengenalinya. Jembatan hidung kokoh itu, bukankah itu terlihat sama dengan Patung Jendral Xin Gan? Mata elang itu, bukankah juga sama dengan Patung Dewa Xin Gan? Rahang tegas dan bibir tipis itu? Terlihat sama dengan Patung Dewa Xin Gan bukan?
Su Hang kagum, "Aku tidak menyangka...."
Tidak menyangka bertemu dengan seorang Dewa? Pikir Xin Gan bangga. Tapi dia di luar dia hanya memasang wajah polos.
Su Hang semakin melebarkan kedua matanya dan kagum, "Aku tidak menyangka dengan kebetulan bertemu dengan seseorang yang mirip dengan patung Dewa! Apakah kamu yang memahatnya?"
Xin Gan, "..." nak? Bukankah kamu berpikir aku adalah Dewa?
Su Hang tersenyum bahagia, "Terimakasih tuan karena menyelamatkan anak muda ini!"
Xin Gan kembali tersenyum dengan canggung, "Ah, Tidak juga!Aku juga kebetulan sering berburu di sini."
Su Hang : "Sekali lagi, terima kasih telah menyelamatkan anak ini. Jika begitu, saya akan kembali dulu. Malam sudah larut! Selamat malam tuan!"
Su Hang membungkuk lalu kembali melangkah dan sekali lagi mengucapkan terimakasih dan selamat tinggal. Tapi Xin Gan, memanggilnya kembali.
Su Hang : "Ya tuan? Apakah anda membutuhkan sesuatu?"
"Sebenarnya...."Aku adalah Dewa! Xin Gan menggaruk tengkuknya dan melanjutkan, "Ah, bisakah kamu memberi tahu Dewa mana yang kamu sembah?"
Jika kamu tidak menganggapku Dewa, itu tidak masalah. Tapi kamu sudah memberi persembahan padaku maka kamu harus menjadi milikku!
Su Hang berpikir sejenak. Lalu dia tersenyum kepada Xin Gan, "Aku tidak menyembah dewa mana pun!"
Sudah kuduga!
Xin Gan dengan canggung berkata, "Kalau begitu, maukah kamu menyembah Dewa Xin Gan?" Ku mohon jawab "Ya!" Jawab "ya" jawab "ya!" Kumohon, demi paman ini! Aku akan melindungimu! Jadi jawablah "ya"
Su Hang : "Baiklah, aku akan menyembahnya dan akan ke gunung ini setiap hari!"
Semudah itu?
Xin Gan : "Ah, sebenarnya tidak perlu dengan naik gunung setiap hari. Kamu bisa memahat patungnya dan meletakkannya di rumahmu!"
Sejenak, suasana di antara mereka hening. Hanya terdengar riuh angin menerpa rerumputan di sekitar mereka yang menenaninya.
Su Hang : "Aku.... aku....tidak memiliki rumah dan aku juga tidak bisa memahat!"
Wajah itu berangsur-angsur mulai berderai air mata. Dia mulai menangis seperti hamster yang akan di terkam oleh binatang buas.
Su Hang merengek, "Bagaimana ini, aku tidak memiliki bakat memahat! Aku hanya tempat tinggal! Wu wuu wu!"
Xin Gan melihat penyembah barunya menangis dan merengek seperti bayi, dengan canggung menghiburnya. Oh lihat, anak ini pastilah yatim piatu. Dia pasti mengembara dan mencari kayu untuk di jual.
Xin Gan mendesah frustasi dan memegangi kepalanya. Dia berbalik mengambil segenggam lumpur dan diam-diam menggunakan sihirnya mengeringkan tanah itu dan membentuknya menjadi patungnya, versi kecilnya lebih tepatnya. Lalu memberikannya pada Su Hang.
Su Hang menatap patung tanah itu, berhenti menangis. Dia melihat Pria itu sebentar dan menatap lagi patung di tangan pria itu berulang kali.
Xin Gan tersenyum, "Jangan menangis dan ambillah patung ini! Aku jamin dewa ini akan melindungimu!"
Su Hang dengan bahagia mengusap matanya, membersihkan air matanya, dan menatap pria itu.
