Deburan ombak mengingatkan Ranti pada Ario. Tanpa sadar, ia melamun memandang pantai dari jendela kamar.
Pagi masih muda. Angin dari laut masuk lewat celah jendela, membawa bau garam dan dingin yang menempel tipis di lengannya. Di bawah sana, ombak datang, pecah, lalu datang lagi. Tidak pernah lelah. Tidak pernah bertanya.
Ranti menyandarkan bahu ke bingkai jendela. Kopernya sudah rapi sejak semalam, berdiri di dekat pintu, menunggu pemiliknya yang belum siap. Ia menghitung ombak. Satu.. dua.. tiga.. Entah untuk apa. Mungkin supaya kepalanya berhenti menghitung hal lain.
Dari jendela ini garis pantainya terlihat panjang sekali. Ada dua orang berjalan di tepi air, sandal dijinjing di tangan. Ranti memperhatikan mereka sampai keduanya menjadi titik kecil di ujung sana.
'Ranti, Miranti... Semua menunggu di bawah. Kita siap untuk pulang,' Dina, sahabatnya, mengetuk pintu kamarnya.
Suaranya setengah memaksa, setengah menggoda, seperti biasa. Dina memang begitu. Paling berisik di antara mereka, tapi paling tahu kapan Ranti harus dibiarkan sendiri. Ketukan itu berhenti, lalu terdengar lagi dua kali, lebih pelan.
'Iya, aku turun,' ketukan itu menyadarkannya dari lamunan.
Langkah Dina menjauh di lantai kayu, lalu hilang di tangga. Ranti masih berdiri di tempatnya. Ia menatap laut sekali lagi, seperti orang yang ingin menyimpan sesuatu tanpa kamera.
Di cermin lemari, wajahnya terlihat lelah. Matanya sedikit bengkak. Dua malam ini ia tidur terlalu larut, dan pagi tadi ia bangun sebelum alarm berbunyi. Ranti mengusap wajahnya, menarik nafas panjang, lalu memaksakan senyum yang tidak ia rasakan.
Ia mengikat rambutnya asal, lalu melepaskannya lagi. Pagi ini semua terasa serba salah, bahkan hal sekecil itu. Di luar suara ombak tetap sama saja, seolah tidak ada apa pun yang perlu dibereskan hari ini.
Tiba waktunya untuk pulang. Ranti dan teman-temannya menghabiskan akhir pekan di Pantai Andara, pantai favoritnya dan Ario.
Pantai Andara. Nama itu saja sudah cukup membuat dadanya sesak. Dulu tempat ini terasa seperti ruang tamu miliknya sendiri. Pasirnya, kursi kayu di dekat batu besar, suara ombak yang tidak pernah berubah walau semua hal lain berubah.
Ranti yang mengusulkan villa ini waktu teman-temannya bertanya mau ke mana akhir pekan ini. Ia pikir laut bisa membersihkan kepalanya. Ternyata laut hanya mengembalikan semuanya, lebih jelas, lebih pelan.
Ia hafal jam berapa air pasang di sini. Hafal warna langit sorenya, hafal jalan setapak dari villa turun ke pasir. Hafal karena pernah ada yang mengajaknya ke tempat yang sama berkali-kali.
'Hhhhh...' Ranti menghela nafas panjang. Ia belum ingin pulang, belum siap rasanya kalau harus kembali ke rutinitas. Yang utama adalah, ia belum ingin bertemu Ario.
Dua hari ini teman-temannya sibuk tertawa, foto sana-sini, memesan makanan terlalu banyak. Ranti ikut, tapi hanya setengah. Malamnya ia habiskan di teras, memeluk lutut, mendengar ombak yang selalu terdengar lebih keras kalau semua orang sudah tidur.
Besok Senin. Kantor. Lift. Lorong yang sama, orang-orang yang sama. Semua yang biasa, tiba-tiba terasa berat.
Ranti membayangkan pagi Senin: kartu akses ditempel, pintu lift terbuka, orang-orang berdiri diam menghadap angka yang berganti. Biasanya semua itu cuma rutinitas yang lewat begitu saja. Sekarang ia sudah lelah lebih dulu, bahkan sebelum berangkat.
