Pada akhirnya hanya Ethan yang masih bertahan setelah tangan Nick dikompres selama lima menit. Pedro sudah minta izin untuk tertidur lebih dulu dan Nick memejamkan matanya berkali-kali saat sedang berbicara. Beberapa saat setelah Ethan menyuruhnya berhenti berbicara dan menaruh kepalanya di atas bantal kecil yang diletakkan di atas meja pantry, Nick pun tertidur pulas.
Sebelum Ethan hanyut dalam pikirannya sendiri, ia melihat wajah Nick yang tampak tenang saat tertidur. Ethan mengganti tangan kanannya yang sedang mengompres Nick dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya menggapai rambut Nick, menyeka poninya ke arah samping supaya tidak mengganggu sosok yang sedang tertidur itu. Apabila tidak ada hal lain yang harus dipikirkan, Ethan memilih untuk bersantai sejenak melihat tingkah gadis di depannya. Terkadang Nick suka tertidur sambil menggerak-gerakkan bibirnya seakan ia bermimpi sedang memakan sesuatu. Pemandangan sederhana itu membuat Ethan tersenyum dan menjadi ikut merasakan ketenangan dalam diri Nick.
Lima belas menit berlalu dan Ethan sudah siap melaksanakan rencananya yang diolah dalam pikirannya selama ini. Tujuan utama. Langkah-langkah yang harus dilakukan. Informasi-informasi yang akan ditanyakan. Resiko. Kondisi terburuk. Walau Ethan tahu persis tidak ada rencana yang akan berjalan dengan sempurna, ia akan berusaha mengejar hasil yang di bawah sempurna. Sebisa mungkin Ethan tidak ingin dikagetkan kembali seperti saat mengetahui bahwa Irvine Foremit berasal dari Keluarga Peruvian.
Karena Nick tertidur pulas sampai-sampai tidak terbangun sama sekali saat Ethan merapihkan lengan bajunya, Ethan pun menggendong Nick ke dalam kamar lalu menidurkannya di atas ranjang dengan jauh lebih hati-hati dari biasanya. Setelah memakaikan selimut pada Nick dan mengucapkan "goodnight", Ethan pun menghilang. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan yang ada untuk bertemu dengan pelayan Time Pause yang dicurigai berasal dari Kerajaan Alexandria.
*****
Matahari mulai memberikan kontribusi pada semesta dan membuat warna langit menjadi lebih muda dari kegelapan yang terlukis beberapa menit sebelumnya. Lampu-lampu yang berada di trotoar pun sudah mulai padam satu per satu. Trotoar jalan sudah sangat sepi. Jalan besar yang diapit oleh dua baris trotoar kini hanya memperlihatkan kurang dari lima kendaraan yang melintas setiap menitnya. Suasana pagi hari itu sunyi senyap dan sangat berbeda dengan suasana malam hari yang gegap gempita.
Suasana pagi hari itu menggambarkan mayoritas penduduk Kota Windhill yang mungkin masih tertidur sehingga tak tampak di jalanan. Namun ada beberapa pekerja yang baru menyelesaikan pekerjaannya di pagi hari dan kini sedang memberikan sedikit nuansa kehidupan pada sebuah jalan besar di tengah Kota Windhill. Para pekerja itu keluar dari tempat mereka bekerja dan bersiap-siap untuk kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing.
Seorang gadis berambut pirang menundukan badan dan melambai-lambaikan tangan pada sekumpulan orang yang mempunyai arah berbeda dari jalan pulangnya. Sambil menarik resleting jaketnya, gadis itu pun berjalan di atas trotoar besar yang terletak di depan tempat kerjanya.
Perjalanan dari tempat kerja menuju tempat tinggal gadis itu membutuhkan waktu setengah jam. Ia harus berjalan sekitar sepuluh menit, menaiki bus untuk kemudian berjalan kembali dari tempat ia turun dari bus menuju rumah susun yang berada di pinggiran Kota Windhill. Ia sengaja memilih tempat tinggal yang tidak membutuhkan biaya yang besar dibandingkan tempat tinggal yang berada di tengah-tengah kota.
Gadis itu tidak merasakan ada perbedaan antara pagi hari itu dengan pagi hari sebelumnya hingga ada orang asing yang tiba-tiba mencegatnya di depan pintu rumahnya. Sosok yang asalnya memakai penutup kepala kini sudah memperlihatkan wajahnya dengan jelas.
"Sudah berapa lama kamu berada di kota ini?"
