Hujan turun deras sekali malam itu, memukul-mukul kaca jendela mobil dengan irama yang tak berhenti, seolah langit pun sedang menangis bersama ribuan hati yang patah di bawahnya.
Air hujan meluncur turun beriringan, membiaskan lampu-lampu kota menjadi pita-pita cahaya yang berkilauan namun kabur, seperti serpihan mimpi yang pecah dan tak bisa disatukan kembali.
Di luar sana, klakson bersahutan, orang-orang berlari tergopoh-gopoh mencari tempat berteduh, payung-payung terbawa angin, dan hiruk-pikuk kota seakan tak pernah tidur.
Namun, di dalam kabin mobil tua yang sempit itu, Arka Mahendra hanya diam. Ia duduk kaku di balik kemudi, rahangnya mengeras begitu kuat hingga otot di sana terlihat menonjol. Matanya terpaku pada layar ponsel.
Di layar itu, ada pesan singkat yang seakan menghakimi seluruh hidupnya.
'2.720.000. Itu yang harus dibayar, Kak. Udah sama tunggakan SPP, biaya perpisahan sama buat nebus ijazah. Kalau nggak dibayar besok, aku nggak bisa dapet ijazah, nggak bisa buat lanjut ke SMA.'
Jantung Arka terasa seperti diremas. Dua juta tujuh ratus ribu. Angka yang terdengar kecil bagi sebagian orang, tapi baginya, malam ini angka itu terasa setinggi gunung, sedalam jurang.
Belum sempat ia membalas, satu pesan lagi masuk, membuat dadanya semakin sesak seakan tak ada cukup udara untuk bernapas.
'Besok juga ibu harus check up ke rumah sakit, Kak. Gimana ya?'
Arka mengembuskan napas panjang, keluar lewat hidungnya yang mulai memerah. Lelah.
Bukan sekadar lelah fisik karena sudah berjam-jam memegang setir, bukan sekadar pegal di punggung atau mata yang perih karena kurang tidur.
Ini adalah kelelahan jiwa. Rasa lelah yang datang karena harus terus berlari mengejar kebutuhan hidup yang seolah tak pernah ada habisnya. Rasanya seperti berenang melawan arus deras, dan semakin ia berjuang, semakin dalam ia terseret ke dasar.
Tangannya meraih dompet usang yang tergeletak sembarangan di atas dasbor. Kulitnya sudah mengelupas di sana-sini, bekas pemakaian bertahun-tahun.
Ia membukanya pelan, isinya sangat menyedihkan: hanya tersisa beberapa lembar uang dua puluh ribuan yang sudah kusam, serta tumpukan struk bensin dan nota belanja yang menumpuk tak beraturan. Itu semua bahkan belum cukup untuk membeli obat ibu, apalagi membayar tunggakan sekolah adiknya.
Ia menoleh ke kursi belakang mobil yang kosong. Di sana terlihat sebuah kantong plastik bening berisi beberapa butil obat yang ia berhasil tebus tadi sore.
Tapi tidak lengkap. Resep dokter masih panjang, dan uangnya sudah habis di tengah jalan. Ibu harus menahan sakit sedikit lagi, dan rasa bersalah itu membakar d**a Arka dari dalam.
Ia menutup matanya sejenak, berusaha menahan rasa putus asa yang mulai merayap naik ke tenggorokan.
Tuhan, berapa lama lagi aku harus begini? batinnya berteriak dalam diam.
Ia kembali menatap layar ponselnya, lalu mengetik pesan balasan untuk Dimas, adik laki-laki satu-satunya yang ia miliki. Jari-jarinya bergerak lambat, berusaha terlihat tegar meski hatinya hancur lebur.
'Kamu tenang aja. Kakak narik sampai tengah malam. Kamu di rumah aja, jaga ibu. Semua bakal beres.'
Kalimat terakhir itu ia ketik bukan karena ia yakin, tapi karena itu satu-satunya harapan yang bisa ia berikan.
Belum sempat ia memasukkan ponselnya ke saku, bunyi notifikasi panjang terdengar nyaring. Orderan masuk.
Arka melirik jam digital di dekat dasbor. Pukul 22.47.
Harusnya dia sudah memutar arah pulang sejak satu jam lalu. Badannya terasa remuk, matanya perih, dan punggungnya terasa kaku.
Tapi logika bilang: semakin malam, tarif per kilometernya makin tinggi. Dan malam ini, ia benar-benar, sangat, membutuhkan uang itu.
