Sudah satu minggu lamanya Erkan berada di kota Palangkaraya. Pria itu menginap di hotel ternama di kota itu. Dan selama itu pula Erkan selalu meninjau proyek pembuatan rumah pribadinya dan perumahan KPR. Terhitung sejak hari itu Erkan tidak pernah lagi melihat Bu Jihan berkumpul di warung depan rumahnya. Terhitung selama enam hari lamanya.
Pria itu pun enggan untuk berkunjung ke rumah beliau karena baginya tidak penting.
Namun, di lubuk hatinya merasa penasaran dengan anak gadis Bu Jihan yang bernama Amara yang katanya begitu cantik.
"Aku penasaran secantik apa yang namanya Amara? Tapi aku hanya ingin melihat kecantikannya saja. Kalau untuk menikahinya ... tidak akan. Aku bukan p****************g yang mengincar anak gadis orang. Apalagi gadis itu usianya 18 tahun. Rasanya nggak mungkin." Monolog Erkan yang kini berada di dalam mobil bersama asistennya Dino. Mereka ingin menuju ke sebuah cafe yang ada di kota itu.
"Ah, sudahlah. Ngapain aku memikirkan Bu Jihan. Apalagi anaknya. Lebih baik aku besok balik ke Jakarta saja," gumamnya dalam hati.
Selama seminggu Erkan berada di Palangkaraya, rasanya ia sudah puas. Dan ia berencana akan kembali lagi setelah pembangunan rumahnya selesai sepenuhnya. Dan dia dapat menempati rumah itu langsung.
Karena itulah pria tersebut berencana ingin secepatnya pulang ke Jakarta. Dan ia pun memerintahkan sang asisten untuk memesankan tiket pesawat untuk esok hari.
Kini mobil itu sudah menepi di sebuah cafe pinggir jalan, cafe yang begitu ramai dengan para pengunjung. Apalagi cafe itu mengusung alam terbuka. Tampak suasananya begitu syahdu.
"Din, tolong pesan kan tiket untuk saya!" perintah Erkan ke Asistennya.
Dino yang mendengar ucapan sang Bos merasa heran. "Tiket? Tiket apa, Bos?" tanyanya.
"Tiket pesawat lah. Kamu kira tiket buat ke bioskop!" ucap Erkan dengan sedikit kesal.
"Untuk apa, Bos,?" tanya Dino lagi.
"Astaga!!! Ni asisten lama-lama ngeselin, ya!" geram Erkan sambil menunjuk-nunjuk wajah Dino dengan jari telunjuk.
Yang ditunjuk hanya menampilkan cengiran sambil menggaruk kepalanya yang tidak ada sama sekali gatal.
"Untuk pulang lah. Memangnya untuk apa lagi, heh. Aneh kamu itu!" bentak sang bos dan merubah posisi duduknya.
"Kok pulang, Bos. Katanya mau berlama-lama tinggal di sini." Ujar sang Asisten yang menatap lekat wajah bagian samping bos nya itu. Kebetulan Erkan duduk dengan gaya menyamping dengan menyilang kan kakinya dan tangan menopang dagunya di meja.
"Masih ada urusan yang belum, saya selesaikan di Jakarta," bohongnya. Dan kembali menyesap kopi hitam kesukaannya. Erkan merupakan penikmat kopi hitam yang langsung di buat dari biji kopi aslinya dengan proses ditumbuk. Karena menurut pria itu aroma dari kopi asli lebih semerbak dari pada kopi instan yang berbentuk kemasan.
Dino pun hanya pasrah akan perintah sang Bos. Dan pria itu langsung memesan tiket pesawat secara online. "Baik, Bos. Saya cek sebentar. Semoga penerbangan untuk besok masih ada." ujarnya sambil mengotak atik ponsel canggih itu.
"Untuk berapa orang, Bos?" tanya Dino lagi yang kembali menatap ke arah Bosnya. Sedangkan yang di tatap kembali asyik mengedarkan pandangan ke segala arah taman yang ada di dekat cafe tersebut. Yang mana di taman itu Erkan melihat sepasang suami istri yang sedang bercanda bersama seorang anak.
Ada rasa iri melihat keluarga itu bahagia. Terasa lengkap karena hadirnya seorang anak. Tuhan, akan kah ada kesempatan kedua untuk aku merasakan bahagia seperti mereka," gumam Erkan di dalam hati dengan raut wajah sedih.
Karena melihat Erkan melamun, Dino pun mencolek tangan Bosnya itu dan bertanya kembali. "Bos, pesan tiketnya untuk berapa orang?"