Bayangan malam itu terus menganggu pikirannya. Ario dan wanita itu... Kenapa mereka? Ahh... Lupakan Ranti! ujarnya dalam hati.
Padahal ia sudah menyuruh dirinya berhenti. Berkali-kali. Tapi kepala tidak bisa disuruh. Gambar itu datang sendiri, di sela suara ombak, di sela tawa Dina, bahkan di sela doanya sebelum tidur.
Ia bahkan tidak tahu harus marah pada siapa. Marah itu perlu alamat, dan alamatnya belum jelas. Yang ada hanya sesak yang menumpuk di dada beberapa hari terakhir, dan tidak ada satu pun kalimat yang cukup rapi untuk menampungnya. Kalau saja ada tombol untuk mengosongkan kepala barang sepuluh menit, ia rela membayar berapa pun.
Ranti pun segera mengambil tasnya, lalu memasukkan ponselnya. Sekilas ia lihat, ada 12 panggilan tak terjawab. Adakah Ario salah satunya? Ia tidak ingin membuka ponselnya. Khawatir. Gelisah. Ahh.. Ingin rasanya berteriak.
Ponsel itu ia masukkan paling bawah, di bawah baju kotor, seolah dengan begitu getarannya tidak akan terdengar. Konyol, pikirnya. Nomor-nomor itu tidak akan hilang hanya karena ditumpuk kaos pantai.
Ritsleting tas ia tutup rapat-rapat, lalu tasnya ia tarik ke bahu. Beratnya terasa lebih dari isinya.
Sebelum melangkah, ia diam sebentar di tengah kamar, menunggu sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa. Dari bawah terdengar suara pintu mobil ditutup dan tawa yang teredam. Dunia di luar sudah bersiap pulang, hanya kepalanya yang masih tertinggal di tempat ini.
Sebelum menutup pintu kamar, ia menoleh sekali ke dalam. Kebiasaan lama, memastikan tidak ada yang tertinggal di kolong atau di laci. Tidak ada apa-apa. Hanya seprai yang kusut di satu sisi, bekas orang yang semalaman berpindah posisi tanpa pernah benar-benar tidur.
Ranti pun berjalan menuruni tangga. Dina dan Nisa sedang memasukkan barang-barang ke dalam mobil. Mereka bergerak masuk ke mobil. Ranti mengunci villa sewaan itu, dan memberikannya pada penjaga villa yang telah menanti kepergian mereka.
Udara di luar lebih hangat daripada di dalam kamar. Pasir halus masih menempel di lantai teras, terasa di telapak kaki saat ia melewatinya. Penjaga villa mengangguk sopan dan mengucapkan hati-hati di jalan. Ranti membalas dengan senyum secukupnya, senyum yang sudah ia pakai seharian.
Sebelum masuk mobil, ia menoleh sekali lagi ke arah laut. Sebentar saja. Seperti orang yang berpamitan diam-diam supaya tidak ada yang bertanya.
Ia pun masuk mobil, dari balik kemudi Dina mulai menyalakan mesin.
Mesin bergetar pelan di bawah kaki. AC mulai meniup dingin, dan Nisa mengecilkan suara radio tanpa diminta. Ranti memeluk tasnya di pangkuan, menyandarkan punggung, lalu membiarkan matanya berhenti di satu titik pada kaca depan.
Bye Pantai Andara, ujar Ranti dalam hati.
Nisa yang duduk di sebelah Dina melihat ke belakang, menatapnya, 'Sudahlah... jangan terus dipikirkan, hadapi saja.'
Dina menoleh sambil tertawa kecil, 'Aduh, ternyata masih galau. Semangat ti!'
Nisa ikut tertawa kecil, dan mobil terasa sedikit lebih hangat karenanya. Ranti menoleh ke arah keduanya. Ia bersyukur mereka ada, walaupun tidak semuanya ia ceritakan. Ada bagian yang belum sanggup ia ucapkan dengan suaranya sendiri.
Ranti tersenyum kecil. Mobilpun bergerak maju. Ingatannya melayang. Ia mulai membayangkan semuanya. Apa yang salah?
***