Meskipun rasanya ingin sekali berhenti, ia tahu ia tak punya pilihan. Dengan berat hati, seolah memikul beban dunia di bahunya, ia menekan tombol terima.
Layar ponsel menampilkan detail pesanan. Lokasi penjemputan: Hotel Grand Arcadia.
Arka mengernyitkan dahi sedikit. Hotel berbintang lima, gedung pencakar langit yang menjadi kebanggaan kota itu.
Tempat di mana orang-orang dengan dompet tebal dan senyum mewah biasa berkumpul.
Biasanya penumpang yang memesan dari sana ada tiga jenis: orang kaya, selebgram, atau pasangan kekasih yang baru saja bertengkar hebat dan ingin pulang dengan hati mendung.
Mobil tuanya melaju perlahan menembus tirai hujan yang makin lebat. Ban kendaraan memecah genangan air di aspal, memancarkannya ke samping.
Lima belas menit berlalu, dan Arka sampai di tujuan. Ia berhenti tepat di depan lobi hotel yang megah itu. Lampu-lampu gantung di dalamnya terlihat berkilauan dari luar, kontras sekali dengan remang kabin mobilnya.
Petugas keamanan yang berdiri di depan pintu putar itu sempat menatap mobil Arka lebih lama dari yang seharusnya.
Tatapan yang membuat Arka merasa kecil, merasa asing. Maklum saja. Mobil sedan tua berwarna abu-abu itu, dengan cat yang mulai memudar dan bekas goresan panjang di pintu kiri yang belum sempat diperbaiki, terlihat sangat janggal, seperti titik hitam di atas kain sutra putih, di antara deretan mobil-mobil mewah yang berjejer rapi di sana.
Arka hanya diam, mengetuk-ngetuk jari dengan gelisah di atas setir, berusaha mengabaikan pandangan meremehkan itu.
Ia menunggu. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Hujan semakin deras, menutupi suara dunia luar.
Lalu, pintu kaca besar itu terbuka. Seseorang melangkah keluar, berlari kecil menghindari rintik air.
Dan untuk pertama kalinya malam itu... napas Arka seakan tertahan di tenggorokan. Ia lupa cara bernapas sesaat.
Perempuan itu.
Ia mengenakan gaun malam berwarna hitam pekat, sederhana namun terlihat sangat mahal, dengan belahan kecil di bagian kaki yang memperlihatkan kulit putihnya yang halus.
Rambut hitam panjangnya disanggul rapi ke atas, memamerkan leher jenjang dan anting berlian yang berkilau, meski beberapa helai rambut terurai jatuh membasahi pipinya karena diterpa angin malam.
Wajahnya cantik. Terlalu cantik, bahkan mungkin terlalu sempurna untuk dilihat oleh mata biasa. Kulit bersih, hidung mancung, dan bibir yang seksi.
Namun, bukan kecantikannya yang membuat Arka terpaku.
Matanya.
Mata indah itu merah. Bengkak di sudut-sudutnya, dan terlihat lembap. Jelas sekali bekas-bekas tangisan panjang.
Di balik keanggunan pakaian dan penampilan luarnya, perempuan itu terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan separuh jiwanya.
Ada kekosongan yang begitu dalam di tatapannya, seolah dunia di sekitarnya sudah tidak lagi berwarna.
Perempuan itu mendekat, membuka pintu belakang mobil, lalu masuk ke dalam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hanya suara hembusan napas yang berat terdengar saat ia duduk dan menutup pintu rapat-rapat.
Seketika, aroma wangi parfum mahal bercampur dengan bunga-bungaan lembut memenuhi ruang kabin yang sempit itu.
Aroma yang menenangkan namun juga membuat d**a Arka semakin sesak, karena ia sadar betapa jauh jarak dunia perempuan itu dengan dunianya yang kumuh dan penuh perjuangan.
Arka berdeham pelan, berusaha mengembalikan kesadarannya, berusaha menjadi sopir profesional seperti biasa. Ia menatap bayangan perempuan itu di kaca spion tengah.
"Selamat malam, Kak. Sesuai aplikasi, tujuannya ke—"
"Mas."
Suara perempuan itu memotong ucapannya. Suara yang pelan, serak, dan terdengar begitu rapuh. Seperti kaca yang siap pecah jika disentuh sedikit saja.
"Bisa jalan sekarang aja? Tolong."
Arka menelan sisa kalimatnya yang belum terucap. Ia mengangguk pelan, menyalakan kembali mesin yang sempat menderu pelan. "Iya."
Mobil tua itu kembali melaju membelah jalanan kota yang basah dan sepi.