Reika begitu senang saat melihat Pedro menjadi malu-malu karena ulahnya. Namun ia ingat kembali dengan janjinya sebelum ini untuk menjaga diri. Jadi dibandingkan dengan membicarakan masalah perempuan saat berjalan dari apartemen menuju Pehme Tera Bar, Reika lebih banyak menceritakan tentang pasangannya.
"Ia tidak sama seperti kita, Pedro. Jadi sebisa mungkin aku tidak melibatkan dia dalam rencana kita sama sekali. Walaupun pacarku itu sudah mengetahui rahasia kita," kata Reika sambil menyeberangi jalur penyeberangan pejalan kaki dan berbaur dengan orang-orang yang juga berjalan di sebelah kanan dan kirinya.
"Sebenarnya aku selalu salut dengan pemikiranmu, Reika. Bagaimana kamu benar-benar yakin dengan apa yang kamu lakukan."
"Hahaha… umur kita berbeda hampir sepuluh tahun. Aku yakin kamu akan menjadi seorang laki-laki yang penuh keyakinan."
Reika menepuk bahu Pedro sehingga membuat Pedro agak bergidik. Terlepas dari perkataan dan tindakan Reika yang spontan dan dominan, Pedro merasa cukup tenang saat Reika membahas tentang umur mereka yang berbeda cukup jauh. Pedro sering merasa bahwa ia tampak seperti anak kecil di mata Ethan maupun orang dewasa lainnya. Teringat mengenai perbedaan umur yang jauh membuat Pedro lebih memaklumi sisi kekanakan dari dirinya sendiri.
Pehme Tera Bar sudah ramai ketika Pedro dan Reika tiba. Dibandingkan memakai pintu utama bar, Reika mengambil jalan samping sehingga ia tidak perlu merespon para pêlanggan bar bila melihatnya. Reika mengeluarkan kunci dan membuka pintu di hadapannya. Sebuah koridor dengan penerangan minim pun terlihat dari ambang pintu. Mereka berdua menyusuri koridor dan begitu sampai di depan toilet, Reika dan Pedro mengecek isi toilet perempuan dan laki-laki.
"Kosong," kata Pedro dan Reika beriringan.
Setelah mengecek tidak ada orang di koridor, Pedro pun mulai mengangkat tangannya ke arah kepala Reika. Dan rambut Reika pun sudah berubah menjadi warna pirang dengan gaya bob sebahu. Pedro membuka tudung jaketnya lalu mengangkat tangannya kembali ke arah kepalanya dan warna rambut Pedro sudah menjadi sama dengan rambut Reika. Setelah merubah gaya dan warna rambut, giliran kartu identitas mereka yang diganti oleh Pedro.
"Hmmm… tampaknya huruf ini kurang simetris," kata Reika mengangkat kartu identitasnya ke arah lampu koridor supaya bisa melihat detil dengan lebih jelas.
"Ah…. Kalau Ethan mengetahuinya ia pasti menegurku karena kurang konsentrasi."
Reika menoleh ke samping dan melihat laki-laki di sampingnya sedang mengerutkan dahi sambil memainkan jari kanannya di depan kartu identitas yang dipegang dengan tangan kirinya. Melihat kemampuan Pedro saat itu, Reika sudah ingin memujinya. Namun ia tahu bahwa Ethan sengaja mendorong Pedro untuk mengasah ilmu magisnya lebih baik lagi. Jadi ia mengucapkan hal lain.
"Kalau kamu bisa memberikan detil yang sempurna pada setiap awal perubahan bentuk, kamu pasti bisa menjadi salah satu penyihir yang terkenal."
"Sebenarnya aku tidak ingin terkenal."
"Ah iya, itu kan keinginanku," kata Reika dalam hati dan melanjutkan perkataannya dengan perkataan lain, "Tapi mungkin kamu bisa menjadi lebih percaya diri."