"Terimakasih Tuan! Jika boleh, bisakah anda memberi tahu nama anda? Namaku adalah Su Hang!" Su Hang menerima patung itu di pelukannya dan mengulurkan tangannya.
Xin Gan sedikit terkejut dengan adegan ini, tapi dengan sekejap dia tersenyum lagi dan menjabat tangan mungilnya yang dingin.
"Xin Ga- Panggil saja dengan Jendral Xin!"
Su Hang terkagum kembali, "Selain memahat patung, Anda juga seorang Jendral? Betapa bagusnya!"
Xin Gan hanya melambai-lambai dan tersenyum malu, jarang dia di puji seperti itu. "Ahaha! Tidak juga, memahat patung hanya hobiku saja. Tidak perlu memuji! Mulutmu manis juga!"
Kedua pria itu tertawa bersama dengan bahagia di hutan. Pohon-pohon di sekitarnya juga bergoyang tertiup angin, seakan-akan juga ikut berbahagia dengan pengenalan ini.
Su Hang kembali berkata, "Jika boleh, bisakah Jendral mengajari anak ini dengan seni beladiri? Sejak kecil aku selalu ingin melindungi orang yang kusayang dan diriku sendiri!"
Betapa memprihatinkannya kamu.
"Tentu saja, aku selalu memiliki waktu luang. Datanglah kesini jika kamu ingin berlatih, aku akan menunggumu di kuil Xin Gan setiap hari!"
Su Hang mengangguk antusias dan kembali bahagia. Dia tersadar bahwa langit telah sepenuhnya gelap dan malam semakin larut. Dia melangkah pergi dan mengucapkan selamat tinggal(lagi) kepada Xin Gan.
Xin Gan juga membalas melambainya. Ketika sosok kecil itu hilang menuruni gunung, dia segera merubah wujudnya seperti semula. Menjadi sesosok roh bercahaya kemudian berteleportasi di belakang Su Hang. Dia bermaksud mengawasi anak ini sepanjang waktu dan melindunginya. Karena anak ini sangat miskin dan kurus. Juga karena dia adalah penyembahnya yang pertama. Benar, lupakan yang telah melupakannya. Awali semua dengan yang baru.
Segala sesuatu yang menyakitkan harus di lupakan. Jika orang-orang melupakannya, maka aku akan melupakan mereka. Satu penyembah sudah cukup. Anak ini begitu murni dan suci. Bagaimana kesehariannya? Apakah dia makan dengan benar? Meski wajah itu terlihat gemuk, tapi tubuh itu sangat kurus.
Benar, penyembah ini. Tidak. Anak ini, akan aku lindungi dengan nyawaku, dan keilahianku. Ku limpahkan semua rahmatku kepadanya. Jika dia hidup penuh keberuntungan, tidak masalah. Selama dia bahagia dan jauh dari bahaya. Aku bersedia melindunginya.
"Penyembah pertamaku" Xin Gan menatap lekat anak itu. Senyum tipis terukir di mulutnya. Dia ingin sekali memeluk anak ini, entah kenapa.
Tapi yang pasti, dia menyayangi penyembah ini.
___
Su Hang kembali dari gunung dengan tersenyum. Dia sepertinya bertemu dengan teman baru di gunung. Orang itu baik padanya, maka dia akan menganggapnya teman. Dia melihat lagi patung tanah liat di tangannya dan menciumnya.
"Dewa! Terimakasih telah melindungiku dengan mengirimkan seseorang untuk menyelamatkanku! Dengan ini, ku persembahkan jiwa dan ragaku untuk menyembahmu dengan tulus! Ku mohon terimalah anak ini sebagai penyembahmu!" Dengan tersenyum, Su Hang mengucapkan sumpahnya pada Dewa.
Dewa Xin Gan yang berada di belakangnya melihat, bahwa aura Su Hang perlahan-lahan berubah menjadi berwarna abu-abu terang dan juga bersinar. Betapa murninya.
"Dengan ini aku menerimamu sebagai hambaku! Penyembahku, Nak! Aku akan melindungi mu!"