Sosok yang bernama Irvine melangkahkan kaki mendekati Nick dan Near yang kini sudah berdiri bersebelahan. Sementara si pengejar hanya terdiam. Menunggu perintah selanjutnya dari atasannya.
Semakin kecil jarak antara semua orang yang berada di ruang bahan baku, semakin intens juga pandangan yang diberikan oleh Irvine kepada dua anak muda di hadapannya. Dengan sorot mata yang dingin dan wajah yang ketus, Irvine memindai Nick dan Near dari ujung kepala hingga ujung rambut. Lalu akhir dari pindaiannya berlabuh pada bagian mata kembali. Membuat orang yang dipandangi merasa terintimidasi.
"Siapa kalian?"
Walaupun pertanyaan yang diucapkan Irvine adalah untuk dua orang, namun pandangan Irvine tidak lepas dari mata Nick. Near pun bisa merasakan bahwa bukan dirinya yang menjadi fokus utama dari Irvine, tapi gadis di sebelahnya yang mempunyai penampilan sama dengan laki-laki.
"Kami tersesat," kata Nick datar dengan memakai alasan yang sama saat ditanya sebelumnya.
"Tersesat sambil memukul anak buahku dengan wajan," kata Irvine dengan nada dan senyuman sinis.
Wajah Irvine berubah dari yang awalnya tidak berekspresi kini sedang mengerutkan dahinya. Masih tidak melepas pandangan ke arah Nick, Irvine berjalan semakin mendekati dua orang di hadapannya hingga jaraknya kurang dari satu meter. Nick membalas pandangan Irvine dengan mata yang menantang dan tidak ada ketakutan sama sekali.
"Kalau begitu kami akan keluar sekarang. Maaf membuat keributan di wilayah Anda," kata Near menarik lengan Nick untuk membawanya pergi.
"Tunggu… aku tidak membiarkan kalian pergi begitu saja."
Near hanya bisa menelan ludah saat Irvine mendorong bahunya dan menahannya untuk pergi. Dari awal pernyataan Irvine mengenai kepemilikan klub, Near ingin sesegera mungkin keluar dari ruangan itu dan tidak ingin berurusan Irvine. Near sudah mencari sedikit informasi tentang lawan bicaranya ini namun informasi yang didapat bukanlah hal-hal yang baik. Apalagi saat ini Irvine sedang mengamati Nick sehingga hal itu membuat Near semakin tidak nyaman.
Setelah hingga satu menit mengamati orang di hadapannya, Irvine akhirnya melepaskan pandangan dari Nick. Irvine melihat ke arah anak buahnya yang berada di belakang Nick lalu menyuruhnya pergi. "Temui aku setelah selesai berurusan dengan mereka," tambah Irvine mengundang anggukan dari anak buahnya.
"Kami sedang mencari orang di wilayah Anda. Tolong biarkan kami untuk mencarinya sekarang," kata Nick berusaha berkata sopan seperti yang dilakukan oleh Near sebelumnya.
"Kalian berdua ikut ke ruanganku."
Nick menghela nafas dengan keras dan melihat ke samping untuk menanyakan pendapat Near. Near tampak tidak ingin berurusan dengan Irvine memakai k*******n sehingga mau tidak mau menyuruh Nick untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh Irvine.
Nick dan Near melewati koridor yang telah dilewati oleh mereka. Sambil berharap bahwa Pedro bisa melihatnya, Nick menoleh ke kanan kirinya namun tidak mendapatkan apa-apa dan hanya ada bekas pintu kecil yang dibuat oleh Pedro di koridor. Mereka melewati pintu tersebut, berbelok ke arah kanan, lalu terus berjalan hingga berhenti di depan sebuah lift yang berada di ujung koridor.
Pintu lift terbuka dan Irvine mempersilahkan kedua anak muda di belakangnya untuk masuk terlebih dahulu. Setelah ketiga orang berada di dalam, Irvine memasukan sebuah kartu ke dalam dinding di samping pintu lift lalu menekan tombol tiga.
