Bab 2 – Rindu yang Menyusup di Antara Kota
Matahari pagi Kuala Lumpur menyapa lembut, cahaya keemasan menelusup di balik jendela kamar sempit Arif. Sudah beberapa bulan berlalu sejak hari perpisahan yang membuat dadanya seperti dirobek paksa. Namun setiap kali ia membuka mata, wajah Arissa tetap hadir—seolah gadis itu masih duduk di sebelahnya, tertawa lembut, atau menatap penuh harap seperti di hari terakhir konvokesyen mereka.
Arif menarik napas panjang. Hidupnya kini sederhana—pekerjaan barunya di sebuah syarikat swasta di tengah kota cukup untuk membiayai dirinya dan membantu sedikit ibunya di desa. Namun, di balik semua kesibukan, ada kekosongan yang tak terisi.
"Arissa..." bisiknya perlahan, seolah nama itu sendiri adalah doa yang harus terus diulang agar tetap hidup dalam ingatan.
Sementara itu, jauh di Jakarta, Arissa berdiri di depan cermin di ruang kerja ayahnya. Gaun formal melekat rapi di tubuhnya, dan rambut panjangnya dibiarkan terurai. Di matanya, ada bayangan letih—bukan karena pekerjaan semata, tetapi karena rindu yang tak mampu ia padamkan.
“Kenapa wajah ini masih seperti semalam di Kuala Lumpur?” gumamnya dalam hati. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan jari, resah. Hari-harinya sibuk mengurus perusahaan keluarga, namun batinnya kosong.
Arissa sering menatap layar ponselnya, menunggu pesan yang tak pernah datang. Ia tahu, Arif tak mungkin semudah itu menghubungi dirinya. Ada jurang, ada batas, ada keluarga yang tak mengizinkan. Namun rindu itu tetap hidup, mengoyak perlahan.
---
Pertemuan Tak Terduga
Beberapa bulan kemudian, takdir seakan bersekongkol. Perusahaan ayah Arissa membuka cabang di Kuala Lumpur. Dan ia ditugaskan datang untuk mengawasi langsung persiapan operasional.
Begitu pesawat mendarat di KLIA, jantungnya berdetak tak karuan. Bukan hanya karena urusan bisnis, melainkan karena ia tahu—Kuala Lumpur adalah kota di mana Arif berada.
Arissa menggenggam tas tangannya erat. “Apa aku sanggup…? Apa aku bisa menatap matanya lagi?” batinnya berbisik.
Sementara itu, di sebuah kafe kecil di tengah kota, Arif sedang melukis di buku sketsanya—hobi yang dulu selalu ia bagi dengan Arissa. Tangannya bergerak pelan, membentuk wajah seorang gadis berambut panjang dengan senyum sendu. Ia terhenti, memandang hasil sketsa itu, lalu tersenyum pahit.
Tiba-tiba, suara ponselnya berdering. Nomor tak dikenal muncul di layar. Dengan sedikit ragu, ia menjawab.
“Hello, Arif Zafran speaking.”
Suara lembut dari seberang membuat dadanya seakan berhenti berdetak.
“Arif… ini aku, Arissa.”
Hening panjang tercipta. Arif nyaris menjatuhkan ponselnya.
“Arissa...? Ya Allah, betul ke ni? Aku macam mimpi...” suaranya bergetar, nada Melayu yang kental menumpahkan segala rindu.
Di seberang, Arissa menggigit bibir, air mata menitik perlahan.
“Ya, Arif… ini aku. Aku di Kuala Lumpur sekarang. Bisa kita ketemu?”
---
Pertemuan Kembali
Mereka memilih bertemu di sebuah taman kota, tempat yang dulu sering mereka kunjungi sebagai mahasiswa. Saat langkah Arif mendekat, ia seakan kembali ke masa lalu—hari-hari penuh tawa, canda, dan janji manis.
Arissa berdiri di bawah pohon besar, mengenakan blus putih sederhana. Wajahnya masih sama—cantik, lembut, namun ada bayangan luka di matanya.
Arif berhenti sejenak, menatapnya dari kejauhan, seolah ingin memastikan ini nyata. Lalu ia melangkah mendekat.
“Arissa...” ucapnya lirih.
“Arif...” balasnya, suara bergetar.
Mereka berdiri hanya beberapa langkah terpisah, namun hati keduanya sudah saling merangkul.
Arif menarik napas panjang. “Aku rindu sangat... tiap malam aku doa, moga Allah izinkan kita jumpa balik. Dan hari ni... doa aku termakbul.”
Arissa menunduk, air mata membasahi pipinya. “Aku juga, Arif. Setiap hari aku menahan rindu ini… tapi aku tak sanggup lagi. Aku tahu aku salah karena membiarkan diriku dijodohkan dengan Yusman. Tapi hatiku… hatiku tetap sama. Hatiku masih milikmu.”
Arif menggenggam bahunya lembut. “Sayang… kau tak pernah hilang dari hati aku. Walau seribu lelaki datang, aku tetap hanya ada kau, Arissa.”
Arissa terisak, lalu memeluknya erat. “Arif, jangan lepaskan aku lagi…”
---
Awal Dosa Rindu
Pertemuan itu menjadi pintu yang tak bisa mereka tutup lagi. Hari-hari berikutnya mereka sering mencari alasan untuk bertemu. Arissa menggunakan dalih pekerjaan, sementara Arif selalu siap kapan pun ia dipanggil.
Di setiap pertemuan, rindu berubah menjadi pelukan, lalu menjadi ciuman, lalu menjadi sesuatu yang lebih dalam. Mereka tahu itu salah, terutama karena Arissa kini sudah menikah dengan Yusman—lelaki pilihan keluarga. Tapi cinta lama mereka terlalu kuat, bagai api yang kembali disulut.
Arif sering berbisik di telinga Arissa, nada Melayunya penuh kelembutan.
“Aku tahu ini dosa, sayang… tapi aku tak mampu buang cinta aku pada kau. Demi Allah, aku tak pernah cintakan sesiapa macam aku cinta kau.”
Arissa akan menjawab dengan suara lirih, penuh tangis.
“Aku juga, Arif… aku rela hancur demi bersamamu. Aku ingin menebus kesalahan dulu, saat aku meninggalkanmu. Biarlah dunia menilai… asal aku bisa bersama cintaku lagi.”
Maka, mereka tenggelam dalam dosa rindu—cinta gelap yang manis sekaligus menyakitkan.
---
Bayangan Gelap
Namun, setiap kebahagiaan mereka dibayangi satu nama—Yusman. Suami Arissa itu bukan lelaki biasa. Ia adalah putra sahabat ayahnya, pewaris perusahaan besar, dan diam-diam seorang ketua kongsi gelap di Jakarta. Arissa tahu, cepat atau lambat rahasia mereka akan terbongkar.
Tapi setiap kali rasa takut datang, Arif selalu menenangkannya.
“Sayang, percayalah… selagi aku ada, aku akan lindung kau. Aku lelaki yang mungkin miskin, tapi cinta aku kaya, takkan pernah habis untuk kau.”
Arissa menangis dalam pelukan Arif, berbisik dengan suara bergetar.
“Aku hanya ingin jadi perempuanmu, Arif… walau dunia menolak, walau neraka menanti.”
Dan di bawah cahaya lampu kota Kuala Lumpur, mereka kembali berciuman, meneguhkan janji terlarang yang akan menyeret mereka pada jalan penuh air mata.