Erkan pun terkesiap dan langsung mengatakan, "untuk satu orang lah! Atau kamu ... mau ikut pulang juga?" tanya Erkan penasaran dengan memicingkan matanya. Dan kembali berucap "mumpung gratis," selorohnya.
Dino yang mendengar penuturan sang Bos langsung antusias. "Beneran, Bos, gratis?" tanyanya. Jangan di tanya bagaimana reaksi Erkan melihat wajah bahagia Dino. Tawa Erkan hampir meledak, tapi sebisa mungkin untuk dia tahan.
Erkan pun tidak dapat lagi menahan tawanya. Pria itu terbahak-bahak karena sudah berhasil membuat asistennya percaya.
Dino yang melihat tingkah Bos nya, pun merasa heran. Dengan suara lirih, Dino pun bertanya. "Bos! Sehat kan?" tanyanya
"Sehatlah. Kamu pikir saya gila!!!" sahut Erkan yang sudah menghentikan tawanya.
"Lalu ... kenapa Bos tertawa. Apa ada yang lucu?" tanya Dino lagi dan masih bingung akan sikap sang Bos.
"Saya tertawa karena melihat kamu yang begitu antusias ingin pulang ke rumah. Padahal saya cuma bercanda." Ucapnya tanpa rasa bersalah yang sudah membuat karyawannya kecewa.
"Jadi, Bos membohongi saya!" Ucap Dino dengan rasa kecewanya dan meletakkan ponselnya ke meja dan bersedekap tangan di d**a dengan wajah yang sudah kusut karena marah.
"Dih marah. Andai kamu itu perempuan tu bibir yang lagi manyun bakalan ku emut," ucap Erkan asal.
"Mau saya cium," Ancam Erkan.
Dino tetiba bergidik ngeri. "Bos, jangan macam-macam, deh. Saya masih normal, Bos. Masih suka sama perempuan," ucap Dino.
"Syukur, deh. Kalau kamu masih normal." Ucap Erkan kembali serius.
"Lagian, kalau kamu pulang. Siapa yang mengawasi proyek di sini, hah?" Tanya Erkan kembali dengan tatapan tajamnya.
Dino hanya diam saja, karena tidak ingin membuat Bos nya itu marah.
"Gimana. Sudah kamu pesan kan tiketnya?" tanya Erkan yang sudah berdiri dari kursi cafe.
"Sudah, Bos. Untuk satu orang."
Erkan pun menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, kalau begitu kita kembali ke hotel saja." Ucapnya dan melangkah ke arah parkiran mobil.
"Kenapa tidak pesan untuk dua orang, Bos. Ada diskonnya ni, Bos!"
"Kalau mau pesan. Pesan saja. Tapi bayar sendiri," ucap Erkan yang terus berjalan menuju ke mobil.
"Boleh, Bos?" tanya Dino yang menyusul Erkan sampai ke mobil.
"Kalau mau gaji mu, saya potong, silakan. Boleh saja. Atau ... mau saya pecat saja. Hem!?" Ancam Erkan yang sudah berada di samping mobilnya.
Mendengar ucapan dari mulut Erkan membuat Dino menghembuskan napasnya kasar. "Tidak ada pilihan. Ya sudah, Bos. Saya memilih tinggal di sini. Tapi cukup sebulan, ya, Bos. Setelah sebulan saya boleh pulang." Pinta sang asisten sambil membukakan pintu mobil untuk Erkan.
"Hm," gumam Erkan dan masuk ke dalam mobil di bagian penumpang dan menyandarkan kepalanya di bagian sandaran kursi mobil.
Dino pun memutar badannya ke arah sisi kanan mobil, tepatnya di bagia pengemudi. Seperti biasa ia yang akan menjadi supirnya.
Duduk dengan tenang di bagian supir, tapi hati ngedumel karena ketidak adilan sang Bos. 'Namanya aja Bos, semau-maunya saja lah.' gumam Dino dalam hati dan menjalankan mobil dengan kecepatan sedang di jalan raya. Karena di malam Minggu jalan raya tampak ramai. Dan mobil itu pun menuju ke hotel yang tidak terlalu jauh dari cafe yang mereka kunjungi barusan.
***
Sudah hampir dua minggu Erkan berada di Jakarta dan dua sahabatnya belum ada sama sekali mengunjungi pria itu. Padahal Erkan gatal ingin menceritakan pengalamannya di hari pertama berada di Palangkaraya. Erkan ingin menceritakan permintaan Ibu Jihan yang ingin menikahi anak gadisnya itu.
Erkan pun mengirim chat untuk kedua sahabatnya itu melalui grup yang mereka buat. Grup yang hanya berisi tiga peserta saja. Raka, Aslan dan dirinya sendiri.