"Aku sedang berkonsentrasi, Reika…"
"Ah baiklah…. Aku akan diam untuk membiarkanmu berkonsentrasi… sepertinya kurang naik, Pedro…. spasinya terlalu besar… yang sekarang terlalu dempet… tipe rambutnya agak berbeda tipe yang kamu buat denganku, ah tapi tidak apa-apa kalaupun berbeda yang penting warnanya masih sama… "
Setelah berbelas kali melakukan revisi pada masing-masing kartu akhirnya Pedro dan Reika pun meninggalkan Pehme Tera Bar. Mereka berdua berjalan berdampingan menyusuri jalan-jalan besar di Kota Windhill. Letak klub yang dikelola oleh Irvine Formit, Time Pause, terletak di tengah kota. Semakin ke tengah kota maka terlihat bangunan-bangunan yang sangat luas seperti mall, perkantoran, dan lainnya. Cahaya berwarna-warni pun menyorot ke berbagai arah seiring dengan bertambahnya jumlah populasi yang ikut meramaikan wilayah itu.
Pedro dan Reika melintasi bangunan demi bangunan dan berjalan santai di trotoar tengah kota. Mayoritas pejalan yang memenuhi trotoar adalah orang-orang yang ingin menikmati suasana malam hari Kota Windhill. Mereka berjalan dengan santai hingga berhenti untuk sekedar berfoto-foto di sepanjang jalan. Suasana santai seperti itu dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk mencari nafkah. Ada yang membagikan flyer dan ada yang melakukan performa live music.
Kepadatan populasi berada di beberapa bagian. Sebagian berada di jalan, sebagian berada di taman kota, dan sisanya berada di dalam gedung. Dan bisa dikatakan cukup banyak orang yang memilih klub Time Pause sebagai tujuan utama mereka. Terlihat dari antrian yang cukup panjang saat memasuki klub dengan bangunan bergaya Heritage itu. Terdapat antrian satu baris dengan ujung yang berada di trotoar jalan, melintasi jalan batu bata dengan lebar jalan yang dapat dilewati dua mobil, hingga ujung satunya berada di depan pintu masuk. Pintu masuk itu dijaga oleh dua laki-laki berbadan besar dengan tato di lengan yang berotot.
"Salah satu dari mereka dapat melihat umur," bisik Reika sebelum dirinya dan Pedro ikut mengantri di paling belakang.
Pedro mengangguk-angguk sambil memandangi pintu masuk dengan seksama. Sesuai perkataan Ethan di awal pembicaraan tentang rencana ini, Ethan menyerahkan tugas kepada Pedro karena penyihir yang bisa melihat umur berada di depan pintu masuk. Reika yang menemukan keanehan tersebut karena banyak sekali anak muda yang baru berumur tujuh belas tahun dan tidak bisa masuk. Padahal saat melihat kartu identitas mereka, mereka telah mengubahnya menjadi sesuai dengan syarat yang berlaku, yaitu berumur delapan belas tahun.
Baru saja Pedro membayangkan apa yang diobrolkan dengan Reika sebelumnya, seorang gadis sedang berteriak-teriak di depan pintu masuk. Gadis itu tidak bisa masuk karena salah satu penjaga pintu langsung menyuruhnya pergi tanpa melihat kartu identitasnya. Barisan orang yang berada di depan Pedro dan Reika pun berkurang satu demi satu. Entah orang-orang tersebut masuk ke dalam gedung maupun terpaksa pulang karena tidak diizinkan masuk oleh penjaga pintu.
Pedro menjadi agak takut bahwa penyamarannya akan terbongkar. Pasalnya ia harus menyembunyikan warna rambutnya yang terlalu mencolok bila terjadi sesuatu saat berada di dalam gedung. Sedangkan Reika takut penyamarannya terbongkar karena perihal orang tuanya. Selain karena nama orang tuanya sudah dikenal sebagai orang yang menghilang dan dibunuh oleh Exterminator, Reika pun takut bahwa Pehme Tera Bar akan disinggung oleh orang-orang yang berada di Time Pause apabila ia diketahui sebagai cucu dari Keanu.
"Bagaimanapun aku tidak boleh ceroboh saat ini. Tidak seperti dua tahun yang lalu," kata Reika dalam hati.
Baik Pedro maupun Reika dapat masuk ke dalam gedung tanpa disuruh pulang oleh penjaga pintu. Mereka berdua saling berpandangan dan mengangguk dengan yakin. Seakan saling mengisyaratkan bahwa masing-masing sudah siap untuk mencari orang yang berasal dari Kerajaan Alexandria.