Percakapan itu berjalan di beranda rumah Ario, satu hari sebelum pertemuan — hanya Ario dan Marissa, dengan Ranti yang memilih tidak hadir dengan satu alasan yang disampaikannya langsung: 'Ini percakapan kalian berdua. Lima tahun tidak bisa diselesaikan dengan tiga orang di satu ruangan.'
Mereka berdiri di beranda itu dengan dua kopi dan lima tahun yang tidak pernah dibicarakan — sampai Ario membukanya dengan cara yang sudah menjadi caranya sejak Ranti: langsung, tanpa saringan, tanpa satu pun hal yang disimpan.
'Aku tidak pernah mengucapkannya dengan benar,' katanya. 'Lima tahun lalu kamu pergi, dan aku membiarkanmu pergi tanpa pernah mengucapkan satu hal yang benar: bahwa kamu penting. Bukan lagi sebagai orang yang kucintai — masa itu sudah selesai, dan kita berdua tahu itu. Tapi sebagai orang yang pernah berarti. Aku tidak pernah mengatakannya, dan itu salahku. Kamu berhak mendengarnya sebelum pergi, dan aku tidak pernah memberikannya.'
Marissa menatapnya lama — dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, tidak ada satu pun perhitungan di matanya. 'Kamu tahu apa yang paling menyakitkan dari lima tahunku, Ario? Bukan kehilanganmu. Tapi tidak pernah tahu apakah aku pernah benar-benar kumiliki. Kamu tidak pernah mengatakannya. Tidak pernah satu kali pun. Dan aku menghabiskan lima tahun membencimu untuk satu hal yang ternyata bisa diakhiri dengan satu kalimat di beranda ini.'
'Aku tahu. Dan aku tidak bisa mengembalikan lima tahun itu — tapi aku bisa mengatakan satu hal yang lebih penting dari itu: terima kasih sudah berbalik. Bukan untukku. Untuk orang yang kamu pilih menjadi — orang yang tidak pernah berdiri di meja orang yang memalsukan bukti. Itu Marissa yang kukenal dulu. Dan aku senang dia tidak pernah pergi.'
Marissa diam — dan kemudian, dengan suara yang lebih kecil dari yang pernah diizinkannya keluar: 'Aku tidak pernah berhenti menjadi dia, Ario. Aku hanya berhenti memeriksanya. Terima kasih sudah memeriksanya untukku.'
'Dan satu hal terakhir, sebelum kamu masuk ke meja itu besok.' Ario menatapnya lurus. 'Kami mempercayaimu. Bukan sebagai alat — sebagai orang. Dan kepercayaan itu tidak tergantung pada apa yang kamu bawa pulang dari meja itu. Kalau kamu pulang dengan tangan kosong, kamu tetap pulang sebagai orang kita. Itu tidak akan pernah berubah, apa pun yang terjadi di restoran itu besok.'
Marissa mengangguk — dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke Jakarta, ia pergi dari satu tempat dengan dada yang lebih ringan dari saat ia datang.
***
Pertemuan itu berjalan di restoran pinggir kota yang sama — dengan Marissa yang datang satu jam lebih awal seperti selalu, dengan orang-orang Sapta yang sudah berada di tiga titik sejak dua jam sebelumnya, dan dengan satu ponsel Marissa yang diletakkannya di atas meja dengan layar terbuka, merekam, sejak menit pertama.
Orang bertopi itu datang tepat waktu — dan Marissa menjalankan perannya dengan sempurna: tidak pernah menanyakan apa pun yang tidak pernah ditanyakannya, tidak pernah membaca satu hal pun lebih lama dari yang dibacanya biasa.
'Memo itu sudah sampai,' kata orang itu. 'Dan?'
'Sudah kubaca. Dan sudah kuserahkan.' Marissa menatapnya tanpa berkedip. 'Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya — mereka tidak pernah memperlihatkan apa pun di depanku. Kalau ada yang retak, aku tidak melihatnya.'
