Jessie terbangun saat mendapati dirinya masih berada di ruangan yang asing ini, memang Rafael yang menyuruhnya agar Jessie beristirahat di ruangannya. Walaupun Rafael membenci wanita ini, tapi dia masih punya hati nurani untuk menolongnya. Toh, yang membuat wanita menyebalkan ini jadi sakit begini juga dia. Dan tentu saja, dia tidak mau jika Jessie melaporkannya ke kantor polisi atas kesalahannya pagi tadi.
Jessie menguap lebar, lalu mengedarkan pandangannya pada ruangan kosong bercat putih. Dia terdiam untuk sementara waktu, coba mencerna apa yang sedang terjadi.
Oh, dimana pemilik ruangan ini? Sepi sekali?
Dia menetralisir rasa sakitnya barulah setelah itu dia meraba nakas dan mengambil gelas dengan hati-hati. Dia pun berusaha duduk dengan penuh hati-hati, lalu menegak airnya.
Namun dia mengernyit saat melihat ada sticky note yang menempel pada badan gelas. Dia pun membacanya dalam hati.
'To: wanita menyebalkan.
Aku ada operasi, sebentar lagi anakku akan kemari, jika kau sudah bangun makanlah makanan yang ada di meja dan juga minum obatmu. Setelah itu pergilah. Sama-sama.
Senyuman terbentuk manis pada bibirnya saat membaca pesan singkat yang ditinggalkan si dokter gila itu, sebelum akhirnya menegak minumannya.
"Ouch..." ringisnya saat mengangkat punggungnya. Dia lupa bahwa badannya masih sakit. Namun, dia tetap menegakan badannya untuk duduk. Bokongnya masih terasa sedikit sakit.
Krieettt...
"Rafael" seseorang masuk ke dalam ruangan Rafael membuat Jessie menoleh ke arah pintu.
"Jessie?" seru seseorang dengan kernyitan nyata di keningnya.
Jessie meneguk tegukan terakhir. "O oh dr.Raynold" ucapnya gagap.
Antolin menghampiri wanita yang duduk di atas kasur Rafael. "Ada apa denganmu?" Tanya Antolin dengan nada khawatir.
"A ah tidak, aku tidak apa-apa" Jessie tergagap. Jantungnya kembali berdebar, oh apakah ini yang dinamakan tanda-tanda kehidupan?
Ya Tuhan, mendengar nada khawatirnya saat bertanya saja sudah membuat hatinya bergetar tak karuan, memang dasar mahluk ciptaan Tuhan yang paling tampan,
versi Jessie.
"Benarkah?" Antolin meletakan tangannya di atas pergelangan kaki Jessie yang diperban.
"Ohh" rintihnya.
"Oh maafkan aku" Antolin kaget mendengar teriakan Jessie, dia menjauhkan tangannya dari kaki Jessie.
"Dimana Rafael?" Tanya Antolin.
"Ada operasi" jelas Jessie.
Antolin mengangguk "lalu bagaimana kau bisa seperti ini?" Antolin menarik kursi yang berada di dekat meja Rafael.
"Sedikit kecelakaan" Jessie tersenyum.
Antolin kembali mengangguk, tanpa sengaja dia melihat kertas kecil bewarna kuning yang ada didekat Jessie.
Antolin mengambilnya sebelum Jessie berhasil menyembunyikannya. Antolin mulai membacanya. Lalu tertawa lepas.
Ntah kenapa, Jessie yang merasa malu atas sticky note itu.
'Itu sangat memalukan' Jessie merutuki dirinya, seharusnya dia menyimpan ditempat yang aman, seperti di bawah bantal atau mungkin dibuang, tapi sepertinya Jessie tidak akan membuangnya, itu teelalu antagonis.
"haha, ya Tuhan. Aku tidak menyangka Rafael bisa seromantis ini" tukas Antolin dengan tawanya yang terpingkal-pingkal. Yang membuatnya harus menggeser kacamata untuk mengusap airmatanya yang keluar.
Jessie menunduk, menyembunyikan wajahnya.
Antolin mencoba berhenti tertawa "iya iya maafkan aku, hah" Antolin sudah kembali terlihat seperti biasa.
"Coba ceritakan bagaimana kau bisa seperti ini?" Antolin menatap penjaga kantin itu.
