Suasana pemakaman sepi, harum bunga Kamboja sangat menusuk hidung. Mendung pun ikut menemani suasana duka. Ya kematian, kematian selalu saja datang tanpa diduga. Entah ingin atau tidak karena mati itu pasti akan datang menjemput setiap anak cucu Adam yang ada di bumi ini.
Tanah yang masih merah, menandakan baru saja ada orang yang baru dikubur. Bunga-bunga duka yang masih terlihat segar ditabur diatas tanah kubur. Dan orang yang duduk meratapi pastilah orang yang sangat mencintainya.
***
Oh Allah, mengapa cepat kau panggil dia? Umurnya masih terlalu muda. Ratap oliv ya perempuan yang bernama lengkap Oliviera Darmawan. Sebenarnya tak ada gunanya menangis dan meratapi orang yang telah meninggal. Hanya akan menambah luka yang sulit untuk terobati. Hanya akan menyulitkan jalan jenazah menuju alam barzah. Oliv memandang langit yang hitam dengan berlinang air mata ia mengangkat tangan untuk memanjatkan doa pada sang pencipta. Selesai berdoa, Oliv mengapit kedua kriuknya dengan susah payah berdiri lalu berjalan tertatih. Apakah semua ini takdirnya?
Tuhan yang mempertemukan dirinya dengan Keenan. Keenan yang mengubah jalan hidupnya hingga mencapai 180 derajat. Lelaki itu pula yang mampu membuatnya terbaring gelisah ditempat tidur setiap malam, yang selalu datang menghantui pikirannya. Keenan dan Keenan setiap detik, setiap menit, dan setiap jam hanya ada Keenan.
Kini pria yang dicintainya telah berubah menjadi seonggok daging yang tak bernyawa. Sendiri di alam kubur. Andai Allah tak ada kematian pasti hidup ini amatlah indah. Pasti tak ada tangisan dan kesedihan dari orang-orang yang ditinggalkan. Sejak berpulangnya Keenan kemarin sore, perut Oliv belum terisi apapun. Dari pagi hingga sore, ia terus berada di dekat makam Keenan. Rasanya enggan meninggalkan tempat itu. Keinginan untuk hidup sudah tak ada selain mati menyusul Keenan.
Langkah kakinya menuju jalan raya yang ramai lalu lalang kendaraan tak beraturan. Pikirannya melayang dan matanya nyalang, hatinya pun tak karuan. Hingga ia....
***