Bu Lilis berjalan menuju dapur hendak mengambil air putih, namun ia mengurungkan niatnya kala melihat Tristan yang tengah tidur di meja makan. Wanita itu melangkah, mendekati puteranya itu.
“Ya Allah, Tristan, pasti dia ketiduran,” gumamnya seorang diri. Bu Lilis mengelus rambut Tristan lembut seraya tersenyum tipis.
“Bangun sayang, pindah ke kamar, gih.” dia menepuk pelan bahu Tristan, membuat pria itu membuka kedua matanya secara perlahan.
“Ibu.” Tristan mengusap wajahnya pelan.
“Kenapa sampai ketiduran di sini, sih?” tanya Bu Lilis. Padahal Tristan bukan ketiduran, tapi memang sengaja. Tristan hanya tersenyum kecil.
“Ibu ngapain di dapur?” balik tanya Tristan.
“Mau ambil air putih,” jawab Bu Lilis. “Lanjutin tidurnya di kamar. Sana masuk,” perintahnya. Tristan mengangguk lalu beranjak menuju kamar.
Dengan sangat terpaksa Tristan merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan memunggungi Felin. Tidur di lantai membuatnya tersiksa. Bisa-bisa nanti di kampus mengantuk karena semalaman tidak bisa tidur.
***
Sudah berjalan dua minggu pernikahan Felin dan Tristan. Sifat Tristan juga perlahan berubah tidak sedingin awal-awal pernikahannya. Itu karena Felin selalu menyikapinya dengan lembut dan penuh perhatian tentunya.
Jelas, wanita itu mudah sekali untuk bersikap hangat kepada Tristan karena didasari dengan cinta. Dia melakukan kewajibannya sebagai istri dengan cinta. Meskipun dia tahu Tristan tidak mencintainya.
“Sayang?”
Felin menoleh, menatap Tristan yang tengah kesusahan memasang dasinya.
“Pak Tristan panggil siapa?” tanya Felin.
“Kamu.” Felin mengerjap. Benarkah, Tristan memanggilnya dengan sebutan 'Sayang' tadi? “Tolong pasangin dasi.” Tristan berjalan mendekati Felin. Wanita itu tersenyum dengan sikap Tristan yang semakin hari selalu ada perubahan. Meskipun terkadang masih sangat dingin, tapi tiba-tiba dia akan bersikap hangat. Sulit didefinisikan.
Felin masih terdiam dengan senyumannya. Sementara Tristan, dia mengerutkan dahinya heran. Padahal pria itu sudah biasa memakai dasi sendiri, kenapa berubah manja seperti ini?
“Sayang?” panggilannya begitu lembut.
Felin mengerjap. “I—iya Pak?”
“Kamu bisa pasang dasi, kan?” tanya Tristan.
“Bisa kok, Pak, sini saya pasangin.” Felin sedikit berjinjit untuk mengaitkan dasi itu dikerah baju suaminya. Tristan yang mendadak pengertian, dia sedikit merunduk dan menurunkan tinggi badannya supaya Felin lebih gampang memasang dasinya.
Felin tersenyum. Benarkah ini Tristan si es balokan itu?
“Sudah,” ucap Felin setelah selesai memasang dasi di kerah baju suaminya. Tristan justru masih memposisikan dirinya sejajar dengan tinggi sang istri. Felin menyernyit heran. “Sudah selesai, Pak.”
“Ada yang belum,” ucap Tristan.
“Apa?” tanya Felin.
“Morning kisnya belum.”
Felin mengerjap mendengarnya. “Apa, Pak?”
“Nggak ada pengulangan kata dari saya. Ayo cepet, udah capek nih!” Felin masih terdiam. Dia masih tidak percaya dengan sikap Tristan yang tiba-tiba mendadak ingin romantis.
“Ya sudah kalau nggak mau.” Tristan sedikit menaikkan badannya. Dengan sigap, kedua tangan Felin bertengger di bahu Tristan dan mengecup pipi kanan suaminya itu singkat. Tristan lalu memposisikan dirinya seperti semula, berdiri tegap.
“Kenapa dipipi? Kenapa gak di___.”
“Ayo berangkat Pak, nanti telat,” sela Felin memotong ucapan Tristan.
“Gak akan telat, kan saya dosennya.” Tristan mengusap kepala Felin yang terbalut jilbab. Wanita itu tersenyum. Sepertinya pagi ini adalah awal dari kebahagiaannya.
“Yuk.” Tristan menggenggam tangan kanan Felin lalu melangkah keluar kamar.
“Sarapan dulu ya, Pak,” ucap Felin. Tristan menghentikan langkahnya. Begitupun Felin.
“Kamu masak?” wanita itu mengangguk.
“Kapan masaknya, perasaan dari tadi kamu di kamar mulu.”
“Pas Pak Tristan lagi mandi saya ke dapur terus masak,” jelas Felin. Tristan tersenyum tipis.
“Kamu bisa masak juga ternyata?”
“Pak Tristan meremehkan saya?” Tristan menaikkan kedua alisnya.
“Siapa yang meremehkan kamu, Sayang?” lagi-lagi ucapan Tristan membuat Felin melayang. Sebutan nama yang paling lembut dan tulus menurutnya.