Jessie pun menghembuskan napas, dia mulai menceritakan apa yang telah terjadi, tapi tidak sedetail mungkin. Tidak mungkin dia menceritakan Rafael dan dirinya bertengkar di jalan dan anak-anak Rafael menyuruhnya untuk ikut dengan mereka, tetapi Rafael menolaknya.
"Hmm" Antolin mengangguk mendengarnya "apa masih sakit?" Antolin memegang kaki Jessie yang diperban.
"Aduh, jangan ditekan" rintih Jessie sembari menggigit bibir bawahnya.
"Tidak terlalu parah" Antolin tersenyum "apa Ny.Dave sudah tahu tentang ini?"
"Ya Tuhan Ny.Dave. Aku belum memberitahunya"
"Sudah ku beritahu" ujar seseorang yang baru saja masuk.
Keduanya menoleh, mendapati si pemilik ruangan tengah melepas masker dan sarung tangan operasinya. Dan tak lama terdengar derap kaki cepat sembari berteriak, "Paman Antolin" sembari berlari ke arah Antolin.
Itu adalah Queenzy. Rafael tak sengaja berpapasan di luar tadi. Randy menjemput Queenzy sebelum akhirnya mereka pergi ke sini dan bertemu ayahnya yang baru saja kelar operasi.
Dengan sigap Antolin menangkap tubuh bocah manis itu "Hiyap!" serunya lalu tersenyum.
"Hi bibi Jessie" sapa Queenzy dengan penuh semangat.
"Hi manis" Jessie tersenyum.
"Apa Ny. Scharell baik-baik saja?" tanya Randy.
Jessie tersenyum senang, "ya baik"
"Bagaimana tadi di sekolah?" tanya Antolin pada Queenzy.
"Tadi aku disuruh maju ke depan untuk menyelesaikan matematika dari Mrs.Enzy.."
"Lalu kau bisa menjawabnya?"
Queenzy mengangguk mantap "tentu saja, tadi soalnya perkalian, aku sudah bisa dan temanku banyak yang tidak bisa" Queenzy tersenyum bangga.
"Hebat” puji Antolin mengusap kepala Queenzy.
Queenzy masih memamerkan senyum bangganya.
"Apa ayahku mengobatimu dengan baik, Ny.Scharell?" tanya Randy melirik ayahnya.
"Hmm, tentu" Jessie seperti berfikir sebelum menjawab.
"Bahkan ayahmu mengirimkan surat romantis untuknya" bisik Antolin.
"Antolin!" Aura gelap Rafael pun muncul, siap menelan mereka hidup-hidup.
"Apa ayah berpacaran dengan bibi Jessie?" tanya Queenzy polos.
Rafael mengernyit saat mendengar pertanyaan Queenzy, dari mana anaknya tahu soal kata 'berpacaran'?
"Tentu!" jawab Antolin semangat yang malah mengundang tawa Randy dan tentu saja dirinya.
Hampir saja Rafael mengumpat, jika saja dia tidak ingat anak-anaknya ada di sini. Matanya kini malah melotot pada sahabatnya yang hanya ditanggapi kekehan kecil oleh si lelaki kacamata itu.
Jessie sedaritadi hanya diam mendengarkan, dia agak sedih saat Antolin berkata demikian. Padahal dia berharap kalau Antolin mnegatakan yang sebaliknya. Ah, sepertinya otak Jessie sudah tidak waras.
Tok tok tok...
Tawa lepas Randy dan Antolin berhenti seketika saat seseorang mengetuk pintu ruangan Rafael, suasana segera hening saat mereka tahu siapa yang membuka pintu tersebut. Beverlly, si wanita berambut pirang.
"Hi" sapanya.
"O oh Beverlly" kata Rafael juga terlihat terkejut dengan kehadirannya. Padahal ibunya tadi sudah bilang.
"Ya, aku di sini,” katanya. “Aku membawa makanan" Beverlly memamerkan tas jinjing yang berisi makanan.
"Benarkah?" Rafael tersenyum ramah, berbanding terbalik saat berhadapan dengan si penjaga kasir menyebalkan itu.
"Dia siapa?" bisik Antolin pada Queenzy.
"Dia wanita menyebalkan, dia ingin menjadi ibu tiriku. Tapi tentu saja aku tidak mau" jelas Queenzy berbisik pada paman kacamata.
