Kata-kata itu membuat Teguh dalam ketakutan. Hanya sebatas bayangan yang terus membuatnya begitu dalam kepiluan. Untung saja apa yang dibayangkan itu bukanlah sebuah kenyataan. Hanya sebatas bayangan dalam pikiran saja.
Teguh masih menunggu bagaimana dokter mengobati wanita yang dicintainya itu. Bahkan dia terus saja mendoakan kesembuhan sang wanita yang begitu dicintainya. Jantungnya berdebar begitu sangat kencang, tak seperti biasanya.
Berjalan mondar-mandir dengan penuh kecemasan. Berkali-kali Teguh menatap pintu yang masih tertutup. Dia sungguh tak sabar untuk segera mendapati pintu itu terbuka dan mengetahui bagaimana kondisi Sekar.
Menarik napas panjang, bahkan peluh itu pun menghiasi tubuhnya. Ketakutan yang dirasa tak seperti biasanya. Teguh tak ingin kehilangan Sekar. bagaimana