“Apakah kamu tidak mengizinkanku untuk masuk?”
Pertanyaan retoris yang terucap dari sosok yang berada di balkon kamarnya tak kunjung membuat senyuman Putri Charlotte pudar. Tangan Putri Charlotte langsung menggapai gagang pintu, membukanya, dan menyambar sosok di hadapannya dengan sebuah pelukan.
“Ethan! Aku kira aku tidak dapat melihatmu lagi.”
“Malam hari di luar ruangan sangat dingin, Tuan Putriku. Aku tidak ingin berbicara di tempat seperti ini. Kita akan bepergian sebentar lagi. Apakah kamu sudah siap untuk pergi saat ini juga? Atau aku boleh mampir ke dalam kamarmu dulu untuk menggunakan penghangat ruanganmu? Atau kamu sengaja membiarkanku membeku di luar sambil menghalangi angin menerpa badanmu?"
Kalimat demi kalimat remeh diucapkan oleh Ethan dengan cepat dan tanpa intonasi. Bi