Tidak terasa sudah 2 tahun berlalu. Dan tidak ada kabar serangan dari Elisa. Semuanya terasa sangat damai...
Sinar matahari yang hangat menyentuh tubuh Vale. Burung-burung berkicau ria. Bau rumput basah karena hujan, udara hari ini sangat sejuk. Walau sedikit dingin...
2 tahun terakhir ini Vale habiskan dengan berlatih kemampuannya dalam sihir. Ia sering berlatih dengan helena sehingga mereka menjadi sangat dekat. Bagi Vale Helena sudah seperti saudara kandungnya sendiri.
Ya naga itu bersemayam didalam kalung Vale. Kalung amethys yang indah selalu Vale pakai. Hanya dengan menggenggam kalung itu. Naga itu akan muncul.
Vale sangat mahir dalam bermain pedang dan seni perang. Ia juga sangat suka memanah. King Alfredo sering menugaskan Vale untuk berpatroli langit, menggunakan naga. Tentunya itu sebuah keuntungan bagi Hersh sendiri. Banyak kerajaan yang mulai takut dan tunduk pada kerajaan Hersh.
Vale benar-benar sudah berubah. Dulu ia adalah orang yang lemah... Dan sekarang ia adalah salah satu kesatria andalan Hersh. Ia di sejajarkan dengan Dennish sebagai kesatria yang sangat berjasa bagi Hersh. Sudah banyak pemberontakan yang Vale sendiri padamkan dengan kemampuannya.
Benar-benar berubah... Ia benar-benar berubah...
-------------
Pranggg....!!!
Suara piring logam terjatuh. " Kurang ajar....!!!!" Teriakan Elisa memenuhi ruangan. " Aku... Aku... " Brakkk.... Ia menghantamkan tangannya pada sebuah lemari kayu, hingga lemari itu rusak.
Lalu ia berjalan perlahan dan duduk di tahtanya. Dan mulai memangkukan kepalanya pada salah satu tangannya yang mengepal. " Apa yang harus aku lakukan dengan Vale...." Ia terus berfikir keras...
Akhirnya ia berjalan menuju cermin, dan mulai membaca mantra dan masuk dalam cermin itu. " Aku tau kau akan begini Elisa. Aku selalu tau.." suara perempuan itu bergema di seluruh ruangan yang tertutup kristal-kristal hitam.
Perempuan itu mulai menampakan wajahnya, dan mendekatkan wajahnya kepada Elisa... " Aku akan memeranginya...." Ucap Elisa dengan tatapan yang tajam. Wanita itu terkekeh dan memalingkan wajahnya dari Elisa. " Kau tidak akan menang melawannya." Jawab wanita itu sambil melirik Elisa. Elisa langsung memalingkan pandangannya.
" Bagaimana kau bisa menghadapi Vale dan Helena dengan sihir mereka.. dan bagaimana kau bisa menghadapi Edward, ia memiliki kekuatan lebih besar dari yang kau bayangkan. Dan jangan lupakan naga itu. Kau akan langsung hangus olehnya. " Ledek wanita itu. " Diam...!! Cukup...!! Jika kau tidak mau membantu. Biarkan aku pergi sendiri." Teriakan Elisa itu bergema diseluruh sudut ruangan.
Wanita itu menatap Elisa yang berpaling dari wajahnya dan kembali memenyntuh kedua pipi Elisa sehingga tatapan Elisa kembali menatap wajahnya. Tatapan mereka saling bertemu. Dan keluarlah cahaya dari mata wanita itu. Elisa sedikit berteriak...
" Sekarang kekuatanku adalah kekuatan mu. Tapi jika aku mati kekuatan itu tidak akan ada lagi. " Bisiknya. Elisa menatapnya sebentar. " Yakinkah kau aku akan menang?" Tanya Elisa. Wanita itu mengatupkan bibirnya. " Jika kau membawaku.. aku yakin kau akan menang. Keluarkan lah aku dari sini." Pinta wanita itu..
Elisa menatapnya lagi. Dan berfikir sejenak, " biarkan aku berfikir. " Ucapnya lalu memalingkan badannya dan pergi.
Bagaimana bisa aku membiarkannya pergi.. ia bisa lari dan kambhr dariku..." Elisa mondar-mandir sambil menggigit kukunya. " Tapi tanpanya aku tidak akan menang." Elisa terus mondar-mandir dan berdebat dengan dirinya sendiri. " Aku harus mendapatkan Vale dan naga itu... Valientine Rosetta... Kau akan menjadi milikku.... Milikku seorang. " Ucapnya sambil mengepalkan tangan.
-------
" Dennish..." Teriak Miranda. " Ini untukmu." Ucapnya lagi. Miranda memberikan sebuah kalung indah untuk Dennish, kalung itu memiliki batu yang beranda sangat indah. " Menurut kepercayaan orang didaerahku ini bisa menjagamu Dennish. Semoga kau bisa pulang dalam keadaan baik-baik saja." Ucap Miranda dengan tersenyum.
