Ranti melangkah menuju kantor penuh semangat. Ia ingin melupakan kejadian kemarin. Ia akui Ario membuatnya tertarik, tapi respon dingin yang ia terima membuatnya berpikir ulang dan memutuskan kalau perasaannya tidak boleh berlanjut. Akhirnya berusaha meredam hatinya dan 'mengakhiri' apa yang ia rasakan.
Pagi itu ia bangun lebih awal dari alarm. Sengaja. Kepala yang sibuk lebih baik daripada kepala yang melamun. Ia menyeduh kopi instan, menghabiskannya sambil berdiri di dapur kecil apartemennya, lalu memakai kaus kaki dan bersiap jalan kaki seperti biasa.
Wira bercerita kalau hari ini ada rapat dengan Ario, kemungkinan Tim Marketing dan Tim PR akan bergabung. Ranti harus bersiap, pertemuan keduanya dengan Ario harus 'normal'.
Rapat gabungan berarti meja panjang dan banyak mata. Ranti mencatat dalam kepala: bawa tablet, siapkan angka kampanye, ambil kursi yang agak jauh. Bicara kalau ditanya saja. Sisanya cukup menunduk pada layar.
'Akhiri! No heart feeling,' Ranti pun bergumam, menguatkan tekadnya menyudahi ketertarikan pada Ario.
Ia mengulanginya sekali lagi dalam hati sambil menunggu lampu penyeberangan berubah hijau. Kalimat itu terasa gagah di kepala, walau ia tahu hati tidak selalu mau diperintah. Setidaknya hari ini ia punya kalimat untuk dipegang.
Semangat!
Pagi yang cerah. Ranti merasa harus bersemangat dan melupakan semuanya.
Matahari belum terlalu tinggi. Bau roti panggang dari kedai di ujung blok menempel di udara, bercampur asap knalpot dan sisa hujan semalam. Ranti menarik napas dalam-dalam, lalu mempercepat langkah.
'Ranti!' Wira memanggilnya, lalu menyodorkan jinjingan kertas berwarna coklat. 'Ini ambil!' ujarnya. 'Apa ini?' Ranti bingung. 'Sepatu. Ada sale dan itu brand favoritmu. Aku ingat kalau kamu suka sneaker itu,' terang Wira. 'Wow! Thanks. What a day!' Ranti pun senang.
Ranti membolak-balik jinjingan itu, mengintip isinya sedikit, lalu menutupnya lagi seperti anak kecil yang menyimpan kejutan. Wira cuma tersenyum, tangannya masuk ke saku, pura-pura tidak ingin dipuji. Ia memang begitu, selalu ingat hal-hal kecil.
Sehari-hari ia berjalan kaki dari apartemennya ke kantor. Jarak kantor dan apartemennya hanya beberapa blok. Sneaker atau flat shoes memang favoritnya, wajib ia pakai tiap hari. Untuk pertemuan penting, ia menyimpan high heel di kantor. Tapi sehari-hari, 'sneaker is her bestfriend'.
Ranti pun tersenyum lebar, apalagi saat melihat sekilas sneaker itu memiliki logo brand favoritnya. 'Thanks Wir! Nanti makan siang aku traktir! ok?' ajak Ranti. 'Tentunya,' Wira pun tersenyum lebar. Mereka melangkah memasuki pelataran lobi kantor. Langkah pun terhenti di depan lift. Tak disangka, ada Ario berdiri di depan lift.
Ah, tekad tadi pagi langsung terasa rapuh. Baru beberapa jam ia bertekad, dan pagi ini sudah menaruh orangnya tepat di depan mata. Ranti menegakkan punggung, memasang senyum standar karyawan, dan berharap wajahnya tidak berkhianat.
'Pagi Pa Ario,' sapa Wira. 'Oh, pagi,' Ario membalas dengan suaranya yang dalam dan rendah. Ranti tersenyum padanya, ternyata Ario langsung membalas senyumnya. Aduhh... Kenapa pagi ini Ario terlihat lebih tampan dari sebelumnya. Apalagi ia tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang menggemaskan.
Ranti pun memperhatikan Ario lebih dekat. Ia mengenakan kemeja tangan panjang warna abu-abu muda, celana panjang abu gelap dan sweatshirt warna navy. Ranti melihat dari belakang, tampak bahunya yang bidang. Meski badannya tidak berotot layaknya binaragawan, tapi tangannya terlihat besar dan kekar.
