"Habis keluyuran darimana?"
Hana yang mendengar suara Argan dari arah belakang, mendadak mempunyai firasat tak mengenakkan, walaupun sebenarnya dia merasa tidak melakukan kesalahan.
"Saya tidak keluyuran kok, Mas. Cuma temenin Indah sebentar, dan saya juga udah izin," jelas Hana berusaha untuk tetap tenang.
Sambil meletakkan tas yang baru saja dipakai, Hana kemudian berbalik dan menemukan Argan menatapnya cukup serius. Hal itu pun semakin membuat Hana merasa tidak enak dan bahkan jadi gelisah.
"Izin pada siapa? Kamu habis pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa, dan lihat jam sekarang, hampir menunjukkan waktu tengah malam. Apa kamu pikir seorang wanita yang sudah menikah pantas melakukan hal itu?" cecar Argan dengan nada yang memang biasa saja.
Namun, hal itu tetap saja membuat tenggorokan Hana seperti tercekat. Mendadak terasa kering dan berduri, seolah ada yang menusuknya di sana. Maka, dari itu Hana pun menarik nafasnya panjang lalu membuangnya untuk mendapatkan ketenangannya kembali.
"Saya sudah menulis catatan di atas meja makan, di sebelah hidangan makan malam!" ungkap Hana tanpa sadar menaikkan nada suara.
Bukan kesal, tapi reflek saja begitu supaya Argan memahaminya.
"Oh, ya?!" jawab Argan sinis seperti cibiran. "Tapi saya tidak menemukan apapun di sana, dan--" Argan mengangkat telunjuknya ke hadapan Hana, mengakibatkan wanita yang selalu kengerian sendiri menghadapi dosen pembimbingnya, mundur takut secara perlahan.
"Apa penjelasanmu soal pesan dan telepon yang tidak dijawab?!" Nada bicara Argan naik terdengar sarkas.
Sekarang Hana merasa jadi sulit bernafas, terlebih lagi, Argan malah berhasil mengikis jarak di antara mereka. Menahan Hana dan menatap tajam tanpa sedikitpun melepaskan pandangannya.
"Katakan Hana, apa alasanmu untuk semua itu dan apa yang baru saja kau lakukan di luar sana sampai tengah malam?"
Deg!
"Sa--say ...."
"Kau mabuk?!"
Kedua bola mata Hana reflek membulat, diikuti gelengan kepala. Dia langsung mengelak dari tuduhan itu, karena tidak terima.
"Masih berbohong dan berpikir saya bodoh tidak mengenal aroma yang tertinggal di tubuhmu?!" geram Argan. "JELAS-JELAS KAU BAU ALKOHOL HANA!"
Brugh!
Kejadiannya berlangsung singkat, Hana tidak dapat mengelak saat Argan membalikkan tubuhnya, lantas mendorongnya kasar jatuh ke ranjang dan menindih untuk mengunci pergerakan Hana.
"KATAKAN HANA, KAU HABIS MINUM?!" bentak Argan tiba-tiba sangat gusar.
Hana yang diperlakukan demikian entah dapat keberanian darimana, dia yang kesal tiba menc*um bibir Argan, dan melotot marah setelahnya.
"APA KAU MERASAKAN SISA ALKOHOL DI SANA, HAH?!" bentak Hana tanpa sadar.
Begitu menyadari apa yang barusan di rasakannya, Hana segera memalingkan wajahnya ke arah samping enggan menatap Argan. Dia malu dan sangat malu sampai berpikir ingin menghilang di balik pintu Doraemon.
Sementara itu, Argan juga terkejut dan sedikit syok dengan yang barusan Hana lakukan padanya, tapi selang beberapa detik kemudian pria itu memaksa Hana kembali menghadapnya lalu membalas melakukan hal yang sama dengan durasi yang lebih lama. Sampai akhirnya keduanya sama-sama kehabisan nafas.
Hosh-hosh!!
"Mas bisa menghubungi Indah jika tidak percaya, dan kita bisa periksa catatan yang saya tinggalkan di meja makan," ucap Hana setelah berhasil lepas dari Argan.
Dia bangkit dari sana, dan berjalan ke luar kamar menuju dapur tanpa menunggu Argan. Namun, ternyata pria itu mengikutinya sampai ke sana.
Hana mengedarkan pandangannya, setelah mengerutkan dahi akibat tak menemukan apa-apa di atas meja makan selain hidangan yang tidak disentuh dan mungkin sudah dingin. Wanita itu jadi gelisah, takut Argan berpikir dia berbohong.
"Tadi ada di sana!" ucapnya tanpa berani menatap suaminya.
Tentu saja itu karena dia masih malu akibat ciu*an yang dimulai oleh dirinya. Hana tidak terbiasa dengan itu, selain karena baru Argan yang merasakan bibirnya, Hana merasa itu kali pertama, karena dia juga tidak sadar kali pertama mereka, dan sampai sekarang mereka juga belum pernah melakukannya kembali.
