Saat Ethan sudah berada di ruangan apartemen miliknya, Nick dan Pedro masih tertidur dengan pulas. Tentu saja. Kedua anak muda itu baru tertidur selama tiga jam karena kejadian kemarin malam.
Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Ethan mempersiapkan sarapan terlebih untuk dua penghuni ruangan yang lain. Lima belas menit kemudian, dua buah sandwich sudah berada di atas meja pantry dan ditutupi oleh bungkusan plastik. Di samping piring yang berisi sandwich, Ethan juga meletakan sebuah memo kecil untuk Nick dan Pedro.
Aku baru tidur jam setengah delapan jadi jangan berisik. Aku akan bangun jam sebelas dan kita bertiga akan pergi ke suatu tempat. Aku sudah menghubungi Near untuk tidak datang hari ini.
Tiga kalimat ditulis di atas secarik kertas dengan tulisan sambung yang klasik. Tulisan khas jaman dahulu yang sudah tidak banyak dijadikan tulisan standar anak muda jaman sekarang kecuali dengan sengaja memasukan unsur seni kaligrafi ke dalamnya. Setelah selesai menyiapkan sarapan dan pemberitahuan rencananya, Ethan pun masuk ke dalam kamar. Membersihkan badan lalu tidur.
Jam sepuluh siang, Pedro terbangun dan disusul oleh Nick. Mereka berdua pun membaca memo yang diberikan oleh Ethan bersama-sama.
"Pergi ke suatu tempat?"
"Ah, padahal aku sudah mengatakan pada Near sampai bertemu hari ini."
Nick dan Pedro berbicara bersamaan namun kedua anak muda itu berfokus pada hal yang berbeda dalam satu catatan yang sama. Lalu Nick dan Pedro tertawa bersamaan karena memikirkan hal lain di luar yang mereka ucapkan sebelumnya. Dan mereka yakin bahwa pikiran mereka tertuju pada satu orang yang sama yaitu Ethan.
"Kalau Ethan… pasti ia akan fokus pada kalimat pertama yaitu jangan mengganggu dia yang sedang tertidur."
Pedro mengangguk-angguk sambil tertawa terkekeh-kekeh mendengar ucapana Nick. Lalu ia membuka plastik yang membungkus sarapannya dan mengambil satu potongan sandwich untuk meredakan suara perut yang sudah kelaparan.
"Bagaimana tanganmu, Nick?"
"Bila disentuh masih sakit. Saat ini belum bengkak dan semoga saja tidak bengkak. Sehabis makan aku akan mengompresnya kembali...."
Baru saja Nick akan melanjutkan perkataannya perihal laki-laki yang mengejar Pedro namun ingatannya menahan dirinya untuk berbicara. Ia teringat saat mengobrol dengan Ethan di mobil hari kemarin. Ethan mengingatkan dirinya supaya tidak membahas hal tersebut dengan Pedro kecuali Pedro yang ingin membahasnya terlebih dahulu.
Nick tidak menyinggung apa-apa sampai akhirnya Pedro sendiri yang menginisiasi percakapan saat mereka bersinergi untuk membersihkan ruangan bersama-sama. Nick sedang mencuci piring dan Pedro sedang menyapu ruangan.
"Kemarin aku bertemu dengan pria gila itu. Dia adalah yang mengejar-ngejarku sampai ke…. dapur dan ruangan lain di dalam dapur." Pedro berusaha mengingat kejadian kemarin malam dan ingatan tentang lokasi dirinya agak samar-samar karena terlalu ketakutan. "Apakah dia yang memukulmu, Nick?"
"Ah… iya… kamu sudah tidak perlu memikirkannya, Pedro. Yang penting kita bisa kabur dari tempat itu. Kamu tidak akan bertemu lagi dengannya."
"Maafkan aku, Nick. Seharusnya aku bisa mengatasinya sendirian sehingga tidak perlu membuatmu terluka seperti ini. Namun aku terlalu takut dan hanya bisa melarikan diri," kata Pedro menghentikan kegiatannya dalam menyapu dan memandang ke arah dapur. Lalu ia melanjutkan, "Walaupun Ethan tidak mengatakan apa-apa, aku bisa melihat wajahnya yang tidak tenang. Setelah ini ia pasti tidak akan mempercayaiku lagi bisa menjagamu."
"Kamu pasti bisa melawannya di lain kesempatan, Pedro. Kemarin kamu hanya kurang persiapan. Setelah ini kamu pasti bisa mengatasinya. Lagipula luka ini tidak seberapa dibandingkan saat melakukan latihan fisik dengan Ethan," kata Nick sambil menekuk tangan kanannya dan berpura-pura memperlihatkan otot yang sebenarnya tidak ada.