'Keretakan tidak pernah terlihat dari luar di minggu pertamanya. Keretakan bekerja dari dalam — seperti air di dalam fondasi.' Orang itu menyilangkan tangannya. 'Tapi ada satu hal lagi yang harus kamu ketahui — satu nama, yang akan kamu gunakan saat waktunya tiba. Keluarga Madina tidak pernah menghilang total. Ada satu yang tersisa: anak laki-lakinya. Dan anak itu sudah kembali.'
Marissa menjaga wajahnya tidak berubah — dengan semua yang pernah dilatihnya di ruang-ruang negosiasi dua benua. 'Kembali?'
'Sudah di Jakarta. Sudah dua tahun. Dan sudah menunggu — sama sepertiku.' Orang itu mencondongkan badan sedikit. 'Minggu depan, kamu akan memperkenalkannya kepada mereka. Sebagai saksi dari masa lalu Ario Yudha — sebagai bukti hidup dari kasus yang tidak pernah selesai. Dan saat mereka melihatnya, fondasi itu akan menghitung sendiri sisa waktunya.'
'Aku butuh namanya, kalau aku yang memperkenalkannya.'
'Kamu akan mendapatkannya saat waktunya. Orang yang sudah menunggu tujuh tahun tidak menyerahkan namanya sebelum pintunya terbuka.' Orang itu berdiri. 'Sampai minggu depan. Dan Marissa — kerja bagus minggu ini. Kamu membuktikan bahwa kamu bisa dipercaya dengan hal-hal yang lebih besar.'
Dan ia pergi — dengan Marissa yang duduk sendirian di mejanya, dengan ponsel yang masih merekam, dengan satu nama yang menggantung tanpa nama: anak laki-laki Madina. Sudah kembali. Sudah dua tahun di Jakarta. Dan menunggu.
Marissa tidak langsung berdiri. Ia duduk lima menit lagi — kebiasaan orang yang tidak pernah menunjukkan satu pun tanda bahwa satu pertemuan baru saja mengubah posisi seorang pemain. Lalu ia menghentikan rekamannya, menyimpan ponselnya, dan berjalan keluar dengan langkah yang tidak pernah berubah dari langkah orang yang tidak pernah kalah.
Di parkiran, satu mobil berhenti sebentar di sampingnya — bukan untuknya, hanya lewat — dan dari kaca yang turun sebentar, Sapta mengangguk satu kali. Tidak ada kata-kata. Tidak pernah perlu ada kata-kata. Marissa masuk ke mobilnya, menyalakan mesinnya, dan baru di tengah jalan pulang membiarkan satu hal keluar dari dadanya: napas yang sudah ditahannya sejak kalimat 'anak laki-lakinya sudah kembali' diucapkan. *Dia sedang menulis satu wajah untuk serangannya,* pikirnya, di tengah lalu lintas malam. *Dan wajah itu adalah seorang anak yang tidak pernah memilih satu pun dari ini. Kalau satu hal yang tidak akan pernah kubiarkan terjadi — bahkan untuk Ario, bahkan untuk siapa pun — itu adalah ini: satu anak lagi yang dijadikan alat oleh orang yang menulis dari kejauhan.*
Malam itu, di apartemennya, Marissa menyerahkan rekamannya lewat jalur yang sudah disepakati — dan menulis satu pesan terakhir ke nomor Ario yang tidak pernah disangkanya akan ditulisnya: *'Ada satu hal yang tidak masuk ke rencana kalian: aku tidak lagi melakukan ini untuk kalian. Aku melakukannya untuk satu anak dua belas tahun yang berhenti sekolah tujuh tahun lalu. Sampaikan pada perempuanmu: dia benar tentangku. Aku tidak pernah menjadi pembawa — aku hanya belum menemukan alasan untuk berhenti. Sekarang aku sudah menemukannya.'*