[Sepertinya kalian begitu sibuk beberapa Minggu ini?] isi chat dari Erkan yang menyindir dua sahabatnya.
[Nggak juga, Er. Seperti biasa, aku asyik berkutat dengan kuliner, dan juga istriku.] balas Aslan dengan maksud memanas-manasi sang sahabat.
Dan Aslan pun mengirim sebuah foto saat ia memeluk sang istri dengan begitu mesra.
[Bagaimana? Er foto aku sama istriku. Keren kan?]
Erkan yang melihat kemesraan sahabat dan istrinya itu hanya bisa pasrah dan mendesah berat, sambil menggerutu.
"Sahabat memang nggak ada akhlaknya. Sudah tahu di sini aku sedang galau. Eh bisa-bisanya dia memanas-manasi, aku."
"Ck," Erkan berdecak.
"Dia pikir dengan mengirim foto kemesraannya bersama si istri, bisa membuat aku cemburu!"
[Keren. Nggak sekalian kamu kirim video saat kamu bercinta saja, As. Biar aku tambah panas] balas Erkan.
[Raka, kamu di mana, sih. Dari tadi cuma aku dan Aslan aja yang ngobrol di grup.]
[Palingan Raka lagi main sama istrinya di ruang kerja rumah sakit. Raka kan suka begitu. Menyukai hal yang menantang.]
[Tebakan kamu benar As. Aku habis bercinta dengan istriku di ruang kerjaku. Biar sensasinya berbeda.] balas Raka yang sengaja ikut memanas-manasi sang sahabat.
[Kalian keterlaluan. Aku di sini berusaha menahannya. Tapi kalian memancingnya. Astaga ... kalian sahabat yang begitu tega. Tega menyiksa diriku.] balas Erkan yang sebenarnya hanya bercanda saja.
[Hahahaha. Kalau nggak tahan pulang sana. Temuin istri kamu Tantri, kasihan, pasti dia kesepian dan kedinginan tidur sendiri tanpa pelukanmu] balas Aslan.
[Nggak Sudi. Lagian mana ada dia kedinginan. Tiap malam kan dia di kelon sama Surya, iparnya.]
[Hah, jadi selingkuhan Tantri si Surya Er. Iparnya sendiri] balas Raka yang terkejut di seberang sana.
[Iya, sayang. Oh iya kalian benar-benar sibuk, ya?]
[Kenapa] Aslan.
[Memangnya kenapa] Raka.
[Aku merindukan kalian. Ayo kita kumpul malam Minggu besok di Apartemen aku. Ada yang ingin aku ceritain ke kalian.]
[Apa] Raka.
[Apa] Aslan.
[Ada. Makanya kalau kalian penasaran kita ketemuan.]
[Kenapa nggak cerita sekarang aja. Kita bisa bicara langsung lewat video call aja] Aslan.
[Nggak seru] Raka.
[Iya juga, sih. Baiklah kita kumpul malam Minggu di Apartemen Erkan.] Aslan.
[Sepakat] Raka.
[Oke. Aku tunggu kehadiran kalian.] Erkan
[Sip] Aslan.
[Hm] Raka.
Percakapan melalui chat pun berakhir. Erkan kembali mematut di depan laptopnya, masih banyak pekerjaan yang belum ia selesaikan, meski sebagian Angga sekretarisnya sudah membantu pekerjaannya. Tapi Erkan tidak merasa puas jika ia tidak ikut secara langsung memeriksa isi laporan yang di kirim dari lapangan.
"Harusnya aku datang ke rumah Bu Jihan. Ya walaupun aku tidak berniat menikahi anaknya, paling tidak kan aku menghormati beliau sebagai tetangga. Aku yakin Bu Jihan kecewa. Terlihat dari wajah beliau waktu ketemu sama aku saat itu." Monolog Erkan dan pria itu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya. Mengusap wajah lelahnya dan memandang langit-langit ruang kerjanya sambil menekan pelipisnya yang terasa sakit.
"Sampai kapan Tuhan, hukuman yang Engkau berikan kepada hamba. Hamba juga ingin merasakan kebahagiaan. Meski tidak beristri, paling tidak ada seorang anak yang hadir di dekatku." Pinta Erkan kepada Sang Maha Pencipta.
"Cukup Bella dan Tantri saja wanita yang sudah menyakiti aku. Jangan Engkau kirim kan lagi wanita ke sisiku yang tujuannya sama. Ingin menyakiti aku dan menginginkan hartaku saja. Lebih baik kirimkan untukku seorang anak saja. Entah itu anak yatim piatu tidak masalah." Ujarnya lagi.