Tristan dan Felin kembali melangkahkan kakinya menuju meja makan. Pria itu duduk disamping sang istri. Felin mengambilkan nasi untuk Tristan dan untuk dirinya sendiri.
“Ibu nggak ikut makan?” tanya Tristan.
“Tadi pas aku masak sih katanya makannya nanti agak siangan,” jawab Felin sebelum memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya. Tristan mengangguk paham lalu kembali melanjutkan makan.
“Masakan kamu enak,” puji Tristan. Sesekali ia melirik ke samping, menatap istrinya yang tengah sarapan dengan lahap.
“Biasa aja,” balas Felin seraya menahan senyumnya.
“Masa, sih? Buktinya kamu makan sampai belepotan gitu.”
Felin mengerjap dan hendak menyentuh area bibirnya, namun Tristan mencegahnya.
“Nanti kotor tangan kamu.” Felin tersenyum tipis dan hendak mengambil tisue. Namun lagi-lagi Tristan mencegahnya. Felin menatap lelaki itu penuh tanda tanya.
“Nggak perlu pakai tisue kalau ada saya.” Tristan mendekatkan wajahnya dengan wajah Felin lalu membersihkan bibir sang istri menggunakan bibirnya sendiri. Felin terpaku, dia mengerjap berkali-kali saat bibir Tristan menyentuh bibirnya.
Pria melepaskan ciumannya dan menatap sang istri tersenyum kemudian berkata, “Manis.”
“Ha?” Felin sedikit melebarkan matanya.
“Mau lagi,” ucap Tristan tepat di depan bibir Felin.
Felin benar-benar terkejut mendengarnya. Dosen muda itu menjadi berubah drastis. Ntah Tristan sudah cinta dengan Felin atau belum, hanya dia yang tahu. Namun sikapnya seperti menunjukan bahwa iya, Tristan mulai mencintai wanita yang sekarang berstatus sebagai istrinya.
Tristan menjauhkan wajahnya dari wajah Felin. “Bercanda.” pria itu mengusap kepala Felin yang terbalut jilbab.
“Lanjutkan makannya, terus berangkat,” titah Tristan. Felin masih terdiam, dia masih syok dengan apa yang tadi ia dapatkan.
“Jangan kaget sama sikap saya. Saya bisa saja selalu bersikap hangat kalau kamu mau.” Tristan kembali memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
“Pak Tristan cinta sama saya?” pertanyaan Felin berhasil membuat pria itu tersedak. Dengan sigap Felin memberikan segelas air putih kepada suaminya. Tristan langsung meminumnya hingga tandas setengah.
“Ayo berangkat, nanti telat.” Tristan bangkit dari duduknya. Begitupun Felin.
“Bukannya Pak Tristan tadi ngomong nggak mungkin telat karena Pak Tristan, kan, dosennya.”
“Iya, tapi kasihan sama yang lain. Mereka pasti sudah nunggu.” Felin mengangguk. Wanita itu sedikit kecewa karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Tristan.
Tapi itu tidak masalah, baginya perlakuan Tristan yang sangat manis itu sudah cukup untuk menjadi jawaban kalau Tristan sudah mencintainya.
Lagi-lagi Felin menyimpulkan setiap sikap hangat Tristan itu tanda cinta kepadanya. Wanita itu selalu mengklaim bahwa ini adalah cinta.
Sesampainya di Kampus, Tristan hendak turun dari mobil, namun Felin mencegahnya.
“Saya malu, Pak,” ucap Felin.
“Malu sama siapa?” tanya Tristan. Felin menghela napas panjang.
“Saya malu sama semua orang-orang lah, Pak,” jawab wanita itu.
“Gak usah malu punya suami idaman di Kampus ini. Harusnya kamu bangga.”
“Saya takut nanti kalau tiba-tiba saya dikroyok sama cewek-cewek karena nggak terima Pak Tristan nikah sama saya gimana? Terus nanti kalau saya____.”
“Mulai bawelnya,” sela Tristan. Felin hanya tersenyum tipis menanggapinya.
“Turun, saya akan mengawasi kamu dari sini,” titah lelaki itu. Felin mengangguk lalu beranjak turun. Wanita itu melangkah menuju kelasnya, untung saja tidak ada yang melihat dirinya turun dari mobil dosen muda idaman itu.
Tristan menghela napas kasar. Pertanyaan Felin masih terngiang jelas di telinganya. Tristan sendiri tidak tahu, apakah dirinya sudah mencintai Felin atau belum. Dia juga heran kenapa bisa bersikap manis dengan wanita itu.
Tristan mengusap wajahnya kasar lalu beranjak turun dari mobil. Dosen itu berjalan seraya memasang kacamata hitam miliknya yang sudah biasa ia kenakan. Pemandangan yang sudah biasa disaksikan para mahasiswi di Universitas Jakarta.
Sebenarnya Tristan malu dan sangat risih jika dirinya selalu menjadi sorotan mata manusia. Makanya dia mengenakan kacamata hitamnya untuk sekedar mengurangi rasa malu.
Tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri Tristan dengan tergopoh.
“Pak Tristan! Felin pingsan!” tuturnya dengan napas terengah-engah.