"Hahaha… melihatmu seperti ini membuatku benar-benar sulit membayangkanmu sebagai perempuan."
Melihat Pedro ceria kembali dari wajahnya yang murung membuat Nick tersenyum puas. Walaupun begitu hati Pedro masih dipenuhi keraguan. Benarkah aku bisa mengatasinya bila ada persiapan? Ataukah memang aku hanya bisa melarikan diri di saat ketakutan?
Sebelum Ethan terbangun, Nick dan Pedro sudah mandi dan bersiap-siap untuk pergi sesuai dengan yang tertulis pada memo. Mereka bahkan masih bisa bercerita banyak hal mengenai kejadian kemarin dari persepsi mereka masing-masing. Pedro menceritakan tentang kejadian sebelum Nick dan Near datang menyelamatkannya. Sedangkan Nick menceritakan kejadian setelah Pedro berhasil melarikan diri dari gudang. Nick juga menceritakan tentang Irvine yang ternyata adalah pengawal pribadi Nick saat ia masih kecil.
Saat Nick berbicara tentang masa lalu di mana dirinya diculik bersama dengan pengawal pribadinya perkataannya terhenti karena mendengar suara pintu terbuka. Ethan keluar dari pintu tersebut dengan pakaian yang sudah berbeda dengan yang ia pakai pada malam hari.
"Setelah makan siang kita akan pergi," kata Ethan menoleh pada kedua anak muda yang sedang asyik mengobrol di sofa, lalu berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan makan siang.
Seperti anak-anak ayam yang akan diberi makan oleh induknya, Nick dan Pedro menghentikan pembicaraan lalu membuntuti Ethan ke arah dapur untuk duduk di kursi pantry. Pedro menarik nafas panjang, melihat ke arah Nick untuk meminta dukungan, lalu mulai berbicara.
"Ethan… maafkan aku. Kamu sudah mempercayakannya padaku tapi aku tidak bisa melakukannya dengan baik."
"Ternyata aku terlalu dini untuk memberikanmu tugas seperti itu. Kamu tidak salah sepenuhnya."
Nick dan Pedro saling berpandangan. Ethan tidak memarahi kesalahan mereka adalah hal yang sangat jarang terjadi. Pertama, saat Nick meminta maaf telah bersikeras ikut bersama Ethan. Dan kedua adalah saat ini. Suara Ethan tidak terdengar sedang kesal dan ia tampak tenang memasak di dapur.
Saat Ethan siap menuangkan tumisan buncis ke atas tiga buah piring yang diletakkan di atas meja, gerakannya terhenti sejenak. Dua pasang mata sedang memperhatikannya dengan alis yang ditekuk.
"Apa maksud dari pandangan kalian?"
"Kami hanya tidak mengerti mengapa kamu tidak memarahi kami akhir-akhir ini," kata Nick masih memandang mata Ethan dengan intens.
"Kalian bukan anak kecil lagi, bukan? Aku tidak bisa selalu memberitahukan kalian apa yang menurutku benar. Kalian sudah mempunyai tanggung jawab untuk memilih yang menurut kalian benar."
Untuk sesaat Nick teringat akan perkataan Ethan saat memarahinya terakhir kali : kamu yang akan menentukan sendiri bagaimana keadaan bahaya yang harus dihadapi dan dihindari. Sebelum kejadian demi kejadian yang menimpanya dan orang sekitarnya, Nick dan Pedro selalu dibantu oleh Ethan sehingga mereka tetap merasa aman. Dan setelah kejadian di Desa Kukree, mereka berdua mau tidak mau mencari jalan keluarnya sendiri. Nick merasa hal tersebut memang membantunya untuk lebih tanggung jawab. Tapi Nick masih bertanya-tanya apakah Ethan sudah menghitung konsekuensi dari tindakannya seperti yang biasa dilakukan.
Ethan bukannya tidak tahu konsekuensi atas kelonggaran pengawasannya namun banyak hal yang tidak bisa diperhitungkan apabila melibatkan banyak orang. Baru saja Ethan merasa Nick bisa menjaga dirinya sendiri, ia sudah harus menerima fakta bahwa Nick baru saja diketahui sebagai Putri Charlotte oleh salah satu keluarga Peruvian. Selain itu Ethan pun cukup waspada bila Nick semakin pintar dalam menyembunyikan sesuatu di hadapannya. Walaupun tentu saja ia tidak bisa melarang Nick melakukan hal tersebut.
Namun dari semua ketakutan yang Ethan bayangkan, masih ada sisi positif yang bisa diambil. Yaitu bahwa Nick benar-benar tidak takut saat menghadapi orang yang lebih kuat darinya sekalipun. Dan hal tersebut membuat Ethan lebih yakin untuk sedikit demi sedikit membiarkan Nick belajar dalam menghadapi masalah di dunia luar.