Matahari kembali keperaduannya, rembulan kembali kepersembunyiannya, langit biru yang menghiasi langit kota saat itu sangat tepat untuk menemani aktivitas pagi ini.
Randy dan Ralina menyiapkan sarapan di kediaman keluarga kecil Lucas. Ralina mengelap sendok dan garpu, lalu Randy meletakan piring-piring disetiap bangku.
"Pagi" seru Rafael yang baru saja mendatangi ruang makan.
"Pagi" jawab Randy.
"Dimana Queenzy?"
"Masih di kamar" jawab Randy.
"Biar aku yang memanggilnya" ujar Ralinamulai melangkah menjauh, wajahnya masih sedatar semalam.
Rafael terdiam melihat kepergian ibunya, sedangkan Randy yang mulai mengerti tentang keadaan hanya lanjut melakukan tugasnya. Atmosfernya memang berbeda, mungkin ayah dan neneknya memang sedang ada masalah. Biarlah bukan urusan Randy, mereka sudah dewasa bisa menyelesaikan masalah sendiri.
"Nek, biar Randy saja" Randy menahan tangan neneknya lau berlau pergi ke kamar, membuat sang ibu kembali lagi dengan kegiatannya. Dia pun duduk di kursi makan, menuangkan s**u ke gelas cucu-cucunya, tanpa berniat menyapa anaknya, bahkan untuk menganggap di sana ada orang pun tidak.
Rafael hanya menatap kikuk pada sang ibu, ini yang dia tidak suka. Ibunya akan terdiam ketika mereka berseteru.
"Bu" panggil Rafael lembut. Dia bosan berdiam-diaman dengan sang ibu. Dia jadi merasa seperti anak durhaka.
Tak ada tanggapan.
"Ibu, a aku minta ma..."
"Makanlah" titah Ralina yang membuat Rafael agak sedikit tersenyum, setidaknya ibunya masih bisa membalas ucapannya. Dia pun segera mengikuti ucapan sang ibu, dia duduk tepat di depan ibunya.
"Pagi" seru Queenzy tiba-tiba yang sudah cantik dengan kuncir kepangnya.
"Pagi, wah cucu nenek cantik sekali" ujar Ralina sembari mengangkat tubuh Queenzy ke kursi di sampingnya.
Queenzy tersenyum manis.
Ralina meletakan nasi goreng buatannya ke atas piring Queenzy "cucu nenek harus makan yang banyak" katanya dengan nada yang berubah 180 derajat disaat dia berbincang dengan anaknya.
Namun Rafael mulai tak mempermasalahkan hal itu, mendengar suara ibunya saja dia sudah senang.
"Siap" jawab Queenzy lucu.
Rafael tetap menatap kedua malaikat cantiknya. Beberapa tahun lalu, dia yang diperlakukan seperti itu dan sekarang sudah berubah jadi anaknya. Hah, dia ternyata sudah tua, sudah banyak lika-liku kehidupan yang dia alami, sampai bisa pada dititik ini sekarang.
"Ayah?" Panggil Randy.
Rafael hanya terdiam. "Ayah" panggilnya lagi dengan sedikit keras.
"Ah iya?" seru Rafael gelagapan. Sepertinya dia keasyikan melamun.
"Ayah kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Queenzy. "Ayah seperti orang gila senyum-senyum seperti itu, hiiii" tambahnya bergidig.
Ralina menatap anaknya, dia juga ingin tertawa melihat anaknya yang tersenyum sendiri seperti itu, tetapi gengsinya lebih besar daripada rasa ingin tertawa.
"Setampan ayah masa orang gila" jawabnya dengan percaya diri.
"Ih ayah terlalu percaya diri" Queenzy tidak suka jika ayahnya sudah membanggakan diri sendiri.
Randy terkekeh pelan, Ralina pun sedikit menyunggingkan senyum. Rafael berhasil meruntuhkan sedikit sifat gengsi ibunya dan dia sangat bersyukur.
"Sudah pada makan!" titah Ralina yang langsung dilaksanakan oleh ketiganya.
Mereka berempat sudah selesai sarapan dan akan berangkat.
"Ayo Randy Queenzy, sudah siang" Rafael menyampirkan snellinya pada lengan kiri, dia sudah siap akan berangkat.
"Iya ayah" teriak Queenzy yang sedang dibantu untuk menggendong tasnya oleh Randy.
Ralina menghampiri Rafael "aku yang akan mengantar mereka, kau pergi saja lebih dulu" katanya berubah dengan wajah datar.
Ibunya mulai lagi, air muka ibunya masih mengeras, sepertinya beliau masih marah pada Rafael. Mau tidak mau Rafael pun mengangguk dan mengikuti kata-kata ibunya lagi. Dia pikir ibunya sudah lebih baik tadi, ternyata belum. Susah juga ya menghadapi ibu yang sedang marah, Rafael jadi merasa sangat bersalah, tapi dia juga punya pilihannya sendiri untuk kali ini.