"Pembohong!" cibir Argan tidak habis pikir.
"Aku tidak berbohong, aku meninggalkan catatan di sini!" tegas Hana sambil mencari, dan diakhirnya bisa menghela nafas saat menemukan catatannya di bawah meja.
"Lihatlah sendiri, aku tidak berbohong!" ketus Hana tampak kesal.
Argan tidak menjawab dan hanya menatap catatan itu, lalu menghela nafas sebelum berbalik dan pergi begitu saja. Membuat Hana kesal karena merasa dikacangin.
"Mas!!" panggil Hana menaikkan nada suaranya, tapi Argan tidak mendengar. Kekesalannya akhirnya berhasil memancing keberanian Hana pada Argan muncul ke permukaan.
Wanita itu segera menyusul suaminya dengan disulut sedikit emosi dan perasaan kesal yang sudah di ubun-ubun.
"Kamu nggak bisa berpikir hal kayak gitu sama aku!" bentak Hana yang bahkan menyebut dirinya 'aku,' dan bukannya 'saya' sebagaimana biasanya dia menghadapi dosen pembimbingnya itu.
"Aku wanita-wanita baik-baik, dan tidak menyelewengkan pernikahan kita! Aku menghormati kamu, dan tidak main-main di luar sana. Aku cuma menemui Indah. Bersama Indah!!" tegas Hana berapi-api.
Sontak membuat Argan berhenti dan memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing, sembari menatap Hana.
"Lalu bagaimana dengan bau alkohol pada tubuhmu, kamu menemani temanmu Indah ke bar, Hana?!"
Oh, tidak. Hana langsung terdiam kehabisan kata. Apa alasannya untuk yang satu itu. Dia mendadak mati kutu.
"Dengar Hana, saya tidak pernah berpikir kamu adalah perempuan yang buruk, tapi kamu memang naif, ceroboh, bahkan mudah terpengaruh, dan di saat yang sama kamu adalah tanggung jawab saya sekarang!" ucap Argan sambil menatap serius ke arah Hana.
"Walaupun begitu sebagai suamimu saya juga tidak akan mengekang-mu, kamu bebas melakukan apapun. Hanya saja saya akan selalu mengingatkan, Hana kamu sudah dewasa dan kamu istri saya, dan saya harap kamu bukan cuma bisa membedakan yang baik dan yang buruk, tapi bisa mengendalikan diri," jelas Argan melanjutkan.
*****
Malam itu setelah pertengkaran kecil pertama dalam pernikahan mereka, Hana jadi tak tenang dan merasa pikirannya campur aduk. Wanita itu berendam air hangat agar sedikit merasa rileks, tapi setelahnya sama saja.
"Ckckck, kenapa aku harus memperdulikan ucapannya sih? Lagian kenapa juga aku heboh bangat menjelaskan sama dia, nggak penting banget, huh ...." gerutu Hana.
Setelah berendam sebentar, Hana buru-buru menyelesaikan mandinya lalu mengenakan pakaian tidur. Namun, saat tak menemukan Argan di kamar, wanita itu secara tak sadar langsung mencari suaminya di luar kamar.
Ternyata Argan tengah di dapur, sedang mengambil air minum, tapi Hana malah reflek mendengus kasar saat melihatnya, dan itu bukan tanpa alasan.
Ternyata Argan tidak mengenakan atasan saat itu, sama seperti saat malam pertama mereka. Bahkan kali ini lebih mengerikan, karena pria itu cuma mengenakan celana pendek yang hanya menutup sampai setengah paha.
'Apa-apaan dia, kenapa sih kumat memakai gituan doang? Apa dia selalu seperti setiap habis kesal!?' batin Hana berkecamuk, dan bercabang memiliki kemungkinan yang terjadi.
"Apa yang kamu lakukan di sana, kenapa memperhatikan seperti itu?!" tegur Argan membuat Hana terkejut.
Ah, sial. Dia dipergoki habis memperhatikan suaminya sendiri. Wanita itupun geleng-geleng kepala dan mendekat. Dia merebut gelas minum Argan bermaksud untuk menutupi perasaan gugup yang tiba-tiba menderanya, lalu meminumnya.
"Sa-saya cuma haus," elak Hana supaya Argan tidak meledeknya karena barusan kepergok menatapnya.
Hal itu pun berhasil, dan Hana menghela nafasnya lega setelah Argan berdecak padanya.
"Tapi kamu tidak seharusnya menghabiskannya," omel pria itu sambil mengambil gelasnya dari Hana.
Pria itu mengisi air minum di sana, dan membuat Hana tiba-tiba menyadari sesuatu.
'Kami minum dari gelas yang sama?!' Dia merasa aneh dengan hal itu. 'Ckckck, apa yang kau pikirkan Hana. Walaupun itu sama artinya dengan menc*um tidak langsung. Langsung pun kamu sudah melakukan. Huft!'
*****