Near semakin waspada karena tingkah Irvine sungguh tidak dapat ditebak. Untuk apa membawa dua anak muda yang berulah ke ruangannya? Dan mengapa ia melihat ke arah Nick seperti itu? Di sisi lain Near pun bertanya-tanya tentang ilmu magis yang dikatakan oleh laki-laki berbadan besar di ruang penyimpanan bahan baku. Aku tidak mengeluarkan kekuatan magis sama sekali. Apakah yang dikatakan oleh orang itu adalah benar ataukah dia sengaja menuduh kami sebagai penyihir tanpa bukti?
Pintu lift terbuka kembali dan terlihat ruangan yang cukup besar untuk dapat dikatakan sebagai ruang bersantai. Salah satu sisi ruangan tergantikan oleh kaca sehingga bisa melihat pemandangan Kota Windhill yang menampilkan cahaya berkilauan di tengah gelapnya langit. Enam buah sofa dan dua buah meja terletak di tengah ruangan dengan televisi lima puluh inchi di seberang tempat duduk tersebut. Dan pada pijakan lantai yang lebih tinggi terpajang sebuah grand piano berwarna putih dengan penutup yang terbuka.
Ruangan tersebut tampak elegan dengan d******i warna putih, ukiran pada pilar dan lemari tinggi, serta lampu gantung kristal yang berada di tengah ruangan. Nick melihat suasana ruangan dan familiar dengan desainnya. Ia merasa sedang berada di dalam istana Alexandria namun diisi dengan interior yang modern.
Irvine duduk di salah satu sofa dan menyuruh kedua tamunya untuk duduk. Sambil menyilangkan kakinya dengan santai, Irvine mencondongkan badan ke arah Nick yang baru saja mengambil posisi untuk duduk dan memandangnya kembali.
"Apakah Anda benar-benar tidak mengenal saya?" tanya Irvine dengan bahasa yang formal sehingga membuat Nick langsung kebingungan. Melihat wajah Nick yang kebingungan, Irvine hanya tersenyum dan melanjutkan, "Bahkan saya langsung tahu dari kedua bola mata Anda walaupun Anda menyamar seperti ini."
Near langsung menangkap situasi yang terjadi saat itu. Irvine baru saja mengatakan secara tidak langsung bahwa Nick adalah Putri Charlotte. Penyamaran Nick yang terbongkar tentu saja membuat Near menjadi waspada.
"Tenang, aku tidak akan menyakitinya sama sekali," kata Irvine memperlihatkan telapak tangannya pada Near sebagai tanda untuk mencegah Near berbuat sesuatu lebih jauh dengan k*******n.
Near mengepalkan tangan kanannya dan berusaha menahan diri. Walaupun Near mengikuti perkataan Irvine, ia berencana saat Irvine menyentuh Nick sedikit saja, ia tidak akan tinggal diam. Near pun mengubah arah pandangan dari Irvine ke arah Nick.
Nick sedang memandang Irvine dengan dahi mengerut. Ia sudah sadar bahwa orang di depannya ini adalah orang yang berasal dari masa lalunya namun masih berusaha berpikir keras untuk mencari jawaban.
Wajah yang dilihatnya memang tampak familiar. Namun Nick tidak pernah benar-benar bertemu dengan orang yang berwajah seperti Irvine saat ini. Sebuah pertanyaan pun terlintas di benak Nick : Apakah aku bertemu dia saat masih kecil?
"Renzo?" tanya Nick seiring bola matanya yang membesar dan senyuman yang terukir di bibirnya.
Setelah Irvine membalas pertanyaan Nick dengan anggukan, Nick langsung beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Irvine.
"A...ku tidak sadar sama sekali. Waktu itu kamu masih kurus dan tidak setinggi ini! Aku tidak menyangka akan bertemu kembali denganmu!"
Near terdiam melihat tingkah laku Nick sambil berpikir mengenai nama yang baru saja diucapkan oleh Nick. Lalu Near pun tersadar. Renzo Peruvian. Ia adalah pengawal pribadi Putri Charlotte yang menghilang bahkan sebelum Putri Charlotte berumur sepuluh tahun. Setelah itu tidak ada lagi yang menggantikan Renzo sebagai pengawal pribadi Putri Charlotte atas keinginan Putri Charlotte sendiri.