"Ibu tiri?" tanya Antolin bingung. 'Apa mungkin ini kekasih Rafael? Tapi kenapa dia tidak pernah mengenalkannya padaku' pikir Antolin.
"Oh iya aku hampir lupa, kenalkan ini temanku, Antolin" Rafael memperkenalkan Beverlly pada Antolin.
"Oh hi Antolin, Beverlly" Beverlly mengulurkan tangannya.
"Aku Antolin," baru saja Antolin ingin menjabat tangan Beverlly, tiba-tiba Queenzy menarik tangan Antolin sebelum tangan itu menjabat tangan Beverlly.
"Dia pamanku jangan menyentuhnya" Queenzy memeluk Antolin posesif.
"Queenzy" panggil Rafael tegas. Sedangkan si anak mendengus sebal.
"Oh baiklah, aku tidak akan mengambil paman Antolinmu" ujar Beverlly mengangkat kedua tangannya, diselingi tawa renyahnya.
"Memang tidak boleh" gusar Queenzy dengan cuek.
Rafael menghela napas melihat anaknya, seharusnya dia mengajarkan sopan santun yang lebih pada Queenzy.
"Dan...siapa wanita ini?" Tanya Beverlly menatap Jessie.
"Dia..."
"Aku pasiennya, Jessie" Jessie memotong ucapan Rafael. Senyum tak ubahnya ikut tersemat manis di wajahnya.
"Oh baiklah" kata Beverlly tersenyum. "Lebih baik kita makan siang, aku membawakan makan siang"
Dia mengeluarkan beberapa kotak yang berisikan makanan dan menata nya di meja.
Rafael mengambil duduk di sebelah Beverlly. "Sepertinya enak, kau masak sendiri?" tanya Rafael.
"Hmm iya" jawabnya, dia mengambilkan makanan untuk Rafael.
"Antolin, Randy, Queenzy, Jessie ayo makan" ajak Beverlly.
"I iya" jawab Jessie. Dia menatap makanan-makanan yang dibawa Beverlly. 'Sepertinya aku kenal aroma makanannya, seperti makanan kantin' ujar Jessie dalam hati.
"Iya" jawab Antolin tersenyum.
"Kau mau makan?" tanya Antolin pada Queenzy.
"Tidak" jawabnya.
Kruyuukk kruuyuuk...
Antolin menatap Queenzy sembari menahan tawa. "kuharap suara itu bukan dari perutmu"
Queenzy menghela napas "baiklah" ujarnya cemberut.
Antolin pun berjalan mendekati Beverlly dan Rafael yang sudah makan lebih dulu.
Randy mendorong kursi roda mendekati kasur. "Ny.Scharell ayo kita makan" ajak Randy.
"A ah tidak, ini makanan ku masih ada" katanya menunjuk nampan yang masih seperti awal Rafael menaruhnya.
"Sudah kubilang kau harus makan agar kau dapat meminum obat. Aku muak mendengar rintihanmu" sahut Rafael sembari sibuk memakan makannya, tanpa menoleh ke arah Jessie.
Jessie hanya menanggapinya dengan lirikan.
"Kalau begitu biar kusuapi, Nyonya" tawar Randy.
"Dia sudah besar buat apa disuapi" sahutnya lagi.
Jessie sudah mulai kesal.
"Lebih baik kau makan makanan buatan Beverlly, Jes, bubur itu tidak ada rasanya" lanjut Antolin.
"Makanan orang sakitkan memang bubur" tambah Rafael, lagi.
Jessie sudah tidak bisa menahan emosinya. "Baiklah baiklah aku akan makan bubur ini!" Jessie menyendoki bubur putih itu banyak-banyak ke dalam mulutnya, sampai tersedak. Sudah muak dia mendengar ucapan si dokter menyebalkan itu.
"Kau tidak apa-apa Ny.Scharell?" tanya Randy khawatir, segera dia memberinya air.
Jessie meneggak air di gelas itu hingga tak tersisa.
Memang dasar manusia menyebalkan, rutuk Jessie dalam hati. Akhirnya dia pun lanjut memakan buburnya dengan ditemani oleh pandangan Randy yang terlihat kasihan pada wanita cantik satu itu.
Sebenarnya ada apa dengan Bibi Jessie dengan ayahnya?