Langit Jakarta sore itu dilapisi warna jingga lembut. Alena duduk disudut perpustakaan kecil, mencari ketenangan kecil diantara tumpukan buku tua. Ia berusaha menenangkan pikirannya yang masih dipenuhi sosok pria bernama Kevin, lelaki yang seharusnya tak boleh ia pikirkan.
Namun takdir memang suka bercanda. Saat Alena mengulurkan tangannya hendak mengambil sebuah buku tebal di atas rak, sebuah tangan lain menyentuh punggung tanggannya terlebih dahulu.
Alena menoleh dan di sana, Kevin berdiri.
Kemeja putihnya tergulung di lengan, senyumnya tenang tapi sorot matanya tajam, memerangkap Alena dalam detik yang panjang dan canggung.
"Buku ini kan yang kamu cari?" ucap Kevin, dengan suara rendah namun menggetarkan.
Alena tersenyum canggung "terima kasih, aku tidak menyangka bertemu kamu disini".
Kevin menatapnya lama sebelum memberikan buku itu ke Alena "aku juga tidak menyangka, tapi semesta suka mempermainkan kita".
Keduanya diam, hanya terdengar suara halus kipas angin di langit-langit dan jantung mereka yang sedang berlomba.
Tatapan mereka saling bertemu, tapi kali ini mereka tidak menghindar.
Kevin memberi isyarat mengajaknya duduk di dekat jendela, mereka mengobrol ringan tentang buku, kopi dan cuaca yang tidak menentu. Namun dalam setiap kata terasa terlalu dekat, terlalu dalam.
Alena tertawa kecil karena candaan Kevin, beberapa halai rambut panjangnga terurai ke depan. Tanpa berpikir panjang Kevin, menyibakkan rambut Alena dari wajahnya.
Gerakan sederhana itu, tapi dari situlah justru letupan kecil itu muncul.
Hatinya bergetar, ia menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang memanas. Ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan, antara takut dan hangat.
Kevin pun menahan napas, ia tahu sudah melanggar batas yang tak kasat mata tapi nyata. Namun ia juga sadar jika ini sudah terlalu dalam.
Ketika mereka keluar dari perpustakaan hujan mulai turun, Kevin membuka payung dan ia menawarkan diri untuk mengantar Alena.
"Aku antar ya" ucap Kevin pelan.
Alena menggeleng "tidak, terima kasih. Aku bisa sendiri". Ada perasaan takut yang menyelimut hatinya, takut ketahuan keluarganya.
“Tapi aku ingin,” jawab Kevin dengan lirih, lebih seperti pengakuan daripada tawaran.
Dan di bawah hujan sore itu, langkah mereka berjalan berdampingan tanpa kata.
Tidak ada yang tahu, bahwa dari percikan air di antara mereka, sebuah dosa manis telah mulai tumbuh—pelan, lembut, tapi pasti membara di dalam hati.