Mendengar pertanyaan dari Ethan yang terdengar ganjil, gadis itu menoleh ke arah sekitarnya namun tidak ada siapa pun di koridor lantai enam dari rumah susun itu. Padahal ia bermaksud berlari ke arah siapa pun yang berada di koridor untuk memberikannya rasa aman. Dengan memaksakan diri untuk terlihat berani, si gadis pun mendongak dan membalas pandangan Ethan yang dingin.
"Siapa kamu? Buat apa aku menjawab pertanyaanmu?"
"Aku tahu bahwa kamu adalah pelayan di Time Pause. Aku hanya ingin mendapatkan informasi darimu."
"Percuma saja, aku tidak bisa memberitahukan apa-apa. Aku hanyalah seorang pelayan yang bekerja di dapur. Jadi apakah aku sudah bisa masuk ke dalam tempat tinggalku sendiri?"
"Apakah wajar bila penduduk Kota Windhill tidak mengerti cara mengoperasikan sebuah remote AC? Bahkan orang-orang di desa pun sudah tahu barang itu sejak lama," kata Ethan sambil melebih-lebihkan pernyataan untuk memancing identitas orang di hadapannya.
Si gadis langsung membelalak. Keberaniannya tiba-tiba ciut seketika saat ada orang yang bisa langsung mengetahui bahwa ia bukan berasal dari Kota Windhill. Terlebih lagi ia tidak mengetahui seberapa anehnya bahwa seseorang tidak mengetahui cara mengoperasikan remote AC.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu."
"Apakah aku harus memperlihatkan rekaman saat kamu dimarahi oleh atasanmu di Time Pause?"
"A…ku tidak mengerti! Tolong jangan ganggu aku!"
"Brakk!"
Ethan terpaksa harus memberikan intimidasi lain apabila perkataan tidak dapat membuat gadis di depannya memberikan informasi untuknya. Sambil meninju pintu kayu di depannya, Ethan mendekatkan wajahnya pada si gadis sambil melihat kedua mata gadis itu dengan kesal.
"Sekarang kamu akan membiarkan aku masuk atau dalam lima detik ke depan aku membawamu pergi dari sini dengan cara kekerasan."
Si gadis melihat ke sekitar kembali. Berharap ada orang yang mendengar keramaian di pagi hari ini dan keluar dari ruangannya untuk mengecek sehingga saat itu ia bisa berteriak meminta tolong. Atau sekarang saja aku langsung berteriak? Tapi hanya dalam dua detik, apakah cukup?
"Satu…"
"Ya! Aku akan membiarkanmu masuk."
Si gadis pun membuka pintu dan Ethan langsung mengikutinya dari belakang. Gadis itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan menyesal. Hanya karena orang asing menghitung mundur dari angka lima, ia mau tidak mau memperkecil resiko untuk diculik dengan cara menyetujui penawaran yang diajukan.
"Jadi sudah berapa lama kamu berada di sini? Sebelumnya kamu berada di mana?"
Gadis itu menyalakan lampu dan memandang Ethan dengan kesal. Bahkan ia belum membuka sepatunya untuk masuk ke rumahnya sendiri dan tamu asingnya sudah menghujani dua buah pertanyaan.
"Aku baru sebulan berada di sini. Mendapatkan pekerjaan tanpa identitas bukanlah hal yang mudah. Tolong jangan persulit hidupku yang sudah sulit ini."
"Jadi kamu tahu di mana orang-orang sepertimu yang tidak mempunyai identitas?"
"Ya. Di tempat kerjaku. Pemilik klub banyak menerima orang-orang sepertiku. Ia tidak berkeberatan menerima kami."
"Jawaban dari pertanyaan kedua?"
Si gadis menghela nafas dengan keras. Tamu yang memaksa masuk ke tempat tinggalnya bukan hanya penuh intimidasi tapi juga tidak sabar.
"Aku berasal dari tempat yang kalian kira hanyalah sebuah dongeng belaka…. Kamu tidak akan percaya kan? Jadi buat apa aku mengatakannya pada orang-orang sepertimu?" Gadis itu berbicara non stop saat melihat Ethan hanya terdiam memandangnya dan mengira Ethan tidak mempercayai omongannya.
"Kalau kamu disuruh memilih angka. Angka berapa yang akan kamu pilih?"
Pertanyaan Ethan membuat gadis itu terdiam dan tidak bisa berkata-kata. Untuk beberapa saat baik Ethan maupun gadis itu tidak mengeluarkan suara sama sekali.