Rafael mendekati anakn-anaknya lau mengecup pucuk kepalanya satu persatu sebagai salam perpisahan. "belajar yang rajin ya" nasihatnya pada kedua anaknya. Aetelah mendapat balasan 'ok' Rafael kini menghampiri ibunya, tapi belum juga dia mengecup pipi ibunya seperti biasa, sang ibu sudah melengos begitu saja menuju mobil
Hembusan napas berat pun terdengar di wajah Rafael, namun dia kembali merubah mimiknya saat Randy menatapnya dengan seksama. "ya sudah kaian berangkat duluan saja,"
"Baik" balas keduanya yang segera berlari menuju mobil minimalis milik neneknya. Ya, Ralina memang masih pandai membawa mobil diumurnya yang sudah tidak muda lagi.
Anak-anaknya pun masuk ke dalam mobil, tak lama mobil ibunya pun berlalu, tanpa klakson membuat Rafael yang awalnya ingin mengucapkan selamat tinggal dengan mengangkat tangan jadi merasa ragu.
Mobil silver itu pun menghilang di beloka, membuat Rafael menghela napas panjang. Apakah Rafael salah jika memiliki pilihannya sendiri?
---
Ralina mengenderai mobil dengan pelan, dia akan mengantar kedua cucunya ke sekolah. Randy duduk dikursi penumpang depan bersama neneknya, sedangkan Queenzy duduk tenang dengan boneka teddynya di kursi belakang.
"Ehem" Ralina berdehem, coba mengambil atensi kedua cucunya.
Randy menoleh.
"Nenek ingin bertanya sesuatu"
Agaknya si tampan pun mengernyit,"apa, nek?"
"Menurut kalian Beverlly bagaimana?"
Randy terdiam, dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa, dia tidak terlau mengenal wanita itu, bahkan bertemu pun hanya tiga kali, bagaimana bisa dia menilai seseorang yang jarang dia temui?
"Dia seperti nenek sihir dalam dongeng," celetuk Queenzy yang membuat Ralina hampir terpelatuk. Hampir saja dia menabrakkan diri ke trotoar, cepat-cepat dia menginjak pedal rem, membuat mobil mereka berhenti mendadak, dan tubuh mereka reflek terbawa ke depan. Beruntung mereka memakai sabuk pengaman.
"Benarkah?" tanya Raliana yang sudah menghentikan mobilnya di pinggir jalan dengan seutuhnya.
Queenzy mengangguk, "tapi waktu itu dia membelikanku permen kapas" jelas lagi.
Ralina mulai berhenti dari keterkejutannya, lalu melajukan mobilnya kembali. "Apa dia masih seperti nenek sihir?"
"Tentu" jawab Queenzy polos.
Ralina memperhatikan cucu bungsunya yang sibuk memakan permen kaki dengan pandangan menyelidik. "Queenzy mau punya ibu baru?"
Randy menoleh ke arah Queenzy, dia juga penasaran dengan jawaban yang akan dilontarkan adiknya.
"Tidak" jawab Queenzy menggeleng.
"Kenapa?"
"Kata teman Queenzy, ibu tiri itu jahat, jadi Queenzy tidak mau punya ibu tiri" jelasnya yang membuat Ralina menghela napas.
Sejumput senyum muncul di wajah tampan Randy, dia cukup senang dengan jawaban yang diutarakan adiknya, berbanding terbalik dengan neneknya yang terlihat tidak puas dengan jawaban itu.
---
Jessie masih setia di depan cermin, dia sedang menyisir rambutnya. Dia mulai mengikat rambut dan tersenyum depan kaca. Namun seketika senyumnya menghilang ketika dia mengingat sesuatu. Jessie ingat kata-kata Antolin tadi malam.
'hal yang aku tidak suka adalah melihatmu menguncir rambut'.
Buru-buru Jessie segera melepas ikatan rambutnya lalu menyisir lagi.
"Cantik" gumamnya tersenyum.
Lalu ia bergegas keluar apartemen. Seperti biasa, Jessie harus jalan ke halte bis terdekat dari apartemennya. Dengan santai dia melangkah sembari mendengarkan musik dari airpodnya.
Dia menikmati lagu yang sedang ia dengarkan, lagu With you yang dipopulerkan oleh Chris Brown cukup menenangkan. Setiap dentuman nada yang tercipta diikutinya dengan menganggukkan kepala secara berirama. Namun, keasyikannya tak bertahan lama. Sebelum dapat mencapai halte bis, sebuah mobil menghentikan langkahnya.
Jessie sendiri bingung kenapa mobil itu terus mengikutinya, sampai pada saat sang empu mobil membuka jendela mobilnya, betapa kagetnya dia saat menyadari seseorang yang ada di dalam mobil itu adalah...
"dr. Raynold" seru Jessie.
Antolin menampakkan senyuman manisnya. "Butuh tumpangan?" ajaknya.