Dennish mengambil kalung itu dari Miranda, dan membalasnya dengan senyuman tipis. Hari ini Vale dan Dennish ditugaskan untuk menumpas pemberontakan di desa Trop tempat tinggal Vale dulu.
Vale sudah tidak sabar menemui Roy dan memberitahu semuanya. Mereka menunggang kuda dengan beberapa prajurit pergi ke desa Trop.
Sesampainya di perkemahan, di desa Trop. Malam itu malam yang sunyi. Vale duduk di atas batu dekat tebing... Dennish menghampirinya dan ikut duduk di sampingnya.
" Apa kau kedinginan Vale?"
" Hmm sedikit.."
Lalu salju mulai turun, Vale menatap langit melihat salju turun dengan indah. " Wahh salju turun.." ucap val sambil tersenyum dan terus menatap langit yang indah.
Dennish hanya tersenyum kecil, " kau seperti anak kecil. " Ledeknya. Vale menatapnya dengan tajam, tapi Dennish malah membalas tatapan Vale dengan tatapan manja sambil tersenyum. " Aku memiliki sesuatu untukmu Vale. Tutuplah matamu." Pinta Dennish. Vale menatapnya dengan sinis dan menutup matanya.
Dennish mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. " Bukalah matamu Vale." Ketika Vale membuka matanya, ia melihat sebuah kalung indah berwarna-warni dihadapannya. " Sangat cantik... Tapi tidak secantik kalung ku. " Ucap Vale. " Untukmu Vale.. bolehkah aku memakaikannya di lehernya vale? " Pinta Dennish. Vale hanya mengangguk angguk ria. Kalung itu dipasangkan oleh Dennish.
" Terimakasih banyak. " Ucap Vale dengan senyuman manis. " Menurut orang-orang di tempatku berasal. Kalung itu bisa menjagamu. " Jawab Dennish. Vale hanya tersenyum dan terus menatap langit. Kadang ia meremas jubah bulunya karena kedinginan.
------------
Suara dentingan logam berbunyi sangat keras. " Persiapan perang sudah selesai Putri. " Ucap salah satu pengawal berbaju besi. Vale pun, menaiki kudanya dan menuju Medan tempur.
Dennish dan Vale bertempur sangat gigih. Vale tidak terluka sedikitpun. Ia sangat mahir dalam hal ini. Ia menghadapi pempinan pemberontak itu, bernama Polymod. Ia berusaha lari tapi Vale berhasil menangkapnya menggunakan sihirnya.
" Kau sungguh naif Vale. Ka pikir ini semua demi kebaikanmu?" Ucap pria paruh baya yang sudah tidak berdaya itu. " Mungkin aku memang naif. Tapi kau yang bodoh memihak para pemberontak." Ucap Vale sinis. Pria yang tersungkur itu tertawa sangat keras. " Kau pikir ini semua untuk kebaikan semuanya? Semuanya hanya menyisakan penderitaan. " Ucapnya lagi..
Vale terdiam sejenak...
" Ini semua demi kekuasaan. Lihat lah banyak prajurit yang mati karena raja yang haus akan kekuasaan. Termasuk ayah tirimu Vale. King Alfredo." Vale semaikn tercengang mendengar ucapannya. Bagaimanapun ia benar bahwa perang ini hanya menyisakan penderitaan. " Ia tidak benar-benar menyayangimu Vale. Sedari awal ia sudah tau bahwa kau adalah satu-satunya orang yang bisa mengendalikan naga dalam kalungmu itu. "
Vale tercengang dan melihatnya sinis. " Valientine yang malang. Diperdaya oleh ayah tirinya sendiri. Bergabunglah dengan Elisa maka ia akan memberikan ketenangan dengan sihirnya..." Ucap Polymod meledek Vale. Vale langsung menatapnya dengan tajam, " enyalah kauu...!!!" Teriak Vale ia menebas leher pria itu. Wajahnya terciprat darah.
Ia terus memikirkan apa yang dikatakan Polymod. Ucapannya selalu terngiang di telinga Vale.
Apakah benar mereka tidak benar-benar menyukaiku? Pikir Vale. Hari menjelang sore matahari hampir terbenam. Vale sudah membersihkan tubuhnya dari noda darah. Ia sangat bersemangat, ia mengunjungi toy di kediamannya.
Ia mengetuk pintu rumah Roy dengan penuh senyuman. Tapi ketika Roy membukakan pintu. Roy tidak lagi seperti Roy yang dulu. Ia nampak sangat tampan dan gagah.
" Vale...!!!" Teriak Roy sedikit tersentak aku datang kerumahnya. Ia memelukku erat-erat. " Dari mana saja kau Vale?" Tanya Roy. Aku hanya ternganga melihat penampilan Roy yang sekarang. Sangat berbeda...
"Apa yang terjadi padamu Roy? Kau terlihat lebih ..." " Lebih tampan? " Ucap roy. Vale hanya tertawa keras-keras. Kemudian Roy mempersilahkan Vale masuk.
~~~~~~~~~~~