Astaga, Ran. Katanya mau berhenti, pikirnya. Tapi mata memang paling susah diajak kompromi. Ia menggigit bibir bagian dalam, menahan senyum yang tidak jelas alasannya.
Lift pun terbuka. Mereka masuk. Lift agak penuh sehingga posisi Ranti dekat dengan Wira dan Ario. Wira tiba-tiba mengambil jinjingan coklat tadi dari tangannya. 'Sini biar aku bawa,' ujarnya. Ranti hanya bisa pasrah. Terlintas di pikirannya, coba kalau Ario yang seperti itu. Imajinasinya itu membuatnya tersenyum kecil sendiri.
Bau kopi dari gelas orang di belakangnya menyelinap. Angka lantai berganti pelan di layar kecil di atas pintu. Tidak ada yang bicara. Ranti menghitung dalam hati, tiga, empat, lima, sekadar supaya pikirannya punya pekerjaan.
Lantai 7 terbuka, Ranti keluar, begitupun Ario. Wira ternyata juga ikut keluar. Ranti yang tadinya hendak mengambil kembali jinjingannya pun tidak jadi.
Pintu lift menutup di belakang mereka dengan bunyi pelan. Koridor lantai tujuh masih sepi, lampunya baru separuh menyala, dan dari ujung sana terdengar mesin fotokopi yang sedang dipanaskan seseorang.
'Pa Ario, kita rapat di lantai 9 nanti. Saya menghadap Pa Ridwan dulu,' Wira berbicara pada Ario. 'Saya juga harus bertemu pa Ridwan,' kata Ario.
Suara keduanya rendah, sudah masuk mode kerja. Ranti mendadak merasa seperti orang luar yang kebetulan ikut lift yang sama. Ia menyibukkan diri merapikan tali tas di bahu.
Wira memberikan jinjingan itu pada Ranti, "Ini. Aku ke Pa Ridwan dulu. See you at lunch.”
'Ok,' Ranti menjawab pendek, merasa grogi karena Ario ada di situ. Kemudian Ranti berjalan menuju mejanya, sementara Wira dan Ario terlihat berbelok menuju ruangan Pa Ridwan.
Ruang kerja masih setengah kosong. Pendingin ruangan baru dinyalakan, dingin dan berbunyi pelan. Ranti meletakkan jinjingan coklat itu di kolong meja, menekan tombol komputer, lalu diam sebentar menatap layar yang belum menyala.
Ahh... Ranti membenamkan muka ke meja. Rambutnya yg terurai, ia acak-acak. Bisakah rasa ini hilang? pikirnya. Setelah sekian lama, ia merasakan getar-getar itu lagi, tapi sepertinya bertepuk sebelah tangan. Ario terlihat dingin dan tidak menunjukkan ketertarikan padanya.
Nanti pukul sebelas mereka akan satu ruangan lagi. Berjam-jam. Dengan agenda yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan isi kepalanya sekarang. Ranti mengangkat wajah, menyisir rambut dengan jari, mencoba terlihat seperti orang yang baik-baik saja.
Ranti sudah 5 tahun single. Terakhir berpacaran dengan teman kuliahnya selama 3 tahun, dari tahun ketiga kuliah hingga masa awal ia bekerja di 'For Her'. Namanya Indra. Ia serius saat itu. Sayangnya kesibukan keduanya membuat hubungan itu harus berakhir. Apalagi Indra ditugaskan pindah ke luar negeri. Ranti yang saat itu masih meniti karier, merasa berat melepas. Ya, belum jodoh.
Setelah perpisahan itu, ia sempat berpikir kesibukan adalah obat paling ampuh. Ternyata benar, sampai batas tertentu. Pekerjaan mengisi hari, promosi mengisi kebanggaan, tapi ada jam-jam sunyi di apartemen yang tidak bisa diisi laporan bulanan.
Sejak itu, hatinya belum pernah lagi merasakan getaran apapun. Padahal banyak yang mendekatinya. Wajahnya mungil dan cantik, dengan kulit putih bersih, Ranti selalu terlihat bercahaya. Apalagi pembawaannya supel dan mudah bergaul. Belum lagi, ia pintar dan berdedikasi. Tidak heran, di usianya yang masih terbilang muda, ia sudah menduduki jabatan penting.
Baru kali ini, ia kembali merasakan debar-debar itu. Sayangnya seperti bertepuk sebelah tangan. Ranti pun berpikir keras. Lupakan? Atau terus dekati? Galau.