Sedangkan Jessie terdiam cukup lama, membuat Antolin mengernyit bingung.
"Ayo cepat naik" ajaknya lagi.
Suara itu mengintrupsinya untuk segera bergerak dan naik mobil. Dia duduk di kursi penumpang depan dan memakai sabuk pengaman dengan perasaan dagdigdug seperti biasanya. Semoga jantungnya aman. Antolin pun melajukan mobilnya.
"Ehem" Antolin mencairkan atmosfer dingin yang selalu tercipta diantara mereka berdua. "Kau biasa berangkat jam segini?" Tanya Antolin mwmulai perbincangan.
Jessie segera melwpas airpodnya lalu mengangguk. "Ya, bagaimana dengamu, dok?" Tanya Jessie balik.
"Antolin" pinta si empu nama.
"A ah iya Antolin" ulang Jessie, jujur dia masih kikuk untuk memanggil Antolin dengan sebutan nama saja tanpa embel-embel dokter.
Antolin tersenyum mendengarnya "hmm, biasanya aku sering mepet waktu jika berangkat"
"Lalu kenapa kau berangkat jam segini?" Tanya Jessie bingung, ini bukankah terlalu pagi untuknya?
"Karena aku ingin menjemputmu"
Bagaikan petasan, hatinya meledak-ledak mendengar ucapan lelaki tampan di sampingnya. Memang dasar dokter, pintar saja membuat jedag-jedug hati manusia.
Antolin mencuri pandang ke arah Jessie. "Kau tidak apa-apa?"
Jessie mengangguk. "Tentu"
"Tapi pipi mu merah?"
Langsung saja dia menangkup kedua pipinya, jujur saja dia malu setengah mati mendengar ucapan dokter tampan itu, bisa-bisanya dia bicara jujur seperti itu, apa dia tidak tahu kalau ciri-ciri wanita berpipi merah setelah diajak bicara lelaki tampan maksudnya dia suka? Beruntung mereka hampir sampai, coba saja jika masih jauh, tak terbayang lagi oleh Jessie bagaimanamalunya dia. Mobil Antolin pun memasuki area rumah sakit dan masuk ke tempat parkiran khusus karyawan rumah sakit.
"A aku duluan" Jessie buru-buru membuka pintu dan mengangkat badannya untuk keluar mobil, tetapi dia lupa jika sabuk pengamannya masih menyilang di tubuhnya, yang membuat tubuhnya tertahan, dan tanpa sadar dia sudah membuat beban malunya bertambah.
Lenyap saja kau Jesss, serunya dalam hati.
Antolin tergugu melihat kelakuan penjaga kasir tersebut, sampai akhirnya dia menahan tawa dan membantu Jessie membuka sabuk pengamannya. "Hati-hati" katanya dengan menyondongkan tubuhnya untuk melepas sabuk pengaman yang mana wajahnya sangat berdekatan dengan Jessie.
Jessie terdiam cukup lama, wajah lelaki itu tepat di hadapannya dan ini adalah tanda bahaya. Wajah tampannya, mata indahnya, sangat dekat dengannya dan itu membuatnya semakin dagdigdug. Pun selain pipinya yang sudah seperti kepiting rebus, napasnya juga mulai tersengal. Memang benar, berdekatan dengan Antolin bikin penyakit.
Antolin sendiri hanya terdiam, menatap Jessie dengan penuh kagum saat melihat bibirnya yang peach, hidungnya yang mungil, mata coklatnya yang indah. Jarak mereka hampir terkikis seiring berjalannya waktu, Antolin yang lebih dulu maju untuk menggapai bibir manis itu, namun belum saja dia berhasil menggapai bibir itu, sebuah suara berhasil mengintrupsi mereka.
"A ah, kau kira parkir rumah sakit adalah tempat prostitusi" seru suara berat yang sangat dia kenal.
Dan sumpah, Jessie bukan lagi malu, tapi sangta sangat sangat malu dengan apa yang baru saja terjadi. Dia mendorong tubuh Antolin, lau segera berdiri dan berlari begitu saja meninggalkan kedua dokter yang kini malah memperhatikan langkah lincah gadis itu.
Antolin menghela napas, membuat sahabatnya tersenyum menang terhadapnya. "Cih, menjijikan" komentar pedas yang keluar dari mulut Rafael sebelum akhirnya berlau pergi masuk ke dalam rumah sakit, meninggalkan Antolin dengan dirinya yang baru saja terbangun dari apa yang baru saja terjadi.
Dia terkekeh pelan, dia baru menyadari kejadian yang baru terjadi semenit yang lalu dan dia agak merasa bersalah pada gadis tadi, namun dia kembali terkekeh dan geleng kepala sebelum akhirnya turun dari mobil dan menguncinya, lalu mengejar langkah Rafael yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah sakit.
Antolin Antolin apa yang baru saja kau perbuat?